NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 HARUMA SADAR
Di kedalaman dimensi yang tidak mengenal batas waktu dan cahaya, sebuah tarikan energi yang maha dahsyat menyentak sukma Haruma. Tarikan itu terasa seperti sebuah kail raksasa yang menancap tepat di ulu hatinya, menariknya mundur dengan kecepatan yang merobek-robek batasan ruang hampa.
Jeritan kemarahan dari entitas iblis berwujud arca Roro Jonggrang yang gagal merobek sukmanya di pelataran gaib Prambanan itu, perlahan-lahan memudar. Suara gemuruh ribuan lelembut pembangun candi, bau anyir darah yang menggenang, dan aroma kemenyan yang menyesakkan dada... semuanya tertinggal di belakang, tersapu oleh pusaran lorong waktu yang membawanya kembali menuju garis takdir manusia.
Namun, meskipun sukmanya telah ditarik paksa keluar dari cengkeraman sang Panglima Jin, hawa dingin dari kuku-kuku hitam iblis yang sempat nyaris menyentuh wajah astralnya itu, seolah menempel abadi di relung jiwanya. Dingin yang absolut. Dingin yang tidak berasal dari es atau cuaca, melainkan dinginnya kematian dan dendam ribuan tahun yang menolak untuk beristirahat.
.....
.....
BLAAASSS!!!
Sukma Haruma akhirnya terhempas kembali ke dalam raganya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang medis ruang Intensive Care Unit (ICU).
Sentakan kembalinya jiwa ke dalam wadah fisik itu memberikan reaksi kejut yang seketika membangkitkan sistem saraf pusat Haruma yang sebelumnya mati suri. Untuk pertama kalinya dalam belasan jam terakhir, impuls listrik di otaknya kembali menyala, mengirimkan sinyal-sinyal kehidupan ke seluruh organ vital yang sempat menyerah pada maut.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT... TIT... TIT... TIT...
Di dalam ruang ICU yang dingin dan steril itu, suara alarm kematian berupa garis lurus berwarna hijau pada layar monitor elektrokardiogram (EKG) tiba-tiba terputus. Kurva yang tadinya datar, perlahan-lahan melompat naik turun.
Awalnya lemah, berantakan, dan sangat lambat. Namun dari detik ke detik, ritmenya mulai menemukan keteraturan. Detak jantung itu kembali memompa darah ke seluruh pembuluh nadi yang sempat menyempit.
Suster Ratna, seorang perawat senior yang malam itu mendapat tugas jaga di ruangan tersebut, sedang mencatat laporan medis di atas clipboard ketika telinganya menangkap perubahan frekuensi dari mesin monitor.
Wanita berseragam putih itu langsung mendongak. Matanya membelalak lebar dari balik kacamata bacanya saat melihat angka saturasi oksigen dan heart rate di layar monitor perlahan merangkak naik ke batas minimal yang bisa ditoleransi oleh manusia hidup.
"Dokter Surya! Dokter!" panggil Suster Ratna dengan nada suara yang setengah tertahan karena keterkejutan yang luar biasa. Ia bergegas meletakkan clipboard-nya dan berlari ke sisi ranjang Haruma.
Dokter Surya, yang baru saja hendak melangkah keluar dari ruangan untuk beristirahat sejenak setelah usahanya melakukan resusitasi dan kejut jantung dianggap menemui jalan buntu, langsung berbalik memutar tubuhnya. Jas putihnya berkibar saat ia setengah berlari menghampiri ranjang pesakitan tersebut.
"Ada apa, Sus?" tanya Dokter Surya, matanya langsung tertuju pada layar monitor.
"Ritme jantung pasien kembali, Dok! Sinus rhythm mulai stabil. Tekanan darahnya perlahan naik. Ini... ini keajaiban, Dok!" jawab Suster Ratna dengan tangan yang sedikit bergetar saat ia meraih pergelangan tangan Haruma untuk mengecek denyut nadi secara manual.
