Pada umurnya yang ketigabelas, Nala Turasih pernah sakit parah dan meninggal. Warga kampung menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri ketika gadis itu kembali hidup setelah baru saja dipocongi.
Novel ini terdiri atas beberapa Serat dan Hikayat yang jalan ceritanya berpusat pada tokoh utama, Nala Turasih:
Serat Grha Pamujan
Serat Bhumi Menungsa
Serat Jiwa
Serat Samudra Yudha
Serat Pamungkasan
Hikayat Sang Nayu
Hikayat Amin Kelaru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikodemus Yudho Sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serat Grha Pamujan - Darmadi
Pak Kuranji sudah mempertimbangkan luas lorong tangga sebagai pertahannya. Pengalaman berkelahi selama hidup di kampung halaman dan dalam masa perantauan sepertinya menemukan puncaknya disini, saat ini juga.
Tiga orang pemuda berwajah polos tetapi memaksa untuk terlihat beringas sudah menderu maju. Sialnya, ruang di tangga yang tidak terlalu lebar tidak memungkinkan bagi kesemuanya untuk maju beriringan dan berdampingan. Pak Kuranji paham ini. Bahkan sebelum klewang ditebaskan, Pak Kuranji sudah lebih dahulu menjemput sasaran yang bergerak itu. Karambitnya disabetkan ke kaki lawan, sedangkan tangannya yang bebas menepis tebasan sekaligus mendorong lawan. Sekali lagi, gerakan cepat dan terukur ini membuat pemuda dengan klewang menggelinding jatuh kehilangan keseimbangan. Satu rekannya ikut tertubruk dan jatuh. Namun, belajar dari rekan-rekannya yang semua menggelundung konyol bagai bola ke bawah berkali-kali, satu rekan lainnya menghindar cepat dan menerobos maju.
Pak Kuranji tak punya pilihan lain. Bacokan musuh dibalas dengan sabetan karambit ke leher dan dada lawan. “Mampus, kau!” serunya, sebelum dengan sabetan bertenaga itu sang pemuda oleng ke samping dan jatuh berdebum ke lantai bawah. Tidak seperti teman-temannya yang menggelinding, sang pemuda jatuh tanpa halangan, tunduk pada gravitasi. Pak Kuranji merasa sedikit cemas karena kemungkinan anak muda itu tewas dengan luka sobek di leher dan dada, serta jatuh keras dari lantai dua seperti itu.
Sayangnya, bukan itu yang terjadi. Sang pemuda mengerang pendek, lebih karena kesal dibanding sakit, kemudian kembali berdiri. Pak Kuranji tidak melihat ada lelehan darah di tubuhnya, bahkan tak ada bukti rasa sakit tertinggal di raut wajah pemuda di lantai satu tersebut. Sama pula dengan para pemuda yang menumpuk di bawah. Keadaan mereka sama sekali prima, termasuk pemuda yang Pak Kuranji pikir telah ia lukai di kaki dengan karambitnya. Pak Kuranji melihat jelas sobekan di celana panjangnya, tetapi tidak ada darah yang keluar.
“Ilmu kebal!” batin Pak Kuranji. “Bangsat, bangsat!” sumpah serapah Pak Kuranji. Ia melihat ke arah karambitnya, kemudian berkata, “Datuk, dimana engkau? Berikan aku petunjuk bagaimana cara mengalahkan mereka.”
Tidak ada jawaban, tidak ada penglihatan. “Sudah kuduga. Kekuatan gaib selalu berbicara dengan cara yang aneh dan tidak biasa. Ketika kubutuhkan, ia malah tak ada,” kembali Pak Kuranji membatin kesal.
Ia bertambah kesal karena baru sadar bahwa ternyata ia sendiri yang terluka. Ada goresan panjang berdarah dari bahu hingga lengannya. Walau tidak terlalu dalam, luka itu mengirimkan rasa perih melalui syaraf ke otaknya.
