Sekuel Pesona Twins S
"Abang seperti namanya, 'Langit' yang tak mudah untuk digapai."
Sebuah pertemuan yang tidak di sengaja, namun tak mampu terlupakan begitu saja bagi seorang gadis cantik bermata coklat, bernama Emily Cantika Putri.
Dulu saat ia masih duduk dibangku SD ia kira rasa sukanya hanya sebatas kagum saja pada sosok tampan Arbi Langit Perkasa.
Namun, ketika mereka dipertemukan kembali setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu, rasa suka Cantika justru semakin bertambah besar terhadap Langit.
Penolakan demi penolakan Langit tak membuat Cantika menyerah.
Hingga perkataan Langit diakhir pertemuannya, membuat Cantika terluka, dan memutuskan untuk pergi dari hidupnya.
Bagaimana akhir kisah mereka?
Menggapai Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf!
"Bang,?" seru Cantika ragu-ragu, memperhatikan Langit yang tengah menyantap makanan dihadapannya dengan lahap.
Saat ini keduanya tengah berada di sebuah Restoran yang berada ditengah kota, sekalian mengantarkan Cantika untuk pulang.
Sementara keempat kakak Langit memutuskan untuk segera pulang kerumahnya masing-masing karena anak-anaknya dirumah sudah menunggu.
Langit memasukkan sendok berisi makanan disuapan terakhirnya, meneguk segelas air putih, kemudian mengelap bibirnya, menoleh kearah Cantika.
"Kenapa sayang, makanan nya kurang enak?" melirik piring Cantika yang masih terisi penuh oleh makanan yang dipesankan nya.
Gadis itu hanya mengaduk-aduk nya beberapa kali, kemudian membiarkannya begitu saja.
"Mau cari Restoran yang lain, atau_"
"Nggak, bukan_ aku belum lapar."
"Terus?"
"Euhmz itu,_ kakak abang yang satu lagi kemana? bukannya ada lima ya?"
Deg!
Langit berdeham pelan, dengan kedua tangan yang terkepal kuat diatas pahanya, hari pernikahan nya dengan Cantika sudah dekat, ia belum sanggup mengatakannya sekarang, ia belum siap jika harus berpisah lagi dengan gadisnya.
"Euhmz_" langit kembali berdeham untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Ada, tapi dia nggak bisa datang keacara pernikahan kita, maaf ya!"
"Tapi kenapa?"
Langit kembali menegang, mencari-cari kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan kekasihnya itu.
"Dia_ dia sedang ada masalah keluarga sayang." jelas Langit berharap gadis dihadapannya dapat mengerti.
"Yaudah nggak apa-apa kok, masih ada kak Hanum, kak Salwa, kak Syifa, sama kak Sita kan?" ucapnya dengan senyum sumringah mengingat betapa manisnya perlakuan keempat kakak langit tadi.
"Iya sayang." Langit men desah lega.
"Setelah kita menikah, nanti abang pasti kenalkan kamu dengan dia."
"Namanya Rena, kan bang?"
Langit tertegun, kemudian tersenyum kaku, "Bagaimana kamu tahu namanya dek?"
"Ya pernah dengar aja."
Deg!
"Dengar gimana, dari mana?"
"Abang kenapa sih?" Cantika balik bertanya, saat menyadari gelagat Langit yang tampak tak biasa, pria itu terlihat gelisah dengan dada yang terlihat naik turun.
"M-maksud abang, kamu tahu dari mana namanya Rena, memangnya kalian sudah bertemu?"
"Abang lupa, dulu aku sering ikut bang Satria kerumah Abang?"
Ya, selain karena ia sering mendatangi rumah Langit kala itu tentu ia juga tidak lupa dengan sesuatu yang berhubungan dengan Langitnya.
"Tapi kan kamu tidak pernah bertemu dengannya dek."
"Iya memang! tapi Abang sering bahas tentang mereka, dan salah satu nama kakak perempuan abang yang aku ingat ya, kak Rena itu."
Deg!
"Dek, abang minta maaf ya!" ucap Langit kemudian, menatap gadisnya yang memang benar-benar sangat cantik, ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika seandainya ia kehilangan Cantika untuk yang kedua kalinya, karena masalah dalam keluarganya.
Ia sempat menyerah, mengorbankan perasaannya sekaligus menyakiti gadis yang ia cintai itu, karena merasa tidak pantas.
Namun perlahan, cinta yang ia pendam justru membuatnya malah menderita dan hampir gila, hingga tak mampu membuang bayang-bayang Cantika dari ingatannya.
Gadis kecil yang kala itu mengejar-ngejar dirinya, demi sebuah cinta.
"Maaf kenapa?" Cantika semakin dibuat bingung oleh sikap Langit kali ini.
"Maaf karena abang telah membuatmu terluka, maaf atas segala kekurangan yang ada dalam diri Abang." menggenggam sebelah tangan Cantika, membuat gadis tersebut mengerjap beberapa kali.
Cantika mengangguk kecil, ia memang sudah memaafkan Langit meski belum sepenuhnya, karena hal tersebut bukanlah hal mudah ia lalui.
*
*
"Dek, tunggu!" Langit menahan sebelah tangan Cantika saat gadis itu hendak keluar membuka pintu mobil.
Tak mengatakan apapun, ia menatap Langit, menunggu apa yang ingin pria itu ucapkan selanjutnya.
"Tante bilang, selama satu minggu ini kita dilarang bertemu,_"
"Untuk itu_ bolehkah Abang memelukmu, sebentar saja." ucapnya pelan dan lembut.
Ya, satu minggu lagi adalah waktu dimana mereka berdua akan berubah status menjadi suami istri.
Tak menunggu jawaban dari Cantika, ia menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya, memejamkan kedua mata menghirup dalam-dalam aroma Cantika yang menenangkan.
Begitu juga dengan Cantika, yang merasakan hal yang sama penuh kehangatan dalam dekapan Langit yang menghanyutkan.
Pelan, dan penuh ketidak relaan, Langit mengurai pelukan, dan untuk beberapa saat keduanya saling tatap dengan jarak yang begitu dekat.
Dan untuk kali kedua Langit memberanikan diri menempelkan bibirnya di bibir Cantika, dan dirasa tak ada penolakan dari Cantika, terlebih saat melihat gadisnya memejamkan kedua matanya, ia melanjutkannya dengan memperdalam ciuman tersebut, me ***** dan meng hisap bibir gadisnya yang terasa manis bagaikan permen.
Lidahnya menerobos memasuki rongga mulut Cantika, menari-nari didalam sana, mencecapi rasa yang kian terasa menjadi sebuah candu, sebelah tangannya menahan tengkuk Cantika, membuat ciuman itu kian semakin dalam.
Sementara sebelah tangannya tanpa sadar mengusap punggung Cantika, membuat gadis tersebut perlahan membuka kedua matanya.
"A-abang?" Cantika menarik diri membuat tautan mereka terlepas, dengan napas terengah-engah ia menatap Langit yang juga kini menatapnya dengan tatapan berbeda.
Kabut gaira*h jelas tercetak diwajahnya.
"Maaf, Abang sudah kelewatan!" ucapnya dengan suara parau dan berat, mengusap bibir gadisnya yang terlihat sedikit membengkak, kemudian membantu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulahnya.
"Abang antar keteras ya!" lanjutnya yang kemudian turun dan membukakan pintu untuk Cantika.
Arbi Langit Perkasa.
*
*