Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Repot di pagi hari
"Mas, mau aku pijit?" tanya Arin.
"Nggak usah, Dek. Aku mau tidur saja," jawab Ikbal cuek. Arin merasa kecewa karena ditolak. Padahal dia ingin menyenangkan suaminya. Biasanya Ikbal suka jika Arin memijit kakinya lalu mereka akan berakhir melewati malam panas.
Namun, malam ini sepertinya Ikbal sedang kesal. Entah apa penyebabnya Arin tidak pernah dikasih tahu. Karena Ikbal tidak mau cerita. Berbeda dengan Arin dia sedikit-sedikit cerita pada Ikbal tapi suaminya itu selalu cuek. Arin merasa tidak diperhatikan.
Setelah itu, Arin tidur sambil memeluk Lily. Dia tidur di atas bersama kedua anaknya sedangkan Ikbal tidur di kasur bawah tapi sama-sama spring bed. Arin mengeluarkan uang lebih untuk membeli ranjang sorong yang dia pesan khusus agar Ikbal merasa nyaman tinggal bersamanya.
Tidak mungkin dia membiarkan Ikbal yang telah seharian mencari nafkah tidur di bawah tanpa alas. Maka Arin berinisiatif untuk memesan ranjang sorong di tukang kayu.
Berbeda dengan Ikbal yang begitu perhitungan. Arin selalu menggunakan uangnya untuk membeli sesuatu yang dirasa perlu.
Keesokan harinya, Arin menyiapkan Flora yang sudah mulai sekolah di usinya yang menginjak lima tahun. Arin selalu repot di pagi hari. Dia masih menumpang hidup di rumah orang tuanya.
Mau bagaimana lagi, uang Ikbal tidak cukup untuk membeli ataupun membangun rumah.
Ketika Arin sedang menyuapi Flora, adiknya terbangun, kini usia Lily menginjak dua tahun. Arin dibuat kerepotan. Di satu sisi dia menggendong Lily sambil menyuapi Flora.
Karena tidak ada yang diandalkan atau dimintai tolong, Arin mengajak Lily saat mengantarkan Flora ke sekolah.
"Flora ditinggal ibu ya. Ibu mau ngerjain pekerjaan rumah." Flora mengangguk patuh.
Kini Flora sudah mulai ditinggal. Padahal awal-awal sekolah dia masih ingin ditemani.
Jarak sekolah dari rumahnya sangat dekat jadi Arin tidak akan terlambat mengantar jemput anaknya.
Sesampainya di rumah, Arin menaruh Lily di depan televisi. Dia akan anteng saat menonton acara kartun kesukaannya. "Ibu beres-beres dulu ya, Lily. Kamu jangan kabur-kaburan." Arin memberikan pesan pada anaknya.
Siapa sangka Lily balik tidur lagi ketika Atin sedang sibuk beres-beres. Arin hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dia membiarkan Lily kembali tidur.
Saat waktunya menjemput Flora, Arin membangunkan Lily kemudian memandikan anak kecil itu. Dia menangis karena tidurnya terusik. Tapi mau bagaimana lagi, Arin harus menjemput anaknya di sekolah.
Sedangkan jika dia meninggalkan Lily dalam keadaan tertidur, dia tidak tega karena tidak ada yang menjaganya. Bu Nia jualan beras di toko yang tak jauh dari rumahnya. Sedangkan Tika sudah lama mengajar di sekolah dasar di desa seberang.
"Kita susul kakak lalu kita beli jajan, mau?" bujuk Arin pada putri kecilnya itu. Lily yang mulai mengerti ketika diajak berbicara pun mengangguk. Mendengar kata jajan pastilah anak-anak menyukainya.
Ketika sampai di sekolah, Flora menangis. "Flora kenapa, Bu?" tanya Arin pada guru yang mendampingi anaknya.
"Tadi pensilnya ketinggalan, Bu. Dia takut meminjam temannya. Tapi sudah saya pinjami."
"Oh, maafin ibu ya, Flo. Ibu kurang teliti memeriksa tas kamu." Flora mengangguk. Kini Arin pamit mengajak anaknya pulang.
Namun, Arin tidak pernah pulang tepat waktu karena dia selalu menyenangkan anak-anaknya dulu. "Yuk jajan lekker sama kue cubit," ajak Arin. Flora dan Lily menyukainya.
Bagi Arin begini saja sudah seperti healing di saat dia suntuk mengerjakan pekerjaan rumah.
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...