Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Mulai Dekat
Abi melepaskan pelukannya setelah dirasa Belva sudah mulai tenang. Abi menghapus air mata Belva. "Jangan nangis, masa wanita kuat nangis sih?" ledek Belva.
"Wanita kuat apanya? memangnya aku gak boleh nangis?" ketus Belva.
"Bukanya gak boleh nangis, selama ini kamu sudah menjalani hidup kamu yang penuh dengan kesedihan dan ujian. Sayang kalau sekarang kamu menangis hanya gara-gara mereka berdua," seru Abi.
Belva memicingkan matanya ke arah Abi. "Mario itu adik kamu loh Pak Tentara, seharusnya kamu belain dia bukan aku," seru Belva.
"Jadi kalau dia melakukan salah, aku harus bela dia gitu? meskipun dia adik aku kalau dia melakukan kesalahan, aku gak bakalan belain dia," sahut Abi.
"Ya, kali aja kamu bakalan sama kaya Mario mudah percaya dengan omongan orang," seru Belva.
"Jangan samakan aku sama anak itu, dari visi misi saja kita sudah beda dari dulu," sahut Abi.
"Aku mau pulang, antar aku pulang," pinta Belva.
"Yakin mau kembali ke hotel? ini masih siang loh belum terlalu malam," seru Abi.
"Iya, mood aku sudah terlanjur jelek aku mau tidur aja," sahut Belva.
Abi tidak bisa memaksa Belva, akhirnya dia pun mengikuti permintaan Belva. "Besok kamu pulang jam berapa?" tanya Abi disela-sela perjalanan pulang.
"Kayanya pagi-pagi deh, aku sudah gak betah tinggal di kota ini lagi," sahut Belva.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Abi pun sampai di depan hotel tempat Belva menginap. "Terima kasih, aku masuk dulu," seru Belva.
"Tunggu Bel!"
Belva yang hendak membuka pintu mobil, langsung diam dan menoleh ke arah Abi. "Ada apa?" tanya Belva.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bilang sama kamu jangan pernah kalah dengan keadaan. Om Ferdi sudah menitipkan kamu kepada Papa dan aku, jadi kalau kamu butuh apa pun kamu bisa bilang kepada kita, anggap saja kita seperti keluarga kamu sendiri dan kamu jangan pernah merasa sendiri karena masih banyak orang-orang yang menyayangi kamu," sahut Abi.
Belva tersenyum lalu mengangguk. Belva pun dengan cepat keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam hotel. Abi menyunggingkan senyumannya, pokoknya dia harus jagain Belva karena menurut feeling dia Bondan tidak akan tinggal diam.
Abi meninggalkan hotel itu. Sementara itu di rumah Venny, Bondan sedang berada di dalam ruangan kerja Venny. Dia ternyata sedang menghubungi seseorang.
📞"Jadi Belva saat ini tidur di hotel?" tanya Bondan.
📞"Iya Bos."
📞"Ya, sudah pokoknya kalian awasi Belva dan jika dia pergi kalian ikutin. Saya ingin tahu selama ini dia tinggal di mana dan tinggal dengan siapa?" titah Bondan.
📞"Baim, Bos."
Bondan memutuskan sambungan teleponnya. Dia menyesap kopi hitam dengan senyuman yang mengembang. "Anak itu harus disingkirkan, kalau tidak dia bisa membahayakan saya dan juga Tissa," gumam Bondan.
***
Keesokan harinya....
Belva dan Yuri sudah bersiap-siap akan kembali ke Bandung. Deden ikut membawakan barang-barang Belva. "Non, kita langsung ke Bandung saja atau mau mampir ke mana dulu?" tanya Mang Deden.
"Langsung saja, Mang," sahut Belva.
Mereka pun segera pergi dari hotel. Mereka tidak sadar jika dari tadi malam ada orang yang sedang memperhatikan mereka. "Cepat, ikutin mereka jangan sampai kita kehilangan jejak bisa-bisa Tuan Bondan ngamuk," ucap salah seorang dari mereka.
"Bel, tadi malam kamu pulang jam berapa?" tanya Yuri.
"Masih siang kok, jam 22.00," sahut Belva.
"Lah, kok aku gak tahu," seru Yuri.
"Bagaimana kamu tahu, aku pulang kamu sudah ngorok," sahut Belva.
