Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30# Rebut Saja Ayla Darinya
"tuan muda, apakah aku tidak salah? Sekarang kau membawa nona dan Gavin ke mall hanya untuk jalan-jalan?" ucap Azka yang saat itu mendorong kursi roda Valen mengikuti Ayla dan Gavin yang saat itu sedang asyik berbelanja.
Beberapa menit lalu mereka baru saja tiba di mall tersebut.
"Seperti yang kau lihat," jawab Valen singkat.
"Mereka terlihat seperti sepasang anak kembar, tapi aku tidak menyangka kalau nona juga bisa seceria itu," ucap Azka lagi.
"Aku juga baru melihat sisi itu sekarang," ucap Valen terus memperhatikan sang istri dari kejauhan.
Sejujurnya Valen sama sekali tidak suka dengan suasana ramai seperti itu, namun mau bagaimana lagi, sekarang situasinya sudah berbeda entah kenapa rasanya ia ingin melihat Ayla selalu tersenyum seperti sekarang.
Sementara itu di sisi lain.
"Ma, kau sudah bertemu dengan nya?" tanya Danu kepada sang mama.
Saat ini mereka berdua berada di sebuah cafe yang letaknya cukup jauh dari keramaian.
"Ya, dia masih muda dan cantik, tapi mulutnya begitu pedas ketika melawan ku," ucap geram.
"Aku jadi penasaran seperti apa wanita itu dan bagaimana dia bisa menghadapi laki-laki dingin seperti Valen yang tampak tidak suka wanita apalagi memanjakan nya," ucap Danu sambil tersenyum meremeh.
"Karena itu aku punya tugas baru untuk mu," ucap Maya sambil menatap Danu dengan tatapan serius.
"Apa?" tanya danu penasaran.
"Rebut dia dari Valen," ucap sang mama tampa jeda.
"Apa? Tunggu, kenapa?" Danu yang mendengar itu seketika kaget.
"Ya hanya itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang, kau harus merebut nya dari Valen, jangan sampai biarkan Ayla hamil anak Valen atau semua usaha kita selama ini akan sia-sia," ucap Maya dengan jahat nya.
"Bagaimana bisa aku merebut istri orang? Kecuali mereka menikah tanpa rasa cinta, lagipula aku juga sudah bosan dengan urusan wanita," jelas Danu menentang keinginan sang mama.
"Aku tidak mau tau, kau harus menuruti keinginan ku jika tidak siap-siap hidup dalam kemiskinan, besok malam kau harus datang ke kediaman keluarga Aditama menghadiri pesta ulang tahun adikmu, aku tidak yakin kau akan menolak setelah bertemu dengan wanita itu," ucap Maya lagi.
"Ma! Kau ini ada-ada saja, aku tidak ingin datang ke pesta ulang tahun Gavin, lagipula dia bukan adiku dia adiknya Valen," ucap Danu.
"Kau hanya perlu membuat Ayla mencintaimu, kau itu tampan tidak ada bedanya dengan Valen, kau malah lebih baik dari dia, kau sempurna dan tidak cacat, tolong Danu, mama hanya punya kau yang bisa siap sedia membantu mama, Gavin tidak bisa di andalkan, setelah dia jatuh cinta padamu besar kemungkinan dia akan meningal kan Valen dan dia tidak akan mengandung anak Valen," ucap Maya sambil memegang tangan Danu.
Melihat sang mama yang memohon dengan sangat dan antusias nya terhadap harta keluarga Aditama tidak pernah luntur Danu pun akhirnya menyerah dan memilih untuk menyetujui permintaan tersebut, meskipun dari awal dia memang sangat ingin menjadi orang kaya tapi dia tidak pernah berfikir kalau jalan yang diinginkan sang mama adalah merebut istri adik tirinya.
"Baiklah, aku akan mencoba nya," ungkap Danu patuh.
"Benarkah? Kau jangan khawatir, mama akan membantumu dalam segala hal, mama yakin Ayla pasti akan berpaling kepada mu, kau memang satu-satunya alat yang bisa mama andalkan Danu, jangan khawatir, setelah mama berhasil mengambil semua harta keluarga Aditama, mama tidak akan melupakan pengorbanan mu," ucap Maya yang terlihat sangat senang karena Danu selalu bersedia membantu nya.
