Menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis di penghujung masa SMA. dari awal yang tak mengenal cinta, hingga tersakiti oleh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Bel Istirahat Berbunyi.
Aku segera merapihkan semua peralatan belajarku dan bergegas keluar dari kelas menuju perpustakaan. Tempat ternyaman yang ada Di Sekolah ini.
Sampai di Perpustakaan. Seperti bisa, Aku mencari salah satu Novel yang ingin ku baca Ulang hari ini, karena sebenarnya Aku sudah membaca hampir seluruh buku yang ada Di Perpustakaan ini. bahkan dalam satu tahun sekarang Aku sudah 3X ganti kartu Pinjam Perpustakaan saking banyak dan seringnya meminjam buku.
Duduk di kursi paling pojok dan terbelakang adalah Rutinitas ku setelah mendapatkan buku yang akan ku baca. Jika pengunjung lain lebih menyukai kursi paling depan, maka sebaliknya, Aku lebih menyukai kursi pojok paling belakang karena menurutku, kursi pojok adalah kursi yang paling ternyaman dan tenang sehingga Aku bisa lebih fokus membaca tanpa gangguan dari sekitar.
Hari ini, disaat siswa kelas 12 disibukkan dengan pengisian formulir pengajuan tujuan Universitas. Aku malah sengaja menghindar dan bersantai disini.
Aku memang tidak berencana untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Alasannya, seperti yang kalian ketahui, Aku bukan berasal dari keluarga berada. Bagiku bisa melanjutkan sampai ke jenjang ini saja, Aku sudah sangat bersyukur dan berterima kasih pada kedua orang tuaku yang sudah berusaha mengupayakan ku agar bisa bersekolah meski dengan bantuan beasiswa dari perusahaan tempat Ayah bekerja.
untuk selanjutnya Aku tidak ingin lagi merepotkan mereka. Aku hanya ingin bekerja agar bisa sedikit meringankan ekonomi keluarga.
"Woy Lampir." Ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapanku.
Aku tak ingin menatap apalagi menggubrisnya. Aku memilih untuk mengabaikannya. Lagipula Aku sudah hafal betul siapa orang itu.
"Lo tuh ya, kalo di panggil ga pernah jawab." Ucap cowo tengil itu lagi. Ya siapa lagi kalau bukan Vino Mahardika. Satu-satunya Cowo yang sering memanggilku 'Lampir".
kadang Aku berfikir, Apa Aku sejelek itu sampai Ia tak bosan-bosannya selama hampir 3 Tahun memanggilku dengan sebutan itu. Sebuah panggilan yang terlalu ekstrim bagiku.
"Nama Gue bukan Lampir." Jawabku ketus. tanpa melihat kearahnya, Aku tetap fokus pada Novel yang tengah ku baca.
Bukannya pergi karena Sikapku yang ketus. Ia malah duduk di kursi di depanku. Hanya meja panjang yang membatasi kami.
" CK,. Gitu doank marah Lo! Nih,. Iket rambut Lo." Ucap Vino sambil menyodorkan sebuah ikat rambut berwarna Merah muda.
Aku mendongak, menatap heran ke wajahnya.
"Buat apa ?" Tanyaku heran.
Aku memang tak berniat mengikat rambut panjangku hari ini. Aku memang berniat menggerainya saja. Sedikit berbeda dari biasanya yang memang Aku kepang atau ku ikat ekor kuda agar tak terlihat berantakan.
"Ikat rambut Lo." Ulangnya lagi. Kali ini Ia malah menarik tangan kananku dan meletakkan tali rambut itu diatas telapak tanganku.
"Pake Al, Gue ga mau liat Rambut indah Lo di gerai gitu." Ucapnya lagi.
Aku di buat melongo dengan ucapannya.
"Kenapa juga nih cowo malah repot ngurusin rambut gue, lagian darimana Vino dapet iket rambut ini? Masa iya dia sendiri yang sengaja membelinya buat gue." Gumamku dalam hati.
Tak ingin berdebat panjang. Aku pun menuruti ucapannya. Ku ikat rambut panjangku dengan ikat rambut yang VIno berikan.
"Nah nurut gitu kan enak Al, sekali kali jadi cewe penurut gini, ga rugi juga kan Al." Ucapnya sambil memamerkan wajah tengilnya.
Tak ingin ku gubris, Aku pun kembali fokus pada Novelku. Namun tiba-tiba. Wajah dan tubuh Vino terasa dekat di tubuhku.
"Lain kali jangan gerai rambut Indah Lo Di Sekolah." Bisik Vino tepat di telingaku. Membuat kulit tubuhku meremang seketika.
Rupanya Vino mencondongkan tubuhnya untuk bisa membisikkan ku sesuatu.
Dengan sekuat tenaga ku dorong tubuh condongnya hingga ia kembali ke posisi semula. Duduk di depanku.
"Vino, Lo apa-apa'an sih!" Hardik ku keras.
untungnya Perpustakaan dalam keadaan sepi pengunjung. Hanya Ada kami berdua sebagai pengunjung. Dan sempat kulihat kursi Mba penjaga perpustakaan pun tampak kosong.
Alih-alih kesal karena sikap kasar ku. Vino malah tertawa meledek.
"Al, pulang bareng gue ya!" Ucap VIno setelah puas tertawa.
Tak berniat menggubris ajakan VIno. Aku memilih untuk diam dan mencoba kembali fokus pada Novel yang ku baca. Meski sebenarnya sulit sekali berkonsentrasi selama makhluk tuhan yang satu ini masih berada di hadapanku.
"Al, mau ya pulang bareng gue!" Ulang Vino dengan tingkah yang mirip anak kecil yang lagi merengek minta mainan ke ibunya. Membuatku frustasi menghadapi nya.
Bagaimana tidak. Ia berkata sambil terus menarik narik tanganku yang tengah memegang Novel.
"Iya. Gue pulang bareng Lo" Jawabku kemudian. Bukan karena tak tahan dengan sikap kekanakannya Vino. melainkan tiba-tiba saja otak ku terlintas sebuah ide.
ide untuk mengulik sesuatu yang membuatku penasaran dan semoga saja, jawaban dari Vino bisa sedikit memberikan bahan pertimbangan untukku dalam hal menjawab lamaran Rayyan besok.
Mendengar jawaban setuju dariku. Wajah Vino tampak senang.
"Gitu donk." Jawabnya yang kemudian berlalu pergi.
"Akhirnya, Gue bisa baca dengan tenang juga."Gumamku.
Ceritanya sendiri, mudah diikuti. Cerita cinta pertama dengan lika-likunya sendiri. Nggak terlalu mainstream, nggak mudah ditebak akhirnya. Penceritaan yang dominan POV 1 sudah baik, dan enak dibacanya, itu saja.
Manis di awal doang.
terkadang orang perfeksionis itu temperamental.
kecuali kamu.