Hope memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya di desa Bibury—Inggris Selatan, setelah ia dipecat dari pekerjaannya. Di sana, Hope bertemu dengan Blue Hawkins. Pria muda, kaya dan bertalenta yang memilih untuk mengurung diri di rumah almarhum kakeknya.
Pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik. Blue tidak suka diganggu oleh orang asing dan Hope berusaha masuk ke dalam hidup Blue.
Saat Blue Hawkins bertemu dengan Hope Miller, di situlah ia sadar bahwa beberapa rencana dalam hidup tidak akan berjalan sesuai rencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Ajakkan Pergi ke London
[Biar aku saja yang menyukaimu. —Hope Miller]
Hope melipat kedua tangannya di atas meja sambil sibuk memandangi Blue yang sedang menekuni makanannya. Blue yang merasa tidak nyaman karena terus ditatap akhirnya menyingkirkan makanannya ke samping dan balas menatap ke arah Hope.
"Ada apa?" tanya Blue tanpa basa-basi.
"Ayo kita ke London!" ajak Hope secara tiba-tiba.
Blue kembali menarik piring makanannya dan mengabaikan ajakkan Hope. Seolah-olah olah ajakkan Hope tidaklah penting dan merupakan hal lumrah untuk diabaikan.
"Aku serius," Hope menekankan. Agar Blue mananggapinya.
Blue menggelengkan kepalanya sambil terus fokus ke makanannya. "Aku tidak mau," ucapnya singkat namun tegas.
"Ayolah...." Hope masih terus memohon.
Blue hanya menggelengkan kepalanya tanpa menatap ke arah Hope. Hope menyentuh tangan Blue dan menariknya pelan. "Ayolah... si brengsek William mengundangku ke acara pernikahannya. Kau tau sendiri semenjak insiden kau mengangkat teleponku di rumah sakit saat itu ia menganggap bahwa aku sudah memiliki pacar baru. Aku akan sangat malu jika pergi ke sana tanpa pacaran."
Blue diam sejenak sebelum mengangkat kedua bahunya. "Abaikan saja. Tak usah datang ke acara pernikahannya jika kau malu."
"Dia akan menganggapku tidak bisa melupakannya jika aku tidak datang." Hope melipat kedua tangannya di depan dada.
Memikirkan tentang William yang menghianatinya selalu sukses membuatnya kesal. Tapi, ia jauh lebih kesal pada dirinya sendiri karena pernah menghabiskan waktunya untuk berpacaran dengam laki-laki berengsek tersebut.
"Kau masih menyukainya?" tanya Blue berusaha terdengar acuh. Entahlah... pemikiran tentang Hope yang masih memiliki perasaan terhadapnya sungguh mengusik pikirannya.
"Tentu saja tidak!" seru Hope yakin. Ia hanya ingin menunjukkan pada William bahwa ia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik daripada William.
"Ya sudah. Tak perlu datang. Jika kau sudah tak menyukainya maka pendapatnya tidaklah penting." Blue bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah washtafel. Kemudian ia membersihkan bekas makanannya.
"Aku tidak mau diremehkan. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku bisa mendapatkan yang lebih baik daripadanya," cicit Hope di belakang Blue.
Blue diam sejenak kemudian meletakkan piring yang selesai ia cuci di atas rak yang digunakan untuk meniriskan peralatan makan setelah dicuci. Kemudian ia memutar tubuhnya menghadap Hope dan menyandarkan pinggulnya di depan washtafel.
Ia menatap serius ke arah Hope.
"Sebuah hubungan bukan sebuah kopetisi siapa yang mendapatkan siapa yang lebih baik. Tidak ada pasangan yang buruk bagi pasangannya jika mereka sedang jatuh dalam tahap jatuh cinta." Blue beranjak dari sandaran dan melangkahkan kakinya.
"Tapi, aku masih kesal karena ia menghianatiku!"
Blue menghentikan langkahnya dan kembali menatap ke arah Hope yang mengekorinya sejak tadi. "Jika kau masih kesal padanya. Apakah itu artinya kau masih mempedulikannya? Apa kau masih menyimpan rasa untuknya?" tanyanya penuh selidik.
"Sudah kubilang tidak! Aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya!" seru Hope kesal.
Melihat Hope yang kesal membuat Blue semakin tak yakin. "Benarkah?"
"Tentu saja! Karena sekarang aku sedang menyukai orang lain!" sembur Hope tanpa berpikir kata-kata tersebut mengalir begitu saja dari mulutnya.
"Orang lain? Siapa?"
"Um... itu...." Hope tampak salah tingkah. Matanya meliar ke mana-mana.
"Apa kau menyukaiku?" tanya Blue langsung. Membuat jantung Hope seketika berhenti berdetak sejenak.
Deg.
Ditodong dengan pernyataan seperti itu tanpa persiapan benar-benar membuatnya terkejut. Namun Hope segera menguasai keadaan.
Ia tiba-tiba tertawa hambar. Dengan gerakkan tubuh yang canggung ia berusaha mengelak. "Ha... ha. Tentu saja tidak. Kau jangan bercanda."
