Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Bukan Soal Harta?
Hidup sehat lingkungan yang tidak saling membenci, mengerti jika semua paham jika hidup harus damai. Sehat raganya dan jiwanya. Jika saja sehat raganya saja maka jiwa pun sakit, dan kebalikannya seharusnya saling mengerti satu sama lain.
Riswan sebagai kepala rumah tangga, pondasi harus kuat. Begitu juga untuk kaum Adam harus kuat, tidak harus mengeluh sekaligus kita sebagai seorang laki-laki harus tangguh, dan bertanggung jawab. Laki-laki tanggung jawab besar ketimbang seorang perempuan. Tapi, kebanyakan laki-laki lupa dengan fitrahnya. Oleh karena itu, kita harus muliakan hati wanita, karena ialah orang yang pertama kali melahirkan kita, menyayangi, dan merawat kita.
Kondisi saat ini sudah stabil, namun pikiran Hanum yang sedang mengkhawatirkan keadaan suami. Entah mengapa, perasaan Hanum tak kunjung berhenti menyebut nama suami di dalam mimpi.
Hanum terbangun hingga pukul 02: 30, ia merasa jika suami masih menyebut nama wanita lain daripada istri yang berharap untuk keluarga.
Jeritan kecil dari mimpi membangunkan lamunan mertua yang belum sempat tidur, Fatimah yang kebetulan belum tidur tampak cemas dengan suara menantu.
"Mas Arkan, Mas jangan tinggalin aku, Aku sangat merindukan sosok kamu, Mas," lirih Aku yang baru bangun tapi terbangun hanya sebuah mimpi.
Mertua dengan cepat ke dapur, ia meraih secangkir air putih di gelas. Takut ada yang tidak diimpikan menantunya.
Panik luar biasa, tetapi sama sekali Arkan juga tak pulang. Apakah Arkan lembur, atau ia sedang melakukan apa di luar sana.
Sembari melangkah menghampiri kamar Hanum, ternyata pintu tak terkunci. Fatimah memberanikan diri, begitu melihat kondisi Hanum yang sedang bangun dari mimpinya.
Mengetahui Hanum bergegas ke toilet ingin mengambil air wudhu, Mertua melihat ada lembaran sajadah yang sudah dibentang. Air mata Fatimah mengalir deras, ia paham betul jika dirinya selama ini udah jauh dari pencipta nya.
Melihat Hanum sudah keluar dari toilet, mertua berdiri mematung. Nampak jika selama ini ia melupakan segala apa yang telah di berikannya.
Seraya memeluk tubuh Mertuanya dan mengajak ingin tahajud bareng.
"Ma, ada apa?" Kenapa Mama menangis. Apakah Mama mendengar suara ku," tanya ku yang melihat wajah sendu mertuaku.
"Sayang, Mama takut kamu kenapa-kenapa! Pasti kamu kepikiran tentang Arkan."
"Tidak, Ma!" Aku hanya memikirkan bagaimana terjadi di desa, aku ingin kesana lihat ibu ku, boleh Ma," Ucapku berbohong, selagi aku masih mengingatnya tapi apakah salah aku tak kelihatan keluh kesah kepadanya.
Melihat gerak-gerik Menantu, Fatimah yakin jika menantunya masih menyebut nama suami. Tapi setelah melihat bahwa menantu ingin tahu jika dirinya sudah lupa dengan suaminya.
"Tentu, Boleh!"
"Ma, aku tahajud dulu. Mama mau ikut?"
"Boleh, Num. Tapi Mama udah lupa dengan gerakan shalat. Mama terlalu memikirkan dunia daripada Akhirat menuju pulang, Num," lirih kembali sedih, karena Fatimah terlanjur mencintai dunia bahwa dunia akan di bawa pulang.
Keduanya shalat bareng, menantu dan mertua saling berbagi. Meletakan air minum yang dibawa oleh Mertua membuat Fatimah kembali kepada Hanum.
Mengikut gerakan shalat, ada rasa gembira didalam hati Fatimah.
Di lain sisi....
Riswan tak menyadari bahwa istri tengah tertidur pulas, ia meraba-raba tangan dan mencari istrinya. Melihat kondisi istri yang belum baik, tapi apakah mampu jika Arkan tengah di hukum olehnya.
"Ma, Mama kemana?" Kenapa ga ada."
