NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

❤ Keluarga adalah kesatuan jiwa yang saling menyayangi, memahami dan melengkapi. Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan, keluarga akan tetap memaafkan. Bahkan sebelum meminta maaf sekalipun. Itulah yang menjadi sebab bahwa keluarga adalah tempat yang paling nyaman untuk berbagi rasa.❤

“Maaf, Bu. Persediaan bahan pokok untuk memasak hampir habis.” Ucap Siti saat membantu Riani memasak di dapur.

Urusan memasak memang selalu Riani kerjakan sendiri, ada atau tidak ada asisten rumah tangganya. Karena Fares tidak mau makan selain masakan istrinya. Itulah sebabnya setiap pagi Riani selalu sibuk di dapur, Siti hanya membantu menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak saja.

“Sepertinya sudah waktunya belanja. Nanti tolong dicatat! Apa saja yang harus dibeli ya, Mbak?” pinta Riani sambil mengangkat tempe dari wajan penggorengan.

“Baik, Bu.” jawab Siti.

Riani kembali sibuk dengan wajan penggorengan, sedangkan Siti menyiapkan wadah kosong untuk menaruh masakan yang sudah matang. Beberapa saat kemudian Aneesha datang membantu. Dia mendapat tugas menghidangkan masakan ke meja makan dan menyiapkan piring.

“Aneesha, hari ini Kamu mengajar sampai jam berapa?” tanya Riani kepada Aneesha yang sedang mengambil tumpukan piring untuk dibawa ke meja makan.

“jadwalnya sih, hanya sampai jam sepuluh, Nda. Tapi habis luhur Neesha baru bisa pulang, ada rapat persiapan ujian semester.” jawab Aneesha.

“Hari ini Bunda mau belanja, agak banyak. Kamu ikut, ya?” pinta Riani sambil melirik anak gadisnya itu.

“Beres kalau cuma disuruh belanja, apalagi dibelanjain. Neesha ikhlas banget, Nda.” jawab Aneesha dengan memasang wajah mengiba yang dibuat-buat.

“Nanti Bunda beliin eskrim rasa coklat kacang, ha ha,” canda Riani.

“Bunda mau bikin usus Aneesha yang panjang ini berdarah gara-gara kacang?” jawab Aneesha sambil menunjuk perut, seolah bisa melihat penampakan ususnya dari luar. Membuat Riani dan Siti tertawa.

“Bu Riani cuma mau belikan, Mbak Neesha. Bukan untuk dimakan, jadi nanti eskrimnya buat Siti. Kan Mbak Neesha alergi kacang.” Siti ikut menanggapi candaan Aneesha.

“Itu sih, maunya Mbak Siti.”

Ketiganya tertawa, sambil menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Keluarga ini tidak pernah sepi, selalu ada saja yang menjadi bahan obrolan dan candaan. Tiap pagi selalu menjadi waktu yang paling sibuk sekaligus waktu yang penuh dengan semangat.

Setelah menyelesaikan aktivitas di dapur dan menyiapkan makanan, Aneesha dan Riani segera membersihkan diri dan bersiap untuk melaksankan aktivitas masing-masing diluar rumah.

“Nanti jemput Bunda di panti, ya, Sha! Kita berangkat dari sana saja, kelamaan kalau pulang dulu.” Ucap Riani. Kini mereka sudah berkumpul menghadap sajian makanan di meja makan.

“Beres, Nda! Ayah! pinjem mobil, ya?” Aneesha menggerakkan dua alis, meminta persetujuan ayahnya.

“Memangnya kalian mau kemana?” tanya Fares.

“Jatah belanja, Mas. Aku repot bawanya kalau sendiri, makanya Aku minta Aneesha ikut.” jawab Riani.

“Gitu? Boleh nitip nggak?” tanya Fares menatap Riani dan Aneesha bergantian.

“Ayah mau nitip apa? Bawang merah? bawang putih? Cabe? Merica? Jahe? Kunyit? Atau ketumbar?” Aneesha menyebutkan deretan bumbu dapur yang selalu ada di daftar belanjaan Riani.

