NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Satu Malam

Terjerat Cinta Satu Malam

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Irna Mahda Rianti

Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.

Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Breakfast with you

H-3 Peresmian jabatan ....

Hari ini, dikejutkan dengan kedatangan Gara pagi sekali ke rumah Keyza. Entah ada angin apa, Gara datang ke rumah Keyza sepagi ini. Ia membawa dua box kotak. Sepertinya, Gara ingin mengajak Hila untuk sarapan bersama. Ia pun segera masuk kedalam dan menyapa Keyza.

"Pagi, Kak ..." sapa Gara, begitu ramahnya.

"Tumben banget kamu pagi-pagi datang kesini." Ujar Keyza.

Gara mengangkat alisnya, "Aku akan mengajak Hila untuk sarapan bersama. Aku juga akan memberi tahu dia, perihal peresmian jabatan ku. Aku ingin dia hadir, karena aku akan mengenalkannya,"

"Baiklah, rayu hatinya sebisa mungkin. Kamu harus bisa mengobati luka di hatinya. Kasihan Hila," saran Keyza.

"Iya, Kak. Aku akan terus mencoba," Gara semangat.

Keyza menepuk pundak Gara sambil tersenyum pada Gara. Gara pun segera bergegas ke kamar Hila, untuk memberikan sarapan pada Hila. Ia begitu semangat, karena sebentar lagi waktu yabg Gara tunggu-tunggu bersama Hila.

Gara tak mengetuk pintu, karena pintu sedikit terbuka. Ia memegang gagang pintu, lalu melihat kedalam kamar Hila. Ternyata, rambut Hila sedang disisir oleh perawatnya. Gara enggan masuk, ia masih diluar, karena terlihat Hila dan perawatnya sedang berbicara. Gara pun menyimak obrolan itu.

"Nona Hila cantik sekali," perawat yang bernama Sari itu tersenyum sambil menyisir rambut Hila dan menatapnya ke cermin.

"Makasih, Mbak. Aku merasa, diriku sudah gelap, wajahku tak secerah dulu, karena tak ada lagi semangat untukku hidup. Yang ada di kepalaku saat ini, hanya cara bagaimana aku bisa bertemu dengan anakku. Haruskah aku pun mati untuk mengikutinya?" Hila menatap dengan tatapan kosong.

"Nona, pamali. Gak boleh begitu, kita masih diberikan napas dan hidup itu harus disyukuri. Nona adalah orang yang kuat, karena itulah Allah memberikan cobaan berat ini pada Nona. Percayalah, Nona ... Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan kita. Ambil hikmahnya dari setiap kejadian ini. Nona yang kuat, yang sabar. Nona masih punya Tuan Gara, yang selalu menyemangati Nona melalui cobaan ini. Percayalah, Allah sayang pada Nona Hila. Nona harus tetap bersyukur, masih banyak orang yang peduli pada Nona," ucap Sari.

Hila menghela napas panjang, "Mbak, hatiku kosong. Jiwaku rapuh, ragaku hampa. Aku tak bisa merasakan apa-apa selain rasa sakit. Kehadiran Gara, tak mampu mengobati luka di hatiku. Aku terlalu sakit untuk menjalani hari tanpa bayiku. Dia yang aku perjuangkan mati-matian, Mbak. Aku lakukan apapun untuknya. Tapi, dia pergi. Aku pun ingin mengikutinya pergi. Gara pun tak mampu mengobati rasa sakitku. Rasa sakit ini terlalu dalam,"

Mbak Sari memegang pundak Hila, "Nona, maafkan Mbak Sari, kalau kata-kata ini kurang berkenan. Tapi, Nona harus tahu. Apa Nona tak memikirkan perasaan Tuan Gara juga? Apa Nona tak menyadari, bahwa Tuan Gara pun sama terpukulnya dengan Nona? Tuan Gara selalu menangis disaat ia sendiri. Ia terluka, dan ia sering marah tanpa sebab. Pembantu di rumah Tuan Rangga yang mengatakan itu pada Mbak. Tuan Gara pun amat terpukul dengan kepergian bayi mungil Nona. Dia sendiri, melewati beban ini. Tak ada yang membantunya. Nyonya Tira tak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkan Tuan Gara meluapkan kesedihan dan kekecewaannya. Tapi, lihatlah Nona ... Tuan Gara tak pernah memperlihatkan kesedihannya pada Nona. Jika ia menemui Nina, tak luput dari senyum manisnya. Ia seakan tak merasa terluka jika didepan Nona. Tuan Gara tak ingin Nona semakin terbebani. Jadi, ia sembunyikan kesedihannya, dan Tuan tetap kuat dihadapan Nona. Apa Nona tak merasa seperti itu? Tuan Gara ingin Nona Hila tetap tersenyum, dia sengaja menyembunyikan kesedihannya untuk menghibur dan menyemangati Nyonya. Tuan sangat tulus pada Nona. Apa Nona Hila bisa pertimbangkan Tuan Gara? Kasihan dia, Nona. Dia teramat begitu mempedulikan Nona, sehingga ia lupa bagaimana caranya mempedulikan dirinya sendiri."

