NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arus Bawah dan Nafas Terakhir

Kegelapan air danau berbeda dari kegelapan malam. Di malam hari, masih ada cahaya bulan yang menembus kabut, masih ada bayangan yang bisa dijadikan teman. Di dalam air, kegelapan itu mutlak, padat, dan menekan. Ia memeluk Ren Zexian seperti tangan raksasa yang dingin, meremas paru-parunya, menariknya turun ke dasar lumpur yang tak terlihat.

Ren tidak berjuang melawan arus. Ia membiarkannya. Tubuhnya lemas, tulang rusuknya yang patah berdenyut nyeri setiap kali ia mencoba mengambil napas—napas yang tidak bisa ia ambil karena mulut dan hidungnya tertutup rapat oleh air hitam pekat. Darah dari luka di dadanya mengalir keluar, membentuk awan merah tipis yang segera ditelan oleh kegelapan.

Mati, bisik suara di kepalanya. Ini lebih mudah. Dingin. Tenang. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi tanggung jawab.

Tapi kemudian, sebuah gambar muncul di benaknya. Wajah Lin. Cincin perak di matanya. Senyum kecilnya saat ia berhasil menenangkan beast lumpur itu. Jika Ren mati di sini, Lin akan sendirian di saluran pembuangan yang gelap. Dan Elder Han masih menunggu di atas.

Tidak, pikir Ren, otaknya yang mulai kekurangan oksigen mengirimkan sinyal panik terakhir. Belum.

Ia membuka matanya di dalam air. Mata Void-nya aktif secara instingtif, bukan untuk melihat struktur dunia, tapi untuk melihat aliran arus. Dalam kegelapan total, ia melihat garis-garis putih yang berputar-putar, menunjukkan arah arus bawah tanah yang deras. Ada satu jalur yang bergerak cepat ke arah barat—menuju saluran pembuangan tua.

Ren menendang kakinya, menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk mendorong tubuhnya mengikuti arus itu. Ia menjadi daun kering di sungai badai, terbawa oleh kekuatan alam yang jauh lebih besar darinya.

Air masuk melalui hidung dan mulutnya, membakar tenggorokannya. Kesadaran Ren mulai kabur. Titik-titik hitam menari di depan matanya yang terbuka lebar. Ia merasa berat badannya hilang, seolah-olah ia sedang terbang, bukan tenggelam.

Klik.

Suara logam berdentum terdengar samar-samar, jauh di kejauhan. Atau mungkin itu hanya ilusi otak yang sekarat?

Tubuh Ren terbanting keras ke sesuatu yang padat. Pipa besi. Saluran pembuangan.

Arus menyeretnya masuk ke dalam mulut pipa yang sempit dan berkarat. Dinding logam yang kasar menggores kulitnya, merobek sisa-sisa baju yang masih menempel. Tapi Ren tidak merasakan sakit. Ia hanya merasakan lega. Udara.

Kepalanya muncul ke permukaan di dalam terowongan pipa yang gelap. Ia batuk-batuk hebat, memuntahkan air hitam dan darah. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan udara terasa seperti pisau yang mengiris paru-parunya yang terluka. Tapi itu adalah udara. Udara kotor, berbau busuk, tapi udara.

"Kakak!"

Suara Lin terdengar dari kejauhan, bergema di dalam terowongan pipa yang panjang. Cahaya perak samar menyala di ujung terowongan, mendekat dengan cepat.

Ren mencoba bangkit, tapi tubuhnya menolak. Tulang rusuknya patah benar-benar sekarang. Setiap gerakan membuat dunia berputar. Ia hanya bisa bersandar pada dinding pipa yang licin dan berlumut, napasnya masih berat.

Lin muncul dari kegelapan, wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Ia berlutut di samping Ren, tangan kecilnya bersinar dengan cahaya perak lembut. Ia menempelkan telapak tangannya ke dada Ren, tepat di atas tulang rusuk yang patah.

"Jangan mati, Kak," isak Lin. "Tolong, jangan mati."