“Kamu pikir Ayah mau masak rendang?” Fares tersenyum geli dengan candaan Aneesha.

“Kali aja Ayah mau buka warung masakan padang, ya, kan?” Aneesha masih tetap menjawab dengan bercanda. Membuat semua yang sedang sarapan tertawa.

“Nggak jadi nitiplah.” Fares memasang wajah kesal yang dibuat-buat.

“Nggak usah ngambek, Mas. Nanti ini cepat ubanan, “ Riani membelai jenggot Fares yang sudah terdapat satu dua yang berubah warna dari hitam ke putih, membuat anak-anaknya tertawa.

Suasana di meja makan pecah oleh canda dan tawa. Fares bersyukur ketegangan antara Riani dan Aneesha beberapa waktu yang lalu segera terselesaikan. Rumah kembali nyaman, dengan kehangatan yang tercipta dari seluruh anggota keluarga.

“Kalian jahat! Pergi belanja dihari sekolah, nggak bisa diganti hari minggu apa? Biar Aku bisa ikut.” Jenar menghentikan tawa semua orang dengan gerutuannya.

“Besok akhir pekan Kamu belanja sama Ayah, Jen,” ucap Fares.

“Nggak asyik. Pergi sama Ayah, tuh. Kayak kita lagi jalan di jalan tol, lurus aja nggak ada mampir-mampirnya. Tujuannya beli baju, dapat dah, pulang. Nggak Asyik kan?” Jenar mengkritik Fares. Mereka kembali tertawa.

“Ya, sudah. Kalau nggak ada yang mau pergi sama Ayah. Ayah pergi sendiri aja, Lingga juga nggak mau pergi sama Ayah?” tanya Fares kepada anak bungsunya.

“Lingga akhir pekan ada latihan di club, lagian Lingga nggak suka belanja. Bikin pusing dan capek.” jawab Lingga, membuat tiga wanita yang sedang menikmati sarapan menahan tawa. Kasihan Fares ditolak oleh semua anaknya.

 ***

Salah satu kegiatan Riani selain menjadi Ibu rumah tangga adalah menjadi salah satu pengurus panti asuhan. Riani tidak setiap hari datang ke panti, hanya kadang-kadang saja. Yang lebih sering berada di panti adalah Gita, mengingat rumahnya cukup dekat dengan panti asuhan itu.

Siang ini, Riani dan Gita sedang berada di ruang pengurus bersama seorang pria muda yang datang untuk menyerahkan donasi. Sebenarnya sudah beberapa kali pria ini memberikan sumbangan secara pribadi untuk panti asuhan ini, hanya saja hari ini Riani baru mendapat kesempatan untuk bertemu.

“Terima kasih, ya, atas donasinya. Semoga berkah untuk kita semua. Dan semoga rejeki selalu mengalir deras untukmu, Aamiin.” Ucap Riani setelah menandatangai tanda terima donasi.

“Sama-sama Tante, maaf hanya sedikit.” Ucap pria dengan dagu terbelah yang duduk dengan tegak di sofa, berhadapan dengan Riani.

“Ini cukup banyak, terima kasih sekali.” Gita menimpali ucapan pria itu.

“Tidak seberapa jika dibanding kasih sayang yang Saya dapatkan selama tinggal disini, Tante.” Ucap pria itu menerawang jauh ke masa kecilnya.

Riani tersenyum, menatap pria muda didepannya. Muda, tampan, mapan, itu yang ada di pikiran Riani. Tapi sepertinya pria didepannya ini menyimpan suatu yang tidak dapat didefinisikan.

“Reyfan …,” panggil Riani.

“Ya, Tante.” Jawab pria muda yang duduk dihadapan Riani.

“Kamu sudah beberapa kali memberi donasi, kenapa baru kali ini Kamu datang sendiri? Biasanya hanya foto struk yang kamu kirimkan.” tanya Riani tersenyum ramah sambil menyandarkan punggung pada sandaran sofa.

“Karena Saya ingin bertemu Tante, tidak enak kalau menemui Tante dirumah.” Jawab Reyfan tanpa basa-basi. Pria ini selalu saja mengatakan apapun tanpa basa-basi lebih dulu.

Riani terkekeh, “Soal tempo hari?”

“Iya Tante, ada yang harus Saya jelaskan kepada Tante.” Reyfan menjeda kalimatnya.

“Saya minta maaf, sudah mengajak Aneesha pergi tanpa meminta ijin dari Tante dan om Fares. Walau sebenarnya Saya sudah bicara pada Pak Reza terlebih dulu. ” Reyfan mengucapkan kata demi kata dengan lancar tanpa rasa gugup sedikitpun. Kemampuan komunikasinya dihadapan orang lain memang sudah terlatih sejak kecil.

“Mas Fares sudah menceritakan semuanya padaku. Maaf, ya. Kemarin Aku berteriak padamu.” Ucap Riani dengan tulus.

“Saya yang salah, kok, Tante.”

“Aku hanya terlalu khawatir padanya Rey.” ucap Riani dengan nada bergetar, kembali mengingat ketakutan akan masa lalunya.

“Tante …,”

“Aneesha telah melewati banyak hal sejak kecil. Kerinduan pada sosok seorang Ayah membuatnya mudah akrab dengan laki-laki. Tidak seperti Jenar yang memang sejak dalam kandungan sudah merasakan cinta dari Ayahnya.” Riani tersenyum getir, sekelebat bayangan masa lalu menghampirinya. Gita yang duduk disampingnya segera mendekat, merangkul bahunya.

“Aku merasa bersyukur, Mas Fares sangat menyayangi Aneesha. Dia hanya terlalu polos, itu yang membuatku khawatir.” Riani menautkan jemarinya, bola mata teduhnya menatap Reyfan.

“Tante, Aneesha berada di sekitar orang-orang yang baik. Pengetahuan agamanya juga baik. Dia tidak akan melakukan hal diluar batas.” Reyfan membungkukkan badan, menumpu kedua siku pada pahanya. Pandangannya tulus kepada Riani.

“Kau tahu, Rey. Pernah ada orang yang mengatakan padaku, jika anak perempuan lahir dari hasil zina, maka anak itu juga akan mengalami apa yang dialami Ibunya. Itu yang membuatku takut, Rey.” Riani menghela nafas panjang, sedangkan Gita mengusap lembut bahu Riani.

“Ck, jangan percaya omong kosong seperti itu, Tante.” Reyfan mencebik, menurut Reyfan, kata-kata Riani sangat konyol.

“Kadang mitos juga ada yang benar-benar terjadi, Rey.”

“Hanya bagi mereka yang percaya, dan hanya bagi mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Tante, kadang suatu peristiwa yang kita takutkan malah benar-benar terjadi. Hanya karena Kita percaya hal itu akan terjadi.”

“Maksud kamu?”

“Misalnya Tante sedang bepergian naik motor, sepanjang jalan Tante khawatir hujan akan turun. Padahal Tante tidak membawa jas hujan. Nah, tiba-tiba hujan benar-benar turun seperti yang Tante khawatirkan. Pernahkah Tante mengalami seperti itu?”

“Lagi Tante, tadi sebelum Reyfan kemari, Reyfan berpikir akan bertemu Tante, ternyata benar kita bertemu disini.”

“Ah, itu kan, hanya kebetulan saja, Rey.”

“Kebetulan yang dido’akan Tante. Dengan kita terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, sama saja Kita sedang berdo’a kepada Tuhan. Dan bisa saja do’a itu dikabulkan.” Reyfan berkata lembut kepada Riani, didepan wanita paruh baya itu sifat sombongnya tidak Ia tampakkan.

Riani tersenyum membenarkan perkataan Reyfan, “Ada benarnya juga.”

“Jadi Tante, sebaiknya mulai sekarang, Tante harus selalu berpikir positif. Hilangkan ketakutan dan kekhawatiran berlebihan. Aneesha bisa menjaga diri, karena Pak Reza dan Om Fares sudah melimpahinya dengan limpahan kasih sayang.” Reyfan tersenyum, Netra Riani memandangnya kagum.

