Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Nara duduk ditepi ranjang. Lamunannya jauh melayang tanpa sadar air matanya mengalir.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya, “Kamu harus kuat, Nara. Ini pilihan yang terbaik.”
“Terima kasih, kamu sudah menolongku, Mir”
“Besok pagi, kita akan pergi kerumah nenekku. Revan tidak akan bisa menemukan kamu disana.”
“Kamu yakin?” tanya Nara
“Tentu. Revan tidak akan mengira kamu masih disekitarnya. Aku yakin dia berpikir kamu kabur keluar negeri.”
“Besok kamu ikut denganku?”
“Tidak bisa, Nara. Revan pasti sedang mengawasi semua teman-temanmu. Aku harus tetap disini agar dia tidak curiga.”
“Terima kasih. Kamu sahabat terbaikku, Mir”
Nara bertemu dengan Mira saat di Rumah Sakit, saat dia sedang menjenguk kerabatnya. Nara menceritakan semuanya termasuk rencananya untuk ke luar negeri untuk melarikan diri. Namun, Mira melarangnya. Menurut Mira jika Nara pergi kesana akan berbahaya dalam kondisi sedang hamil. Mira meminta Nara untuk ikut dengan sepupunya yang akan pulang kekampung halaman.
Mira menyarankan Nara untuk tinggal bersama neneknya disebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Memang cukup jauh perjalanannya. Tetapi, Mira yakin disana Nara akan baik-baik saja.
Rencana awal tetap di jalankan Nara. Untuk mengecoh Revan, karena tujuannya adalah agar Revan berpikir bahwa Nara benar-benar ke luar negeri.
“Pakai ini.” Alfian menyodorkan sebuah masker pada Nara.
Faris adalah sepupu Mira dari pihak Ayahnya. Dia yang akan membawa Nara ke kampung halamannya.
“Nara, kamu hati-hati ya. Jangan sampai jauh dari Alfian.” ucap Mira
Nara mengangguk lalu mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.
“Alfian, ingat ya jangan sampai Nara di kenalin sama orang-orangnya Revan.”
“Iya,” sahut Alfian.
“Oh ya, satu lagi. Kamu jangan bicara sama orang asing dan jangan buka masker kamu di depan umum, ya.” Mira terus memperingatkan Nara dan Alfian.
Nara menggenggam tangan Mira, “Mir, kamu tenang aja aku akan baik-baik aja dan terima kasih.”
Mira memeluk Nara. Air matanya pun menetes melepas sahabatnya, “Kalau situasi sudah aman, aku bakalan nemuin kamu disana.”
“Iya, aku tunggu. Saat anak ini lahir aku mau kamu datang, ya.”
“Pasti... pasti aku datang.”
“Udah nangis-nangisnya, nanti kita ketinggalan bus.” ucap Faris
“Kamu ini mana paham masalah perempuan.” sahut Mira kesal
Alfian dan Nara pergi menaiki bus. Selama perjalanan Nara gelisah, begitu banyak yang dia pikirkan. Terutama kedua orang tuanya. Saat ini pasti mereka sudah mengetahui tentang kepergiannya.
“Kamu, takut.?” tanya Alfian
“Iya.” jawab Nara singkat
“Tenang aja, aku enggak akan aneh-aneh, kok.”
“Bukan... maksudku bukan takut ke kamu. Aku takut kamu dan Mira kena masalah kerena aku.”
Bukan takut pada Alfian yang Nara rasakan. Dia yakin Alfian pria yang baik dan tulus membantunya. Nara hanya merasa canggung harus berpergian dengan orang yang baru saja dia kenal. Nara sadar betul dirinya menjadi beban bagi Alfian.
“Sebenarnya aku juga enggak mau ikut campur urusan rumah tangga orang, apalagi kamu masih resmi istri si Revan itu. Tapi, aku juga enggak bisa biarin kamu tetap tinggal sama orang seperti itu.”
“Terima kasih, kamu sudah mau menolong aku.”
