PROSES REVISI. KALO ADA CERITA NGEGANTUNG DAN NGGAK NYAMBUNG MOHON DI MAKLUMI, AKAN SEGERA DI REVISI. TERIMA KASIH.
"Jessii, ini permintaan terakhir kakek kamu jangan di tolak dongg!"
"Pliss maa! aku nggak mau di jodohin.. Apa lagi sama orang sombong kek dia!!"
Meliana mengusap dadanya agar bisa lebih tenang untuk menghadapi sikap keras kepala yang di miliki anak bungsunya itu.
Ya, Jessica Relieta anak dari Meliana dan Reta itu mendapat pesan terakhir dari Kakek Jessica bahwa dia ingin melunasi hutang - hutangnya dengan menjodohkan cucu nya.
Karena dijodohkan dengan keluarga kerajaan Raden Agung Yagsa, seorang Jessica yang pecicilan itu pasti susah untuk mengubah diri menjadi seseorang yang anggun.
Namun karena juga hutang kakek Jessica yang sangat tidak mendukung, mau tak mau Jessica menerima perjodohan itu dengan berat hati.
Tetapi ketika sang pangeran meminta untuk di cintai apakah Jessika bisa mengabulkan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
"Melati, kamu yakin kan Putra bakal nikah sama adik kamu ini?" tanya Sulesi ragu.
"percaya aja sama aku mahh, Putra pasti mau nikah sama Vita kok, dia kan cantik." Jawab Melati dengan tenang.
"tapi.. Vita kan cuman punya satu ginjal. Kalau mengandung seorang anak itu kayaknya suatu anugrah yang sangat besar deh," ucap Sulesi.
Melati terkekeh.
"udah mama nggak usah khawatir. Ibu kandungnya Putra dulu juga mengandungnya hanya dengan satu ginjal kok."
Sulesi mengembangkan senyumnya dengan ceria dan menghilangkan segala kecurigaan dan kekhawatiran yang baru saja ia pikirkan itu.
"yaahhh, karena dia itu cuman anak haram yang di lahirin sama selingkuhan suamiku nggak ada salanya dong, aku ngancurin hidup dia juga." Ucap Melati kembali.
"benar Melati! Kalau kamu nggak bisa balas dendam ke jablay itu, kamu bisa balas dendam ke anak nya yang di sembunyikan oleh semua anggota keluarga itu!" seru Sulesi memberi dukungan.
Melati menunjukan smirknya.
"tenang aja mah. Semua bakal berjalan sesuai rencana kita. Kita bakal buat hidup Putra nggak akan bahagia sampai kapan pun." Ucap Melati. Sulesi mengangguk - anggukan kepalanya sambil tersenyum senang.
♡♡♡
Sekarang ini Jessica sedang berada di kediaman keluarga kandungnya. Mereka baru saja selesai memakamkan Almarhumah Meliana dan memberikannya doa.
Jessica dan Helena sudah tidak bersedih sekarang. Mereka juga di temani oleh Reta yang baru saja pulang dari Singapura karena pekerjaan yang memindahkannya ke sana.
Reta benar - benar sangat menyesal karena telah meninggalkan sang istri yang sedang dalam kondisi keritis. Namun karena Meliana memaksa Reta untuk pergi dan meyakinkan bahwa Meliana akan baik - baik saja, Reta jadi berangkat dengan sangat berat hati.
Buktinya sekarang, Reta sedang menyesali apa yang sedang ia ratapi sekarang.
"papa, ikhlaskan semuanya ya, papa sendirikan yang ngajarin kita buat ikhlas?" ucap Jessica menenangkan.
"iya papa. Mama juga bilang kalau kita nggak boleh menangis kalau mama sudah pergi, karena mama pasti bahagia di sana." Sambung Helena yang ikut menenangkan.
Reta menghapus air matanya kemudian tersenyum.
"terima kasih ya Allah, engkau telah memberikan dua malaikat kecil yang sangat cantik dan baik hati ini," Reta membentangkan kedua tangannya sambil menatap ke atas langit.
"terima kasih juga ya Allah, engkau telah memberikan seorang pahlawan berjasa yang sangat gagah dan bertanggung jawab ini!" sambung Jessica yang mengikuti aktivitas ayahnya itu.
Reta terkekeh melihatnya dan mengacak - acak rambut Jessica dengan pelan.
"terima kasih ya. Kalau kalian nggak ada di dunia ini, papa pasti bener - bener kesepian," ucap Reta. Helena dan Jessica tersenyum lalu langsung menghamburkan pelukan ke tubuh Reta.
"kita juga berterima kasih, karena telah di lahirkan di keluarga yang bener - bener ngasih kebahagiaan ke kita." Ucap Helena dengan penuh kasih sayang.
Mereka semua saling memeluk dengan sennyuman yang memberkah di wajah mereka. Setelah merasa puas, mereka melepaskan pelukkannya.
"Helena, kamu tau permintaan terakhir mama?" tanya Reta. Helena mengangguk.
"apa itu?"
Semua langsung memperhatikan Helena agar bisa mendengarkan baik - baik setiap kata yang akan Helena lontarkan. Helena menarik nafasnya dalam - dalam lalu mengeluarkannya kembali dengan perlahan. Ia pun menatap Jessica.
"mama.."
Jessica mengerutkan dahi nya karena Helena berbicara sambil menatap nya.
