Andrea Smith seorang dokter bedah jantung brilian di Miami—cerdas, mandiri, dan menyimpan satu rahasia: ia peretas ulung. Namun di balik jas putihnya, hidupnya terjerat keluarga yang beracun: ibu yang tak pernah menyayanginya dan seorang ayah tiri yang terus memerasnya lewat satu-satunya orang yang ia cintai. Yang Andrea inginkan cuma satu—bebas.
Alexander Silver adalah pria paling ditakuti di Irlandia. Bos mafia berdarah dingin yang sudah lama mengunci hatinya rapat-rapat setelah dikhianati. Baginya, cinta hanyalah kelemahan yang tak bisa ia tanggung. Sampai suatu malam, takdir membawanya ke sebuah rumah sakit di Miami… dan mempertemukannya dengan sepasang mata cokelat yang mengubah segalanya.
Sebuah tawaran mendadak. Sebuah pernikahan yang lahir dari kebutuhan, bukan cinta. Tapi di tengah dunia penuh peluru, aliansi berbahaya, dan musuh yang mengintai dari setiap sudut, dua hati yang sama-sama terluka perlahan saling menemukan. Alexander bersumpah melindungi Andrea dengan nyawanya—tak menyangka wanita rapuh yang ia nikahi ternyata jauh lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berani dari siapa pun yang pernah ia kenal.
Ketika masa lalu Andrea membuka rahasia yang mengguncang, dan bahaya mengancam segala yang mereka bangun, seberapa jauh mereka rela melangkah demi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MarLu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"I iya, terima kasih, Tuan Sil…"
Ia mendekat lebih rapat padaku.
"Tolong panggil saya Alexander."
"B baik, m maaf, sudah kebiasaan." Aku mengatakannya sambil tergagap. Memalukan sekali. "Bisakah Anda melepaskan saya?" Kukatakan dengan sangat gugup.
Ia tersenyum dan seolah sedang mempertimbangkannya.
"Kumohon."
"Iya, maaf."
"Tidak masalah, justru berkat Anda saya tidak jatuh ke lantai."
"Saya tidak akan pernah membiarkan Anda jatuh." Ia tersenyum.
"Eh?" Aku terkejut. Apa maksudnya itu. "Baik, Tuan Alexander, saya berterima kasih."
"Alexander saja, tolong."
"Baik. Sekarang katakan, apa yang perlu Anda bicarakan dengan saya?"
"Begini, Dokter. Mungkin saya ikut campur dalam hal yang bukan urusan saya, tapi ketika Anda kembali menemui saya untuk mengantar saya ke saudara saya, saya melihat kesedihan di mata Anda. Dan jangan kira saya tidak menyadari bekas pukulan di pipi Anda."
Aku terkejut. "Eh, itu bukan…"
Tapi ia tak membiarkanku menyelesaikan kalimat.
"Dokter, saya tahu seperti apa bekas pukulan, dan Anda tak bisa menyangkal bahwa Anda menerima satu pukulan. Kulit Anda begitu putih hingga membongkarnya."
Aku sangat tersipu, rasanya aku seperti tomat, dan sang dewa Yunani tersenyum melihat pengaruhnya terhadapku.
"Baiklah, Alexander, saya tidak akan menyangkal pukulan itu. Itu perselisihan keluarga yang tidak akan terulang lagi."
"Saya yang akan memastikan itu."
"Eh?" Ya Tuhan, apa maksudnya. Aku begitu gugup. "Tidak akan terulang lagi."
"Anda ingin pergi?"
"Sebenarnya iya, saya harus beristirahat. Tugas jaga saya berat dan sudah berjam-jam saya tidak tidur."
"Saya tidak sedang bicara soal tugas jaga Anda, Dokter."
"Saya tidak mengerti, Alexander."
"Biar saya perjelas, Dokter. Anda ingin pergi dari tempat ini? Dari wilayah ini? Dari negara ini? Menjauh dari keluarga Anda?"
Aku menatapnya dengan terkejut.
"Sejujurnya, mungkin akan saya lakukan, Alexander."
"Saya bisa membantu Anda dalam hal itu, Dokter."
"Membantu saya dalam hal apa, saya tidak mengerti."
"Membantu Anda keluar dari negara ini tanpa terlacak."
Aku semakin terkejut oleh ucapannya.
"Alexander, saya bisa keluar dari negara ini tanpa terlacak. Saya berterima kasih atas niat Anda menolong, tapi…" Aku tak sempat menyelesaikan bicaraku ketika ia berkata,
"Dan bagaimana Anda akan melakukannya, Dokter? Dengan bekas pukulan yang saya lihat di pipi Anda, itu tak akan mudah. Keluarga Anda tak akan membiarkan Anda pergi, dan kalau mereka menyadari Anda ingin pergi, mereka tak akan mengizinkannya."