Pembicaraan antara Riani dan Reyfan berlangsung cukup lama, Gita seolah hanya sebagai figuran. Karena pembicaraan didominasi oleh Reyfan. Pria muda itu seperti menemukan ketenangan saat berbincang dengan Riani. Sosok seorang Ibu yang selalu Ia rindukan sejak kecil.

“Sekali lagi terima kasih, ya, Rey. Sering-seringlah datang, kunjungi adik-adikmu.” Kini Riani dan Reyfan sedang berjalan menyusuri koridor panti. Setelah berbincang di ruang pengurus tadi, kini saatnya Reyfan kembali pada kesibukannya lagi.

“Sama-sama Tante, Saya juga berterima kasih, Tante mau mengobrol dengan Saya.” Ucap Reyfan. Pandangannya menyapu deretan kamar yang mereka lewati, ingatannya terlintas saat Ia berada di panti ini waktu kecil. Sebelum Reza mengadopsinya.

“Oya, Rey. Aku penasaran, kenapa Pak Reza menempatkanmu disini? Bukannya seharusnya Kamu ditempatkan di kantor pusat?” Reyfan menghentikan langkah, Dia menghadap Riani yang menatapnya heran.

“Itu karena kesalahan Saya Tante. Pak Reza ingin menjauhkan Saya dari dunia malam. Tapi pak Reza tidak tau bahwa disini Saya lebih bebas karena tidak ada yang mengawasi. Ha ha ha.” jawab Reyfan sambil menertawakan dirinya sendiri.

“Ck, jangan begitu, Rey. Kasihan Bu Zulfa, Dia benar-benar sayang padamu seperti anaknya sendiri.” Riani melanjutkan langkah pelan, diikuti oleh Reyfan.

“Kalau ingat Bu Zulfa, Saya jadi ingin menikah.” Reyfan menghela nafas panjang, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana.

“Kenapa Rey? Kalau sudah ada calonnya, segeralah menikah. Siapa tahu Dia bisa merubahmu menjadi lebih baik.”

“Belum ada calon, Tante. Reyfan hanya ingin ada yang mengurus Bu Zulfa, selain Pak Reza dan perawatnya.” Reyfan tersenyum getir mengingat orang tua angkatnya yang tidak mempunyai anak, sedangkan Dia tidak bisa langsung mengurusnya.

“Sabar, Rey. Alloh telah menuliskan garis hidup setiap manusia,” Riani menepuk bahu Reyfan, memberi semangat.

“Aku pernah berpikir untuk meminta Aneesha tinggal bersama mereka, Tante. Ta-”

“TIDAK AKAN!” Riani memotong perkataan Reyfan. Matanya menyorot tajam pada Reyfan.

“Aneesha anakku, Dia tidak akan tinggal bersama mereka. Meskipun Dia ayah kandungnya, Aku tidak akan mengijinkannya!” Riani menekan setiap kata-katanya, membuat Reyfan menunduk.

“Reyfan tau ….,”

“Tadinya Saya ingin mendekati Aneesha, membuatnya bisa menerima Pak Reza kemudian memintanya tinggal bersama mereka. Tapi setelah melihat keseharian Aneesha, Saya urungkan Tante. Saya tidak tega memisahkan Aneesha dengan keluarganya hanya karena keegoisan Saya. Hanya karena Saya kasihan pada Pak Reza dan bu Zulfa yang menghabiskan masa tua mereka dalam kesepian.” penjelasan Reyfan membuat Riani mengelus dada. Rasa lega bercampur Iba menyelimuti hatinya.

“Saya pamit Tante,” Reyfan mengulurkan tangannya, ketika mereka sudah sampai di halaman panti. Tapi uluran tangan Reyfan tidak lantas dibalas oleh Riani.

“Maaf, Rey. Kadang-kadang, Aku masih tidak biasa bersentuhan dengan laki-laki.” Ucap Riani lirih.

