Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Keheningan yang menekan mendadak menguasai ruang interogasi. Lucas Gracio terduduk lemas di kursinya, tatapannya kosong menatap lantai dingin setelah mendengar gertakan Keanu. Kata-kata Bunga yang dibacakan Keanu barusan menghantam tepat di bagian terlemahnya, kenyataan bahwa kebohongannya tidak sanggup menutupi ketakutan besarnya sebagai seorang ayah.
"Bawa dia kembali ke sel tahanan," perintah Inspektur Rama kepada dua anggotanya setelah melihat reaksi guncangan dari Lucas.
Saat polisi membimbingnya berdiri, Lucas sempat menghentikan langkahnya tepat di sebelah Keanu. Tanpa berani menatap mata Keanu maupun Bunga, pria paruh baya itu berbisik sangat pelan dengan suara parau yang bergetar.
"Jika kau benar-benar menyayangi istrimu, Keanu... hentikan pencarianmu sampai di sini," bisik Lucas penuh penderitaan. "Sosok itu... dia bukan sekedar pengusaha atau pembunuh bayaran. Dia adalah monster tanpa nurani. Semakin kau mendekatinya, semakin banyak nyawa di sekitarmu yang akan melayang... termasuk putriku dan istrimu."
Tanpa menunggu jawaban, Lucas melangkah pergi dengan rantai di tangannya yang berdenting pilu, meninggalkan aura kecemasan yang semakin pekat di udara.
Keanu merangkul bahunya Bunga, membimbing istrinya keluar dari gedung kantor kepolisian menuju mobil tempat Adrian sudah menunggu. Di dalam kendaraan yang melaju membelah padatnya jalanan Jakarta, Bunga duduk terdiam dengan pandangan menerawang.
Jemari Bunga yang dingin meremas tali tasnya. Pengakuan Lucas dan peringatan terakhirnya justru membuka tabir baru yang jauh lebih mengerikan. Siapa sebenarnya sosok 'monster' yang sanggup membuat pengusaha sebesar Lucas Gracio bersedia menjadi kambing hitam dan mengorbankan kebebasannya sendiri?
Melihat keresahan yang memancar kuat dari raut wajahnya Bunga, Keanu meraih tangan halus istrinya lalu menggenggamnya erat.
"Jangan biarkan gertakannya menakuti mu, Bunga," ujar Keanu mantap, menyalurkan kehangatan dari jemarinya. "Aku tidak akan pernah mundur. Siapa pun sosok di balik bayangan itu, aku akan memburu dan menyeretnya keluar dari persembunyiannya."
Bunga berpaling menatap Keanu. Di dalam mata tegas suaminya, ia melihat tekad yang begitu membara, sebuah perlindungan mutlak yang tak tergoyahkan. Bunga menyandarkan kepalanya di bahu tegap Keanu, mengangguk pelan seraya mempererat genggaman tangan mereka.
*
*
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah bergaya klasik yang terisolasi di kawasan pinggiran Jakarta, suasana ruangan begitu temaram. Asap cerutu membubung tipis ke udara dari seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kulit di balik meja kayu jati.
Di layar televisi besar di hadapannya, berita mengenai penyerahan diri Lucas Gracio atas kasus pembunuhan Riki Sanjaya tayang secara berulang.
Pria itu tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang tak tersentuh emosi. Ia menyesap cerutunya dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.
"Bagus, Lucas... Kau menjalankan peranmu sebagai anjing yang setia dengan sangat baik," gumam pria misterius itu dengan suara berat yang mengintimidasi.
Ponsel di atas mejanya bergetar. Pria itu menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
"Tuan," suara di ujung telepon terdengar ragu. "Keanu Alexander tidak mempercayai pengakuan Lucas. Dia dan istrinya masih terus menekan kepolisian untuk melacak aliran dana asing."
Senyum sinis terukir di bibir pria misterius tersebut. Mata elangnya berkilat berbahaya di dalam kegelapan ruangan.
"Anak muda yang terlalu sombong karena merasa bisa melindungi segalanya," bisiknya dingin. "Keanu pikir dia bisa menjadi pahlawan untuk wanita bisu itu? Baiklah... mari kita lihat seberapa lama dia sanggup bertahan saat aku mulai menghancurkan kebahagiaannya."
*
*
Setibanya di Mansion Alexander, kedatangan Bunga dan Keanu disambut hangat oleh Tuan Alexander. Pria paruh baya itu berdiri di dekat pintu utama dengan senyum yang terkembang lebar, sebuah pemandangan yang tak biasa hingga membuat Keanu dan Bunga saling pandang lalu mengerutkan kening berbarengan.
"Kebetulan kalian berdua sudah kembali. Bagaimana kasus si Lucas itu? Apakah benar dia adalah pelakunya?" tanya Tuan Alexander langsung ketika melihat putra dan menantunya mendekat.
Keanu menghela napas panjang seraya membimbing Bunga melangkah masuk ke dalam ruang tengah.
"Lucas hanya menjadi kambing hitam, Pah. Pelaku sebenarnya masih bersembunyi bagaikan seorang pengecut!" sahut Keanu dengan nada berat. Tangannya mengepal erat di samping tubuhnya, menahan amarah yang kembali mencuat.
Tuan Alexander melangkah mendekat, lalu menepuk bahu tegap putranya dengan lembut.
"Putraku, sebaiknya kau kesampingkan dulu masalah ini. Kau dan Bunga itu adalah pasangan pengantin baru, kalian berdua harusnya fokus dengan kegiatan kalian. Dan kebetulan, Papah sudah memesan dua tiket penerbangan ke Pulau Belitung. Nikmati masa honeymoon kalian!"