Alfian mengangguk, “Disana kamu akan tinggal di kampung. Emang kamu betah?” tanya Alfian
“Apapun akan aku hadapi, karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri mulai sekarang.”
Nara mengusap perutnya yang masih rata. Namun, tidak bisa menutupi fakta bahwa ada nyawa yang harus dia jaga.
“Kenapa kamu bisa menikah sama orang seperti itu?”
“Mungkin saja sudah takdirku. Ceritanya panjang, kamu enggak akan kuat dengarnya.”
“Oh ya, berapa episode kalau di jadikan sinetron?” tanya Alfian seraya teratawa
“Mungkin bisa terbagi beberapa season,” Nara menimpali candaan Alfian.
Perjalanan kekampung halaman Alfian memakan waktu empat jam. Melalui jalur darat. Sebenarnya bisa saja menggunakan jalur udara tetapi resiko Revan menemukan Nara akan lebih besar.
Alfian menatap Nara yang sedang tertidur disampingnya. Dia menyelimuti Nara menggunakan jaketnya, lalu Alfian menarik perlahan kepala Nara agar bersadar di bahunya agar tidak terbentur.
Alfian awalnya menolak permintaan Mira. Alfian tidak ingin di tuduh membawa kabur istri orang, bahkan Nara sedang mengandung. Besar tanggung jawab yang harus dia hadapi. Tetapi, setelah Mira menceritakan masalah yang di hadapi Nara membuat hatinya melunak.
Menikah karena perjodohan dan menjadi istri kedua dan kini Nara butuh waktu sejenak dan menyiapkan diri untuk menghadapi Revan. Secara garis besar hanya itu yang Mira ceritakan pada Alfian.
Alfian juga tidak tertarik untuk bertanya pada Nara. Baginya itu masalah pribadi yang tidak pantas untuk di ceritakan pada banyak orang. Sedangkan mereka juga baru kenal yang pastinya Nara merasa tidak nyaman padanya.
***
Setelah turun di terminal Bus. Nara dan Alfian sudah di jemput oleh kerabatnya. Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor, kurang lebih 30 menit mereka sampai disebuh desa. Begitu asri masih banyak pepohonan dan tanaman umbi-umbian juga sayur-mayur disepanjang jalan.
“Kita sudah sampai,” ucap Alfian
“Kamu pasti Nara.”
“Iya, Nek. Saya Nara teman Mira,” ucap Nara seraya berjabat tangan dengan wanita yang sudah menantinya sejak tadi.
Nara memasuki rumah itu dan duduk di kursi kayu. Nara melihat sekeliling ruang tamu, terpampang foto-foto lama dari keluarga Nenek. Nara penasaran, dari sekian foto yang terpanjang mana yang merupakan wajah sahabatnya.
Alfian memiliki kepekaan dari tatapan Nara. Dia mengambil satu buah foto yang di panajng di lemari kaca dan memberika foto itu pada Nara.
“Ini Mira?” tanya Nara tidak yakin
“Iya, pasti kamu gak nyangka, kan.”
Nara tertawa melihat foto sahabatnya itu, berambut kriting dan gendut. Sangat berbeda dengan saat ini.
“Ini waktu Mira umur lima tahun, sebelum dia dan orang tuanya pindah ke kota,” ucap Nenek yang menghampiri Nara dan memberikan air minum.
“Nek, buatku mana?” tanya Alfian
“Ambil sendiri di dapur, kok manja kamu.”
“Nek, yang cucumu itu aku bukan Nara,” gumam Alfian
“Udah sana ambil sendiri jangan banyak protes.”
Nara merasa terhibur dengan tingkah Alfian. Sebelumnya dia terlihat pria yang dingin dan tidak banyak bicara, tetapi saat bersama Neneknya sisi manjanya muncul.
“Kamu tenang saja, semua sudah Mira ceritakan sama, Nenek. Anggap seperti rumah sendiri.”
“Terima kasih, Nek.”
“Kamu istirahat saja dulu di kamar. Perjalanan dari kota jauh, pasti kamu capek.”