"Masa sih? aku gak ngorok loh Bel," seru Yuri cemberut.
"Nanti aku rekam ya, supaya kamu tahu kalau kamu itu tidur ngorok banget," seru Belva.
"Eh ya, ngomong-ngomong tadi malam kamu pergi ke mana sama Pak Tentara?" tanya Yuri kepo.
"Gak ke mana-mana, nongkrong aja tapi sayang baru sampai tiba-tiba ada dua benalu datang," kesal Belva.
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan si Mario dan si anak setan," sahut Belva.
"Yaelah, rasanya aku ingin sekali jambak-jambak rambut tuh orang apalagi Papanya menyebalkan sekali. Dasar cowok mokondo," kesal Yuri.
"Meskipun mokondo, tapi Mama sangat mencintai dia sampai-sampai rela kehilangan anak kandungnya sendiri," seru Belva.
Beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di Bandung. Mobil orang suruhan Bondan tidak bisa masuk karena mereka takut ditanya-tanya oleh sekuriti komplek perumahan Belva. Akhirnya mereka hanya sampai depan dan langsung memberitahukan kepada Bondan.
"Jadi selama ini anak itu tinggal di Bandung, tapi bukanya itu kawasan perumahan elit yang harganya pun bisa sampai milyaran? dari mana dia punya uang sebanyak itu? sedangkan harta Ferdi semuanya sudah menjadi milik Venny," batin Bondan bingung.
Bondan hanya tahu jika harta Ferdi adalah yang diberikan kepada Venny, bahkan dia juga tahu jika tanah milik Belva sudah dijual oleh Venny. "Aku harus cari tahu lagi, pasti ada sesuatu yang sudah disembunyikan oleh Belva," batin Bondan.
Sore itu Abi sedang jalan-jalan di area komplek. "Pak Tentara sini, ikut gabung sama kita!" seru Yuri.
Abi pun menghampiri Belva dan Yuri yang sedang mengemas skincare yang akan dikirim. "Waduh, banyak banget. Ini mau dikirim ke mana?" tanya Abi.
"Ke luar negeri Pak Tentara, banyak yang pesan," sahut Yuri.
"Wuidih, hebat banget." Abi bicara sembari melirik ke arah Belva yang sedang fokus mengemas.
"Pak Tentara, kalau tugas Pak Abi apa di Tentara?" tanya Yuri.
"Kalau aku sih saat ini menjabat sebagai Komandan Batalyon," sahut Abi.
"Hebat ternyata Pak Abi," puji Yuri.
"Hai Pak Tentara, kamu datang ke sini hanya buat lihat saja? bantuin dong," ketus Belva.
"Bantuin apa? aku gak bisa kalau urusan kaya gini," sahut Abi.
"Eh Bel, bukanya kita lagi butuh model pria untuk iklan B-Glow kita? bagaimana kalau Pak Abi saja yang jadi modelnya? tubuh bagus, wajah tampan, cocok banget Bel," usul Yuri.
"Enggak, aku gak mau. Bukan keahlian aku, aku bukan model," tolak Abi.
Belva langsung tersenyum. "Ide bagus, sini ikut aku!" Belva menarik tangan Abi untuk ikut dengannya.
Belva dan Yuri membawa Abi ke sebuah ruangan, Belva mendudukan Abi di sebuah kursi. "Yuri, nanti kita bikin video after before ya, tapi jangan diskip biar ketahuan kalau produk aku memang bagus kalau diskip nanti takutnya aku disangka penipuan jadi biar mereka bisa lihat sendiri sebelum dan sesudah memakai produk aku," seru Belva.
"Bel, aku gak mau," tolak Abi.
Abi hendak bangkit dari duduknya tapi dengan cepat Belva menahan pundak Abi membuat Abi kembali duduk. "Diam, aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu. Kamu 'kan bilang sama aku kalau aku butuh apa pun, aku bilang saja sama kamu dan sekarang aku butuh kamu buat jadi model aku," seru Belva dengan senyumannya.
"Tapi-----"
Belva menutup mulut Abi dengan tangannya, lalu dia membungkuk mendekat ke arah Abi. Untuk sesaat Belva menatap Abi membuat jantung Abi berdegup kencang. "Bantu aku, ok," seru Belva.
Seperti terhipnotis, Abi hanya bisa mengangguk membuat Belva tersenyum bahagia.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva