"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Tamu yang Tak Diundang
Ciuman menuntut di ruang kerja itu akhirnya terlepas setelah Viona kehabisan napas. Arkan menjauhkan wajahnya beberapa senti, membiarkan keningnya bersandar pada kening Viona yang basah oleh keringat dingin. Napas sang CEO memburu, mengembuskan aroma pekat kopi hitam bercampur wiski mahal yang samar dari bibirnya. Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Viona yang dipenuhi kabut kepasrahan dan sisa kemarahan yang tertahan.
"Ingat posisimu, Viona," bisik Arkan, suaranya bariton rendah yang serak, namun sarat akan ancaman mutlak. "Setiap detak jantungmu di gedung ini adalah milikku. Jangan pernah membuatku harus mengulang peringatan tentang pria itu lagi."
Viona tidak menjawab. Dia hanya memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibir bawahnya sendiri demi menahan isak tangis yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Cengkeraman Arkan pada pinggangnya perlahan melonggar, memberi ruang bagi Viona untuk merapikan kembali kemeja biru mudanya yang sedikit bergeser akibat intensitas gairah pria itu semalam dan barusan.
Dengan tangan yang gemetar, Viona mengambil kembali nampan kecilnya. "Jika tidak ada hal lain lagi yang Anda butuhkan, Tuan... saya permisi ke meja saya."
Arkan tidak menahan langkahnya kali ini. Pria itu berbalik memunggungi Viona, berjalan kembali ke balik meja kerjanya yang megah seolah tidak baru saja terjadi badai gairah di antara mereka. Topeng dinginnya kembali terpasang sempurna dalam hitungan detik. "Keluarlah. Dan pastikan dokumen dari divisi pemasaran sudah ada di mejaku sebelum makan siang."
"Baik, Tuan." Viona melangkah mundur, buru-buru keluar dari ruangan terkunci itu dan menutup pintu jati tebal di belakangnya dengan bunyi klik yang halus.
Begitu punggungnya menyentuh pintu luar, Viona mengembuskan napas panjang yang gemetar. Dia menyentuh bibirnya yang terasa sedikit bengkak. Bekerja di kantor pusat ternyata berkali-kali lipat lebih menyiksa batin daripada di divisi logistik. Di sini, dia tidak hanya dikurung secara fisik oleh sangkar emas Arkan, tetapi juga harus menahan ketakutan konstan bahwa status rahasianya sebagai wanita simpanan sang CEO sewaktu-waktu bisa meledak di depan publik.
Waktu berlalu dengan cepat di lantai paling atas Gedung Mahendra Group. Viona menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas sekunder yang didelegasikan oleh Baskara. Konsentrasinya adalah satu-satunya benteng pertahanan agar dia tidak terus-menerus memikirkan posisi intimnya dengan Arkan beberapa jam lalu. Baskara yang duduk beberapa meter di sampingnya sesekali melirik dengan pandangan profesional, seolah mengerti ketegangan tak kasat mata yang sedang melilit asisten pribadi baru itu.
Tepat pukul sebelas siang, keheningan di lantai eksekutif tersebut mendadak pecah ketika pintu lift khusus berdenting terbuka.
Langkah kaki yang lambat namun memancarkan keangkuhan luar biasa terdengar mendekati meja sekretariat. Viona mendongak, dan dalam seketika, seluruh aliran darah di tubuhnya serasa membeku.
Seorang wanita paruh baya berpenampilan luar biasa elegan melangkah masuk. Setelan tweed mahal berwarna krem, kalung mutiara mutiara air laut yang melingkari lehernya, dan tas jinjing kulit buaya dari rumah mode Prancis terkemuka menegaskan status sosialnya yang tak tersentuh. Wajah wanita itu memiliki garis tegas yang sangat mirip dengan Arkan, terutama sepasang matanya yang dingin dan menyelidiki.
Nyonya Sofia Mahendra. Ibu kandung dari pria yang mengikatnya dalam kontrak gila ini.
Baskara seketika berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat dengan takzim. "Selamat siang, Nyonya Besar Sofia. Suatu kehormatan melihat Anda mengunjungi kantor hari ini."
Nyonya Sofia tidak langsung menjawab Baskara. Sepasang matanya yang tajam bagai pisau bedah langsung menyapu ruangan, mengabaikan sapaan sang sekretaris senior, dan detik berikutnya, tatapan itu terkunci mati pada figur Viona yang masih terpaku di kursinya. Tatapan penuh kebencian, kejijikan, dan penilaian merendahkan yang sangat pekat menguar dari sorot mata sang nyonya besar aristokrat.
"Jadi... kau yang bernama Viona?" suara Nyonya Sofia terdengar sangat tenang, teratur, namun memiliki tekanan intimidasi yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut dalam sekejap.
Viona buru-buru berdiri dari duduknya, meremas jemarinya yang mendadak sedingin es di bawah meja marmer. "Se... selamat siang, Nyonya Mahendra. Benar, saya Viona."
Nyonya Sofia melangkah mendekat, berhenti tepat satu meter di depan meja kerja Viona. Dia menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap Viona dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyuman sinis yang sangat tipis di sudut bibirnya. "Arkan benar-benar keterlaluan. Membawa mainan malamnya ke kantor pusat dan meletakkannya tepat di depan pintu kerjanya? Pria itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya hanya untuk seekor burung hiasan murahan."
Kata 'mainan malam' dan 'murahan' yang dilontarkan secara terang-terangan di depan Baskara bagaikan hantaman gada besi yang meremukkan seluruh sisa harga diri Viona. Wajah gadis itu seketika memucat, napasnya tercekat di tenggorokan. Dia melirik ke arah Baskara, namun sekretaris pribadi Arkan itu hanya menundukkan kepala, tidak berani mencampuri urusan internal keluarga Mahendra yang sangat berbahaya.
