NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.

Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Perdebatan

Malam telah larut ketika rumah Rashid akhirnya benar-benar tenggelam dalam kesunyian. Setelah pertengkaran mengenai tagihan kartu kredit beberapa hari sebelumnya, hubungan Rashid dan Marissa masih terasa dingin. Mereka memang tidak terus-menerus bertengkar, tetapi ada jarak yang perlahan tumbuh di antara keduanya.

Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama tanpa banyak bicara. Marissa membelakangi Rashid, sementara pria itu memilih menghadap ke sisi lain. Tidak ada percakapan sebelum tidur, hanya keheningan yang terasa semakin panjang.

Beberapa jam kemudian, ketika Marissa hampir terlelap, ia mendengar suara Rashid yang samar dari belakangnya.

“Kinara.”

Mata Marissa langsung terbuka. Ia perlahan berbalik dan menatap suaminya. Rashid masih tertidur lelap dengan napas yang sedikit tidak teratur. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak menyadari bahwa satu nama yang seharusnya telah menjadi bagian dari masa lalu baru saja keluar dari bibirnya.

Marissa menahan napas, tetapi matanya menatap penuh selidik. Awalnya ia mengira telah salah mendengar, namun beberapa detik kemudian, Rashid kembali bergumam dalam tidurnya.

“Kinara, jangan pergi.”

Marissa menatapnya dengan perasaan yang seketika berubah menjadi tidak nyaman. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di atas selimut.

“Bahkan dalam tidurpun kau masih memikirkan mantan istrimu,” bisiknya dengan kesal.

Sementara Rashid tetap terlelap dalam tidurnya, sama sekali tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi.

Marissa membalikkan tubuhnya kembali dan menarik selimut hingga ke bahu. Ia mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya justru semakin dipenuhi oleh Kinara.

Perempuan yang selama ini berusaha ia singkirkan dalam kehidupan pria idamannya. Ia pikir sudah berhasil membuang Kinara dalam kehidupan Rashid adalah awal dari kebahagiaan dan kenyamanan hidupnya. Namun sepertinya Marissa telah salah menduga.

Pagi harinya, suasana meja makan terasa jauh dari kata hangat. Rashid baru saja keluar dari kamar ketika mendapati Marissa sudah duduk di sana. Perempuan itu tampak diam dengan wajah muram. Tidak ada sapaan seperti biasanya.

Rashid menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Kau kenapa? Tidak biasanya kau muram seperti itu,” sapanya dengan agak dingin.

Marissa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil gelas air dan meminumnya perlahan. “Tidak ada apa-apa.”

Rashid duduk di meja makan sambil mengernyit heran, “Jika tidak apa-apa, kenapa wajahmu seperti itu?”

Marissa kemudian meletakkan gelasnya, lalu menatap Rashid dengan kesal. “Jika aku mengatakan sesuatu, kau pasti akan menganggapku berlebihan.”

“Ada apa? Kenapa? Coba katakan dulu. Kalau kau tidak mengatakan apa-apa bagaimana aku tahu?” katanya acuh tak acuh sambil membalikkan piring. Ia menatap roti lapis di meja tanpa minat, mengambilnya lalu memakannya tanpa banyak kata.

Marissa mengangkat wajah dan menatapnya lurus. “Mas Rashid benar-benar tak ingat? Semalam kau menyebut-nyebut nama Kinara.”

Tangan Rashid yang hendak mengambil cangkir langsung berhenti. Roti lapis yang dimakannya semakin terasa hambar. “Benarkah?” balasnya berpura-pura tak peduli meskipun ia tahu hal kecil itu bisa saja menjadi awal bencana baginya.

“Kau menyebut nama Kinara ketika tidur!” sentak Marissa kesal. Mengingatnya saja sudah membuatnya ingin membalikkan meja makan detik itu juga.

Rashid terdiam sesaat. Ia berusaha mengingat apa yang dimimpikannya, tetapi tidak ada satupun bagian yang berhasil ia ingat. “Aku tidak sadar,” kata Rashid pada akhirnya.

“Tentu saja kau tidak sadar. Kau sedang tidur.” Nada suara Marissa terdengar semakin sinis.

Sementara Rashid menghela napas lelah, roti lapis yang tadi hendak dihabiskannya mendadak terlupakan. “Marissa, itu hanya mimpi. Tidak usah dibesar-besarkan.”

Marissa tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikitpun kegembiraan di wajahnya. “Ya, kan?! Apa kubilang! Kau pasti akan menganggapku membesar-besarkan masalah. Padahal, kau tidak tahu bagaimana perasaanku!”

Rashid memilih diam, tak ingin berkomentar atau membuat segalanya semakin rumit bagi dirinya sendiri.

