NovelToon NovelToon
Takluk Oleh Kelembutannya

Takluk Oleh Kelembutannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hasanah Yoyoh

Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: KEMBANG API DIATAS ATAP DAN DENDAM SANUM

​Suasana di aula utama pesta ulang tahun makin meriah saat alunan musik pesta berganti menjadi nada melodi yang ceria. Dari arah pintu samping, sosok pria tegap berwajah tampan—Sigit, kakak sulung Kamila—muncul sambil mendorong troli berisi kue ulang tahun bertingkat lima yang teramat megah dan dihiasi lilin-lilin berbinar.

​"Putriku sayang... ayo potong kue ulang tahunmu!" seru Sigit dengan nada suara penuh kasih sayang dan kebanggaan.

​Seluruh tamu undangan yang hadir di dalam aula serentak bertepuk tangan, menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama.

​"Selamat ulang tahun... selamat ulang tahun... selamat ulang tahun Kamila..." suara nyanyian membahana hangat melingkupi ruangan.

​Kamila melangkah mendekati kue megah itu dengan binar mata bahagia yang berbinar-binar. Setelah memanjatkan doa singkat di dalam hatinya, Kamila menundukkan kepala lalu meniup lilin-lilin di atas kue hingga padam.

​"Horeee! Selamat ulang tahun, Kamila!" teriak teman-temannya riuh sambil bertepuk tangan heboh.

​"Ayo semuanya, mari kita potong kuenya bersama-sama!" seru Kamila dengan raut wajah yang amat gembira.

​Namun, sebelum pisau kue sempat menyentuh lapisan krim, Sigit dan Roya Ye mendadak maju bersamaan, saling berebutan memegang gagang pisau.

​"Biar aku! Biar aku saja yang memotongkan kuenya untuk Kamila!" seru Sigit tidak mau kalah.

​"Enak saja! Biar aku saja! Aku ini kakak yang paling dekat dengannya!" potong Roya Ye sengit, menepis tangan Sigit.

​Para tamu undangan yang melihat tingkah dua kakak laki-laki yang sangat posesif dan penyayang itu seketika tertawa terbahak-bahak.

​"Hei, yang ulang tahun itu Kamila! Kenapa kalian berdua yang malah sibuk perebutan pisau, hah?!" cemooh beberapa tamu sambil tertawa heboh.

​Tidak mau mengalah satu sama lain, Sigit dan Roya Ye malah saling colek dan mencoretkan krim kue tebal ke wajah masing-masing. Wajah tampan kedua kakak Kamila itu seketika penuh dengan ceceran krim putih, membuat gelak tawa tamu makin pecah.

​Kamila tertawa lepas melihat tingkah konyol dan kekanak-kanakan dari kedua kakaknya. Di tengah riuhnya tawa dan kehangatan pesta itu, sebuah tangan tegap nan hangat mendadak menyambar jemari Kamila dari belakang secara diam-diam.

​Tanpa sempat dicegah oleh Sigit maupun Roya Ye yang sedang sibuk bertengkar krim kue, Rizky Syah menarik lembut tangan Kamila, membawanya melangkah pergi menyusuri lorong VVIP hingga tiba di area rooftop (atap) hotel yang sepi dan berangin sejuk.

​"Kak Syah... kenapa kamu membawaku kemari?" tanya Kamila terengah-engah pelan sambil merapikan gaunnya.

​Rizky Syah tidak langsung menjawab. Pria tegap itu tersenyum misterius, lalu mengulurkan tangannya menunjuk ke arah langit malam yang gelap gulita.

​"Lihatlah ke luar, Kamila," bisik Rizky Syah dengan suara rendah nan merdu.

​Kamila menengok mendongakkan kepalanya ke arah langit malam. Tepat pada detik itu...

​DUAARRR! PRANGGG!

​Rentetan petasan mewah dan kembang api raksasa mendadak membumbung tinggi meluncur ke angkasa, lalu meledak membentuk pancaran warna-warni yang teramat indah dan berkilauan! Cahaya kembang api itu membiaskan warna keemasan dan merah muda yang memukau di atas langit kota.

​Mata Kamila membelalak berbinar-binar, cermin kebahagiaan terpancar jelas dari paras cantiknya. "Wah... ada kembang api! Bagus dan indah sekali!" seru Kamila sambil tersenyum sangat senang.

​Rizky Syah memalingkan pandangannya dari langit, menatap lurus ke arah wajah Kamila yang tersinari cahaya kembang api. Pria tegap itu menyunggingkan senyum manis yang lebar—sebuah ukiran senyum tulus yang teramat jarang ia perlihatkan pada orang lain.

​"Selamat ulang tahun... Putri Kecilku," bisik Rizky Syah dengan pendar asmara yang mendalam.

​Hati Kamila berdesir hangat mendengar panggil murni masa kecil itu. "Terima kasih banyak... Rizky Syah," balas Kamila pelan seraya tersenyum manis.