"Maaf, Nyonya... saya di sini hanya bekerja sebagai asisten pribadi," lirih Viona, mencoba mempertahankan sisa suaranya yang bergetar hebat.
"Bekerja?" Nyonya Sofia mendengus pelan, sebuah tawa meremehkan yang sangat menyakitkan telinga. "Jangan membodohiku, Gadis Kecil. Aku tahu kontrak utang yang kau tandatangani dengan putraku. Aku tahu kau menjual dirimu demi biaya rumah sakit ibumu yang penyakitan itu! Jangan berlagak seolah kau adalah karyawan profesional yang terhormat di sini."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Nyonya Sofia terasa seperti belati yang menguliti pertahanan batin Viona. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Viona, namun dia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan wanita yang sedang menginjak-injak harga dirinya ini. Realita statusnya sebagai wanita simpanan kembali menamparnya dengan telak—dia selamanya akan dipandang sebagai sampah di mata lingkaran sosial Arkan.
Nyonya Sofia membuka tas kulit buayanya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu melemparkannya dengan kasar ke atas meja kerja marmer putih Viona hingga menimbulkan suara debukan yang nyaring.
"Di dalam sana ada dokumen pembatalan kontrak sepihak dan cek senilai lima miliar rupiah," ucap Nyonya Sofia dengan nada memerintah yang mutlak, tidak menerima bantahan apa pun. "Tandatangani dokumen itu, ambil uangnya, dan bersihkan namamu dari hidup putraku. Jika kau menolak... aku tidak hanya akan memastikan ibumu ditendang keluar dari rumah sakit Mahendra hari ini juga, tapi aku juga akan memastikan kau membusuk di penjara atas tuduhan pemerasan terhadap Mahendra Group."
Viona menatap amplop cokelat di hadapannya dengan tubuh yang gemetar hebat. Ancaman ini berkali-kali lipat lebih mengerikan daripada ancaman Clarissa kemarin. Nyonya Sofia memiliki kuasa yang nyata untuk menghancurkan hidupnya dan ibunya dalam kedipan mata. Di satu sisi, ini adalah kesempatan emas yang dia impikan untuk bebas dari belenggu Arkan. Namun di sisi lain, ketakutan akan amukan Arkan jika dia berani melanggar kontrak secara sepihak juga membayangi benaknya dengan ngeri.
Sebelum Viona sempat menyentuh amplop tersebut, pintu ganda ruang kerja pribadi Arkan tiba-tiba terbuka dengan sentakan keras yang menggema di seluruh lantai eksekutif.
Arkan Mahendra melangkah keluar dari ruangannya dengan aura yang luar biasa gelap dan berbahaya. Sepasang mata elangnya langsung menyala penuh amarah begitu mendapati ibunya sedang berdiri di depan meja Viona, ditambah dengan keberadaan amplop cokelat yang tergeletak di sana. Atmosfer di lantai tertinggi itu seketika turun drastis menjadi sangat dingin dan mencekam, seolah-olah sang tiran siap meledakkan apa saja yang menghalangi jalannya.
"Apa yang Ibu lakukan di lantai kerjaku?!" suara bariton Arkan menggelegar rendah, sarat akan otoritas yang kian menegang dan tidak ramah, bahkan kepada ibu kandungnya sendiri.
Nyonya Sofia berbalik perlahan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap yang tidak kalah angkuh. "Aku sedang membersihkan sampah yang kau bawa ke kantor pusat ini, Arkan. Kau sudah keterlaluan demi wanita simpanan ini!"
Arkan tidak memedulikan ucapan ibunya. Dia melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka, lalu mengambil amplop cokelat di atas meja Viona dengan gerakan kasar. Tanpa ragu sedikit pun, Arkan merobek amplop beserta seluruh isinya menjadi dua bagian di depan mata kepala Nyonya Sofia sendiri, lalu melemparkan serpihan kertas itu ke lantai marmer dengan pandangan menghina.
"Aku sudah mengatakannya di rumah kemarin, Ibu," desis Arkan berbahaya, wajah tampannya mengeras bagai batu obsidian saat dia menatap ibunya dengan kilat posesif yang ekstrem. "Viona adalah milikku. Kontraknya ada di tanganku, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini—termasuk Ibu—yang boleh menyentuh atau mengatur hidupnya. Keluar dari lantaiku sekarang sebelum aku menarik seluruh saham Mahendra Group dari yayasan amal milik Ibu."
Nyonya Sofia terperanjat, wajah tirusnya memerah karena terkejut sekaligus terhina oleh ancaman balik dari putra kandungnya sendiri. Dia menatap Arkan dengan pandangan tidak percaya, lalu melirik Viona dengan kebencian yang kian mendalam.
"Kau akan menyesali keputusanmu ini, Arkan," desis Nyonya Sofia tajam. Wanita paruh baya itu memutar tubuhnya dengan anggun, melangkah lebar kembali menuju lift dengan amarah yang meluap-luap.
Begitu pintu lift tertutup, keheningan yang mencekam kembali menguasai lantai tertinggi tersebut. Viona tidak bisa menahannya lagi; dia jatuh terduduk di kursinya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya saat air mata akhirnya tumpah dengan deras. Dia terjebak di tengah peperangan kekuasaan keluarga konglomerat, dan dia sadar, dirinya hanyalah boneka rapuh yang sewaktu-waktu bisa hancur berkeping-keping dalam sangkar emas ini.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.