"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 #Agenda tahunan TK merpati
Sinar matahari pagi menerobos celah-celah daun pohon mangga di halaman Taman Kanak-Kanak Merpati. Di depan ruang kelas bergambar kartun yang warna-warni, Bu Anisa wali kelas Kaivandra yang terkenal ramah dan penyabar, sudah berdiri menyambut kedatangan para siswa kecilnya.
Saat pandangan Bu Anisa menangkap sosok Kaivandra yang berjalan diapit oleh Bening dan seorang pria jangkung bersetelan jas eksklusif, senyuman hangat melintas di wajah paruh bayanya.
"Selamat pagi Kaivandra, Bu Bening... dan..." Bu Anisa menggantungkan kalimatnya, menatap Gibran dengan raut bertanya-tanggung.
"Pak Gibran, Bu. Ini ayahnya Kai," sahut Bening cepat namun dengan nada suara yang terkontrol, berusaha bersikap profesional.
Mata Bu Anisa berbinar mengerti. "Ah, Pak Gibran! Selamat pagi, Pak."
"Ibu Guru! Papa Kai sudah pulang dari kerja jauh!" seru Kai riang, mendongak menatap guru kelasnya dengan binar kebanggaan yang meledak-ledak. "Sekarang Kai punya Papa yang antar ke sekolah!"
Bu Anisa terkekeh lembut, membungkuk sedikit untuk mengusap pundak Kai. "Wah... Ibu Guru turut senang sekali mendengarnya, Kai. Kalau begitu, ayo masuk ke kelas. Teman-teman sudah banyak yang datang di dalam."
Kaivandra menoleh ke arah Bening dan Gibran secara bergantian. Bocah kecil yang sangat santun itu meriah tangan ibunya lebih dulu, menyalami dan mencium punggung tangan Bening penuh takzim. "Mama, Kai masuk kelas dulu ya."
"Iya, anak pintar. Belajar yang rajin ya," bisik Bening lembut, mengusap pipi Kai.
Selanjutnya, Kai berbalik menatap Gibran, melakukan hal yang sama pada ayahnya. "Papa, Kai masuk dulu."
Gibran berlutut sebentar, menepuk bahu kecil anaknya dengan rasa bangga yang membuncah. "Iya, sayang. Nanti Papa jemput lagi."
"Dadaa Mama, Papa!" Kai melambaikan tangan lalu berlari-lari kecil masuk ke dalam kelas bersama Bu Anisa.
Begitu sosok kecil Kaivan menghilang di balik pintu kelas, atmosfer hangat yang semula mengelilingi mereka seketika lenyap tanpa sisa. Bening menghembuskan napas pelan. Baginya, akting menjadi orang tua yang solid di depan anak dan guru sudah selesai. Tanpa sepatah kata pun pada Gibran, Bening berbalik dan hendak melangkah pergi meninggalkan area sekolah.
Namun, baru tiga langkah Bening bergerak, suara Bu Anisa kembali memanggil dari ambang pintu.
"Bu Bening! Pak Gibran! Maaf, bisa tunggu sebentar?"
Langkah Bening dan Gibran terhenti bersamaan. Mereka berbalik menatap Bu Ambar yang berjalan mendekat dengan map kertas di tangannya.
"Ada apa ya, Bu Anisa?" tanya Bening heran.
Bu Ambar tersenyum sopan. "Kebetulan sekali Pak Gibran dan Bu Bening ada di sini berdua. Ada hal penting mengenai kegiatan sekolah yang ingin saya sampaikan. Bisa ikut saya sebentar ke ruang guru?"
Bening dan Gibran saling melempar tatapan singkat yang sarat canggung, sebelum akhirnya mengangguk sepakat.
Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah menuju ruang guru. Bening secara sadar mengambil jarak cukup jauh sekitar satu meter di sebelah kanan Gibran. Sikap penolakan dan benteng jarak yang dibangun Bening itu tak luput dari pengamatan Gibran. Dada pria itu terasa berdenyut samar oleh rasa tak nyaman, namun ia memilih bungkam.
Di dalam ruang guru yang tenang, Bu Anisa mempersilakan mereka duduk di dua kursi kayu yang berdampingan di depan mejanya.
"Begini Bu Bening, Pak Gibran," buka Bu Anisa sambil membuka berkas catatan sekolah. "Minggu depan, sekolah kita mengadakan agenda tahunan yaitu field trip edukasi ke Kebun Binatang Kota. Kegiatan ini sangat penting untuk tumbuh kembang emosional dan pengetahuan anak-anak."
Bu Ambar menatap kedua orang tua di depannya bergantian. "Sesuai aturan sekolah, setiap siswa dianjurkan untuk didampingi oleh kedua orang tuanya agar momen kebersamaan keluarga bisa terbangun. Tapi... mengingat Kaivandra baru saja sembuh dari sakit, tidak apa-apa jika sekiranya Kai tidak memungkinkan untuk ikut."
