Sebuah kisah yang menceritakan perjalanan seorang anak yang harus menghadapi kepahitan dalam hidup, berjuang dan di asingkan oleh keluarga kandungnya demi menyelamatkan dan mempertahankan identitas dirinya.
Dia adalah Griffin, seorang anak yang harus merasakan sakitnya hidup dalam pembullyan orang-orang sekitar, serta perjuangan yang mengharuskanya hidup di tengah kondisi yang sangat menyedihkan.
Dia hanya tinggal bersama dengan kakeknya, Jesper. Bahkan, dia tidak di perbolehkan untuk mengetahui wajah orang tua kandungnya.
"Kakek, mengapa aku tidak boleh mengenal orang tua ku ?" tanyanya setiap kali merasa sesak ketika melihat teman-temannya berjalan dengan orang tua mereka.
"Suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya Griffin, berjuanglah," balas Jesper dengan tersenyum lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrieta rendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan ZEIN
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Di saat mereka semua keluar, tatapan mereka jatuh pada Griffin yang sedang berdiri di belakang Jesper.
"Nah itu dia anak pembawa sial," ujar orang tua Bayu yang mengompori warga yang lainya.
"Iya, dulu di saat anak pembawa sial ini tidak ada di kampung kita, tidak ada yang terlibat masalah seperti anak-anak kita, betulkan," sahut salah satu warga lagi.
"Betul, lebih baik usir saja anak itu dari kampung ini, jika tidak selamanya kampung ini akan terkena sial karnaya," seru salah satunya lagi, dan mulai ingin melangkah mendekat ke arah Griffin untuk menyeretnya keluar.
"Berhenti kalian! Jangan pernah sekalipun kalian menyentuh cucuku!" Bentak Jesper melindungi Griffin cucu kesayanganya.
Jesper yang merasa geram karna orang-orang ini berani sekali memanggil cucunya dengan sebutan pembawa sial, langsung menghubungi Aiden untuk segera menyelesaikan orang-orang ini.
Warga yang melihat Jesper terlalu berani untuk memberhentikan langkah mereka kini langsung mendorong tubuh Jesper agar menjauh. Dan langsung menarik Griffin menyerenya agar keluar dari kampung ini.
"Lepaskan aku. Apa salahaku,,tolongg lepaskan," teriak Griffim merasa sakit ketika yang lainya mencengkram tubuhnya dengan sangat kuat.
Derry yang melihat itu juga langsung menggigit tangan mereka satu persatu agar bisa lepas dari jeratan masyarakat.
"Lepaskan teman saya, lepaskan,"
Mereka memang sengaja tidak ingin memperlihatkan kekuatan mereka, karna ini adalah kampung.
Derry takut jika emosinya akan berujung hal yang merugikan banyak orang nantinya terkhususnya keluarga ini yang sudah banyak berbuat baik padanya.
Warga yang kesal melihat tindakan Derry kini lagi-lagi mendorong tubuh kecil itu hingga terjatuh ke tanah.
"Aawwwwhhh," rintihnya kesakitan karna tubuhnya yang terjadi di tumpukan batu.
Warga yang lain sama sekali tidak menghiraukan Derry, dan terus membawa paksa Griffin agar keluar dari kampung.
Dorrrrr,, suara tembakan peringatan dari Zein yang begitu marah melihat keponakanya di perlakukan bagiakan seorang binatang seperti ini.
Valen yang melihat aksi Zein kini hanya membiarkanya saja, dan langsung cepar mengambi paksa tubuh Griffin dari mereka.
Namun bukanya melepasakan, mereka malah semakin gencar menggengam tangan Griffin.
"Lepaskan Cucuku, kalian benar-benar tidak waras ya, dia masih begitu kecil tapi kalian sudah menyalahkanya atas kesialan kalian," bentak Valen yang juga tidak terima atas perlakuaan kasar mereka.
Zein yang melihat mereka tidak mau melepaskan keponakanya, dengan cepat langsung menembak tangan-tangan yang menyentuh dan menarik tangan Griffin.
Dorr,,ddor,door,dorr, Zein melepasakan pelurunya dengan cepat ke arah mereka.
Membuat warga menjadi panik dan juga marah. Bahkan salah satu dari mereka ada yang langsung menghubungi polisi.
Valen dan Jesper yang melihat Zein menembak beberapa warga kini hanya menggelengkan kepalanya pusing, dan dengan cepat membawa Griffin dan Derry masuk ke dalam rumah, sebelum Aiden datang dan malah menyebabkan masalah yang lebih besar.
Pak Rt yang sedari tadi melihat aksi Zein, kini hanya diam bagaikan patung tak mampu berkata apa-apa lagi.
Sebab dia takut jika salah bicara maka Zein juga akan menembaknya.
Dan tak lama kemudian, datanglah Aiden dengan wajah yang begitu marah menatapn ke arah mereka semua.
Namun tak lupa Aiden membawa seluruh anao buahnya untuk menutup akses jalan masuk ke dalam kampung itu, agar tidak ada yang menganggu kegiatanya.
Aiden diam dan menatap ke arah warga yang terkena peluru dari Zein. Dan warga lainya yang ketakutan dengan wajah iblis dari Aiden.
"Jadi apa tadi yang kalian katakan tentang keponakan saya?" Tanyanya dengan suara yang penuh dengan penekanan.
Semua warga yang ketakutan saat ini, hanya bisa diam tanpa berkutik.
Hingga tak lama kemudian polisi-polisi itu datang ke hadapan mereka, dan ingin melaporkan tindakan Zein yang menembak mereka.