Dokter Surya menatap layar monitor dengan pandangan tak percaya. Sebagai seorang ahli bedah yang sudah membedah ratusan pasien selama dua puluh tahun karirnya, ia tahu betul bahwa secara medis, pasien dengan kondisi henti jantung berulang-ulang akibat syok hemoragik (kehilangan darah hebat) memiliki persentase kelangsungan hidup di bawah lima persen.
Fakta bahwa mesin-mesin ini kembali berbunyi ritmis adalah sebuah mukjizat yang menentang teori-teori dalam buku kedokteran yang pernah ia pelajari.
"Cek refleks pupil dan respons motoriknya," perintah Dokter Surya cepat, profesionalismenya segera mengambil alih keterkejutannya. Ia mengeluarkan senter kecil (penlight) dari saku jasnya.
Namun, sebelum Dokter Surya sempat membuka kelopak mata Haruma dengan jarinya, sebuah pergerakan kecil menghentikan tangannya.
Jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan Haruma yang terpasang alat pulse oximeter tampak bergerak pelan. Berkedut-kedut halus menekan sprei putih. Lalu, dada gadis itu mulai bergelombang, mencoba menarik napas panjang, namun terhalang oleh keberadaan selang intubasi (pipa endotrakeal) yang masih bersarang di tenggorokannya. Mesin ventilator seketika berbunyi memperingatkan adanya perlawanan napas spontan dari pasien.
"Pasien berusaha bernapas sendiri, Dok. Dia melawan ventilatornya," lapor Suster Ratna dengan nada panik yang bercampur lega.
Dan pada detik berikutnya... kelopak mata Haruma perlahan terbuka.
Kelopak mata yang pucat pasi itu bergerak naik dengan sangat lambat, seolah membutuhkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya hanya untuk mengangkat beban yang beratnya tak terkira. Bulu matanya bergetar pelan.
"Haruma... Dek Haruma, Anda bisa mendengar suara saya?" panggil Dokter Surya dengan suara tegas namun menenangkan.
Ia menyorotkan cahaya senter kecilnya ke arah mata gadis itu untuk memeriksa refleks pupil. "Jangan banyak bergerak dulu. Anda berada di rumah sakit. Operasi Anda sudah selesai."
Haruma tidak merespons panggilan itu. Matanya memang terbuka, namun apa yang terpancar dari sepasang bola mata itu membuat Suster Ratna secara refleks mengambil satu langkah mundur.
Tatapan mata Haruma... benar-benar kosong.
Tidak ada kelegaan, tidak ada rintihan kesakitan, tidak ada kebingungan seperti layaknya pasien yang baru saja siuman dari koma panjang. Sepasang manik mata gadis itu menatap lurus ke arah langit-langit ruangan tanpa berkedip.
Pupilnya mengecil saat disorot cahaya, menandakan bahwa fungsi neurologis otaknya masih berjalan normal, namun 'jiwa' di balik mata itu seakan belum sepenuhnya kembali.
Tatapan itu adalah tatapan sebuah cangkang kosong yang mengunci kengerian absolut dari dimensi lain yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dalam benak Haruma, ia tidak melihat langit-langit rumah sakit.
Pikiran sadarnya masih tertinggal dalam bayang-bayang arca Roro Jonggrang bermata hitam yang menyeringai ke arahnya.
Ia masih bisa mendengar gaung suara kutukan Bandung Bondowoso.
Ia masih bisa mencium bau kemenyan yang menyesakkan. Lidahnya kelu. Tubuhnya lumpuh.
Ia ingin menjerit memperingatkan keluarganya bahwa entitas iblis itu telah mengincar adik kembarnya, namun tak satu pun otot di tubuhnya yang mau bekerja sama.
"Napas spontannya cukup kuat. Persiapkan ekstubasi sekarang. Cabut selang ventilatornya agar dia tidak tersedak," perintah Dokter Surya dengan sigap.