Sontak Keanu dan Bunga terperanjat. Keanu membelalakkan matanya tak percaya atas keputusan mendadak sang ayah.
"Pah! Ini bukan saatnya membicarakan honeymoon!" protes Keanu dengan nada suara meninggi.
"Keanu, sudahlah. Kau tidak perlu khawatir soal kasus ini, biar nanti Papah dan anak buah Papah yang menanganinya," pangkas Tuan Alexander santai namun penuh wibawa. "Sekarang kau dan Bunga pergilah honeymoon. Papah sudah sepuh, Nak... Papah ingin sekali merasakan menggendong seorang cucu di masa tua Papah!"
Deg!
Mendengar kata 'cucu' terucap begitu nyata dari bibir ayahnya, Keanu seketika terdiam. Tenggorokannya mendadak kering hingga ia refleks menelan ludahnya secara kasar. Di sampingnya, Bunga langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan rona merah padam yang membakar kedua pipinya hingga ke ujung telinga.
"Tapi, Pah...!"
"Tidak ada tapi-tapian, Keanu! Besok pagi kalian berdua pergi honeymoon ke tempat yang sudah Papah sediakan. Pergi selama satu minggu di sana, nikmati masa honeymoon kalian, dan berikan kabar baik untuk Papah! Ngerti kamu? Dan kamu juga, Bunga!" tegas Tuan Alexander tanpa memberi ruang untuk bantahan sedikit pun.
Melihat aura penguasa sang kepala keluarga, Keanu dan Bunga akhirnya hanya bisa terbungkam kaku. Tuan Alexander membalikkan badan lalu melangkah pergi meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya, menyunggingkan senyum penuh arti yang tersembunyi dari pandangan putra dan menantunya.
Sementara itu, Bunga berdiri mematung di tempatnya. Hatinya bergejolak hebat, dihinggapi rasa panik dan debaran yang asing.
"Bagaimana ini... Kenapa Papah menyuruhku pergi honeymoon dengan Kak Keanu? Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini? Mas Azka... tolong maafkan aku..." batin Bunga cemas seraya meremas jemarinya sendiri.
Di sisinya, Keanu kembali menelan ludahnya, mengusap tengkuknya yang terasa panas. Pandangan matanya menyapu wajahnya Bunga yang masih menunduk malu.
"Kenapa Papah suka seenaknya sendiri seperti ini, sih?! Apa maksudnya Papah merencanakan honeymoon mendadak seperti ini? Dan kenapa juga Papah ngebet banget ingin punya cucu?!" amuk Keanu dalam hati, sementara dadanya sendiri berdegup tak kalah kencang membayangkan liburan berdua saja dengan istrinya.
Keanu menghela napas panjang, mencoba menetralkan ketegangan yang mendadak melingkupi ruang tengah Mansion Alexander. Tanpa mengulur waktu, pria itu merogoh ponsel dari dalam saku jasnya dan langsung menghubungi nomor asisten kepercayaannya.
"Adrian," panggil Keanu begitu sambungan terhubung. Nadanya terdengar pasrah namun tetap tegas. "Mulai besok sampai seminggu ke depan, ambil alih seluruh jadwalku di kantor. Papah memaksaku dan Bunga pergi ke Belitung."
Dari seberang telepon, Adrian sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. "Baik, Tuan Keanu. Semua urusan operasional perusahaan akan saya handle dengan baik selama Anda bertugas memenuhi keinginan Tuan Besar."
"Ini bukan soal main-main, Adrian," potong Keanu cepat, berdehem pelan demi menutupi rasa canggungnya yang membumbung tinggi. "Fokus utamamu tetap pada penyelidikan. Selama aku pergi, kau harus terus memantau perkembangan kasus pembunuhan orang tuanya Bunga di kepolisian."
"Tentu, Tuan. Saya sudah berkoordinasi dengan tim hukum kita untuk mengawal berkas yang baru dibuka kembali," sahut Adrian, merubah nadanya menjadi sangat profesional.
"Satu hal lagi," tambah Keanu seraya melirik Bunga yang masih menunduk malu di sampingnya. "Hubungi Detektif Jordan. Katakan padanya untuk tidak mengendurkan pengawasan sedikit pun. Aku minta dia mengusut secara tuntas siapa dalang sejati di balik semua ini. Kumpulkan setiap bukti yang mengarah pada 'monster' yang dilindungi oleh Lucas Gracio."
"Siap, Tuan Keanu. Saya akan sampaikan instruksi ini langsung kepada Jordan malam ini juga. Anda tidak perlu khawatir, fokus saja pada liburan Anda bersama Nyonya Bunga."
"Bagus. Laporkan setiap perkembangan kecil langsung padaku," pungkas Keanu sebelum mengakhiri panggilan.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Bunga. Keanu menatap istrinya dengan pandangan yang perlahan melembut.
"Ayo naik ke kamar," bisik Keanu pelan, mengikis keheningan di antara mereka. "Kita harus bersiap dan mengemas pakaian untuk penerbangan besok pagi."
Bunga mengangguk pelan tanpa berani menatap langsung ke dalam mata Keanu. Dengan langkah perlahan, keduanya berjalan berdampingan menuju kamar utama, membawa gejolak dada yang semakin riuh menghadapi perjalanan berdua yang tak terduga ke Pulau Belitung.
Bersambung..
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander