Freya tidak pernah menduga ia harus melepaskan sang kekasih, menyakiti perasaan pria yang ia cintai dan juga mengubur dalam perasaannya demi menikah dengan seorang Billionaire yang tidak ia kenal sama sekali.
Takdir seperti apa yang akan Freya jalani dan apa alasan dibalik ia bersedia menikah dengan pria asing tersebut? Lalu bagaimana jadinya jika ternyata pria yang sudah menjadi suaminya ternyata memiliki seorang istri yang artinya Freya hanya dijadikan sebagai istri kedua. Akankah Freya mempertahankan pernikahannya atau justru mengakhirinya dan kembali kepada kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
"Kalau begitu, mari kita bercerai?" Freya menyuarakn isi hatinya, baginya pernikahan ini juga tidak ada artinya. Terlepas dari apa alasan Daniel menikahinya, ia juga menginginkan kebebasannya, dan bertahan di rumah pria itu akan semakin membuatnya makan hati setiap hari melihat wujud Liora yang mengesalkan.
Daniel terperanjat sesaat mendengar penuturan Freya yang ingin bercerai dengannya, ia tahu keinginan wanita itu adalah sesuatu yang wajar, tapi entah kenapa ia tidak menyukai perkataan wanita itu, logikanya membenarkan ucapan Freya, bahwa pernikahan ini tidak seharusnya dipertahankan karena akan berujung petaka. Tapi sayangnya logikanya tidak sejalan dengan hatinya. Hatinya menolak keras keinginan Freya tersebut, untuk alasan apa dia juga tidak tahu, tapi yang ia tahu bersama wanita itu selalu menyenangkan walau kebersamaan mereka selalu diisi dengan pertikaian-pertikaian kecil.
"Tidak bisa!" jawaban itu akhirnya meluncur dari mulut Daniel, ya logikanya kalah.
"Kenapa? Jangan katakan bahwa kau sedang jatuh cinta padaku!" tudingnya dengan wajah meremehkan, dan Daniel bahkan tidak kesal atas tatapan meremehkan wanita itu.
Daniel bungkam tidak tahu harus menjawab apa.
"Harusnya kau teruskan kebohonganmu, setidaknya kesalah fahaman atas ketidak normalanmu bisa membentengi perasaanmu, ya walau aku akui aku adalah wanita yang cukup menarik dan pria brengsek spertimu, Errick dan juga Sean akan sulit untuk tidak tergoda." Tangkasnya ringan tapi terselip kesombongan di dalamnya. Daniel menyunggingkan senyumnya, ternyata wanita di hadapannya itu mempunyai sisi narsis juga.
"Jangan besar kepala dulu, Nona. Aku juga belum tahu mengartikan perasaanku seperti apa, katakanlah aku brengsek tapi yang aku tahu kau istriku, yang artinya kau adalah milikku!" Daniel mengerling jenaka.
"Dan jangan samakan aku dengan pria keparat mantan kekasihmu itu ataupun si Erick berandalan itu!"
"Ya, bisa saja kau lebih buruk dari mereka." Freya menggidikkan bahunya, ia segera berdiri dari tempatnya, perasaannya yang kacau setidaknya sedikit lebih tenang setelah berbicara unfaedah bersama Daniel.
"Sudahlah, aku mau berendam dulu, mungkin sedikit lebih lama jadi jika kau ingin mandi gunakan toilet lainnya." Freya melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
Daniel menatap punggung Freya yang kini sudah tidak terlihat lagi karena wanita itu sudah menutup pintu toilet. Daniel menarik napas dalam, ia mengacak rambutnya frustasi ucapan asal Freya yang mengatakan mungkin ia lebih buruk sesungguhnya benar adanya, dan Daniel kembali merasakan tertohok akan ucapan ringan wanita itu.
Daniel pun beranjak dari tempatnya, sepertinya ia juga perlu membersihkan dirinya. Baru saja Daniel membuka pintu, tangannya sudah ditarik paksa dan di seret.ke dalam kamar lainnya. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Clara.
Clara mengunci pintu kamarnya, ia lalu bersedekap menatap Daniel seperti seorang hakim menatap terdakwa. Penuh intimidasi. Daniel hanya bisa menarik napas panjang. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa jenuh dengan hubungannya bersama istrinya itu. Apakah ini yang dikatakan dengan sisi alami seseorang yang dimiliki oleh semua pria. Sisi alami yang tidak lain adalah sisi brengsek, rakus dengan tidak puas hanya dengan satu wanita.
"Apa yang kalian lakukan di dalam sana?"
"Berbicara." jawabnya tenang berbanding terbalik dengan sikap dingin Clara yang sepertinya sedang dibakar api cemburu.
"Freya meminta cerai,"
"Kalau begitu kabulkan."
Daniel mengerutkan dahinya mendengar penuturan Clara. "Bukankah kau menginginkan keturunan?"
