Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Digital dan Kasta yang Berbeda
Sore harinya, hawa panas kota mulai berganti dengan hembusan angin yang sedikit sejuk. Sesuai rencana baru yang kusampaikan pada Rara tadi siang, kami langsung bergerak menuju kompleks kampus swasta yang terletak tepat di sebelah area pertokoan kemarin. Kampus itu cukup luas, dengan mahasiswa yang tampak ramai berlalu-lalang di sekitar koridor dan area parkir kampus.
Kami mulai mencoba mencegat beberapa mahasiswa yang sedang duduk santai di koridor kampus. Namun, menanyakan perihal cowok bersweater merah kemarin ternyata tidak semudah itu. Kami hanya mendapatkan gelengan kepala dan tatapan bingung dari orang-orang yang kami tanyai.
Sampai akhirnya, langkah kami terhenti di depan sebuah mading besar dekat Fakultas Teknik. Ada tiga anak laki-laki yang sedang asyik mengobrol di sana. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian, lalu melangkah mendekat kearah mereka.
"Permisi... maaf mengganggu waktunya sebentar," ujarku selembut mungkin.
Ketiga cowok itu menoleh serempak. Salah satu dari mereka, yang memakai jaket jins, tersenyum ramah kepadaku. "Iya, Mbak. Ada yang bisa dibantu?"
"Ehm, aku lagi cari seseorang. Kemarin sore dia lewat di area depan pertokoan dekat sini pakai sweater merah. Ciri-cirinya tinggi, rambutnya agak acak-acakan tapi rapi, tatapan matanya tajam, dan... ya, wajahnya ganteng banget. Apa kalian ada yang kenal atau mungkin sekilas melihatnya?" tanyaku penuh harap.
Dua cowok di antaranya langsung menggeleng. "Wah, enggak tahu, Mbak. Anak kampus sini banyak yang pakai sweater merah," seloroh salah satunya sambil terkekeh kecil.
Namun, cowok yang mengenakan jaket jins itu tidak langsung menjawab. Dia tampak mengerutkan dahi, memiringkan kepalanya sejenak, seolah mencoba mengingat sesuatu.
"Bentar... sweater merah, tinggi, mukanya rada mirip artis ya?" Cowok itu bergumam.
"Sepertinya aku tahu siapa cowok yang Mbak maksud. Tapi... masa iya dia keluyuran di sekitar sini sore-sore?" ucapnya dengan nada sansi, seperti ragu dengan pikirannya sendiri.
Jantungku langsung berdegup kencang mendengarnya. Aku maju selangkah, mataku berbinar.
"Iya, benar. Kemarin dia berjalan bersama seorang perempuan di dekat ruko depan. Kamu beneran tahu dia siapa?"
"Tunggu, daripada salah orang, mending Mbak lihat ini dulu deh," kata cowok itu sambil merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan ponsel, lalu jemarinya dengan lincah membuka aplikasi Instagram. Setelah mengetik sesuatu di kolom pencarian, dia menyodorkan layar ponselnya tepat di hadapanku.
"Apakah ini orangnya?"
Mataku melebar sempurna, napasku seolah berhenti di tenggorokan saat melihat foto profil yang terpampang di layar tersebut. Wajah itu... garis rahang itu... semuanya sama persis dengan pria yang kutemui kemarin, sekaligus pria yang selalu memelukku dengan hangat di dalam khayalan dan mimpi.
Di atas foto profil tersebut, tertera nama akun dengan nama asli yang langsung kupahat dalam-dalam di otakku, Arga Wijaya.
"Iya, benar. Itu orangnya!" seruku setengah berteriak karena terlalu girang, aku merebut perhatian Rara dengan menyikut lengannya berulang kali.
"Rara, lihat. Ini benar dia!"
Aku buru-buru memperhatikan detail akun Instagram tersebut. Pengikutnya lumayan banyak, sekitar lima ribu pengikut lebih, tetapi feed-nya sangat minimalis. Hanya ada lima foto yang diunggah di sana. Dua foto memperlihatkan dia sedang mengenakan baju basket dengan nomor punggung yang gagah, dua foto lagi saat dia sedang serius memainkan gitar akustik di sebuah ruangan, dan satu foto kasual dengan latar belakang pemandangan kota dari gedung tinggi.
"Dia... Apakah dia kuliah di sini juga bersamamu?" tanyaku dengan suara gemetar karena saking bahagianya, kembali menatap cowok berjaket jins itu.
Cowok itu langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Oh, enggak, Mbak. Dia enggak sekolah di kampus ini. Arga itu kuliah di Universitas Bakti Bangsa. Itu lho, kampus elit yang di pusat kota. Tahu kan. Biaya kuliah di sana kan selangit. Dia kemarin main ke kampus sini karena memang punya teman tongkrongan di Fakultas Teknik."
"Universitas Bakti Bangsa..." aku mengulang nama kampus itu, memastikan memoriku tidak salah rekam.
"Boleh aku minta nama alamat akun Instagram-nya ini. Sama kalau boleh tahu, alamat lengkap kampusnya di sebelah mana ya?"
"Boleh, Mbak. Ketik aja @arga.wjya. Kalau kampusnya itu, ada di Jalan Protokol Nomor 12, gedung megah yang warna biru kaca semua itu," jawab cowok itu dengan santai.