Hila terenyuh mendengar penuturan Mbak Sari. Hila merasa, seakan ia menjadi orang jahat. Ia baru sadar, bukan hanya ia yang terluka, tapi Gara juga pasti terluka. Namun, Hila terlalu memikirkan diri dan perasaannya sendiri. Sehingga, ia tak bisa melihat, bahwa Gara juga mengalami kesedihan yang sama dengannya. Bedanya, Gara tetap menyemangati Hila, dan menyembunyikan kesedihannya.

"Mbak, apa aku keterlaluan pada Gara? Apa dia begitu terluka kehilangan bayinya? Tapi, dia tak terlihat terluka, Mbak." Ucap Hila.

"Tuan Sagara sengaja menyembunyikan kesedihan dan rasa sakitnya, semua itu demi Nona. Agar Nona kuat, dan tak rapuh terus. Tuan sangat tulus pada Nona. Nona Hila harusnya beruntung, karena Tuan begitu ingin menjaga dan melindungi Nona. Nona harus pertimbangkan Tuan. Jangan terus terbebani akan bayi Nona yang pergi. Tapi, pahami juga perasaan Tuan Gara yang tulus pada Nona. Menurut saya, Nona bisa mengulang kembali semuanya dari awal dengan Tuan Gara. Tentunya, dengan rasa sayang dan cinta yang tulus, bukan karena kesalahan seperti yang dulu. Nona bisa memulai lagi dari awal, Nona. Bukan begitu?" Mbak Sari tersenyum tulus.

"Entahlah, mungkinkah aku bisa memulai semuanya dari awal lagi? Aku takut, Mbak. Aku tak siap, aku tak mau menikah, dan aku tak mau punya anak lagi, Mbak. Aku sangat-sangat takut," Hila menggigit bibirnya.

"Nona, semua tak akan sama. Jika Nona dan Tuan menikah, kalian akan bahagia. Jika Nona hamil pun, kehamilan nanti pasti akan berbeda dengan sebelumnya. Karena apa? Karena nanti ada Tuan yang akan senantiasa menjaga kehamilan Nona. Dan tentu saja Nona tak akan stres ataupun banyak pikiran. Karena kehamilan baru pasti membuat Nona bahagia. Jangan takut Nona, serahkan semuanya pada Allah. Allah tahu yang terbaik untuk kita,"

"Mbak Sari ... aku terhanyut dalam ucapanmu. Aku bahagia mendengar ucapanmu. Terima kasih, hatiku lega karena mu, Mbak."

"Iya, Nona. Saya hanya mengutarakan pendapat saja. Saya ingin Nona dan Tuan bahagia. Maka dari itu, saran saya, Nona buka hati Nona kembali untuk Tuan Gara."

"Mungkin lambat laun aku bisa membuka hatiku untuknya, Mbak."

Merekapun berbalas senyuman. Gara yang mendengarnya dibalik pintu, merasa bahagia mendengar Hila akan mempertimbangkannya. Ia pun pura-pura mengetuk pintu, agar gelagatnya tak ketahuan oleh Hila dan perawatnya.

Tok, Tok, Tok ....

Hila dan Mbak Sari pun berbalik kearah pintu. Melihat Gara mengetuk pintu, Mbak Sari pun langsung berdiri dan membungkukkan badannya. Mbak Sari pamit pada Hila, dan segera berlalu dari kamar itu. Ia tak ingin mengganggu Tuan dan Nonanya.

"Pagi, Hil ... kamu cantik sekali," puji Gara.

Hila menatap Gara, "Terima kasih. Ada apa kamu pagi-pagi kesini?"

Gara menunjukan bungkusannya, "Aku membawa ini, aku ingin sarapan denganmu. Apa kamu mau menemaniku sarapan?"

Hila tersenyum, "Ya, baiklah,"

"Terima kasih, Hil." Gara bahagia sekali.

Hila dan Gara duduk di meja kecil, dan mereka sarapan bersama. Entah mengapa, Gara begitu bahagia sekali saat ini. Mungkin, karena pembicaraan Hila dengan perawatnya, membuat Gara merasa begitu bahagia. Selang beberapa menit, sarapan pun selesai. Gara tak henti-hentinya menatap Hila.

"Kenapa?" tanya Hila.

"Kamu cantik, sangat cantik, Hila ..."

"Apa maumu? Kenapa merayuku?" tanya Hila lagi.

