Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkunci
Zevanna masih memegang Hp Zoyya. Ia membaca isinya beberapa kali.
Ia mengerutkan kening. "Kak Zoyya waktu itu lagi berurusan sama siapa?"
Ia membuka layar utama. Zevanna mulai membuka galeri, kontak, pesan, dan beberapa aplikasi lama.
Sebagian besar sudah kosong atau rusak karena HP tersebut sudah lama tidak digunakan.
Tidak ada bukti langsung mengenai kematian Zoyya.
Zevanna menghela napas dan mulai kecewa. "Masa cuma gini doang sih?"
Tapi ia belum menyerah. Ia terus mencari sesuatu di HP Zoyya.
Saat membuka penyimpanan internal, Zevanna menemukan sebuah folder dengan nama yang sangat biasa.
OLD_DATA
"Apa ini?"
Zevanna awalnya mengira itu hanya file pekerjaan. Namun ketika dibuka—
Ada beberapa file di dalamnya.
Salah satunya: VIDEO_04
Zevanna terdiam dan tertarik. "Ini video apaan ya? Penasaran."
Zevanna mencoba membukanya.
Muncul: FILE LOCKED — ENTER PASSWORD
Zevanna mengernyit. "Lah? Pakai password?"
Ia mencoba beberapa kemungkinan sederhana.
Tanggal lahir Zoyya.
Nama Zoyya.
Nomor tertentu.
Semuanya salah.
Zevanna bersandar di kepala ranjang.
"Kalau ini cuma video biasa, kenapa dikunci?"
Lalu ia membuka kontak lama Zoyya.
Ada beberapa nama yang sudah tidak aktif. Ada juga beberapa nomor tanpa nama.
Zevanna tidak langsung menghubungi siapa pun.
Ia mencatat salah satu nomor tersebut secara diam-diam.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Tisha is calling...
Zevanna meraih ponselnya.
"Halo, Zev. Lo di mana?" Tanya Tisha.
"Di rumah." Jawab Zevanna singkat.
"Lo udah makan belum?"
Zevanna mengerutkan kening. "Udah kok tadi. Kenapa nanya sih? Lo sendiri udah makan belum?"
"Gue udah makan kok tadi, Zev." Jawab Tisha pelan.
Zevanna mengangguk meskipun Tisha tidak melihatnya.
Hening beberapa detik.
"Zev, lo lagi nyari sesuatu lagi, ya?" Tanya Tisha tiba-tiba.
"Nggak kok."
Tisha merasa Zevanna menyembunyikan sesuatu. "Bohong, gue nggak percaya."
"Dih, nggak percayaan amat lo sama sahabat sendiri." Dengus Zevanna.
"Ya gue ngerasa lo lagi sembunyiin sesuatu dari gue." Kata Tisha.
Zevanna terdiam sejenak. "Sesuatu apaan sih? Lo mah curigaan mulu jadi orang. Capek gue!"
"Dih, ngambek. Orang gue cuma nanya doang, lo malah sewot." Decak Tisha.
"Ya lo bikin gue emosi aja!" Kesal Zevanna.
Tisha tertawa kecil. "Si paling emosian lo!"
"Diem lo! Sana istirahat biar cepet sembuh dan balik kerja."
"Cieee lo kangen sama gue ya, sampai nggak sabar gue sembuh dan balik kerja. Pasti lo kesepian nggak ada gue di sana."
Zevanna mendengus dan berdecak. "Dih, kepedean banget lo! Siapa juga yang kangen sama lo. Eh, Tisha. Kerjaan lo numpuk tuh malah gue yang kerjain kerjaan lo."
"Eh, iya kah? Maaf ya gara-gara gue sakit. Lo jadi banyak kerjaan gini." Kata Tisha merasa bersalah.
Zevanna mendecih kecil. "Nggak usah, minta maaf. Cepet lo istirahat, gue mau tidur."
"Perasaan gue biasanya lo tidur jam dua belas malam deh. Kok jam segini lo mau tidur?"
"Berisik lo!"
Zevanna mematikan teleponnya dengan kesal.
"Tuh orang lagi sakit bikin emosi aja!" Sungutnya, lalu berbaring dan menarik selimut hingga sebatas dada.
***
Pagi hari tiba, Zevanna kembali bekerja. Ia membawa HP Zoyya, tetapi menyimpannya dengan aman.
Ia tidak membawanya keluar sembarangan.
Di perusahaan, kondisi mulai normal kembali setelah kejadian Tisha.
Namun Zevanna merasa suasananya berbeda.
Beberapa orang seperti memperhatikannya.
Kenapa orang-orang lihatin gue? Batinnya.
Ia menuju meja kerjanya.
Beberapa saat kemudian, Ravenzo menghampiri meja Zevanna.
"Kamu kurang tidur lagi?" Tanya Ravenzo.
Zevanna menggeleng cepat. "Enggak, Pak."
Ravenzo menatap wajah Zevanna. "Matamu kelihatan."
Zevanna terdiam sejenak, ia sempat ingin tidur waktu malam tapi tidak bisa.
"Ini mata bawaan dari lahir, Pak." Jawab Zevanna sambil tersenyum.
Ravenzo hampir tersenyum dan berdehem kecil.
"Gimana sama keadaan Tisha?" Tanya Ravenzo pelan.
"Dia udah membaik, Pak." Jawab Zevanna.
Ravenzo mengangguk. "Kamu sudah makan?"
Zevanna mengerutkan kening. "Kenapa bapak nanya itu?"
"Saya cuma tanya, apa kamu sudah makan?" Ulang Ravenzo.
"Sudah, Pak."
Ravenzo menatapnya. "Bagus, jangan sampai pingsan lagi."
Zevanna terdiam sejenak. "Saya cuma pingsan sekali doang, Pak."
"Kerja lagi."
"Iya, Pak. Bapak juga kerja."
Ravenzo menekan pipi dalamnya dengan lidah, lalu berbalik badan menuju ruangannya.
Zevanna menatap punggung Ravenzo yang menjauh.
"Itu dia kenapa ya? Aneh banget!"
Beberapa menit kemudian, seorang staf menghampiri meja Zevanna. Ia menyuruh Zevanna untuk mengambil dokumen dari area administrasi.
Zevanna berjalan dan menuju area tersebut.
Saat melewati salah satu koridor, ia melihat Meisya keluar dari ruangan.
Meisya terlihat terkejut ketika melihat Zevanna.
Mereka hanya saling menatap.
Meisya kemudian pergi.
Zevanna mengernyit, mulai merasa aneh. "Mbak Meisya kenapa kaget gitu ya pas liat gue?" Gumamnya.
Zevanna menggelengkan kepalanya. "Ah, ngapain gue mikirin. Gue kan mau ambil dokumen."
Zevanna kembali berjalan. Tiba-tiba ia berhenti.
Zevanna tidak sengaja melihat Elsa dan Meisya berbicara di ruangan yang agak sepi.
Ia tidak menguping terlalu dekat.
Hanya terdengar beberapa potongan kalimat.
"Kalau dia terus mencari tahu, gimana?" Tanya Meisya.
"Jangan ngomong soal itu di sini!" Kata Elsa tegas.
Zevanna terdiam.
Mereka ngomongin siapa ya?
Lalu Zevanna memilih pergi.
Ia tidak langsung mendatangi Elsa atau Meisya.
Dalam pikirannya. "Kalau gue langsung nanya, mereka malah bakal sadar kalau gue curiga."
Di sisi lain perusahaan, Henry berbicara dengan Vera mengenai pekerjaan.
Awalnya normal, hingga kemudian Vera berkata.
"Kamu yakin semaunya masih aman?" Tanyanya.
Henry langsung menatapnya. "Jangan bahas itu di sini."
Vera terlihat gelisah. "Masalahnya bukan cuma soal dokumen."
Henry langsung menyuruhnya diam. "Aku tahu." Kemudian ia pergi meninggalkan Vera sendirian.
Vera berdecak. "Ck, kalau kayak gini terus. Pasti dia bakal tau nantinya."
***
Zevanna kembali ke meja kerjanya. Ia membuka catatan kecil di ponselnya.
Ia menulis beberapa nama yang menurutnya mulai aneh.
Elsa.
Meisya.
Tapi dia menulis satu catatan: Belum tentu mereka saling berhubungan.
Saat Zevanna sedang menulis, lengan bajunya sedikit tersingkap.
Jam tangan pemberian dari Zoyya terlihat.
Seseorang dari jauh melihatnya.
Orang tersebut berhenti sebentar. Tatapannya berubah. Kemudian ia pergi.