Suami khawatir jika istri nekat keluar untuk mencari Arkan, namun saat ia keluar dari kamarnya, tengah juga menuruni tangga. Melihat pintu tamu tak ada yang terbuka. Semua terkunci rapat-rapat. Tapi setelah penasaran semakin menjadi, Riswan pun mengecek kamar Hasan,ternyata Hasan terlelap tidur.
"Atau jangan-jangan, Mama tidur dengan Hanum? Firasat Riswan yang tengah mencari sumbernya.
Namun Riswan juga melangkah, ia pergi dan menghampiri kamar menantunya. Pintu tidak terkunci, ketika melihat ada pandangan yang sama sekali Riswan terharu. Ada pandangan jika istrinya tengah mengikuti tahajud bersama menantunya.
Riswan tengah mengusap air mata yang jatuh, tidak menyangka bahwa Hanum adalah wanita baik, mengapa Arkan tidak pernah menghargai Hanum? Riswan yang masih berdiri di depan, melihat pandangan tersebut ingin juga hatinya ikut shalat dengannya.
Tapi Riswan kotor, penuh dendam. Sampai ia menghajar anak sendiri, hanya sebuah ia mengelapkan uang perusahan.
Keduanya tengah selesai shalat, Riswan masih saja berdiri kokoh. Kakinya mendadak kebas, jari-jari mengaitkan jika ia salah melahirkan seorang putra.
Istri yang tengah selesai shalat melihat suami juga tengah sedih, apakah gara-gara meninggalkan wanita nya, sampai akan marah dengannya.
"Papa ngapain disini?" Maafkan Mama, Mama tadi,__" ucap Fatimah terpotong ia menghampiri menantu juga istri yang sedang merasa jika keduanya sangat menguatkan dalam kebaikan.
"Num?" Papa bersalah selama ini, sama mu. Anak Papa tidak pernah mencintai mu, apakah itu benar? " Papa ga juga benci pada mu, Papa bangga melihat kamu seperti ini, sambil mengajak Mama. Apakah Papa boleh menjadi imam untuk shalat tahajud seperti ini, Num?"
"Tentu boleh, Papa. Kita kan keluarga seharusnya saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan."
"Papa tadi bilang bersalah?" justru Aku bersalah, aku seperti tidak pantas di sini, Pa, Ma?" lirih Hanum, ia malah menjadi seperti orang yang tidak percaya diri.
"Num, kamu pantas mendapatkan ini semua, terimakasih sudah menguatkan,Mama. Maafkan ucapan, Mama. Mama tau pasti sakit didalam jiwa mu, Mama janji akan lindungi kamu, Ya kan Pa."
Riswan mengganguk kepalanya, ada berat mengungkapkan jika selama ini Arkan selalu diberi pelajaran oleh Riswan, bahkan itulah pelajaran yang harus di terima oleh Arkan.
Ketiganya tengah memeluk, seakan Hanum tidak percaya jika selama ini ia mendapatkan santunan terbaik. Tapi jika saja suami berubah, pasti keluarga akan lengkap.
Melihat mereka tengah damai, Pembantu tersebut tak sengaja melihat kelurga mereka tengah harmonis. Tapi setelah mengetahui wajah Hanum, pembantu tersebut tampak sedih setelah mengetahui anaknya akan membuat pelajaran pada Hanum.
"Yaa Allah indahnya keluarga ini, beruntung sekali, Mbak Hanum, Apakah saya harus minta maaf dan mengatakan sebenarnya saja. Saya takut bakalan ga ketemu sama Chandra," Tukas Rina ia tampak senang melihat keluarga ini utuh, tapi sepertinya Hanum mendengarkan suara orang lain tengah mengintip mereka.
"Siapa kah disana?" Aku yang tidak pernah tau bahwa ada orang lain tengah mengintip kami, tanpa sadari Hanum segera keluar dari kamarnya.
Mendadak panik, Fatimah yang tak mendengarkan apapun dan begitu juga dengan Riswan. Tapi apa yang terjadi? Hanum yang tidak sengaja Bik Rina sedang mengamati kami tengah mengobrol.
"Bik Kenapa lari?" Aku ga akan marah, Bik. Tapi tadi aku dengar jika, Bik Rina menyebut nama Chandra, apakah Chandra itu anak, Bik Rina?" kataku seolah ingin mendengar semua jawaban dari Pembantu tersebut.
Mengenai Hanum lama di sana, kedua pasangan suami istri juga ikut mencari Hanum. Tak disangka jika Riswan baru menyadari ada seorang pembantu baru di keluarga nya.