menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(perjalanan 2, politik Oscar) penyerangan empat kerajaan ke wilayah timur 2
"Eldiana..." Ucapku lirih dengan tatapan tak percaya.
Sepasang mata ungu menyalaku seketika membulat lebar sempurna, menatap lurus ke arah titik koordinat lambang tersebut dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya yang luar biasa pekat menembus batin. Sekujur memori bumiku bergejolak hebat mendapati tamparan fakta mengerikan ini.
BRAKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!
Kedua tanganku menghantam meja dengan kuat. Hantaman pekat itu seketika menciptakan dentuman keras yang bergaung memekakkan telinga seisi ruangan.
"Felix sialan..." Ucapku lirih mengeluarkan riak aura kegelapan yang pekat, membiarkan sekujur tubuh ragaku meledak melepaskan riak luapan kobaran aura kegelapan hitam pekat yang bergejolak hebat menelan cahaya lampu ruangan.
"GAUSAH BECANDA BAJINGAN.. BUKANNYA DIA SUDAH MENANDATANGANI KONTRAK GENJATAN SENJATA SELAMA SERATUS TAHUN?" Amukku tak tertahan dengan nada suara tiraniku yang meninggi murka, bener-bener tidak sanggup lagi menahan ledakan emosi kegelapan yang membakar poros jiwaku!
KRESSSS...! CETASSS...! PRANGGGGG!!!
Dampak dari tekanan gelombang kejut luapan aura kegelapan dan amukan energiku bener-bener berakibat sangat destruktif. Hanya karena riak kegelapanku, seluruh kaca-kaca jendela raksasa Ruang Rapat Agung seketika retak seribu jalur, pecah berantakan berkeping-keping menjadi jutaan serpihan kristal tajam yang berjatuhan menyentuh lantai kastil!
Raja Oscar beserta barisan pahlawan reinkarnator bumi di hadapanku seketika tersentak mundur, wajah mereka memucat menahan dinginnya tekanan mutlak dari wujud emosi tiraniku.
"Ahh.. itu aku juga bingung Miko.. bisa bisanya Felix mengkhianati kita kerajaan timur dan menyokong ketiga kerajaan itu.." Ucap Raja Oscar dengan nada suara baritonnya yang mengering, berusaha menetralisir rasa takutnya.
"Bisa-bisanya aku dipermainkan oleh Felix sialan.. aku pastikan dia akan mati mengenaskan... Sialan.." Ucapku lirih penuh amarah, sepasang mataku menyipit tajam memancarkan kilatan benci yang teramat pekat.
Namun, tepat di saat puncak amukan amarah kegelapanku sedang membakar sirkulasi udara ruangan, sepasang mataku melihat ke arah pintu yang sedang berdiri dua anak-anakku dan Alpha di sana terkejut.
Menyaksikan kedatangan wajah polos anak-anak manisku yang sedang menatapku penuh kebingungan itu, sekujur hawa murka tiraniku mendadak langsung tersedot surut kembali masuk ke dalam pori-pori jiwaku. Amarahku pun mereda sedikit demi sedikit hingga akhirnya tenang lagi.
Dengan langkah perlahan, Alpha dan anak-anakku pun menghampiriku dan ikut duduk di sampingku demi memberikan ketenangan batin.
Tepat di saat situasi mulai kondusif, daun pintu rapat agung kembali terbuka. Garius telah balik sambil membawa kudapan sebuah kue kering yang manis untuk dimakan bareng teh magis hangat. Namun begitu kakinya mendarat di dalam, langkah Garius seketika membeku. Sepasang matanya melongo bodoh menatap ke sekeliling ruangan yang dipenuhi serpihan kaca jendela yang hancur berantakan.
"Ah.. yang mulia.. kenapa tempat ini berantakan sekali?" Ucap Garius dengan nada suara yang teramat kebingungan nan polos.
"Ga usah dipikirin.. nanti bersihkan ya.." Ucapku dengan nada suara yang teramat santai dan terkesan bodo amat.
"Siap!" Jawab Garius membungkuk hormat penuh kepatuhan.
"Ibunda.." Ucap Elizabeth. Aku menoleh, menatap wajah imut Elizabeth yang sedang menarik-narik ujung lengan baju kasual rumahanku dengan wajah polosnya.