"Alamat akun Instagramnya sudah Mbak catat, kan. Coba mbak cari info dari sana, siapa tau ada detail lengkapnya!."
"Sudah, sudah aku foto dan catat akunnya. Terima kasih banyak ya, kamu benar-benar sudah menyelamatkan hidupku hari ini!" ujarku dengan riang, membungkukkan badan sedikit sebagai rasa hormat.
"Sama-sama, Mbak. Semoga ketemu ya orangnya," ucap cowok itu sebelum akhirnya berpamitan dan pergi bersama teman-temannya.
Begitu mereka menjauh dan menghilang di belokan koridor, aku langsung melompat kecil di tempat sambil memeluk ponselku erat-erat ke dada. Senyuman lebar tidak bisa lepas dari wajahku.
Rasanya seperti mendapat keajaiban besar. Akhirnya, pencarianku membuahkan hasil yang sangat nyata.
"Rara. kamu dengar tadi, kan. Namanya Arga, Arga Wijaya!" ujarku heboh, mengguncang-guncang bahu Rara yang sejak tadi hanya menyimak dengan wajah melongo.
"Dia nyata, Ra. Dia bukan cuma hantu di mimpiku, dia mahasiswa di Universitas Bakti Bangsa!"
Rara yang awalnya sempat syok, perlahan ikut tersenyum tipis melihat binar kebahagiaan yang kembali terpancar di mataku. Dia menghembuskan napas panjang, seolah ikut lega karena aku tidak lagi menangis histeris seperti kemarin.
"Iya, iya, gue dengar, Via. Gue juga punya telinga," ujar Rara dengan nada meledek, lalu dia melipat tangan di dada sambil memandangi layar ponselku yang masih menampilkan profil Instagram Arga.
Aku masih terus mengoceh tanpa henti sepanjang jalan keluar kampus, mengekspresikan seluruh kebahagiaan yang membuncah di dadaku.
"Aku bener-bener gak menyangka bisa secepat ini, Ra. Sekarang aku tinggal susun strategi buat kenalan sama dia. Pokoknya aku seneng banget hari ini Rara!"
Namun, Rara mendadak menghentikan langkahnya di dekat gerbang keluar. Dia menatapku dengan tatapan yang berubah serius.
"Via, tunggu dulu," potong Rara, membuatku ikut menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya.
"Kenapa lagi, Rara sayang. Hari ini enggak boleh ada yang berpikiran negatif, ya!" sahutku, masih dengan senyum lebar.
"Bukan negatif, Via. Ini namanya realistis," Rara menghela napas, lalu menunjuk layar ponselku yang tadi sempat dia lihat.
"Coba lo pikirkan baik-baik. Di dunia mimpi lo, dia mungkin digambarkan sebagai cowok biasa yang penuh kasih sayang, yang fokusnya cuma ke lo. Tapi lihat kenyataannya sekarang..." Rara menjeda kalimatnya, menatapku lurus ke dalam mata.
"Dia anak Universitas Bakti Bangsa, kampus paling mahal di kota ini. Pengikut Instagramnya ribuan, fotonya main basket sama gitar mewah. Gak di dunia mimpi, gak di dunia nyata, ternyata dia anak orang kaya banget berarti, ya?"
Kata-kata Rara membuat senyumku sedikit mengendur. Ada sengatan kecil di hatiku saat menyadari perbedaan kasta sosial yang mendadak terpampang nyata di depan mata. Kami berdua hanyalah mahasiswi dari kampus biasa dengan uang saku yang pas-pasan, sementara Arga berada di lingkaran kaum elit.
"Itu artinya, Vi," lanjut Rara dengan suara yang melembut, menyiratkan rasa khawatir seorang sahabat.
"Di dunia nyata, dia itu cowok hits, populer, dan pasti banyak banget cewek yang ngincer dia. Level kita... maksud gue, lingkungan kita beda jauh sama dia. Apa lo siap menghadapi kenyataan itu?"
Aku terdiam beberapa detik, memandangi kembali nama Arga Wijaya di layar ponselku. Foto dia yang sedang memegang gitar dengan senyum tipisnya kembali kupandangi. Rasa minder sempat mengetuk hatiku, namun api tekad yang sudah telanjur menyala, menolak untuk padam begitu saja.
"Aku enggak peduli dia anak orang kaya, anak pejabat, atau siapa pun, Ra," bisikku bertekad, menatap Rara dengan mata yang kembali berbinar tegas.
"Aku juga gak berniat buat langsung jadi pacarnya kok. Setidaknya sekarang aku tahu di mana harus mencarinya. Aku bakal dekati dia dengan cara yang benar sebagai orang asing yang mau berteman. Masalah status sosial... itu urusan nanti."
Rara hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, menyerah menghadapi keras kepalaku yang sudah mencapai stadium akhir.
"Terserah lo deh, Via. Tapi ingat, jangan pakai aksi peluk-peluk dari belakang lagi, kalau lo gak mau diseret sama satpam kampus elit itu!"
"Siap, Bos Rara. Gak akan diulangi!" seruku riang, kembali menggandeng lengannya dengan penuh kemenangan, siap menyongsong babak baru dalam hidupku.