“Kau selalu mengatakan bahwa Kinara hanya masa lalu. Kau bilang sudah tidak ada yang perlu dipikirkan lagi tentangnya. Bahkan kau sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kalian.” Marissa mulai kehilangan kesabarannya.

“Tapi sekarang, setelah semuanya selesai, namanya masih muncul ketika kau tidur,” lanjutnya dengan napas tersengal.

Rashid mulai merasa tidak nyaman. “Jangan mulai membahas ini lagi.”

“Aku tidak sedang mencari masalah denganmu, Mas. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Aku sungguh tidak tahu apa yang kuimpikan semalam.”

Marissa masih tak terima. “Tapi kau menyebut namanya!”

“Dan aku mengatakannya ketika sedang tidur!” Rashid mulai kehilangan kesabaran. “Aku tidak bisa mengendalikan apa yang keluar dari mulutku saat aku tidak sadar.”

Marissa membisu selama beberapa detik, menatap pria yang akan segera dinikahinya itu dengan berkaca-kaca. Namun ekspresinya tetap tidak berubah. “Aku tidak suka.”

“Kau pikir aku menyukainya? Marissa, dengar. Aku tidak bisa mengendalikan mimpiku. Dan jika aku menyakitimu, aku … aku minta maaf. Oke?” Rashid akhirnya memilih mengesampingkan egonya kala melihat Marissa yang memasang wajah sedih.

“Aku tidak suka namanya masih ada di antara kita, Mas,” aku Marissa lirih sambil mengambil tisu dan mengusap ujung matanya.

Rashid menatap Marissa dengan lelah. “Aku sudah memilihmu. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Kinara. Apa lagi yang kau inginkan?”

“Aku ingin memastikan bahwa aku tidak hidup bersama pria yang masih memikirkan mantan istrinya.”

“Aku sudah tidak mencintai Kinara.”

“Kalau begitu, kenapa kau terus membicarakannya?” cecar Marissa, seolah permintaan maaf Rashid tadi masih belum cukup.

Rashid membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban. Entah mengapa, pertanyaan itu membuat pikirannya kembali kepada Kinara.

Beberapa hari terakhir, nama perempuan itu memang terlalu sering muncul dalam pikirannya. Ia mulai teringat bagaimana sikap Kinara terhadapnya dan bagaimana ia sudah begitu menyakiti wanita yang sudah setia padanya. Jujur saja, Rashid sedikit merasa sesal, tetapi apalah dayanya, segalanya sudah terjadi bahkan sesuai kehendaknya sendiri.

Terkadang, Rashid mulai membandingkan sifat Kinara dan Marissa yang jauh berbeda. Kinara adalah sosok istri yang tak pernah ingin membuat suami merasa kesulitan sementara Marissa baru beberapa hari terakhir sudah membuat tagihan kartu kreditnya membengkak. Rashid segera mengusir pikiran itu.

“Sudahlah, sebaiknya jangan kita bahas lagi,” katanya lalu berdiri, berniat mengakhiri perdebatan mereka pagi itu.

Marissa masih duduk di kursinya dengan kesal, bukan seperti itu akhir percakapan yang ia inginkan. Ia memandangi Rashid sekali lagi sebelum akhirnya bangkit dan berjalan meninggalkan meja makan.

Rashid menatap kepergian Marissa dengan hampa. Lalu perlahan, pandangannya jatuh pada kursi kosong di hadapannya. Dulu, Kinara selalu duduk di sana. Perempuan itu biasanya sudah menyiapkan sarapan sebelum Rashid turun dan sering kali masih sempat mengingatkannya tentang jadwal pekerjaan. Setelahnya, Kinara akan mengantarnya pergi bekerja hingga Rashid masuk ke dalam mobil sambil tersenyum manis.

Hal-hal kecil yang dahulu terasa biasa kini justru muncul satu per satu dalam ingatannya. Rashid menghela napas panjang. Ia tidak tahu apa arti mimpi semalam. Ia juga tidak tahu mengapa nama Kinara bisa muncul begitu saja dari bibirnya.

Namun satu hal mulai mengganggunya. Kinara mungkin sudah meninggalkan hidupnya, tetapi entah mengapa, semakin perempuan itu jauh, semakin sering bayangannya muncul dalam pikirannya.

1
yosh—
wah, kelas✨
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tentu saja, pulanglah 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
HK: 😔😔😔😔😔
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
serakah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
Iffanaya 😽
double up kk 😁
Iffanaya 😽: semangat ya kak 💪
total 2 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Janji harus ditepati 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mantan istrimu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pasti kerjaan Marisa 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tas dan juga kopernya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
Iffanaya 😽
si jalang itu gk cukup kah jd pelakor skrng ngehancurin usaha mantan istri suami nya 😠
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain kegagalanmu 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
hati" modus penjahat 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!