Dua orang perawat lain segera masuk ke dalam ruangan untuk membantu. Dengan gerakan yang sangat terukur dan hati-hati, Dokter Surya mencabut plester yang menempel di sudut bibir Haruma, menyedot cairan lendir dari dalam mulut dan tenggorokan gadis itu menggunakan selang suction, lalu dengan satu tarikan perlahan yang mantap, ia mencabut selang plastik panjang itu dari saluran napas Haruma.
Sesaat setelah selang itu dicabut, Haruma tersedak pelan. Mulutnya terbuka, meraup oksigen dengan serakah. Dada gadis itu naik turun dengan cepat.
Suster Ratna segera memasangkan masker oksigen bening menutupi hidung dan mulut Haruma, memastikan asupan udara segar terus mengalir ke paru-parunya.
"Kerja bagus. Kerja bagus semuanya," Dokter Surya membuang napas lega, menyeka keringat di pelipisnya.
Ia memantau kembali layar EKG yang kini menunjukkan angka yang jauh lebih stabil. "Dia berhasil melewati masa kritis terberatnya malam ini. Tapi tolong awasi terus output cairan dan tekanan darahnya. Kita belum bisa benar-benar bernapas lega sebelum dia bisa berkomunikasi secara verbal."
Suster Ratna mengangguk. Ia kemudian mengambil selimut tebal dari lemari penyimpanan, hendak menyelimuti tubuh Haruma yang sedari tadi hanya ditutupi selimut tipis rumah sakit.
Saat tangan Suster Ratna tak sengaja bersentuhan dengan lengan bagian bawah Haruma untuk merapikan selang infusnya, perawat senior itu tersentak kaget.
"Astaga..." gumam Suster Ratna, menarik tangannya dengan cepat.
"Ada apa, Sus?" tanya Dokter Surya, menoleh ke arah perawat tersebut.
"Suhu tubuhnya, Dok. Lengan pasien... sangat dingin," ucap Suster Ratna dengan kening berkerut dalam. "Saya tahu AC di ruang ICU ini diatur pada suhu rendah, dan dia baru saja kehilangan banyak darah, tapi... dinginnya tidak wajar. Seperti menyentuh balok es yang baru dikeluarkan dari dalam pendingin."
Dokter Surya mengerutkan kening. Ia segera meraih pergelangan tangan Haruma, menempelkan punggung tangannya ke kulit gadis itu.
Benar saja. Suhu permukaan kulit Haruma turun drastis di luar nalar medis. Tubuhnya sedingin mayat yang sudah terbujur kaku berjam-jam, sangat kontras dengan detak jantungnya yang kini memompa darah hangat di dalam pembuluhnya.
"Cek suhu tubuh inti melalui termometer," perintah sang dokter, berusaha merasionalkan keadaan. "Mungkin dia mengalami hipotermia pasca-operasi akibat syok hemoragik. Naikkan suhu blanket warmer (selimut penghangat) ke pengaturan maksimal. Pasang juga infusion warmer untuk menghangatkan cairan saline dan darah yang masuk ke tubuhnya."
Para perawat segera melaksanakan instruksi tersebut dengan cekatan. Mereka menutupi tubuh Haruma dengan selimut termal khusus yang mengalirkan udara hangat, berharap bisa menaikkan suhu tubuh gadis yang masih menatap kosong ke langit-langit itu.
Namun, baik Dokter Surya maupun para perawat tidak tahu, bahwa hawa dingin yang membekukan darah Haruma itu bukanlah gejala hipotermia yang bisa diatasi dengan selimut termal.
Itu adalah aura kematian dari dimensi Prambanan yang menempel erat pada sukmanya, sebuah tanda gaib bahwa Haruma telah bersinggungan langsung dengan penguasa kegelapan, dan membawa sebagian dari kutukan itu kembali ke dunia nyata.
Setelah memastikan semua tanda-tanda vital Haruma stabil, Dokter Surya menoleh kepada Suster Ratna.
"Sus Ratna, tolong hubungi keluarga pasien. Orang tuanya... Bapak Zaki dan Ibu Nisa. Jika saya tidak salah ingat, mereka ada di ruang tunggu luar sampai menjelang tengah malam tadi sebelum akhirnya saya minta untuk pulang beristirahat karena kondisi pasien saat itu belum ada kepastian," instruksi Dokter Surya, nada suaranya kini melunak, membawa kelegaan seorang penyembuh.