“Baiklah kalau memang seperti ini caranya. Seratus bajingan kebal macam kalian pun akan aku hadapi sampai tetes darah penghabisan,” ujar Pak Kuranji kepada para pemuda yang sudah kembali siap berbondong-bondong menyerangnya, walau di dalam hati ia sudah hampir seratus persen yakin bahwa kematian sudah di depan mata.
Yang ia sesalkan adalah ketika memikirkan Nala Turasih. Bagaimana keamanan perempuan itu bila dirinya tewas di dalam perkelahian ini? Padahal, hubungannya dengan adik iparnya itu sedang begitu intim. Ia bahkan baru mulai sadar bahwa ia kerap menggunakan kata ganti ‘aku’ ketika berbicara dengan Nala Turasih, bukannya ‘abang’ lagi.
Pak Kuranji mendesah.
“Tunggu, cah!” mendadak terdengar suara perintah yang membuat para pemuda serempak diam dan berhenti dari segala tindakan mereka.
Darmadi, bertelanjang dada, masuk ke dalam arena pertempuran. Coretan rajah dari tinta hitam berbentuk melingkar dengan aksara Jawa terlihat jelas di dadanya, sama persis dengan yang dimiliki para pemuda lainnya.
“Mas Darmadi?” ujar Pak Kuranji. Namun ekspresi ini sebenarnya bukan ekspresi keterkejutan, tetapi lebih kepada rasa kesal. Ia sudah lama tak menyukai Pramudi dan Darmadi. Kakak beradik itu begitu aneh dan misterius. Selama ia bekerja di perusahaan tebu milik mendiang mertua dan bolak-balik ke rumah ini, Pramudi dan Darmadi terlihat sebagai dua orang abdi dan pesuruh yang mencurigakan. Mereka terlihat sangat loyal dan tidak pernah mengeluh dengan perintah yang diberikan kepada mereka, serta tugas dan kewajibannya. Mana ada pesuruh yang mengabdi seumur hidup mereka tanpa mendapatkan imbalan yang pantas.
Keduanya menurut Pak Kuranji pastilah memiliki agenda dan ambisi tertentu yang tak ia ketahui. Selain sebagai pengurus rumah dan bertugas di bidang keamanan, mereka mengatakan juga bekerja di sawah dan ladang. Di sanalah mungkin keduanya mengabdikan waktu untuk menyusun hal-hal ini.
“Pak Kuranji, selamat malam. Terus terang kami tidak menyangka Pak Kuranji bisa selamat sampai sekarang. Kakang Pram ternyata sungguh menganggap Pak Kuranji adalah orang yang istimewa,” ujar Darmadi.
Pak Kuranji meludah ke lantai. “Aku baru sadar kalau ternyata selama ini kau menggunakan kata ‘kami’ terus-menerus. Rupa-rupanya kau ***** dengan abangmu itu, ya? Bisa apa kau tanpa Pramudi, heh?” seru Pak Kuranji dari atas tangga lantai dua.
Darmadi terkekeh. “Silahkan berpikir apa saja, Pak Kuranji. Tapi, begini saja. Bapak bisa meninggalkan rumah ini dengan hidup, pulang ke rumah Bapak sendiri, kembali ke pelukan Tasmirah dan juga memeluk kedua anak laki-lakimu selagi Bapak bisa. Tinggalkan Nala disini kepada kami. Kemudian, lupakan semua. Kami yang akan mengurus dari sini. Itu tawaran terakhir dari kami, Pak Kuranji. Tidak ada lagi negosiasi,” ujar Darmadi tenang.