Energi perak itu mengalir masuk ke tubuh Ren. Berbeda dengan Qi biasa yang hangat, energi Lin terasa dingin namun menenangkan, seperti salju yang jatuh di atas luka bakar. Rasa sakitnya tidak hilang, tapi menjadi tumpul, terjauhkan oleh lapisan es tipis yang dibentuk oleh energi adikya.

Ren membuka matanya, menatap wajah Lin yang cemas. Ia tersenyum lemah, darah masih mengalir dari sudut bibirnya.

"Aku... baik-baik saja," bohongnya, suaranya parau. "Hanya... sedikit lelah."

Lin menggeleng, air matanya terus mengalir. "Kakak berbohong. Aku bisa merasakan retakan di jiwamu. Itu sakit sekali."

Ren terdiam. Lin bisa merasakan rasa sakitnya? Koneksi batin mereka semakin kuat seiring dengan evolusi Lin. Ini berbahaya. Jika Lin merasakan semua rasa sakit Ren, beban mental gadis kecil itu akan hancur.

"Dengarkan Kakak," kata Ren, memegang tangan Lin yang bersinar. "Kita harus bergerak. Elder Han... dia akan mengirim anjingnya masuk ke sini. Anjing Darah bisa mencium bau darah kita."

Seolah menjawab ucapannya, terdengar suara lolongan jauh dari arah pintu masuk saluran tempat Ren jatuh tadi. Suara itu mengerikan, menggema di dinding logam, diikuti oleh suara cakaran kuku besi pada pipa.

Mereka datang.

Ren memaksakan dirinya berdiri, bertumpu pada bahu Lin. Kakinya gemetar hebat, tapi ia menolak untuk menyerah. "Peta... Bao memberiku peta. Belokan ketiga... ada jebakan qi. Kita harus hati-hati."

Mereka berjalan menyusuri terowongan yang gelap dan sempit. Air limbah setinggi lutut mereka, berbau amonia dan pembusukan yang menyengat. Setiap langkah adalah perjuangan. Ren menahan erangan kesakitan, fokusnya sepenuhnya pada menjaga keseimbangan dan mendeteksi ancaman dengan Mata Void.

Di belokan pertama, mereka melewati tumpukan sampah kota yang membusuk.

Di belokan kedua, mereka mendengar suara tikus-tikus raksasa yang saling berkelahi di balik dinding.

Dan akhirnya, belokan ketiga.

Di sini, terowongan melebar sedikit menjadi ruang bundar kecil. Di tengah lantai, terdapat simbol rune kuno yang terukir di logam, hampir tertutup oleh lumut tebal. Rune itu berwarna merah pudar, tapi bagi Mata Void Ren, ia bersinar terang dengan energi qi yang tidak stabil.

"Jebakan," gumam Ren. "Jika kita menginjaknya, seluruh ruangan ini akan diisi oleh gas racun atau ledakan api."

"Bagaimana cara mematikannya?" tanya Lin, suaranya berbisik.

Ren mengamati strukturnya. Rune itu terhubung ke sumber energi di dinding. Ada tiga titik simpul utama. Jika salah satu diputus, runtuhlah jebakannya. Tapi memutusnya membutuhkan presisi tinggi dan energi Qi. Ren hampir tidak punya sisa energi.

"Aku tidak bisa melakukannya," aku Ren jujur. "Tenagaku habis."

Lin menatap rune itu, lalu menatap Ren. Cahaya perak di matanya berkedip. "Biar aku coba, Kak. Energiku... rasanya berbeda. Mungkin bisa bekerja."

Ren ragu. Menggunakan energi anomali Lin pada jebakan klan lain berisiko memicu reaksi yang tidak terduga. Tapi mereka tidak punya waktu. Suara lolongan anjing sudah semakin dekat. Mereka bisa mendengar napas berat beast itu bergema di pipa.

"Coba," kata Ren akhirnya. "Tapi hati-hati. Sentuh saja titik simpul kiri. Jangan menyerap energinya."

Lin mengangguk. Ia melangkah maju, menghindari area rune, dan menyentuh titik simpul kiri dengan jari telunjuknya yang bersinar perak.