"Kabari mereka bahwa putri mereka sudah siuman. Masa kritisnya sudah terlewati. Itu akan menjadi kabar terbaik yang mereka dengar malam ini."
"Baik, Dok. Saya akan segera menghubungi pihak keluarga di meja perawat," jawab Suster Ratna sambil tersenyum tipis, merasa ikut bahagia.
Suster Ratna bergegas keluar dari ruang isolasi ICU menuju ke Nurse Station yang berada tepat di seberang lorong. Suasana rumah sakit di pukul dua belas malam lewat itu sangat sunyi. Ia duduk di kursi kerjanya, membuka buku besar rekam medis pasien atas nama Haruma, dan mencari nomor telepon darurat keluarga yang didaftarkan saat gadis itu pertama kali dibawa masuk ke IGD.
Ia menekan tombol-tombol pada pesawat telepon kabel di meja perawat, memasukkan nomor ponsel milik Zaki. Suara nada sambung terdengar menggema pelan dari gagang telepon.
Tuuuut... Tuuuut... Tuuuut...
.....
.....
Di kediaman keluarga Zaki, malam itu sedang berada di puncak kekacauan.
Di dalam kamar Harumi yang terang benderang, pecahan kaca lampu tidur berserakan di lantai.
Harumi masih menangis histeris di pelukan ibunya, berteriak-teriak meracau tentang sosok wanita dari dalam lemari kayu jati yang mengancam akan mencabut nyawa kakaknya malam ini juga.
Zaki, yang sedang berlutut di lantai dengan raut wajah tegang dan dipenuhi ketakutan akan keselamatan kedua putrinya, tiba-tiba dikagetkan oleh getaran panjang dari ponsel di saku celananya.
Zaki segera merogoh sakunya. Layar ponselnya menyala, menampilkan sederet nomor telepon rumah (landline) yang ia kenali kodenya. Itu adalah nomor dari pihak rumah sakit.
Jantung Zaki seakan berhenti berdetak. Paru-parunya seketika kosong dari udara. Matanya membelalak lebar, menatap layar ponsel itu seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Kepanikan Harumi, teriakannya tentang iblis yang akan mencabut nyawa Haruma malam ini, dan panggilan telepon dari rumah sakit di tengah malam buta... semua itu merangkai sebuah asumsi yang paling mengerikan di benak seorang ayah.
Zaki merasa lututnya berubah menjadi jeli. Tubuhnya gemetar hebat saat ibu jarinya menggeser tombol hijau di layar untuk menjawab panggilan tersebut.
"H-halo..." sapa Zaki.
Suaranya serak, bergetar hebat, nyaris hanya berupa embusan napas. Ia sudah bersiap untuk mendengar kalimat belasungkawa dari seberang sana. Ia sudah bersiap untuk hancur lebur sepenuhnya malam ini.
"Selamat malam, Bapak Zaki? Benar dengan keluarga dari pasien atas nama Haruma?" sapa suara lembut Suster Ratna dari gagang telepon.
"I-iya... Saya ayahnya. A-ada apa dengan anak saya, Sus? Tolong... katakan dia baik-baik saja..." Zaki memejamkan matanya rapat-rapat, air mata keputusasaan sudah menggenang di pelupuk matanya.
Di sebelahnya, Nisa yang menyadari suaminya sedang menerima telepon dari rumah sakit, ikut menahan napas, mengeratkan pelukannya pada Harumi yang masih gemetar.
"Bapak Zaki tidak perlu panik. Saya menelepon untuk menyampaikan kabar baik, Pak," ucap Suster Ratna dengan nada riang dan menenangkan yang seketika menghancurkan awan gelap di benak Zaki.
"Putri Bapak, Dek Haruma, baru saja tersadar dari komanya. Operasinya berhasil dengan baik, dan napas spontannya sudah kembali sehingga kami sudah melepaskan selang alat bantu napasnya. Masa kritis pasien sudah terlewati, Pak. Alhamdulillah."