Nara menuruti perintah Nenek dan masuk ke kamar yang sudah di siapkan. Kamar ini dulu di tinggali Mira. Cukup sederhana dengan sebuah tempat tidur hanya muat untuk satu orang dan satu meja rias dan satu buah lemari kayu. Nara berbaring di ranjang itu, berusaha merilekskan seluruh tubuh dan pikirannya.
Suasana yang begitu menenangkan dan sejuk. Harapan dan tujuan hidup yang baru akan dimulai di sini.
Nara membuka tas ukuran sedang yang dia bawa. Mengeluarkan beberapa baju dan meletakkan di lemari kayu di kamar itu.
“Sepertinya baju ini sebentar lagi gak akan muat,” guman Nara seraya memandangi dress berwarna maroon kesukaannya.
“Pakai daster Nenek saja kalau gitu,” ucap Alfian yang sedang bersandar di pintu kamar.
Nara menoleh ke arah Alfian, “Kamu nguping, ya?”
“Pintunya gak di tutup. Siapapun yang lewat pasti dengarlah.”
“Ada apa?” tanya Nara
“Makan malam sudah siap. Nenek, sudah menunggu.”
Nara meletakkan kembali dressnya dalam koper. Lalu pergi menghampiri Nenek yang sudah menunggu di meja makan.
“Makan dulu, supaya nanti nyenyak tidurnya,” ucap Nenek seraya mengambilan nasi untuk Nara.
“Nek, aku pulang dulu,” ucap Alfian
“Iya, nanti jangan lupa pesanan Nenek, ya.”
Nenek mengantar Alfian sampai ke depan pintu. kemudian, kembali duduk bersama di ruang makan.
“Nek, Alfian tidak tinggal di sini, ya?” tanya Nara
“Dia itu bisa tinggal dimana saja. Kadang di rumah nenek kadang juga di rumah bibinya.”
“Orang tuanya dimana, Nek?”
“Loh, Mira gak cerita sama kamu. Ibunya menikah lagi dan rumahnya tidak jauh dari rumah Mira. Kalau Bapaknya sudah tidak ada, kena serangan jantung.”
“Oh, berarti kemarin Alfian lagi mengunjungi Ibunya. Saya kira karena permintaan Mira untuk jemput saya. Saya sempat merasa gak enak sudah bikin Alfian dan Nenek repot.”
“Sudah, Nak. Jangan mikirin itu lagi, Nenek senang kamu tinggal disini.”
Setelah makan malam. Nara menemani Nenek menonton siaran berita di televisi. Nenek sangat senang dengan berita politik. Di luar dugaan wanita yang sudah sangat renta masih sangat semangat saat membicarakan hal seperti ini.
Nenek mengatakan bahwa dia tidak suka menonton sinetron karena masalahnya tidak selesai-selesai dan lama-lama menjadi membosankan.
“Oh ya, usia kehamilan kamu berapa bulan, Nak?” tanya Nenek sambil meminum tehnya.
“Baru lima minggu, Nek.”
“Harus di jaga, kamu jangan sampai capek, jangan banyak pikiran juga.”
“Iya, Nek. Aku pasti akan jaga bayi ini dengan baik.”
Nara berbaring di ranjangnya. Mencoba untuk terlelap tatapi selalu saja gagal. Sungguh sangat sunyi saat malam hari. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Nara melihat jam di ponselnya, masih pukul 19.36 Wib tapi suasananya seperti sudah tengah malam.
Beberapa saat kemudian suara pintu diketuk. Nara mendengar sayup-sayup Nenek sedang berbicara dengan
seseorang. Nara memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan menghampiri Nenek.
“Kamu pulang duluan, siapin air hangat dan baju bayinya. Saya siap-siap dulu.” Nenek berbicara dengan pria yang terlihat panik dan bercucuran keringat.
“Ada apa, Nek?” tanya Nara
“Ada yang minta tolong. Nenek mau kesana dulu, kamu di rumah sebentar, ya.”