"mama minta Jessi.."
Reta melirik Jessica lalu merangkulnya.
"minta apa kak?" tanya Jessica penasaran karena Helena menggantung kata - katanya. Helena melirik Jessica.
"mama minta kamu.. nggak bercerai sama Putra Jessi," jawab Helena dengan lancar. Jessica membelakkan matanya dengan lebar.
"kakak!! Putra it--"
"nggak Jessi! kamu salah paham!" seru Helena yang membuat Jessica makin kebingungan.
"kamu salah paham! Mama mati agar kamu bisa berhububgan lebih baik sama Putra. Tapi karena mertua kamu, kamu jadi salah paham!" jelas Helena membuat Jessica tersentak kaget.
"apa?"
"iyaa Jessi... mama itu ngasih ginjal nya bukan buat kamu tapi buat adik mertua kamu yang bakal di jodohin sama Putraa!! Mama ngasih ginjal itu biar kamu bisa tetap jadi istri Putra dan Putra nggak bakal menikah lagii Jessi!!"
Jessica terdiam atas semua penjelasan Helena.
"itu alasan kenapa kakak nggak menyetujui perceraian kamu karena mama itu meninggal untuk menghindari semua aksi yang bakal kamu lakuin sekarangg!!"
Deg
"kakakk.."
"iyaa?"
Jessica menjatuhkan air matanya. Reta yang berada di sampingnya langsung memeluknya dengan sangat erat untuk memberi ketenangan kepada Jessica yang sudah salah melangkah.
Jessica yang berada di pelukan itu menangis sekencang - kencangnya maratapi kebodohan yang telah di lakukannya. Sudah susah - susah ibunya mencegah sebuah bencana besar, tapi dengan sangat mudah Jessica menghancurkannya begitu saja.
♡♡♡
'*Dear Putra.
Putra aku mohon.. jangan cari aku. Aku ingin mengakhiri semua nya. Kamu cukup baik dan juga memiliki tanggung jawab yang besar, apa salahnya kamu menikah dengan istri yang lebih baik dari aku?
Aku mohon Putra, menikahlah dengan Vita, dia adalah jodohmu yang sesungguhnya. Aku hanyalah orang yang datang sepintas untuk menemanimu menunggu jodoh mu yang sebenarnya.
Jika kamu memang mencintaiku, aku mohon kamu untuk menceraikanku, sekarang juga. Aku tunggu malam ini di taman dekat rumah ku dengan kertas peceraian.
Jessica, calon mantan istrimu*.'
Putra terdiam ketika melihat isi surat yang baru saja ia baca itu.
Ketika terbangun dari tidurnya, Putra tidak melihat ada Jessica di sampingnya. Dia hanya melihat sepercik surat yang mungkin sudah sempat Jessica tulis sebelum pergi meninggalkannya.
Putra tidak menyangka, kalau caranya yang sudah ia lakukan itu tetap tidak berpengaruh kepada Jessica yang sangat bernyali tinggi. Ia jadi heran, sebenarnya Jessica itu terbuat dari apa?
"mungkin emang bener, kalau dia bukan jodoh gue." Ucap Putra kepada dirinya sendiri.
Putra menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia pun duduk di kursi untuk lebih tenang agar bisa menahan emosi yang bisa memuncak itu. Putra memijat pelipisnya yang sangat terasa sakit sambil memikirkan tentang perceraiannya dengan Jessica.
Tok tok tok
Putra terhenti dari aktivitas memijitnya. Ia langsung melirik ke arah pintu untuk melihat siapa orang yang telah datang di saat dia sedang bad mood ini.
Cekelek
Melati memunculkan tubuhnya kemudian masuk kedalam kamar dan duduk di samping Putra tanpa seizin dari nya.
Melati menyentuh pundak Putra.
"Putra, anak ku?" panggil Melati, Putra melirik.
"kamu kenapa?" tanyanya dengan sangat lembut seolah dia adalah ibu kandungnya.
"Jessica, meminta cerai." Jawab Putra.
Melati menghembuskan nafasnya.
"mungkin Jessica itu memiliki cinta nya yang lain, kamu tidak boleh memaksakan cinta kepadanya karena itu akan menyakitkan dirimu sendiri," jelas Melati. Putra menundukkan kepalanya.
Melati mengusap pungguh Putra untuk memberikan ketenangan kepada Putra agar Putra tidak merasa sangat terbebani dengan semua cobaan ini.
"lebih baik kamu di cintai oleh orang yang pantas untuk kamu cintai dari pada kamu mencintai orang yang pantas dicintai orang lain." Jelas Melati membuat hati Putra terasa sesak jika meminimalisirnya.
Putra terdiam sambil berpikir apa keputusan yang akan dia tetapkan untuk kali ini.
"kamu sudah menemukan jawabannya?" tanya Melati dengan sangat lembut.
Dengan ragu, Putra menganggukan kepalanya.
"apa mama boleh tau apa keputusan mu?" tanya Melati kembali dengan tersenyum.
Putra menutup matanya kemudian menarik nafas dan mengeluarkannya kembali.
"bercerai dengan Jessica, dan menikah dengan Vita."
Botol sih jadi orang.
Tirta, Taya, tidakkah kalian berkomunikasi dengan Putra? Bahkan besan meninggalpun tak ada yang muncul.