“Tua bangka busuk! Dari awal aku sudah tidak suka dengan ritual gila api unggun kalian itu. Aku sudah curiga, kalian main-main dengan iblis. Rencana brengsek apapun yang kalian sedang lakukan terhadap rumah ini, keluarga ini dan terutama Nala, aku tidak peduli. Sampai mati pun akan aku lawan. Silahkan coba lewati tangga ini kalau bisa!” Pak Kuranji tidak hanya berseru kali ini, tetapi berteriak kencang dan tegas. Dadanya dipenuhi amarah yang menyala-nyala. Kematian tidak lagi menjadi masalah baginya. Ia ingin sebisa mungkin menyelamatkan Nala Turasih. Mengorbankan diripun bukan persoalan baginya lagi.
Darmadi terkekeh. “Baik, baik,” ujarnya tenang. “Jangan ada yang ikut campur. Nampaknya kedua tangan ini cukup untuk mencekik dan mematahkan lehermu, Pak Kuranji,” lanjutnya.
Darmadi melemparkan senjata tajamnya ke lantai. Ia ternyata sungguh memutuskan untuk menggunakan kedua tangan kosongnya. Sepasang mata Darmadi berkilat kejam. Tubuh tua bayanya yang masih liat itu mencelat cepat. Anak tangga dilewati dua-dua seperti terbang saja adanya.
Pak Kuranji menyabetkan karambit menyilang panjang-panjang, begitu kuatnya sampai kedua tangannya terentang. Andai Darmadi tak memiliki ilmu kebal rajah Kalacakra, kedua lengannya yang menyerang ke depan pastilah telah beset dan tersobek lebar. Mungkin jari-jarinya pun telah putus dan bergelindingan di tangga.
Tubuh Pak Kuranji terdorong keras. Darmadi mencengkram baju dan leher Pak Kuranji, kemudian mengangkatnya dengan mudah.
Punggung Pak Kuranji terasa panas ketika menubruk dinding. Lehernya pun tercekik. Kedua kakinya tak menapak tanah karena Darmadi mengangkatnya ke udara dan menghimpitkannya ke dinding. Pak Kuranji megap-megap mencari udara bagai seekor ikan yang terlempar ke tanah.
Sebisa mungkin Pak Kuranji menusukkan ujung karambitnya ke lengan dan dada Darmadi. Tetapi sosok tua baya itu bergeming. Ujung tajam bilah karambit seperti membentur batu ketika ditusukkan atau disabetkan ke permukaan kulit Darmadi. Selain itu, sangat tak disangka-sangka bahwa umur laki-laki itu tidak mewakili kekuatannya. Kedua tanganya mencengkram leher Pak Kuranji erat bahkan sekaligus mengangkatnya ke udara.
Pandangan Pak Kuranji mulai berkunang-kunang. Sudah sampai disini saja perjuangannya, pikir Pak Kuranji. Sebelum kemudian, ada lintasan kata-kata yang terapal berulang-ulang di pikirannya. “Mata menangkap hasrat dan syahwat. Mata menangkap hasrat dan syahwat. Mata menangkap hasrat dan syahwat.”
Pak Kuranji tersentak. Satu tangan memegang lengan Darmadi yang erat mencengkram lehernya, satu lagi tangannya yang menggenggam karambit diangkat kemudian dengan cepat, cermat dan tepat ditusukkan ke mata Darmadi.
Teriakan pilu menggema keluar dari keronggokan Darmadi. Pak Kuranji kembali menghidup oksigen setelah lehernya terlepas dari cekikan Darmadi. Pak Kuranji jatuh berlutut dan terbatuk-batuk keras. Darmadi berteriak-teriak bagai orang kesetanan. Keseimbangannya berantakan. Ia menubruk pagar lantai dua, kemudian jatuh.
Kepalanya menghajar lantai pertama sehingga lehernya patah. Darmadi tak bergerak lagi dengan darah yang mengalir keluar dari salah satu matanya yang berlubang.
semangatt pak Nikodemus ✊
jadi ? Nala itu titisan Nara dan putri junjung buih?
kira-kira respon pak Kuranji gmna tuh, smakin insecure kah?
next pak Nikodemus 👌