Seketika, rune itu bergetar. Cahaya merah padam, digantikan oleh kilatan perak sesaat. Lalu, hening. Jebakan itu mati, dinetralkan oleh energi asing Lin yang "memakan" ketidakstabilan qi jebakan tersebut.

"Berhasil," napas Lin tertahan.

"Mari kita lanjutkan," desak Ren, menarik tangan Lin.

Mereka berlari kecil—secepat yang memungkinkan kondisi Ren—melalui sisa terowongan. Akhirnya, di ujung jalan, terdapat cahaya alami. Cahaya matahari pagi yang pucat menyaring masuk melalui celah batu besar.

Mereka keluar dari mulut saluran pembuangan yang tersembunyi di tebing curam, jauh di luar batas Kota Pasar Terapung. Di bawah mereka, Sungai Arus Cepat mengalir deras, airnya jernih dan biru, kontras dengan kotoran yang baru saja mereka lewati.

Ren ambruk di atas rumput hijau, napasnya finally stabil meski masih tersengal. Lin duduk di sampingnya, membersihkan wajah kakaknya dengan air dari sungai.

Untuk sesaat, mereka aman. Kota Pasar Terapung terlihat kecil di kejauhan, diselimuti kabut pagi. Tidak ada tanda pengejaran di sini. Hutan lebat mengelilingi area ini, memberikan perlindungan alami.

Ren menatap langit biru yang mulai cerah. Ia selamat. Lin selamat. Mereka telah lolos dari cengkeraman Elder Han, setidaknya untuk saat ini.

Tapi saat ia memejamkan mata, ia merasakan sesuatu yang aneh. Di dalam dadanya, di mana tulang rusuknya patah, terdapat sensasi dingin yang familiar. Sensasi yang sama seperti yang dirasakan Lin.

Ia membuka bajunya sedikit. Di atas luka memarnya, terdapat pola samar berwarna perak, persis seperti pola di kulit Lin. Pola itu berdenyut pelan, selaras dengan detak jantung Lin yang duduk di sampingnya.

Ren terbelalak. Apa yang terjadi? Apakah energi Lin tidak hanya menyembuhkannya, tapi juga... menularinya? Atau apakah koneksi batin mereka telah menciptakan jembatan fisik antara jiwa mereka?

"Kakak?" tanya Lin, memperhatikan ekspresi Ren. "Ada apa?"

Ren menutup bajunya cepat, menyembunyikan pola perak itu. Ia belum siap memberitahu Lin. Ia belum siap memahami implikasinya. Jika ia sekarang memiliki jejak energi anomali Lin, maka ia juga menjadi target yang sama. Dan lebih buruk lagi, jika Klan Naga mengetahui bahwa energi "Wadah Sempurna" bisa ditransfer...

"Tidak ada apa-apa," kata Ren, memaksakan senyuman. "Hanya... bersyukur kita masih hidup."

Ia memandang hutan lebat di depan mereka. Provinsi Hutan menanti. Tempat di mana hukum alam lebih kuat daripada hukum manusia. Tempat di mana mereka bisa bersembunyi, pulih, dan merencanakan langkah selanjutnya.

Tapi Ren tahu, kedamaian ini rapuh. Pola perak di dadanya adalah pengingat. Ia dan Lin kini terikat lebih dari sekadar darah. Mereka terikat oleh energi yang sama, energi yang diinginkan oleh seluruh dunia.

Mereka bukan lagi dua individu yang lari. Mereka adalah satu entitas. Satu target. Dan satu harapan.

Ren bangkit, membantu Lin berdiri.

"Ayo," katanya, suaranya lebih kuat dari sebelumnya. "Perjalanan kita baru setengah jalan."

Mereka melangkah masuk ke dalam hutan, meninggalkan sungai dan kota di belakang. Di atas kepala mereka, seekor burung elang terbang tinggi, matanya tajam mengamati pergerakan kecil di antara pepohonan. Tapi burung itu bukan milik Elder Han. Itu adalah mata-mata dari faksi lain. Faksi yang telah lama menunggu kemunculan anomali seperti Lin.

Permainan telah berubah. Dan Ren Zexian bahkan belum menyadari bahwa ia baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!