Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 29
Bruk!
"CATTY!!!"
Lucien berteriak dengan sangat keras hingga membuat semua orang yang mendengarnya datang menghampirnya.
"Ibuuuu, ibu kenapa Ayah?"
Leoric tak terkecual. Bocah itu bahkan berlari paling cepat dan langsung memeluk Cattleya tak sadarkan diri.
"Tenang Leo, Ibu tidak apa-apa oke. Kau, cepat panggl tabib. SEKARANG!!!"
"B-baik Baginda."
Lucien meminta pengasuh untuk membawa Leoric. Lalu dia menggendong Cattleya ke kamar.
Lucien berlar dengan sangat cepat. Ia segera merebahkan tubuh Cattleya di ranjang dengan perlahan.
"Catty, bangun. Kamu kenapa?"
Wajah Lucien sangat gelisah. Dia menggenggam tangan Cattleya dan menggosoknya.
Blak!
"Huwaaaaa Ibuuuu."
Bukan tabib yang masuk ke kamar, melainkan Leoric.
"Kenapa dibawa kemari?" ucap Lucien dengan tatapan yang sangat tajam kepada pengasuh Leoric.
"Yang Mulia Pangeran menangis sambil memanggil ibu, Baginda. S-saya tidak bisa menahan beliau," jawab sang pengasuh dengan penuh ketakutan.
Lucien mengusap wajahnya kasar. Pikirannya menjadi semakin kalut saat melhat Leoric yang menangis keras. Ia tak bisa menunggu lama tabib yang dicari oleh salah satu pelayannya.
"Kau kemar!" perintah Lucien.
Pengasuh itu datang mendekat dengan ragu. Tatapan Lucien saat ini sangat menakutkan, seolah ingn menebaskan pedang pada lehernya.
Setelah pengasuh itu mendekat. Lucien seperti merapalkan sesuatu. Sebuah cahaya keemasan berpendar dengan sangat menyilaukan. Dan hanya dalam hitungan tangan, mereka berpindah dari wilayah utara ke ibu kota tepatnya di kamar milik Lucien di istana kekaisaran.
"Sekarang panggil tabib istana, lalu panggilkan Erson. CEPAT!"
"Baik Baginda."
Lucien mengambil Leoric dari sisi Cattleya, ia menggendong dan memeluk putranya.
"Tenang sayang, Ibu tidak akan apa-apa hmmm. Jadi jangan menangis ya."
"Ayah, apa ibu akan baik-baik saja."
"Hmmm ya, ibu akan baik-baik saja."
Lucien juga mengubah rambut Leoric. Kini mereka berdua benar-benar terlihat seperti ayah dan anak. Semua yang ada dalam Leoric sangat mirip dengan Lucen.
Blak
"Baginda, ada apa?"
Erson membuka matanya lebar saat melihat Leoric yang digendong oleh Lucien. Hanya dengan selayang pandang saja Erson bisa mengetahui bahwa anak itu adalah sang pangeran.
Waktu itu Erson tak terlalu memerhatikan karena Leoric tertidur dan warna rambutnya juga tak hitam. Maka dari itu sekarang Erson baru bisa melihat dengan jelas.
"Mana tabib istana?"
"S-saya Baginda."
Tabib istana muncul dengan keringat yang memenuhi wajahnya. Tubuhnya juga sedikit gemetaran.
"Periksa istriku, cepat!"
Dengan wajah yang kaku, tabib istana yang bernama Rogie itu mendekat ke arah Cattleya. Dia mengambil tangan Cattleya lalu menekan denyut nadinya.
"Kenapa, Rog?"
"Nyo ah maksud saya, Yang Mulia hanya syok. Biarkan beliau istrahat."
"Kau yakin?"
Aura penekanan begitu kuat. Membuat nafas Rogie tercekat hingga ia merasa kehabisan udara untuk dihirup.
"Saya yakin, Baginda. Yang Mulia tidak mengalami hal yang serius. Beliau hanya terkejut saja."
Rogie menjawab dengan tenang dan penuh keyakinan. Dia merasa seolah ada ujung pedang di lehernya jika salah menjawab.
"Baiklah, kau boleh pergi. Nanti akan ku panggil lagi."
Rogie mengangguk, dia berjalan mundur dan bergegas kembali ke tempatnya seharusnya berada.
"Erson, panggil Elia kemari," pinta Lucien.
"Baik Baginda."
Erson bergegas pergi. Dia yang belum sempat bertanya apapun kepada Lucien, terus bertanya-tanya sendiri saat mencari Countess Elia.
"Oh syukurlah Countess, Anda ada di sini," ucap Erson dengan penuh kelegaan.
"Ada apa Count Erson. Anda sepertinya sangat teruru-buru," jawab Countess Elia. Ia memiringkan kepalanya melihat Erson yang tidak tenang.
"Baginda, Baginda menyuruh mu datang ... Permaisuri dan Pangeran, beliau berdua ada di sini."
"APA?"
TBC