Rumah tangga yang kelihatan harmonis hanya topeng belaka.
Hutang orang tua yang menumpuk kepada mertua, membuat terjadinya perjodohan yang terpaksa dan membuat Jihan terpenjara oleh kekerasan bathin dan fisik.
Sakit hati yang dialami jihan, sampai melupakan apa arti cinta yang sesungguhnya.
Dari rasa nyaman saling bertukar cerita, membuat dua insan yang dimabuk asmara terjebak oleh cinta terlarang, sehingga membuat keduanya susah untuk berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhang zhing li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemurkaan Pada Anak
Orang kaya dan berumur seperti kami hanya mengerjakan sesuatu yang tidak penting dirumah. Semua pekerjaan sudah diserahkan pada anak buah. Hasil dari beberapa toko klontong dan sembako yang kami miliki, alhamdulilah telah membuat kami cukup terkenal dikampung sebagai orang kaya. Beberapa petak sawah juga kami miliki.
Tangan sedang sibuk memberikan makanan dan membuang kotoran burung yang berada dikandang. Hobby yang selalu mengoleksi burung, membuat pagi-pagi harus beruntinitas memeriksa semua kandang.
"Pagi-pagi selalu saja itu kerjaan Bapak, kalau tidak bergulat sama burung pasti mandi'in si ayam jalu!" ocehan istri sambil membawa secangkir kopi.
"Lha, terus mau ngapain lagi to, Buk. Kerjaan anak buah yang mengerjakan, ya jadi Bapak tinggal santai menerima gaji saja," jawabku.
"Hemm. Yo wes lah, lanjut kan saja. Ibuk, mau kedapur dulu menyelesaikan cuci piring bekas kita sarapan pagi," pamit istri.
"Hmm."
Istri yang suka bawel akhirnya pergi juga. Kadang telinga sampai panas mendengarkan ceramahnya, yang tidak suka apa yang kulakukan sekarang. Walau begitu ada benarnya juga semua nasehatnya itu, tapi sering tidak kupedulikan sebab memang hobi.
Mulut sudah bersiul-siul menirukan kicau sang peliharaan. Ada sekitar dua puluh burung yang sedang aku pelihara. Semua burung mahal, makanya harus dijaga kualitas kandang, makanan, terutama kebersihan agar suara dan bisa mengenali majikan sendiri dengan baik.
"Pak ... Pak!" teriak istri dari dalam rumah.
Nampak istri sudah berlarian tergesa-gesa ke arahku.
"Ada apa sih, Buk! Pakai teriak-teriak segala," keluh tidak suka.
"Ini ada telepone dari Bapak Jihan, katanya penting!" Istri sudah menyodorkan gawai.
"Oh. Sini ... sini!" pintaku menyambut baik
pemberian telephone.
[Hallo, besan. Wa'alaikumsalam]
[Hallo, juga]
[Wah, tumben-tumbennya nih menghubungi. Ada apaan ini?]
[Tidak usah berbasa-basi. Langsung saja sama pokok pembicaraan]
Perasaan begitu aneh pada besan, yang seperti dari suara sedang dilanda amarah.
[Hah, maksudnya apa ya ini?]
[Yang jelas tolong kasih ajar anakmu si Bayu itu, untuk tidak bermain kasar sama Jihan]
[Wah, main kasar yang gimana, ya?]
[Jadi selama ini besan juga tidak tahu, kalau Bayu sudah bermain kasar sampai melewati batas terjadi tindak KDRT. Bayu sering menyiksa Jihan, walau tidak ada salah sama sekali]
[Apa? Wah, besan jangan mengada-ngada kalau bicara. Kami sebagai orangtua tahu betul sikap Bayu, jadi mana mungkin dia akan melakukan itu seperti yang besan bilang tadi]
Istri sudah memperlihatkan wajah cemas dan aneh, ketika mendengar penuturan telephone besan.
[Silahkan anda tidak percaya, sebab memang anda orangtua dia, jadi sah dan wajar-wahar saja kalau membela. Saya minta untuk segera merestui perceraian anak kita, sebab semua bukti ada ditangan jadi turuti semua apa yang kami minta ini. Kalau tidak maka Bayu akan kami jebloskan ke penjara atas tindakan kekerasan. Masalah hutang, saya akan segera balas lunas mulai sekarang, jadi jangan pernah ada lagi hubungan diantara kita]
[Besan, tenang dulu ya, ok! Semua akan kita bicarakan baik-baik. Lagian saya belum melihat dengan mata kepala sendiri, apa yang dilakukan Bayu itu apa benar atau tidak]
[Ini tidak bisa ditunda-tunda lagi, sebab sekujur tubuh Jihan sudah remuk, akibat penyiksaan anakmu yang kurang ajar itu. Oh ya, ditambah lagi Bayu sudah punya wanita lain, jadi rumah tangga mereka tidak akan bisa dipertahankan lagi]
[Apa? Bayu punya wanita lain?]
[Iya, dan itu bisa kami buktikan juga nanti]
[Ok 'lah, besan. Aku akan mencoba menyelesaikan masalah rumit ini dulu. Tapi tolong ...tolong sekali, jangan kebawa emosi dulu, sebab saya akan cari jalan keluarnya dulu, dan siapa tahu rumah tangga mereka bisa diselamatkan tanpa ada kata perpisahan]
[Tapi--?]
[Nanti saya akan hubungi besan lagi dan akan membicarakan ini semua]
Tut ... tut, gawai langsung kututup sebab jika diteruskan pembicaraan, maka besan akan benar-benar meminta agar rumah tangga anak ada perceraian. Sebelum ada bukti depan mata, maka aku belum percaya semuanya. Mungkin saja ini hanya rekayasa agar semua hutang bisa lunas dan ada untungnya.