"Katakan, apa maksud Anda sebenarnya, Alexander."
"Saya ingin membantu Anda, Dokter."
"Saya berterima kasih atas niatnya, tapi tidak perlu. Saya bisa keluar dari negara ini tanpa keluarga saya sadari."
"Saya tanya sekali lagi, Dokter. Bagaimana caranya?"
"Lebih baik katakan saja, apa maksud Anda dengan semua ini."
"Boleh saya bicara langsung?"
"Silakan."
"Bagus. Saya ingin Anda menjadi istri saya."
Mataku terbelalak lebar dan aku menatapnya dengan terkejut.
"Alexander, saya tidak menger…"
Tapi ia tak mengizinkanku melanjutkan, ia mengangkat tangannya.
"Izinkan saya menyelesaikannya." Aku hanya bisa mengangguk. "Dengan menjadi istri saya, saya bisa menjamin Anda akan keluar dari negara ini tanpa terlacak, akan hidup tenang, dan yang terpenting, saya akan selalu menjaga Anda tetap aman. Lagi pula, sebagai istri saya, akan saya jaga Anda melebihi nyawa saya sendiri." Ia tersenyum.
Aku terpaku, mengamati apakah ini semacam lelucon. Tapi bukan. Keyakinan dalam ucapannya, dan matanya yang tak menyiratkan keraguan, sungguh menunjukkan bahwa sang dewa Yunani di hadapanku ini bicara serius.
"Alexander, saya rasa menjadi ist…"
Sekali lagi ia tak mengizinkanku melanjutkan.
"Percayalah, sebagai istri saya, tak seorang pun akan berani menyakiti Anda."
Ketika aku hendak membantah, ponselku berbunyi. Kulihat identitas peneleponnya, ternyata Dani. Aku menoleh ke arah Alexander dan ia berkata,
"Silakan angkat saja, Dokter." Aku hanya mengangguk.
"Dani?"
"Sahabatku, kau di mana? Kau masih di rumahmu? Kau harus pergi sekarang juga!"
"Dani, tenang, ada apa?"
"Masalahnya, si binatang Carlos itu tak sebodoh yang kukira. Ia mengawasi Nana. Mereka menyadarinya saat Nana keluar lalu mengikuti kami. Barusan kami berhasil lepas dari mereka, itu sebabnya kami tak sempat menghubungimu lebih awal. Tapi, sahabatku, kau harus pergi sekarang, ke mana saja, tapi jam segini ibumu atau si tolol Carlos itu pasti sudah tahu Nana tidak ada di rumah."
"Ya Tuhan, kalian baik-baik saja? Bagaimana keadaan Nana?"
"Kami baik-baik saja, sahabatku, tenang. Sekarang pergilah, naik pesawat pertama, tapi keluar dari negara ini sekarang juga!"
"Dani, aku tidak di rumah, aku masih di rumah sakit."
"Lalu apa yang masih kau lakukan di sanaaa, sahabatku? Kau kan janji akan langsung pulang setelah menanda tangani surat pemulangan. Kalau kau di situ, kau mempermudah mereka. Katakan, apa kau membawa dokumen-dokumenmu supaya bisa langsung berangkat?"
"Aku tertahan mengobrol dengan seseorang." Aku melirik sang dewa Yunani, dan ia menyimak apa yang kukatakan. "Dan iya, dokumen-dokumenku kubawa."
"Kalau begitu keluar sekarang, jangan bawa apa pun, tapi pergi dari sana sekaraaang!"
Kuputus sambungan telepon. Kupandangi sang dewa Yunani. Aku ingin mengatakan sesuatu sambil mengambil barang-barangku untuk pergi, tapi ia mendahuluiku.
"Saya tidak akan membiarkan Anda pergi sendirian. Bersama saya, saya bisa menjamin Anda akan aman."
"Saya tidak bisa terus di sini. Maaf, Alexander, tapi saya harus pergi sekarang."
Aku melewatinya, tapi ia menahan lenganku tanpa memberi tekanan.
"Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak akan membiarkan Anda pergi sendirian, Dokter. Mari kita jemput saudara saya, lalu saya antar Anda ke mana pun Anda mau."
"Saya harus ke bandara sekarang, saya tak bisa berlama-lama lagi. Bisakah Anda melepaskan saya?"
"Pahamilah satu hal, Dokter. Saya tidak akan membiarkan Anda sendirian, apalagi melepaskan Anda. Anda akan menjadi harta terbesar saya. Izinkan saya membantu Anda. Mari kita jemput saudara saya, lalu kita pergi dari sini, tapi Anda keluar dari sini bersama saya, mengerti?"
Aku hanya bisa mengangguk, lalu kami keluar dari ruang praktik menuju kamar saudaranya. Aku hanya berdoa pada Tuhan agar bisa keluar dari sini tepat waktu supaya tak berpapasan dengan ibuku.