Nenek kembali masuk ke kamarnya dan membawa tas berwarna coklat tua. Nenek tergesa-gesa mengambil baju lengan panjangnya yang tergantung di dinding lalu mengenakannya.
“Nek, aku boleh ikut?” tanya Nara
Bukan tanpa alasan Nara ingin ikut kemana Nenek pergi. Salah satunya rasa takut jika harus tinggal sendiri di rumah yang Nara sendiri belum terbiasa.
“Tapi jalan kaki, Nak. Gelap juga disini gak ada lampu jalan.”
“Gak apa-apa, Nek. Aku juga belum mengantuk.”
“Ya, sudah. Ayo ikut.”
Nara membawakan tas Nenek dan memegang alat penerangan berupa tabung dengan bola lampu kecil di
ujungnya, yang tertutup kaca dan baterai untuk menyalakanya. Nara tidak asing dengan benda ini, karena dulu Ayahnya juga memiikinya.
Penerangan didesa ini sangat terbatas. Saat pukul lima sore listrik akan di nyalakan dan saat pukul sepuluh malam akan di padamkan.
Benar saja yang di katakan Nenek. Sepanjang jalan tidak ada penerangan, jalan masih menggunakan bebatuan yang disusun. Jika saja salah melangkah kaki akan tersandung dan terjatuh.
“Nek, memangnya kita mau ngapain?” tanya Nara penasaran
“Sebentar lagi kamu juga tahu, Nak. Itu rumahnya.” Nenek menunjuk sebuah rumah. Di sana ada beberapa orang menunggu di teras rumah. Saat melihat Nenek mereka segera mempersilahkan Nenek masuk.
Nara memilih menunggu Nenek di teras rumah itu, duduk bersama tetangga dari rumah sekitar. Satu hal yang pasti di dalam sana sedang ada seorang yang berjuang hidup dan mati untuk melahirkan seorang bayi.
Nara mulai merasa gugup dan takut. Suara jeritan dan tangisan begitu terngiang di telinga Nara. Nenek terus memberi semangat dan mengajarkan pasiennya untuk mengatur napas.
“Bu, di sini tidak ada Bidan atau tenaga kesehatan, ya?” tanya Nara mencoba mengalihkan pikiranya.
“Ada Mbak, tapi jauh rumahnya. Bidannya masih di jemput sama Pak Kades,” jawab Ibu yang sedang duduk di damping Nara.
“Mbak baru ya?” tanya seorang pria paruh baya yang duduk di depan Nara.
“Iya, Pak. Saya tinggal di rumah Nek Imah.”
“Di sini memang susah, Mbak. Sebenarnya, Nek Imah sudah tidak mau menolong orang melahirkan tapi karena darurat dan Bidannya belum datang, jadi kami minta bantuan Nek Imah.”
Nara mengangguk mengerti. Jadi ini alasan Mira meminta dirinya untuk tinggal bersama Neneknya. Selain jauh dari jangkauan Revan, Nenek bisa membantu dirinya saat melahirkan nanti. Tapi sejujurnya ada keraguan jika dia harus melahirkan anaknya di sini. Nara hanya ingin yang terbaik untuk anaknya kelak.
Nara memejamkan matanya saat sinar menyilaukan menyinari wajahnya. Dua buah sepeda motor berhenti tepat di depan rumah itu. Salah satunya Alfian bersama seorang wanita paruh baya. Ya, wanita itu Bidan yang sudah di tunggu-tunggu sejak tadi.
“Kamu kenapa di sini? Gak takut?” tanya Alfian pada Nara
“Kenapa harus takut, bukankah setiap wanita akan melahirkan.”
Alfian tersenyum, lebih tepatnya menaan tawa. Karena ucapan Nara tidak sesuai dengan kondisi wajahnya yang sudah pucat dan tangannya gemetar.
Nara tidak ingin Alfian menang dengan prasangkanya. Dia memberanikan diri untuk melihat Nenek Imah dan
Bidan melakukan tugasnya. Perlahan Nara menyibakkan tirai di pintu kamar, di sana terbaring seorang wanita yang masih sangat muda, keringat dan air matanya bercampur menjadi satu.
