NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 – Slime Peniru

"Hah... hah... hah..."

Napas Haruto memburu hingga terasa sesak di dada. Kakinya terasa berat seolah tertanam di lumpur, namun ia terus memaksakan diri berlari sekuat tenaga menembus belantara hutan purba. Cabang-cabang pohon berduri mencambuk wajah dan lengannya, meninggalkan rasa perih yang samar, tetapi rasa takut jauh lebih kuat daripada rasa sakit itu. Ia tidak berani berhenti sedetik pun.

Di belakangnya, suara langkah kaki berat yang menghantam tanah terus mendekat. Semakin dekat. Semakin menggetarkan.

GRAAAARRR!!

Serigala hitam raksasa itu kembali mengaum panjang, suaranya bergema memantul di antara pepohonan hingga membuat dedaunan bergetar. Mata merah menyala makhluk itu menembus kegelapan, seolah menatap langsung ke dalam jiwa Haruto. Taring-taringnya yang panjang dan tajam berkilau basah di bawah sela cahaya matahari yang menembus kanopi hutan.

"Kenapa kau lari tak kenal lelah?!" teriak Haruto panik, suaranya nyaris pecah. "Aku cuma orang baru di sini!"

Pochi memantul lincah di sampingnya, bergerak seirama dengan langkah larinya.

"Pyoo! Pyoo!"

"Jangan cuma teriak 'pyoo-pyoo'! Bantu aku cari jalan atau ide lain!"

Belum sempat mereka berpikir lebih jauh, deretan pohon di depan tiba-tiba berakhir. Haruto terpaksa menghentikan langkahnya mendadak hingga ia hampir terjatuh.

"Hah?"

Di hadapannya terbentang jurang dalam yang gelap, tebing batu curam menjatuh puluhan meter ke bawah tanpa ada jalan turun yang aman. Angin kencang bertiup dari dasar jurang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Di belakang mereka, bayangan gelap perlahan muncul dari balik pepohonan rimbun. Serigala hitam itu berdiri tegak di sana, menghalangi satu-satunya jalan keluar.

Kini benar-benar tidak ada jalan kabur.

Haruto menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering kerontang.

"Selesai sudah... terpojok di hari pertama," gumamnya pelan.

Serigala itu melangkah perlahan mendekat. Setiap kali kakinya menghentak tanah, terdengar bunyi berat yang membuat seluruh tubuh Haruto ikut bergetar. Matanya menatap tajam ke arah mereka berdua, seolah sudah memastikan mangsanya tak akan lari ke mana-mana.

Haruto melirik sekeliling dengan pandangan putus asa. Ke kanan dinding batu yang tak bisa dipanjat. Ke kiri semak berduri yang tak bisa dilewati. Ke belakang jurang maut. Dan di depan... kematian yang menggeram lapar.

Ia menarik napas panjang dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.

"Kalau begini caranya..."

Matanya menangkap sebatang ranting kayu keras sepanjang satu meter yang tergeletak di tanah berlumut. Ia segera memungutnya, lalu menggenggam erat dengan kedua tangan. Ujung ranting itu menunjuk lurus ke arah serigala.

"Setidaknya aku tidak akan mati tanpa mencoba melawan."

Pochi yang berdiri di samping kakinya memiringkan tubuh bulatnya, tampak bingung melihat gerakan Haruto.

"Pyuu?"

"Kalau nanti aku kalah... kau lari saja selagi bisa. Jangan ikut aku," bisik Haruto pelan.

Namun bukannya pergi, Pochi justru melompat ke depan, berdiri tegak tepat di hadapan Haruto seolah ingin menjadi tameng.

"Hei! Jangan sok berani melindungiku! Kau kecil begitu!"

Serigala itu tidak memberi waktu lagi. Ia merendahkan tubuhnya, otot-otot di kakinya menegang kuat, lalu seketika melesat menerjang ke depan dengan kecepatan kilat.

"GRAAA!!"

Haruto mengayunkan rantingnya sekuat tenaga ke arah kepala makhluk itu.

Plak!

Ujung ranting menghantam tepat di dahi serigala.

Serigala itu bahkan tidak bergeming sedikit pun. Hanya terdengar bunyi tumpul, lalu matanya semakin menyala penuh amarah.

Haruto tersenyum kaku, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

"Hehe... ternyata... tidak sakit ya?"

Krakk!

Serigala itu membuka mulut lebar, menggigit batang ranting di tangan Haruto, lalu dengan mudah meremukkannya hingga patah menjadi dua bagian tak berdaya.

Haruto menatap potongan kayu yang tersisa di tangannya, lalu melepaskannya perlahan jatuh ke tanah.

"Yah... setidaknya aku sudah berusaha sekuat tenaga."

Serigala itu kembali mengangkat cakar depannya yang besar dan tajam, siap menyambar tubuh Haruto.

Saat itulah sesuatu yang tak terduga terjadi.

Pochi melompat tinggi ke udara, jauh lebih tinggi dari biasanya. Tubuh gelatinnya yang berwarna biru cerah tiba-tiba mulai bersinar terang, memancarkan cahaya kebiruan yang lembut namun menyilaukan mata.

"Pyooooo!"

Tubuh mungilnya bergetar hebat seolah sedang meluruhkan bentuk aslinya.

Haruto melongo lebar, matanya tak berkedip sedikit pun.

"Pochi? Apa yang kau lakukan?"

Gelatin biru itu perlahan memanjang dan berubah bentuk. Muncul sepasang tangan, sepasang kaki, kepala dengan rambut hitam pendek, hingga akhirnya terbentuklah sosok yang mengenakan seragam sekolah abu-abu putih persis seperti yang Haruto kenakan saat ini.