"Aku tak mau apa-apa. Aku hanya mau dirimu, ternyata kamu memang cantik. Bodohnya aku, kenapa tak dari dulu ku kejar dirimu, Hil." Ucap Gara.

"Cukup, jangan merayuku. Aku tak tertarik padamu," jawab Hila.

"Tidak apa-apa. Aku tak meminta kamu tertarik padaku, karena aku sudah tertarik lebih dulu padamu, dan itu sangat membuatku bahagia." Gara tersenyum.

"Hmm, gombal ..." Hila mengalihkan pandangannya.

Aku tak akan marah. Aku akan terus berusaha, Hila. Semoga kamu bisa membalas perasaanku secepatnya. Semoga rasa sakit itu segera hilang, dan digantikan dengan rasa cinta ini. Ucap Gara dalam hati.

Tak lama, ponsel Gara berbunyi, tanda ada pesan masuk di ponselnya. Gara pun segera membukanya. Ternyata, Sagata yang membalas pesannya. Dengan semangat, Gara pun membuka isi pesan tersebut.

📩 Sagata Putra Raharsya

Maaf, aku baru membalasnya. Perihal hal tersebut, aku tak bisa menjelaskannya lewat ponsel. Tenang saja, semua pertanyaan mu akan terjawab begitu aku sampai di Indonesia. Siang ini, aku akan berangkat untuk pulang. Untuk menghadiri acara mu. Yang jelas, aku tak ada hubungan apapun dengan Bianca, dan kuharap kau jangan dekati dia lagi. Aku justru takut, kau akan terkena masalah jika dekat dengannya. Jaga wanitamu, jangan sampai Bianca berbuat aneh-aneh pada wanitamu. See u, Sagata.

Deg. Gara kaget membaca pesan dari Gata. Ia pun mencoba tetap rileks, dan terlihat biasa-biasa saja. Hila yang melihat keanehan Gara, segera mengintrogasi lelaki bertubuh jangkung itu.

"Siapa?" tanya Hila.

"Orang yang sangat aku rindukan Sebentar lagi dia akan pulang," ucap Gara.

"Oh. Senang sekali kamu rupanya," jawab Hila sedikit jutek.

Gara tersenyum geli, "Hila, ekspresi macam apa itu? Kamu cemburu padaku? Iya?"

"Enggak, aku gak cemburu. Aku udah mati rasa, aku gak mungkin cemburu sama kamu karena hal sepele seperti itu!" Hila terlihat kesal.

"Hila, aku suka sekali ekspresi mu barusan. Ayo ulang, dan aku akan memotretnya! Sungguh, kamu lucu sekali ketika sedang cemburu." Gara menggoda Hila.

"Hih, jangan harap! Siapa juga yang cemburu." Hila pun pergi ke toilet untuk membersihkan tangan dan mulutnya.

Ah, wanitaku. Senang sekali aku rasanya. Kamu sedang dalam kondisi tak percaya diri. Kamu masih dalam fase penyembuhan. Ternyata, kamu punya rasa cemburu juga. Kenapa aku senang sekali melihatmu seperti itu, Hila? Semoga saja, secepatnya aku bisa memiliki dirimu, dan hatimu seutuhnya.

*Bersambung*

1
kalea rizuky
g rela jalang Bianca dpet gata
kalea rizuky
males deh di bkin mati anaknya/Shame/
kalea rizuky
hmmmm emank murahan klo g murahan g bsa hamil uda jalang sombongnya
Nur Aini
Luar biasa
Nur Aini
Lumayan
Sovi Yana
keren ceritanya lanjutan elang
Pitri Minarti
duh gara kata katanya menyejukkan banget👍💚
Pitri Minarti
sedih banget😭😭😭
Eka Rauf Ginting
capek capek baca bayinya meninggal.. alur ceritanya jga bertele tele..
ningnong
😭😭😭😭😭
SR.Yuni
Demi nama besar rela korbankan kebahagiaan anak, anak akhirnya cari jalan keluar yg salah dan fatal akibatnya. Mendidik anak bukan berarti menentukan jalan hidup anak.
Sri Widjiastuti
indahnya pengorbanan!!
Sri Widjiastuti
Aamiin.... setuju calista
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
kluarga gara sama jg dng keluarga sahila lebih mementingkn harta
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
aq kok kasihan sama sahila ya
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
dasar pengecut sagara, gue benci laki2 kek bgtu, pengen ku bejet2
Ernawati
iiihhh davian kok gitu sih
Ernawati
semoga gata dapat wanita yg baik karna dia sulit jtuh cinta
Chandra-Jelita
author nya ternyata termasuk gemar nonton sinetron, sampai jadi referensi di ceritanya 🤔🤣🤣🤣🤪
Kadek Bella
gimana lanjutannya Calista sama elang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!