***
Saat jam istirahat, Zevanna pergi ke tempat yang lebih sepi. Ia kembali membuka HP Zoyya.
Ia mencoba membuka folder OLD_DATA.
Masih terkunci.
Zevanna mencoba mengingat apakah Zoyya pernah memberitahunya sesuatu tentang password.
Namun tidak ada.
Zevanna melihat beberapa file lain.
Ada satu nama file yang membuatnya berhenti.
04_17
Ia tidak tahu artinya.
Tanggal?
Nomor ruangan?
Kode?
"Ini file apa ya?" Gumamnya, ia mencatatnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Zevanna buru-buru mematikan layar HP Zoyya.
Seseorang lewat di dekat tempatnya.
Zevanna menoleh dan menatap orang tersebut.
Ternyata hanya karyawan biasa.
Zevanna menghela napas. "Gue mulai parno sendiri sekarang."
Saat kembali bekerja, Zevanna melihat petunjuk dari dokumen yang sedang ia pegang.
Ada keterangan lokasi.
Lantai 6.
Zevanna seketika teringat dengan pesan anonim.
Besok, jangan datang ke lantai enam.
Zevanna mengangkat alisnya. "Apa pesan itu ada hubungannya sama HP kak Zoyya?"
Zevanna melenggang pergi, mengayunkan langkahnya dengan ritme yang lumayan cepat. Ia memutuskan menuju ke lantai enam.
Zevanna tidak langsung naik. Ia memperhatikan situasi terlebih dahulu.
Tidak ada orang yang memperhatikannya.
Akhirnya ia naik ke lantai 6.
Tapi kali ini ia tidak menemukan benda kecil lagi. Ia hanya mengamati keadaan.
Ada beberapa ruangan yang jarang digunakan.
Salah satunya ruangan lama yang aksesnya terbatas.
Saat melewati koridor, Zevanna mendengar dua orang berbicara dari dalam salah satu ruangan.
"Dia sudah mulai mencari tahu lagi." Ucap salah satu orang tersebut.
"Kalau begitu, jangan sampai dia menemukan semuanya." Jawab orang kedua tersebut.
Zevanna langsung berhenti melangkah.
Ia tidak bisa mengenali suara mereka dengan jelas.
Ia mendekat sedikit.
Lalu salah satu orang berkata. "Apalagi soal Zoyya."
Zevanna membeku dengan mata membelalak mendengar kalimat itu.
Kenapa mereka bahas kak Zoyya? Batinnya.
Zevanna hendak melihat siapa yang berbicara. Namun pintu mulai terbuka.
Ia buru-buru bersembunyi di balik sudut koridor.
Dua orang keluar dari ruangan tersebut.
Zevanna hanya melihat punggung mereka.
Ia tidak melihat wajahnya dengan jelas.
Mereka berjalan ke arah berbeda.
Zevanna keluar dari persembunyian.
"Siapa mereka?"
Ia tidak mengejar. Karena kali ini ia sadar kalau mengejar bisa membuat dirinya ketahuan.
***
Malam harinya, Zevanna kembali membuka HP Zoyya.
Ia masih memikirkan percakapan di lantai 6.
Ia mencoba membuka file VIDEO_04 sekali lagi.
Tetap meminta password.
Zevanna mendengus. "Kak... lo sebenarnya nyimpen apa di sini sih?"
Kemudian ia melihat satu hal.
Folder tersebut terakhir diubah tidak terlalu lama sebelum HP itu berhenti digunakan.
Zevanna terdiam.
Artinya, file tersebut kemungkinan besar sengaja dibuat dipindahkan tidak lama sebelum Zoyya meninggal.
Tapi ia belum tahu siapa yang membuatnya.
Zevanna mencoba membuka salah satu notifikasi lama yang sebelumnya muncul.
Ternyata ada bagian pesan yang belum terbaca.
"Eh?"
Hanya satu kalimat pendek.
Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan percaya orang—
Pesannya terpotong.
Zevanna membeku dengan dahi berkerut. "Orang yang siapa sih?"
Layar HP tiba-tiba mati.
Zevanna tersentak. "Loh, kok mati sih?"
Dan di tempat lain...
Seseorang sedang melihat sebuah foto Zoyya.
Ia tersenyum miring. "Kamu sudah menemukan HP-nya..."
Bersambung…
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