"Salamat malam Tuan Aiden," sapa mereka yang seketika membuat tubuh mereka membeku.
"Malam Pak," jawab Aiden.
"Jadi yang mana yang ingin di laporkan Tuan?" Tanya polisi itu pada Aiden.
Dan warga yang melihat itu, langsung berjalan mendekat ke arah polisi tersebut, "pak ini dia pak orangnya, dia tadi menembak ke arah teman saya," tunjuk warga itu pada Zein dan korbanya.
Namun bukanya menangkap Zein, polisi-polisi tadi malah mengamankan empat orang yang di tembak oleh Zein tadi, dan di duga menjadi otak dari segala masalah ini.
"Lohh,,lohh pak, kenapa kita yang di tangkap," elak mereka sambil merasakan sakit dan nyeri di tangan mereka.
Polisi-polisi itu hanya diam saja tanpa menjawab, karna mereka lebih takut pada Aiden yang akan siap melenyapkan mereka jika sampai melakukan kesalahan yang fatal.
Pembrontakan demi pembrontakan mereka lakukan semampunya, bahkan warga yang lain termasuk pak Rt hanya mampu melihatnya saja tanpa bisa berkutik ataupun memebelanya.
Karna jujur yang mereka lakukan memang salah dan sulit untuk di maafkan, bagaiamna bisa mereka melakukan hal seperti itu pada anak yang masih berusia 10 tahun.
Hingga Pak Rt saat ini hanya tertunduk malu saja karna tidak bisa bersikap adil pada Griffin dan juga keluarganya.
Setelah ke-empat orang itu di bawa, kini Aiden kembali menatap ke arah Zein dan memberikan kode untuk melihat keadaan Griffin di dalam.
Zein langsung menganggukan kepalanya dan segera melangkah masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Aiden kembali memberikan wejangan untuk beberapa warga yang masih tersisa.
"Jika hal ini sampai terjadi lagi, maka bukan hanya tangan kalian yang akan di tembak, melainkan nyawa kalian yang akan saya ambil mengerti!!" Tegas Aiden seketika membuat mereka merasa tinggal di sebuah kampung kematian.
Mereka ingin membantah, tapi apalah daya mereka yang hanya orang biasa tanpa memiliki kuasa apapun.
Aiden melangkah mendekat ke arah Pak RT yang tertunduk takut saat ini, "kamu Pak RT di sini kan?" Tanya Aiden.
"I-iya Tuan, saya Pak RT di sini," jawabnya dengan gemetar.
"Dengar! Saya akan menaruh 10 body guard yang akan menjadi security di sini, ingat ya! Semua pergerakan kalian saya awasi, meskipun kalian sudah pindah, akan tetapi mulut kalian bocor menceritakan hal ini ke warga lainya, maka jangan salahkan saya jika kalian tidak bisa melihat matahari terbit lagi." Ancamnya yang langsung di iyakan oleh mereka semua.
"Jika kalian paham maka bubar sekarang! Saya tidak ingin keponakan saya masih melihat wajah kalian yang menjijikan ini ada di sekitaran sini," bentaknya yang lagi-lagi langsung membuat warga lainya membubarkan dirinya.
Setelah semua warga bubar, Aiden yamg sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Griffin, kini memilih mengurungkan niatnya, karna dia tidak ingin Griffin curiga akan dirinya yang datang tiba-tiba padahal tak ada yang mengundangnya.
Kini memilih pulang, karna tak ingin nantinya Griffin malah curiga tantang statusnya dia, yang merepukan bos dari Griffin dan yang lainya.
Sedangkan di dalam ruangan terlihat Griffin yang tersenyum menatap orang-orang di sekitarnya.
"Aku gak papah kok, kalian jangan khawatir seperti itu please," pintanya yang tak tahan dengan tatapan mereka semua.
Valen yang tak mampu melihat ketangguhan serta ketegraan Griffin dalam menghadapi masalah kini langsung memeluk tubuh cucunya itu.
"Griffin, kalo memang mau nangis atau mau teriak gpp sayang, itu bukan berarti Griffin lemah, hanya saja sebagai manusia kita memang pasti memiliki titik terendah dan pasti akan menangis untuk meluapkan segala bentuk amarah," ucap Valen, dan seketika Griffin yang memang sudah tidak tahan ingin menangis kini, langsung memeluk tubuh Valen erat dan menangis sekencangnya.
"Huaaaa,,hisskk,hisskk, kenapa semuanya tidak adil untuk Griffin, kenapa semuanya jahat,hisskk,,hisskk, bukan ingin Griffin tak memiliki orang tua, lalu kenapa Griffin di salahkan," tangisnya yang semakin menusuk relung hati siapapun yang mendengarnya.
Jesper bahkan diam-diam merekamnya untuk mengirimkanya pada Arvan, agar kakek tua itu tau bagaiamana kesulitan cucunya dalam menanggung beban kehidupan ini.
Sedangkan Derry yang melihat kesedihan Griffin, kini hanya bisa menatapnya dalam diam, karna dia tau apa yang sedang di rasakan oleh temannya ini.
Tidak memiliki orang tua adalah sebuah kesakitan sendiri, apa lagi seperti Griffin yang kerap di bully sebagai pembawa sial dari kematian orang tuanya.
Padahal mereka sudah tau jelas, Griffin bukanlah seorang Tuhan penentu kematian.
Setelah lelah menangis, Griffin akhirnya tertidur di pelukan Valen, dan kini Jesper berusaha untuk menggendong tubuhnya masuk ke dalam kamar.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*