"Tidak. Aku tidak menginginkannya, tapi Neneklah yang menginginkkannya dan Nenek juga yang memaksaku untuk memintamu menikah, dan sekarang Nenek tidak ada di sini jadi segeralah bercerai dengan wanita itu, seperti yang kau katakan dulu, mari kita melakukan surogasi. Itu lebih baik Daniel, aku..aku..aku tidak ingin berbagi milikku dengan orang lain." Clara menyentuh wajah Daniel, terlihat kepanikan di wajahnya.
Daniel menangkup tangan Clara di wajahnya, ia menggenggamnya dengan erat, menatap wanita itu tepat di maniknya, "Aku tidak bisa."
Clara melebarkan matanya tidak percaya atas jawaban suaminya itu. "Apa maksudmu?!"
"Clara." Daniel mengusap wajahnya lembut, "Aku bukanlah robot yang bisa kau perintahkan begitu saja, dan Freya juga bukan boneka yang bisa kita perlakukan seenaknya. Aku, Freya, adalah manusia biasa, sama halnya seperti dirimu, jadi maafkan aku, aku tidak bisa menceraikannya."
Clara menepis tangan Daniel dari wajahnya, menatapnya dengan tatapan terluka, sungguh ia tidak menyangka Daniel, suami yang dulu ia anggap sangat mencintainya kini seperti enggan melepaskan wanita lain yang ada diantara mereka.
"Apa kau sedang berusaha mengkhianatiku, Daniel? Kau mempunyai perasaan terhadap wanita itu?"
"Aku tidak pernah mengkhianatimu, Clara." terkadang sikap tenang pria itu mampu membuat lawan bicaranya emosi sendiri. "Kau yang membawa Freya diantara kita, dan soal perasaanku, aku juga tidak yakin apa yang kurasakan tapi tidak kupungkiri, Freya wanita yang menarik."
"Kau melukaiku dengan sikap brengsekmu, Daniel. Apakah aku yang terlalu besar kepala menganggap cintamu begitu kokoh terhadapaku atau godaan wanita itu yang begitu kuat, hingga kau tak kuasa menolaknya?"
Daniel kembali menarik napasnya, bahkan sekarang ia merasa sangat kesal pada Clara saat istrinya itu menyandingkan Freya dengan kata penggoda.
"Berhentilah menyalahkan Freya, Clara! Dia tidak tahu apa-apa. Dan jika kau memang meragukan perasaanku terhadapmu maka sama halnya denganku, aku juga mulai mempertanyakan perasaanmu, katakanlah aku sedang berusaha membela diriku karena tidak terima kau mengatakanku brengsek, tapi ucapan Erick tadi bukankah harusnya kau berutang penjelasan padaku?"
Clara terdiam untuk sesaat, ia sedikit terkejut atas perubahan raut wajah Daniel yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dan bukan hanya itu, kini pria itu bahkan mempertanyakannya.
Bajinga*n kau Erick!! umpat Clara dalam hati.
"Sudahlah, aku lelah. Kau juga beristirahatlah lebih awal." Daniel segera keluar dari ruangan Clara. Ia tidak ingin berdebat saat ini, karena logika dan hatinya juga sedang berperang saat ini, dan itu benar-benar membuatnya lelah.
Sepeninggalan Daniel, Clara segera mengambil ponselnya, menghubungi pria ynag hampir saja mengacaukan kehidupannya. Tidak menunggu lama panggilannya langsung di jawab.
"Belum beberapa jam aku meninggalkan kediaaman suamimu, kau sudah menghubungiku, apa kau begitu merindukanku?" terdengar kekehan mengejek dari seberang telepon.
"Apa maksudmu dengan berakata seperti tadi, sialan? Apa kau ingin menghancurkan hidup kakakmu sendiri?" hardik Clara pada Erick.
"Kakak??" kentara sekali bahwa Erick sekarang sedang mengejeknya. "Bukankah kau tidak mengakui kami, kau mengatakan kau besar di panti asuhan."
"Kau tahu kau terpaksa melakukannya," desis Clara. Ya, Erick Morgan adalah adik satu-satunya, dan kedua orang tuanya juga masih ada.
"Hanya karena kau tidak menyukai pria yang berandil besar terhadap kelahiranmu ke dunia ini kau melupakan ibumu sendiri?" sarkas Erick. Ya, Clara sangat membenci Ayahnya, selain pemabuk, ayahnya juga suka bermain judi dan juga wanita, pria tua bangka itulah yang sudah tega menjual anak perempuannya kepada seorang germo, di malam ia bertemu dengan Daniel. Dan hal itu membuat Clara, meniadakan keluarganya dalam hidupnya. Ayahnya terlalu mengerikan.
"Percayalah Clara, aku sangat membenci sikap serakahmu itu, dan ingin rasanya aku menghancurkanmu dan juga keluarga barumu itu, tapi sayang niatku harus terhenti karena dengan kejinya kalian membawa masuk wanita yang kusukai diantara kalian."
"Ciihhh, memangnya apa hebatnya wanita itu?"
"Tentu saja dia jauh lebih hebat darimu, dia wanita berkelas tidak rendahan sepertimu, dan berhentilah bermain-main dengan Javier, keserakahanmu akan membuat para pria muak denganmu!"