​Namun, kejutan romantis di atas atap itu ternyata tak sepenuhnya tersembunyi. Di balik pintu kaca rooftop, Ikra Pratama berdiri mematung. Pria itu menyaksikan keakraban dan momen romantis antara Kamila dan Rizky Syah dari kejauhan dengan raut wajah yang menggelap, memendam rasa kesal dan cemburu yang mendalam di dalam dadanya.

​Keesokan harinya...

​Suasana di sanggar tari utama terasa hening dan serius. Sinar matahari pagi menerobos masuk melintasi jendela kaca besar, memantulkan bayangan dua penari yang sedang melakukan gerakan pemanasan di depan cermin besar: Kamila dan Sanum Lin.

​Kamila menari dengan sangat tekun, memutar tubuhnya dengan ketepatan gerakan yang sempurna. Tak lama kemudian, pintu ruang latihan terbuka. Bu Laila melangkah masuk sambil membawa map dokumen.

​"Kamila... kamu ini benar-benar sangat serius dan rajin ya," puji Bu Laila sambil tersenyum tipis. "Baru saja semalam kamu merayakan pesta ulang tahun yang begitu meriah, tapi hari ini kamu sudah datang paling pagi untuk berlatih gerakan."

​Kamila menghentikan gerakannya, menundukkan kepala sedikit dengan raut wajah datar. "Terima kasih, Bu Laila," jawab Kamila cuek, tanpa niat basa-basi berlebih.

​Di sudut lain, Sanum Lin mendengus sinis, berbisik penuh kemarahan di dalam hatinya. Cih! Sok jual mahal dan sok rajin sekali wanita ini!

​Bu Laila kemudian membuka map di tangannya dan berdehem pelan. "Oh iya... daftar penari solo untuk pertunjukan pembuka mendatang sudah resmi keluar dari keputusan penguji. Kamila... kamu yang terpilih untuk membawakan tarian solo tersebut."

​Mendengar pengumuman itu, raut wajah Sanum seketika berubah drastis! Wajahnya memerah padam, dadanya naik turun tak terima.

​"Bu Laila! Saya juga berlatih dengan sangat serius! Kenapa bukan saya yang terpilih?!" potong Sanum protes dengan intonasi suara tak terima.

​Bu Laila menatap Sanum dengan pandangan tegas. "Tetap semangat, Sanum. Satu bulan lagi akan diadakan Liga Tari Tingkat Kota yang jauh lebih bergengsi. Kalian berdua sama-sama masuk dalam daftar kandidat utama. Kamu masih memiliki kesempatan besar di sana."

​Sanum mengepalkan tangannya rapat-rapat, menekan kekecewaannya di hadapan Bu Laila. "Baik, Bu Laila... saya mengerti."

​"Bagus. Lanjutkan latihan kalian," ujar Bu Laila lalu membalikkan badan dan keluar meninggalkan ruang tari.

​Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Sanum memutar tubuhnya, menatap Kamila dengan kilatan dendam dan kebencian yang mendidih.

​Kamila... kamu selalu saja mencuri perhatian semua orang! raung Sanum di dalam batinnya yang menggebu-gebu. Kemarin malam di pesta hotel, kamu juga berhasil menggagalkan rencana obatku! Dan sekarang... aku kehilangan kesempatan mendapat tarian solo karena kamu! Tapi lihat saja nanti... pada Liga Tingkat Kota satu bulan lagi, aku pasti akan memenangkan posisi juara utama... dengan cara kotor apa pun!

Sanum melangkah mendekati Kamila dengan tatapan penuh permusuhan yang tidak lagi ia sembunyikan. "Jangan merasa di atas angin dulu, Kamila. Keputusan Bu Laila hari ini tidak berarti apa-apa. Di Liga Tari Tingkat Kota bulan depan, aku akan pastikan posisimu hancur berkeping-keping."

​Kamila menatap Sanum dengan tenang tanpa sedikit pun rasa takut di wajahnya. "Kalau kamu punya kemampuan, buktikan itu secara adil di atas panggung, Sanum. Bukan dengan cara-cara kotor seperti yang kamu lakukan di hotel waktu itu."

​Mendengar kata-kata Kamila yang menohok telak ke masa lalunya, wajah Sanum memucat pasi seketika. "Jaga ucapanmu! Jangan asal menuduh kalau tidak punya bukti!" bentak Sanum defensif, meski matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa.

​"Bukti atau tidak, kamu sendiri yang paling tahu apa yang kamu perbuat," balas Kamila dingin. Ia kemudian membalikkan badannya, mengabaikan Sanum yang gemetar menahan geram, lalu kembali merapikan tas dan botol minumnya untuk bersiap meninggalkan ruang latihan.

​Di luar sanggar tari, udara pagi terasa segar menyambut langkah Kamila. Namun, pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan tentang ancaman Sanum, desakan Ikra Pratama tentang pertunangan demi kesehatan sang kakek, serta tatapan obsesif Rizky Syah yang terus menghantui membuatnya merasa terjepit di antara berbagai pilihan pelik.

​Aku harus fokus pada latihan tari dan kesembuhan Kakek... batin Kamila menghela napas berat, mencoba mengenyampingkan segala kekusutan yang ada di kepalanya demi menyongsong hari-hari berat di depan mata.

1
Hasanah Yoyoh
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!