Entah ibu jenis apa wanita seperti Maya ini, dia seolah-olah akan selalu bersedia mengorbankan apapun termasuk anak nya sendiri sebagai alat atau jembatan untuk ambisi jahat nya, padahal dia hidup dengan baik di keluarga Aditama dengan papa Hans yang sangat memanjakan nya, namun sayangnya itu tidak membuat Maya puas dia selalu khawatir kalau suatu saat papa Hans telah meninggal seluruh harta keluarga Aditama jatuh ke tangan Valen dan dia tidak mendapatkan apapun.
Sementara itu di kediaman keluarga Gunawan.
Alena dan Reyhan tiba di rumah, ia mendapati rumah masih kosong, mama dan papanya belum kembali begitu juga dengan Bastian.
"Alena, rumah mu ternyata masih sepi di mana kakak dan orang tuamu?" tanya Rey sambil melihat sekeliling ruangan.
"Mereka masih sibuk di kantor," jawab Alena.
"Lalu bagaimana dengan kak Adnan? Bukan kah kau bilang dia masih sakit?" tanya Rey lagi.
Ia melihat sekeliling di hatinya selalu berharap kalau ia melihat sosok Ayla, yang beberapa waktu terakhir sudah tidak pernah dia lihat di kediaman Gunawan lagi.
"Kau baru pulang?" ucap Adnan yang saat itu tiba di ruang tengah dengan kursi roda nya.
"Iya kak," jawab Alena tanpa terlalu memperhatikan Adnan.
"Rey," sapa Adnan.
Namun Rey masih fokus dengan sekeliling ruangan.
"Rey, kak Adnan memanggil mu, kenapa kau diam saja?" tanya Alena bingung.
"Ah iya, maaf, ada apa kak Adnan?" tanya Rey tersadar dari lamunannya.
"Kau mencari seseorang?" Tanya Adnan lagi.
Alena seketika menatap Adnan dan Rey secara bergantian.
"T-tidak, aku hanya merasa rumah ini terlalu sepi, ngomong-ngomong, Ayla di mana? Apakah dia masih di hukum untuk tidak boleh keluar?" tanya Rey sambil mengerutkan keningnya.
"Gawat, kalau sampai kak Adnan menceritakan yang sebenarnya kepada Reyhan," ucap Alena khawatir.
"Kau tidak tau atau Alena belum menceritakan padamu?" Tanya Adnan sedikit kaget karena selama ini ternyata Rey masih belum tau tentang pernikahan Ayla.
"Apa yang terjadi?" Hal ini memicu rasa penasaran besar di hati Rey.
"Ayla sudah tidak tinggal di sini lagi, dia sudah menikah," ucap Adnan sambil menatap datar Reyhan.
"Apa?" Reyhan yang mendengar itu seketika terkejut, jantung nya berdegup kencang dan hatinya tiba-tiba merasa sangat sakit.
"Kak Adnan, kenapa kau mengatakan nya, bisa jadi Reyhan belum siap menerima kabar ini, secara biar bagaimanapun dia dan Ayla pernah saling mencintai, karena itu aku sama sekali tidak berniat memberitahu Rey tentang ini," ucap Alena tiba-tiba dengan wajah sedih nya.
"Alena, kau tidak perlu merahasiakan apapun, bukan kah lebih bagus kalau Rey mengetahui hal ini? Lagipula mereka sudah lama terlihat tidak saling mencintai," jelas Adnan.
"Ayla menikah? Bagaimana bisa? Dengan siapa dia menikah?" ucap Rey sambil menekan dadanya yang terasa sedikit sesak.
Alena yang melihat itu berusaha keras untuk mengontrol diri agar tidak melepaskan emosi di depan Adnan dan Reyhan.
"Dia ..."
"Sudahlah, jangan bahas ini lagi, Rey, apa sekarang kau akan menyesal karena sudah meninggalkan Ayla demi aku? Biar bagaimanapun sebelumnya kalian adalah sepasang kekasih," ucap Alena sambil memegang dadanya, dia mulai menangis.
Adnan yang melihat itu tiba-tiba merasa bersalah kepada Alena, dia berfikir kalau saat ini Alena mungkin sedang cemburu.
****