"Hee.. iya sayangku ada apa?" Tanyaku penuh kasih sayang, bener-bener kontras 180 derajat dengan tiraniku yang murka beberapa detik lalu.
"Ibunda gapapa?.. kenapa tadi sampai marah begitu ke tamu?" Tanya Elizabeth polos, sepasang mata indahnya menatapku penuh selidik kekhawatiran.
"Ahh engga kokk ga marah ya Oscar ya.." Ucapku penuh seri bahagia sembari melirik taktis ke arah Raja Oscar agar dia mau ikut membantu mengamankan skenario kebohonganku di depan anak-anak.
"Ahh iya.. tapi tunggu.." Ucap Raja Oscar mendadak memotong gumamanku, sepasang mata tua sang raja manusia itu mendadak menyipit tajam menatap lurus ke arah lekuk wajah manusiaku dengan ekspresi penuh selidik yang memuncak.
"Hmm?" Aku memiringkan kepalaku nampang bingung, memasang tampang wajah yang bener-bener kebingungan menatap gesturnya.
"Ibunda?.. tuhkan sudah ku duga kau itu wanita anjirr.. kata para bawahan ku kau pria.. padahal kau wanita njir lah.. aku sempet suka sama kamu pas di yakinkan sama bawahan ku kalau kau itu pria aku jadi ga suka ah elah.." Ucap raja Oscar lantang memprotes nasib cintanya yang salah koordinat!
"Ahahahaha..." Ketawaku pelan agak jengkel luar biasa pekat di dalam batin, bener-bener malas menanggapi delusi akut dari kakek-kakek raja manusia di hadapanku ini.
"Ehh... suka sama ibunda?.. ibunda juga jomblo yakan?" Ucap gamma polos menimpali dengan wajah polos tanpa dosanya yang teramat ceria.
DEG...
Aku mematung karena merasakan aura pembunuh di samping kananku.. yaitu Alpha yang tersennyum tapi seperti sangat jengkel hingga mengeluarkan aura membunuh yang kuat! Suasana batin Alpha bener-bener sedang terbakar api cemburu yang siap memotong kepala siapa saja yang berani mendekati rajanya!
"Huhh.. boleh aku lihat peta nya terlebih dahulu?" Ucapku ke raja Oscar, berusaha menyelamatkan nyawa Raja Oscar dari tebasan amukan sihir es milik Alpha.
"Baiklah silahkan.." Jawab Raja Oscar menyodorkan gulungan peta dengan tangan gemetar.
Aku pun melihat dan menduplikasi kan peta itu menjadi beberapa lembar dan ku simpan di inventory ku menggunakan sirkulasi sihir replikasi dungeonku agar 100% aman.
"Huhh untuk sementara kau tinggal di sini dulu aja Oscar.. aku akan membantumu merebut kembali kerajaanmu dan memukul mundur mereka semua sebisaku.." Ucapku serius penuh dengan otoritas kegelapanku.
"Ahaa.. terimakasih dewikuu" Ucap Raja Oscar bersorak gembira penuh rasa lega yang memuncak.
"D-dewi.." Ucapku agak jengkel menahan sabar di dalam batin.
"Huhh.. garius berikan mereka kamar yang masih kosong untuk istirahat.." Ucapku tegas.
"Siap!" Jawab Garius sigap.
Lalu kelompok Oscar pun di antar garius ke kamar nya masing masing setelah membungkuk hormat kepadaku. Seiring dengan menguncinya gerbang pintu ruangan, aku perlahan bangkit berdiri dari sofa, mengalihkan pandangan mataku menatap ke arah Elizabeth dan Gamma.
"Hmm.. gamma.. Elizabeth.. kalian ikut ibu ke kamar ya.. ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan.." Ucapku lembut penuh kasih sayang, membicarakan hal krusial khusus mengenai masa depan angkatan mereka.
"Baik Bu.." Ucap mereka berdua dengan kompak nan ceria.
Aku menoleh ke arah Alpha. "Kamu juga ikut ya.." Ucapku lembut tersenyum ke arahnya.
"Dengan senang hati" Jawab Alpha membungkuk anggun penuh rasa hormat yang manis.
Kami pun jalan menyusuri koridor kastil menuju ke kamarku.