Phaaaakgh ... kkunting, gawai langsung kulempar kesembarang arah. Rasanya emosi begitu memuncak. Tidak menyangka saja kalau berita ini benar-benar terjadi pada anak kandung, saat beberapa foto dan bukti telah dikirim oleh bapak jihan.
"Cepat hubungi anak kandung kamu yang kurang ajar itu," bentakku pada istri.
"Bbbbb-baba-ik, Pak."
Istri sudah berlari tergopoh-gopoh masuk didalam rumah. Gawai sudah pecah sampai mengeluarkan baterai dari casingnya, sehingga ada kemungkinan sudah rusak parah. Handphone yang rusak tidak jadi masalah, sebab rumah tangga anak yang diujung tanduk telah rusak ada didepan mata sekarang, dan itu akan sulit akan terselesaikan dibanding gawai yang bisa dibeli kapan saja asal ada uang.
Acara membersihkan kandang burung kusadahi, kini hanya bisa mondar-mandir ke kanan kiri menunggu kadatangan Bayu. Istri hanya bisa duduk menunggu anaknya, yang selama ini selalu dimanja dan sayangi.
"Tenangkan dirimu dulu, Pak. Jangan sampai kamu emosi tanpa ada bukti!" cegah istri dengan memegang pundak, agar aku tidak melanjutkan langkah untuk segera menghampiri Bayu didepan.
Suara mesin mobil didepan rumah sudah terdengar, dan rasanya tidak sabar ingin mandatangi si Bayu.
"Hallo, Pak, Bu!" sapa Bayu berbasa-basi sudah masuk rumah.
Bhuuhg, tanpa aba-aba langsung kuberikan bogeman wajah ke anak.
"Pak, hentikan!" teriak istri mencoba mencegah.
Bhuhhg ... bhuughh, dua tumbukan berhasil mendarat lagi ditempat yang sama. Bayu, seketika oleng tersungkur dilantai keramik.
"Pak ... pak, sudah hentikan ... hentikan dulu!" cegah istri lagi, yang sudah mendekati tubuh anak yang tidak berdaya.
"Diam kamu," bentakku pada istri.
Wajah istri langsung menunduk ciut. Mata melotot, gigi gemerutukan akibat terisi emosi. Tangan begitu gatal ingin memberikan bogeman pada anak lagi.
"Sekarang kamu minggir, atau mau tanganku yang tidak terkontrol ini jatuh pada wajahmu juga," ancam pada istri.
Istri nurut saja sekarang. Bayu telah mengelap ujung bibir, yang sudah mengeluarkan sedikit darah.
"Ada apa ini, Pak? Kenapa kamu memukulku tiba-tiba begini?" keluh Bayu.
"Diam kamu. Ini belum seberapa atas apa yang kamu lakukan pada jihan," Langkah berusaha menghampiri anak, yang sudah disekolahkan tinggi-tinggi tapi sikapnya begitu bej*t tidak berperasaan.
Plak ... plak, dua tamparan mendarat lagi dipipi yang kena bogeman tadi.
"Apa sakit?" sindirku.
Bayu hanya terbungkam, sambil mringis memegang pipinya.
"Kenapa kau tidak menjawab, hah? Sakit apa tidak?" imbuh bertanya.
"Jawab!" bentakku melengkingkan suara.
"Iiii-iyyy-aa, Pak. Sakit."
"Kalau tahu sakit, kenapa kau terus menyiksa menantuku itu, hah!" Kedua bibir Bayu sudah kucengkram kuat.
"Maafkan aku, Pak. Aku tidak sengaja, sebab Jihan tidak becus untuk dijadikan istri."
"Cuuih, tidak becus gimana?" Air ludah sudah kulempar dikeramik.
"Mmm--maakk-suudnya, tidak becus merawatku sebagai suaminya."
"Jangan ada kebohongan disini. Kami sudah tahu sikapmu, yang bejat mempunyai wanita lain selain Jihan."
Plak, dengan kuat pipi kembali kutampar.
"Jangan kau anggap kami keluarga, sebelum kau bawa balik istrimu itu," teriak mengancam.
"Bbb-aiik, Pak."
"Jangan baik-baik saja kau ini. Awas kalau sampai tidak bisa, maka hubungan kita sebagai orangtua dan anak akan putus. Dan terlebih lagi, kalau sampai ada perceraian maka semua harta warisan milik kami tidak akan jatuh ketanganmu. Lebih baik harta kami sumbangkan pada anak yatim saja, daripada dipegang oleh pria tak tahu diuntung seperti kamu," ancam panjang lebarku.
"Iiiy-yyyyyy-aa, Pak." Bayu terus saja gagap, sepertinya takut sekali atas kemurkaan emosi.
"Sekarang undur diri dari rumah ini. Cepetan bawa pulang menantuku itu balik, atau apa yang kukutakan barusan akan berlaku."
"Baik ... baik, Pak." Bayu sudah bangun dan kini lari terbirit-birit meninggalkan kami.
Untung saja tadi ada istri yang sudah mencegah kemurkaan. Kalau tidak, Bayu sudah sekarat kuhajar.
Sekali-kali anak harus diberi pengancaman keras, agar dia tidak melawan sama orangtua. Mungkin tidak baik dalam hal mendidik anak, tapi sikap Bayu sudah keterlaluan melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga, jadi harus diberi sedikit pelajaran agar jera dan tidak melakukannya lagi.
come on sattt selidiki kuyyy
hmmz bawa kabur jihan sat wkwkwk