Mendengar penjelasan itu, Bening menarik napas pendek. Pikiran pertamanya tentu tertuju pada jadwal kerja dan status sosial Gibran yang teramat tinggi. Mana mungkin seorang CEO Aditama Group mau meluangkan waktu berpanas-panasan di kebun binatang hanya untuk acara TK?
"Kai pasti akan sangat senang jika bisa ikut acara ini, Bu Anisa," jawab Bening dengan nada halus namun teratur. "Tapi kami akan melihat bagaimana kondisi kesehatannya dalam dua hari ke depan. Lagipula... untuk papanya Kai, Mas Gibran ini orang yang sangat sibuk dengan urusan pekerjaannya. Jadi sepertinya tidak memungkinkan."
Mendengar pernyataan Bening yang terkesan mewakilinya dan menyudutkannya seolah ia adalah ayah yang tak punya waktu, ego Gibran langsung tersenggol hebat. Pria itu menyandarkan punggungnya, memotong kalimat Bening dengan nada suara yang tegas dan penuh penekanan.
"Tidak," sergah Gibran cepat, matanya melirik tajam ke arah Bening. "Jika Kaivandra setuju dan ingin ikut, saya dipastikan akan meluangkan waktu penuh untuk mendampinginya. Jadwal pekerjaan saya bisa diatur."
Bu Anisa sedikit terkejut namun langsung tersenyum lega melihat antusiasme dari sang ayah. "Wah, luar biasa sekali! Baik kalau begitu, saya catat nama Kaivandra masuk dalam daftar peserta ya, Pak, Bu. Semoga kondisi Kai terus membaik sampai minggu depan."
Bening hanya bisa mengangguk pasrah dengan senyuman tipis. "Terima kasih banyak, Bu Ambar."
Usai berpamitan dan keluar dari ruang guru, langkah Bening bergegas menuju gerbang utama sekolah. Namun, baru saja ia melewati deretan pot bunga di koridor yang sepi, pergelangan tangannya mendadak ditahan oleh cengkeraman jemari besar yang hangat namun kuat.
Bening terlonjak, refleks menarik tangannya. "Mas Gibran! Apa-apaan ini?!"
Gibran berdiri menjulang di hadapannya. Wajah tampannya mengeras, dipenuhi amarah terselubung dan kekesalan yang meletup-letup.
"Apa maksudmu bicara seperti itu di depan Bu Anisa tadi, Bening?" desis Gibran dengan nada berat yang ditekan rendah agar tidak terdengar ke dalam kelas.
Bening mengernyit bingung. "Maksud yang mana?"
"Bicara seolah-olah aku ini pria tidak bertanggung jawab yang tidak punya waktu untuk anaknya!" bentak Gibran dengan tatapan mata yang membakar. "Maksudmu bilang aku sibuk adalah agar aku tidak bisa datang, lalu kamu bisa menguasai Kaivandra sendirian di acara itu, kan?!"
Bening menatap Gibran tak percaya. Rasa lelah dan perih kembali menggerogoti hatinya. Mengapa setiap niat baik dan pemikirannya selalu diartikan sebagai kejahatan oleh pria ini?
"Aku hanya berpikir realistis, Mas!" sahut Bening dengan suara gemetar, menatap lurus ke dalam manik mata mantan suaminya. "Kamu adalah pemimpin perusahaan besar! Jadwalmu padat! Aku hanya tidak ingin memberi harapan palsu pada Kai yang nantinya bisa membuat dia kecewa jika kamu mendadak membatalkannya karena urusan kantor!"
Gibran terkekeh sinis, melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Bening bisa merasakan aura dominasi pria itu yang menghimpit.
"Dengar baik-baik, Bening," bisik Gibran dengan rahang mengeras, setiap katanya bak sembilu. "Ingat... Kaivandra itu juga putra kandungku. Darah dagingku! Jangan pernah sekali-kali kamu mencoba menjauhkanku dari kehidupannya!"
Gibran menyipitkan matanya, menyunggingkan senyum dingin yang penuh ancaman. "Saat ini aku masih cukup berbaik hati tidak memindahkan sekolahnya ke sekolah internasional yang tempatnya jauh dan tidak mungkin bisa kamu jangkau. Jadi, jangan memancing kemarahanku dengan bertindak seolah kamu satu-satunya orang yang peduli pada Kai."
Deg.
Ancaman itu menghantam dada Bening tanpa ampun. Kata-kata Gibran selalu berhasil menunjukkan betapa berkuasanya pria itu dan betapa kerdilnya posisi Bening saat ini.
Bening mengepalkan jemarinya kuat-kuat di sisi tubuhnya, menahan air mata ketakutan yang mendesak keluar. Ia mengangguk pelan dengan raut wajah yang membeku.
"Baik... aku mengerti, Mas Gibran," bisik Bening dingin, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Gibran yang berdiri terpaku menatap punggung rapuh mantan istrinya yang perlahan menghilang di balik gerbang sekolah.
ga bakal ketauan ortu sendiri