Reyfan mengambil paksa kedua tangan Riani, menggenggamnya lembut, “Reyfan tau Tante bisa. Anggap Saya sebagai anak Tante, Reyfan ingin mendapat perhatian seperti Tante memberi perhatian kepada anak-anak panti ini.”

Riani terperanjat, Reyfan begitu tulus. Mereka baru beberapa kali bertemu, tapi Riani merasakan ketulusan pria muda itu. Juga kesepiannya, hatinya tulus tapi terlihat kosong.

Tidak terlalu lama Reyfan menggenggam tangan Riani, Ia segera melepaskan karena tidak ingin wanita paruh baya itu merasa tidak nyaman. Setelah tersenyum Ia segera melangkah menjauhi Riani.

“Reyfan!” panggil Riani sebelum Reyfan terlalu jauh.

“Ya?”

“Assalamu’alaikum ….,” Riani menyindir karena Reyfan tidak mengucapkan salam tadi.

Reyfan merasa malu, lalu tersenyum, “Wa’alaikum salam Tante.”

Riani memperhatikan Reyfan, sejak pria itu masuk ke dalam mobil sampai mobil yang membawanya keluar dari pintu gerbang panti. Sebuah senyum tersungging dari bibir wanita paruh baya yang mengenakan jilbab lebar itu.

“Hatimu itu baik, tapi kenapa yang Kau tunjukkan sifat burukmu? Apa yang sedang ingin Kau perlihatkan, Rey?” gumam Riani hampir tanpa suara.

***

Jam pulang kerja adalah waktu yang sangat ditunggu. Seharian berkutat dengan pekerjaan yang membuat penat, tiba saatnya untuk mengakhiri semua pekerjaan dan kembali kerumah. Menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Tiga anak beda usia bersama seorang wanita paruh baya, berjalan memasuki kantor Adhitama media. Tidak biasanya mereka datang bersamaan ke kantor, apalagi pada waktu jam kantor sudah selesai. Mereka berjalan sambil bercanda, membalas sapaan para karyawan yang berpapasan dengan mereka.

“Selamat sore Bu Riani, Mbak Aneesha, Mbak Jenar, Mas Lingga. Tumben, nih rame-rame?” Sapa receptionist yang sudah siap menenteng tas dipundaknya, menandakan Ia sudah akan meninggalkan kantor itu.

“Iya, Davira. Anak-anak ini ingin menjemput Ayahnya.” jawab Riani sambil tersenyum.

“Ayah!” teriak Jenar dan Lingga ketika melihat dua orang pria berjalan ke arah mereka.

“Lho, lho! Ini apa-apaan, rame-rame datang kayak mau demo?” Fares mempercepat langkah ketika melihat istri dan anak-anaknya berada di depan meja receptionist.

“Kejutan!” teriak tiga anak Fares bersamaan.

“Mereka ingin menjemputmu, Mas.” Ucap Riani.

“Mobil Ayah kan Aku yang bawa, sekali-kali boleh dong, kita yang jemput Ayah. Masa’ Ayah terus yang jemput Kita ….,” Aneesha menggamit lengan Fares, menggoyang-goyangkan tangannya manja.

“Wah, baru saja Ayah mau telpon Pak Salim minta jemput. Kalau gini Ayah kan, jadi terharu.” Fares merangkul ketiga anaknya. Riani mengelengkan kepala sambil tersenyum.

“Ya, sudah. Ayo kita pulang!” Fares melepas rangkulannya.

“Tar, Kamu mau lembur malam ini?” tanya Fares pada pria yang tadi berjalan bersamanya.

“Sepertinya tidak, Pak. Semua pekerjaan yang deadline minggu ini sudah selesai.” jawab Tara. Pandangannya sesekali tertuju pada gadis berjilbab pashmina yang sedang dirangkul Fares.

“Oke, Aku pulang duluan. Kalian juga cepat pulang, keluarga kalian menunggu dirumah.” ucap Fares pada Tara dan karyawan yang lain.