Beberapa detik kemudian, di samping Haruto berdiri seseorang yang wajahnya, tingginya, hingga potongan rambutnya sama persis satu banding satu dengan dirinya sendiri.

Haruto membeku di tempat. Mulutnya terbuka lebar tak percaya.

"...Hah?!"

Sosok tiruan itu mengangkat tangannya perlahan, lalu melambaikan tangan dengan senyum polos.

"Pyoo."

Haruto menunjuk wajahnya sendiri, lalu menunjuk sosok di sebelahnya.

"Tunggu sebentar... kenapa kau berubah jadi aku?!"

Pochi yang kini berwujud persis seperti dirinya hanya mengangguk pelan.

"Pyoo."

"Bahkan suaramu masih tetap 'pyoo' meski sudah berubah bentuk!" seru Haruto hampir berteriak. "Ini terlalu aneh untuk dimengerti!"

Serigala itu pun tampak kebingungan. Ia menghentikan langkahnya, memiringkan kepala raksasanya, lalu mengendus-endus udara berulang kali. Matanya berpindah-pindah dari Haruto yang asli ke sosok tiruan di sebelahnya, seolah sulit membedakan mana yang mana.

Haruto dan Pochi saling berpandangan sekilas.

Haruto tersenyum tipis. "Aku dapat ide."

Pochi memiringkan kepala lagi.

"Pyu?"

"Nanti saat aku bilang lari, kita berlari ke arah yang berbeda. Buat dia bingung sepenuhnya."

Pochi mengangguk mantap.

"Pyoo!"

"Sekarang! Lari!"

Keduanya langsung berlari ke arah yang berlawanan dengan cepat.

Serigala itu tertegun sejenak, matanya berputar kiri dan kanan bingung.

Lalu...

"GRAAA!"

Ia akhirnya memilih satu sasaran, dan langsung melesat mengejar Haruto yang asli.

"Eh?! Kenapa malah aku yang dikejar?!" Haruto hampir menangis. "Wajah kami persis sama kok!"

Pochi yang melihat hal itu segera berbalik arah, lalu melompat sekuat tenaga tepat ke punggung serigala.

"Pyoooo!"

Serigala itu mengamuk hebat, melompat ke sana kemari sambil menggeliat liar berusaha melepaskan Pochi yang menempel erat di punggungnya. Namun tubuh slime itu begitu lunak dan lengket sehingga makhluk raksasa itu tak bisa berbuat apa-apa.

Haruto melihat sebuah batu besar yang miring di tepi tebing, tepat di atas jalur lari serigala. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera berlari mendekat dan memundurkan bahunya ke batu itu.

"Ayo... bergeraklah... ayo..."

Ia mendorong sekuat tenaga dengan seluruh sisa kekuatannya. Perlahan batu besar itu bergeser, lalu akhirnya menggelinding kencang menuruni lereng tepat ke arah serigala.

Brak!

Batu itu menghantam sisi tubuh serigala dengan keras. Makhluk itu kehilangan keseimbangan, terlempar ke samping dan jatuh terguling di tanah. Pochi pun ikut terpental akibat benturan itu, memantul beberapa kali di tanah sebelum akhirnya berhenti diam.

"Pyuu..."

Haruto segera berlari menghampirinya, lalu berlutut di samping tubuh slime itu.

"Pochi! Kau tidak apa-apa? Jangan buat aku takut!"

Pochi perlahan membuka matanya, lalu mengacungkan jempol kecil dengan susah payah.

"Pyoo."

Haruto mengembuskan napas panjang lega hingga tubuhnya terasa lemas seketika. Ia mengusap kepala tiruan itu dengan lembut.

Namun belum sempat mereka bernapas tenang dan memulihkan tenaga...

Serigala itu kembali berdiri tegak perlahan. Meski kepalanya terluka dan darah segar menetes dari sisi tubuhnya, matanya justru menyala semakin merah terang dibanding sebelumnya. Retakan-retakan cahaya ungu mulai menyebar dari luka di tubuhnya hingga menutupi seluruh kulit dan bulunya.

"Apa lagi yang terjadi sekarang..." gumam Haruto dengan hati yang kembali mencelos.

Tanah di sekitar serigala bergetar hebat, rumput-rumput melayang perlahan terangkat ke udara. Aura dingin dan mengerikan mulai memenuhi ruang di sekitar mereka, membuat napas Haruto terasa berat dan dingin.

Haruto mengepalkan tangannya erat-erat, lalu memasang kuda-kuda sekuat tenaga meski kakinya gemetar.

"Kalau memang harus bertarung sampai di sini..."

Ia menatap tajam ke arah makhluk yang kini terlihat jauh lebih menakutkan dari sebelumnya.

"Ayo kita selesaikan!"

Di sebelahnya, Pochi kembali berubah wujud menjadi tiruan Haruto, lalu ikut memasang kuda-kuda dengan kedua tinjunya diangkat ke udara.

Satu manusia biasa dari dunia lain dan satu slime peniru yang misterius kini berdiri berdampingan, menghadapi monster buas yang kekuatannya baru saja meledak naik berkali-kali lipat.

Pertarungan pertama yang sesungguhnya di dunia sihir ini akhirnya dimulai. Namun Haruto belum tahu, kemampuan aneh Pochi baru sebatas ditunjukkan, dan masih banyak rahasia tersembunyi di balik makhluk kecil yang rakus ini—rahasia yang bahkan mungkin tak dipahami oleh Pochi sendiri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!