Akan tetapi, Blue sepertinya tidak bercanda sama sekali prihal pernyataannya. Ia masih menatap ke arah Hope tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Membuat Hope menghentikan tawanya yang terdengar sumbang.
"Kau menyukaiku bukan? Minggu lalu saat aku mengantarkanmu pulang dari pesta halloween di rumah Nyonya Wilson, kau mengatakannya dengan jelas kepadaku secara langsung."
Glek.
Hope menelan ludahnya. "Apa aku benar-benar mengatakannya?" tanya Hope ragu-ragu. Bodoh sekali dia. Harusnya ia tak mabuk pada saat itu.
Blue menganggukkan kepalanya lalu membuang napasnya pelan. "Hope kuberitahu kepadamu. Buang jauh-jauh perasaanmu padaku. Jangan pernah jatuh cinta padaku—"
"Aku yang punya hati. Mengapa kau yang mengaturnya? Apa kau pikir hatiku sebuah mesin yang dapat diatur semaunya?" Hope berteriak kesal. Ia menghentakkan kakinya dan berjalan melewati Blue hingga menabrak pundak Blue dan menyebabkan tubuh Blue bergeser sedikit.
"Kau bisa jatuh cinta pada siapapun tapi tidak denganku!"
Hope mengehentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Blue kembali. Matanya menatap nyalang ke arah pria tersebut. "Mengapa? Mengapa aku tidak boleh jatuh cinta padamu? Apa karena kau tidak tertarik sama sekali padaku? Aku hanya menyukaimu, bukan memintamu membalas perasaanku!"
Tidak. Bukan begitu. Blue bukannya tak tertarik kepada Hope. Hanya saja ini rumit. Ia hanya tak ingin menyakiti siapapun. "Bukan begitu." Blue menyugar rambutnya dengan satu tangannya.
"Lalu apa? Tenang saja. Aku tidak akan pernah memintamu untuk membalas perasaanku. Jadi, jangan merasa terbebani. Cukup aku yang menyukaimu." Hope membuang napas pelan. "Kau tak perlu membalas perasaanku," katanya sambil memalingkan wajahnya. Matanya menghindari tatapan mata Blue.
Hope kembali memunggungi Blue dan menderapkan langkahnya menjauh dari Blue. "Soal London. Lupakan saja. Aku akan menghadiri acara pernikahan Will sendiri," kata Hope tanpa menoleh sedikitpun untuk kemudian akhirnya ia melangkah menjauh meninggalkan Blue yang masih terdiam.
Suara pintu ditutup dari arah depan rumah Blue membuat Blue tersadar dari keterpakuannya. Hope. Gadis itu... benar-benar pandai membuatnya merasa bersalah.
Blue berjalan menuju ke arah kamarnya. Langkahnya terhenti sejenak. Kurang dari dua bulan lagi dari waktu keberangkatannya ke Swiss. Ia harus bertemu dengan kedua orang tuanya dan mengajak mereka berbicara. Blue sudah lama tidak berbicara dengan mereka, siapa tahu saja orang tuanya sudah berubah. Siapa tahu saja bukan? Manusia bisa berubah seiring berlalunya waktu.
Blue segera berjalan menuju nakas di dalam kamarnya dan mengambil ponselnya. Kemudian ia mengetik pesan singkat untuk Hope yang isinya;
Aku akan ikut denganmu ke London.
Hope mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal sama sekali. Ia menjambak rambutnya pelan sambil terus merutuki dirinya sendiri. Sambil duduk bersila di atas kasur, ia mendengus kesal pada dirinya sendiri.
"Apa yang baru saja kukatakan? Apa kau sadar apa yang tadi sudah kau katakan Hope? Kau tak punya harga diri ya?" Hope bermonolog pada dirinya sendiri sebelum pada akhirnya suara dering ponsel menyadarkannya.
Ia segera mengambil ponselnya dengan malas. Namun nama yang tertera di layar ponselnya membuatnya bersemangat dan berdebar di saat bersamaan. Dengan hati-hati ia membuka pesan dari Blue.
Aku akan ikut denganmu ke London.
Hope melebarkan matanya terkejut. Tapi, beberapa detik kemudian kedua sudut bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyuman lebar di wajahnya.
Blue akan ikut dengannya ke London!
buat author nya, terimakasih untuk karya cantiknya
huwaaa hu-hu-hu 😭😭😭😭😭🤧😤
😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
masa' iya datang ke pernikahan mantan cuman ajak teman atau ngaku bw tetangga, hi-hi-hi. nggak lucu atuh Hope, ketahuan jomblo nya, wkwkwk 😂🤣🤣🤣
💕💕💕
can't we wish them together with love
semangat ya ka💪💪👍
baperrr kok marah-marah neng....
🤪🤪🤪
auto ngakuin perasaannya sama Blue ☺️🙈🙈🙈
Blue : "tentu Hope... jika aku masih punya waktu dan harapan, tentu aku akan menangkap hatimu." 💕💕💕🥰
i hope so
Will punya kekasih baru dan sekarang pasti memutuskan hubungan dengan Hope
jangan-jangan dia sudah punya pacar yang lain