“Mari mbak Davira,” Ucap Aneesha. Ia seperti sedang sengaja mengabaikan keberadaan Tara.

“Ya, hati-hati Mbak.” jawab Davira singkat.

Fares berjalan dengan kedua lengannya yang digamit oleh Jenar dan Aneesha. Sedangkan Lingga dan Riani sudah berjalan di depan mereka. Tara mengikuti langkah keluarga atasannya itu dari belakang, sambil terus mengamati tingkah Aneesha. Ia mengantar keluarga atasannya sampai mereka masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan kantor.

“Aku yang nyetir lagi, Nih?” ucap Aneesha ketika Fares masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan. Sedangkan Riani dan kedua adiknya sudah duduk manis di kursi belakang.

“Sekalian, dong, Sha. Ayah kan raja hari ini, raja nggak ada yang nyetir sendiri.” Ucap Fares dari balik kaca jendela.

“Tapi, bukankah sebaiknya Anda yang menyetir, Pak? Aneesha-” Kata-kata Tara terlihat khawatir.

“Jangan mengajariku, Tara!” sanggah Fares.

Aneesha membuang nafas, mengitari mobil diikuti oleh Tara. Dengan cepat Tara membukakan pintu mobil untuk Aneesha. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil dan memakai seatbealt. Tara menutup pintu mobil dengan pelan, pandangannya tak lepas dari gadis yang sudah beberapa hari ini mengabaikannya.

“Hati-hati, ya, Sha!” ucap Tara ketika Aneesha mulai menyalakan mesin mobil.

Aneesha tidak menjawab ucapan Tara, hanya mengangguk sambil menutup kaca mobil. Ia segera memundurkan mobilnya, kemudian melajukannya pelan. Menyatu dengan kendaraan yang sedang beradu kecepatan di jalan raya.

Aneesha menatap pantulan wajah Tara dari kaca spion mobilnya. Sudah beberapa hari ini Aneesha mendiamkan pria itu. Pesan darinya tidak pernah Ia buka, panggilannya pun tidak Ia jawab. Gadis itu sedang marah pada pria yang sekarang sedang menatap kepergiannya sambil memasukkan kedua tangan di saku celana. Tara menatap mobil yang dikendarai oleh Aneesha sampai tak terlihat lagi. Ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia menghela nafas, sambil menutup matanya.

“Kalau lagi nyetir jangan melamun dong, Sha. Kamu bawa seluruh keluargamu lho, disini.” Ucapan Fares membuat Aneesha tersadar dari lamunannya. Segera Ia mengerjapkan mata, dan memfokuskan pandangan pada jalan raya.

“Hari ini Aku seperti sopir taksi online. Belanja sama Bunda, jemput Jenar, jemput Lingga, jemput Ayah. Persis taksi online kan? Harusnya Aku  mendapat upah yang spesial.” gerutu Aneesha yang ditanggapi kekehan dari kursi belakang.

“Dah pantes koq Kak. Jemput di titik sesuai aplikasi ya, Kak?” Jenar menirukan percakapan driver taksi online yang biasa Ia pesan. Membuat seluruh penumpang mobil tertawa. Sedangkan Aneesha hanya tersenyum kecut memandang dari kaca spion depan.

.

.

.

Bersambung…..

Aku kehabisan bawang lagi, nih. Nggak ada yang mau donasi bawang apa?

Aku tunggu LIKE, KOMENTAR, dan RATE bintang limanya ya, Kakak-kakakku tercinta.

O iya, cerita Fares dan Riani sedang dalam proses edit masal, jadi belum tahu kapan mau di up disini. Ha ha ha….. authornya labil emang.

1
Yekti Utami
novel yg bagus, alurnya santai seperti kehidupan nyata....
Risty_Antiq
mas Tama... si duren sawit 😍😍😍
Risty_Antiq
recommend
Y.S Meliana
baru ketemu novel'y kak desi desma alias kak la lu na 😊😊😊
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊
Desi Desma: terima kasih🤩
total 1 replies
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!