Bebarapa saat kemudian tangisan Bayi terdengar. Napas lega dan senyuman mengembang di bibir sang Ibu. Rasa penasaran Nara semakin menjadi, keinginan untuk melihat bayi yang baru saja lahir.
Namun, saat melihat cairan berwarna merah menggenang di sana. Seketika kakinya lemas, perutnya terasa mual dan pandangannya mulai memudar. Nara terjatuh tidak sadarkan diri.
Nenek Imah terkejut bukan kepalang. Dia segera memanggil orang-orang untuk mengangkat tubuh Nara. Alfian mencoba menyadarkan Nara, mengoleskan minyak angin di sekitar indra penciuman Nara.
Dia memang wanita keras kepala. Sudah tahu tidak sanggup untuk apa memaksakan diri dan akhirnya jadi seperti ini. Begitulah yang diucapkan Alfian dalam hatinya.
Usaha Alfian berhasil. Nara membuka matanya perlahan, sudah banyak orang berkerumun di sampingnya. Rasa malu menyeruak dari hati Nara. Dia tidak ingin sadarkan diri begitu cepat.
“Ini sangat memalukan,” guman Nara perlahan.
“Nak, kamu masih pusing?” tanya Nek Imah seraya membantu Nara bangkit dari pembaringan.
“Sedikit, Nek,” jawab Nara
“Minum teh hangat dulu, Mbak. Biar badanya enakkan.”
Nara meminum teh pemberian Ibu yang tadi berbicara dengannya.
“Alfian, antar pulang Nara kalau sudah tidak pusing lagi.” Perintah Nenek pada Alfian.
“Nek, aku pulang sekarang saja. Pusingnya sudah hilang, kok.”
“Gak tahan sama malunya, ya?” Alfian tertawa dan begitu juga dengan orang-orang di rumah itu yang ikut tertawa.
“Oh iya, mumpung ada Bidan, sekalian kamu periksa ya, Nak.”
Alfian dan Nara kembali ke rumah Nek Imah. Sesuai permintaan Nek Imah, Nara menunggu Bidan di rumah.
“Kamu masih pusing?” tanya Alfian
“Sudah tidak. Aku tidak pernah melihat darah sebanyak itu, jadi sedikit terkejut saja tadi.”
“Iya, aku paham.”
Saat Bidan datang. Nara langsung di periksa secara seksama. Beberapa pertanyaan di ajukan pada Nara. Namun, karena usia kehamilan Nara masih sangat muda, detak jantung janin belum terdengar. bidan menyarankan agar dia kembali memeriksakan kemahilanya saat usia kurang lebih 20 minggu, saat itu jantung janin akan terdengar.
“Jangan lupa pil yang warna putih ini di minum saat pagi dan pil yang warna merah di minum saat malam.” Bidan memberika dua bungkus obat pada Nara.
“Gimana, Bu Bidan. Bayinya sehat?” tanya Alfian saat Bidan keluar dari kamar Nara
“Sehat, yang penting jangan terlalu capek dan stres, ya.”
“Iya, terima kasih, Bu”
“Satu lagi, selama kehamilan periksa ke Bidan atau dokter minimal tiga kali. Lebih bagus lagi jika bisa periksa satu bulan sekali.”
“Iya, Bu. Pasti setiap bulan saya bawa Nara memeriksakan kandungannya,” ucap Alfian.
Setelah Alfian pergi mengantar Bidan kembali ke rumahnya, Nara menutup pintu dan kembali ke kamrnya untuk istirahat. Malam ini dia harus tinggal sendiri karena Nek Imah belum bisa pulang, menurut penuturan Alfian Nek Imah saat pagi baru kembali ke rumah.
Tenaganya masih di butuhkan disana untuk menjaga Ibu dan bayi yang baru lahir. Ibu muda memang harus banyak belajar terutama untuk Nara sendiri.
FOLLOW IG AUTHOR: @hanania442
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...