Kalimat itu bagaikan siraman air zam-zam di padang pasir yang membara.
Zaki mendadak tersedu-sedu. Ia menangis, namun kali ini bukan tangis keputusasaan, melainkan tangis rasa syukur yang tak terhingga.
Ia menutupi wajahnya dengan satu tangan, sementara tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat.
"Alhamdulillah... Ya Allah, Alhamdulillah..." racau Zaki berkali-kali.
Mendengar ucapan suaminya, Nisa ikut menangis lega. Ia menangkup wajah Harumi yang masih kebingungan dan dipenuhi teror. "Harumi... kakakmu sadar, Nak! Kakakmu selamat! Iblis itu bohong, Harumi! Kak Haruma masih hidup!" seru Nisa sambil menciumi pipi putri bungsunya.
"Terima kasih, Suster. Terima kasih banyak. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya yang tak terhingga kepada Dokter Surya dan seluruh tim medis," isak Zaki melalui telepon. "A-apa saya boleh ke sana sekarang? Saya ingin melihat putri saya."
"Kondisi pasien masih sangat lemah dan membutuhkan banyak istirahat, Pak. Mengingat sekarang sudah larut malam, kami sarankan Bapak dan Ibu datang berkunjung besok pagi saja saat jam besuk ICU pertama dibuka. Kami akan memantau kondisi putri Bapak dengan sangat ketat malam ini," jelas Suster Ratna profesional.
"Baik, Sus. Baik. Besok pagi-pagi sekali saya akan ke sana. Tolong jaga anak saya, Sus. Terima kasih."
Zaki menutup panggilan itu. Ia langsung menubruk istri dan putri bungsunya ke dalam pelukan yang sangat erat.
Malam ini, meskipun teror dari sosok bergaun merah itu baru saja menyatroni rumah mereka, berita keselamatan Haruma menjadi perisai yang memberikan kekuatan baru bagi keluarga tersebut.
Mereka menolak untuk kalah oleh kutukan purba itu.
.....
.....
Sementara itu, kembali ke ruang isolasi ICU yang sunyi...
Haruma masih terbaring kaku di atas ranjang medisnya. Udara hangat dari selimut termal yang membungkus tubuhnya sama sekali tidak mampu mengusir rasa beku di tulang-tulangnya. Matanya yang kosong itu masih menatap lurus ke arah langit-langit ruangan.
Dari luar, ia tampak seperti seorang pasien trauma yang sedang dalam proses pemulihan. Tubuhnya diam. Monitor jantungnya berbunyi teratur.
Namun di dalam kepalanya, di kedalaman akal sehatnya, Haruma sedang berteriak kepanasan.
Mata batinnya yang kini terbuka lebar pasca-perjalanannya ke alam gaib, bisa melihat dengan sangat jelas.
Di sudut ruang ICU yang remang-remang, di luar jangkauan penglihatan manusia normal seperti Dokter Surya maupun Suster Ratna, sekelompok bayangan hitam merayap di dinding.
Bukan hanya itu, telinga Haruma menangkap sebuah suara sayup-sayup yang terbawa oleh embusan angin dingin dari ventilasi AC di atas ranjangnya. Suara gemerincing gelang kaki dari perunggu.
Sring... Sring... Sring...
Di dalam kelumpuhan raganya, Haruma meneteskan sebulir air mata dari sudut matanya yang kosong. Gadis itu menyadari sebuah kenyataan yang jauh lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.
Sukmanya memang telah kembali ke tubuhnya. Jantungnya memang berdetak. Namun entitas kegelapan dari Prambanan itu tidak melepaskannya begitu saja.
Kutukan itu menempel pada darah "Tulang Wangi"-nya. Haruma tidak kembali sendirian dari alam gaib.
Ia telah membawa tatapan iblis itu bersamanya.
Dan iblis itu kini tahu persis, di mana kedua wadah utamanya berada.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda