Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi harinya, tim medis melepaskan masker oksigen dan seluruh selang pemantau ketat dari tubuh Adrian.
Setelah dipastikan kondisinya benar-benar stabil, Adrian akhirnya dipindahkan dari ruang ICU menuju ruang perawatan VVIP yang jauh lebih hangat dan tenang.
Cahaya matahari pagi menyusup dari balik tirai jendela yang tersingkap separuh.
Bau antiseptik menyengat berganti dengan aroma harum bunga segar yang sengaja ditaruh Sasi di atas meja sudut.
Sasi menyeka wajah dan leher Adrian menggunakan handuk basah secara perlahan, memastikan suaminya merasa nyaman di atas ranjang yang baru.
"Pelan-pelan saja, Mas. Dadanya masih sakit kalau dipakai gerak terlalu banyak?" tanya Sasi penuh perhatian seraya merapikan letak bantal di belakang punggung Adrian.
Adrian menggeleng tipis, mengulas senyum lembut yang sudah amat lama tak terlihat.
Ia meraih tangan Sasi yang sedang memegang handuk, menyatukan jemari mereka di atas pangkuannya.
"Masih sedikit nyeri, tapi melihat wajahmu yang tenang begini, sakitnya langsung berkurang banyak," goda Adrian dengan suara yang masih agak serak.
Sasi terkekeh pelan, pipinya merona merah.
"Sudah bisa gombal lagi, ya? Padahal kemarin-kemarin bikin satu rumah sakit panik setengah mati."
Tiba-tiba pintu kamar mengetuk pelan, lalu terdorong terbuka.
Darren masuk dengan langkah mantap seraya membawa beberapa berkas hukum, disusul Maya yang membawa buket bunga besar serta laporan perkembangan kantor.
"Wah, yang habis lolos dari pintu darurat langsung kelihatan segar begini," seloroh Darren terkekeh seraya meletakkan buket bunga di samping meja.
"Darren, Maya." sapa Adrian melambaikan tangan pelan.
"Terima kasih banyak sudah menjaga Sasi dan perusahaan selama saya tidur."
Maya tersenyum haru.
"Pak Adrian tidak perlu khawatir. Bu Sasi luar biasa sekali, Pak. Beliau memimpin rapat investor dengan sangat tegas dan menyelamatkan proyek utama kita."
Adrian menoleh ke arah Sasi, sorot matanya terpancar kebanggaan dan rasa haru yang amat mendalam.
Ia mengecup punggung tangan istrinya itu hangat.
"Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar benteng terbaik untuk Mas."
Sasi tersenyum tulus, mengusap bahu Adrian penuh kasih.
Di ruang perawatan yang diterangi fajar baru ini, bayang-bayang kelam ketakutan akhirnya sirna sepenuhnya, menggantinya dengan harapan baru bagi masa depan mereka.
Pintu ruang perawatan VVIP berketuk pelan sebelum seorang perawat masuk sambil mendorong troli berisi nampan makanan hangat dan obat-obatan untuk Adrian.
"Selamat pagi, Pak Adrian, Bu Sasi. Ini jadwal makan pagi dan konsumsi obatnya," sapa perawat itu ramah seraya menata piring dan mangkuk sup di atas meja dorong samping ranjang.
"Terima kasih, Sus," balas Sasi lembut.
Maya dan Darren yang melihat tugas Sasi akan dimulai, pamit sejenak untuk memberi ruang.
"Adrian, Sasi, kami tunggu di luar dulu ya," ujar Darren disusul anggukan Maya.
Sasi mengangguk, lalu beranjak dari kursinya berniat membantu perawat menata posisi makan Adrian.
Namun, baru saja satu langkah kaki Sasi menapak, dunianya mendadak berputar hebat.
Kepala Sasi terasa teramat berat, rasa mual yang mendadak menyeruak membakar tenggorokannya, dan pandangannya seketika berubah menjadi gelap gulita.
"Sasi?" panggil Adrian bingung melihat gerakan istrinya yang tiba-tiba membeku.
Belum sempat Sasi menjawab, kedua lututnya meluruh. Tubuhnya yang lemas ambruk meluncur ke lantai keramik.
"Sasi!" jerit Adrian panik. Pria itu refleks hendak meloncat bangun dari ranjangnya, memicu rasa nyeri tajam yang mendadak menusuk jahitan di dadanya.
"Argh...!"
Perawat yang sigap langsung menahan tubuh Adrian agar tidak memaksakan diri bergerak, sementara perawat kedua berlari menghampiri tubuh Sasi yang terkulai tak sadarkan diri di dekat ranjang.
"Bu Sasi! Bu!" panggil perawat seraya menepuk pelan pipi Sasi yang pucat pasi.
Darren dan Maya yang mendengar jeritan dari luar langsung mendobrak pintu dan menerobos masuk dengan wajah panik.
"Ada apa?! Sasi kenapa?!" seru Darren menatap kaget pada tubuh Sasi yang sedang diangkat oleh perawat ke atas sofa panjang di dalam ruangan tersebut.
"Periksa dia, Sus! Tolong periksa istri saya!" panggil Adrian dari atas ranjang dengan napas terengah-engah, matanya dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat menatap tubuh istrinya yang tak bergeming.
Dokter jaga segera dipanggil masuk ke dalam ruangan.
Sementara Adrian dipaksa tetap berbaring oleh Darren agar jahitan di dadanya tidak terlepas, dokter dan perawat dengan sigap memeriksa kondisi Sasi yang masih pingsan di sofa.
"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?!" panggil Adrian dari ranjang, suaranya dipenuhi kecemasan yang membakar.
Dokter melakukan pemeriksaan fisik singkat, mengecek tekanan darah, denyut nadi, serta mengamati kelopak mata Sasi.
Perlahan, wajah tegang sang dokter memudar, berganti dengan senyuman tipis yang menenangkan.
"Pak Adrian, harap tenang dulu. Jahitan Anda bisa terbuka kalau terlalu panik," ujar dokter ramah seraya merapikan stetoskopnya.
"Lalu Sasi kenapa, Dok? Dia pingsan dua kali dalam kurun waktu beberapa hari ini!" potong Darren mendesak.
Dokter mengangguk paham. "Ibu Sasi mengalami kelelahan ekstrem dan stres berat selama beberapa minggu terakhir. Namun, ada penyebab lain yang membuat fisiknya jauh lebih sensitif dan mudah drop saat ini."
Adrian menahan napas, menatap dokter lurus-lurus.
"Maksud Dokter?"
Dokter menoleh ke arah Adrian dengan sorot mata hangat.
"Selamat, Pak Adrian. Berdasarkan tanda-tanda vital dan pemeriksaan awal, Bu Sasi sedang mengandung. Usia kandungannya diperkirakan baru memasuki minggu keempat. Untuk kepastian lebih lanjut, kami akan segera jadwalkan pemeriksaan dari dokter spesialis kandungan."
Ruangan VVIP itu seketika hening.
Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak mampu menahan rasa haru, sementara Darren tersenyum lebar seraya menepuk pelan bahu Adrian.
Adrian terpaku kaku di ranjangnya. Airmata kebahagiaan merebak di pelupuk matanya, mengalir hangat melewati pipinya.
Di tengah semua badai, ancaman, dan penderitaan yang hampir merenggut nyawanya, sebuah keajaiban baru hadir menyinari hidup mereka.
Sasi mengedipkan matanya perlahan. Aroma minyak kayu putih dan kehangatan selimut membungkus tubuhnya.
Saat pandangannya mulai jelas, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Adrian yang sedang menatapnya lekat-lekat dari atas ranjang.
Tangannya berada dalam genggaman hangat Adrian.
Sasi mencoba memegang kepalanya yang masih sedikit pusing, lalu menatap sekeliling.
"Aku, kenapa, Mas? Kok aku bisa tiduran di sini?"
Adrian mengulas senyum paling manis yang pernah Sasi lihat.
Ada binar bahagia dan air mata haru yang menggenang di sudut mata suaminya.
Pria itu mengangkat tangan Sasi, lalu mengusapkan punggung tangan istrinya ke pipinya sendiri.
"Kamu pingsan, Sayang," bisik Adrian lembut, suaranya bergetar menahan emosi bahagia yang membuncah.
Sasi mengerutkan dahi, merasa bersalah. "Maaf ya, Mas. Aku malah bikin panik lagi. Padahal Mas baru pindah dari ICU. Aku cuma capek sedikit mungkin—"
"Sasi," potong Adrian pelan.
Ia menarik tangan Sasi, membawanya turun dan meletakkannya tepat di atas perut Sasi sendiri.
Sasi terpaku, menatap tangannya dan wajah Adrian bergantian dengan rasa bingung.
"Kamu tidak cuma capek, Sayang," lanjut Adrian dengan air mata yang akhirnya menetes jatuh.
"Di dalam sini, ada buah hati kita. Kamu hamil, Sasi. Sudah empat minggu."
Sasi membeku. Dunia seolah berhenti berputar seketika.
Matanya membelalak tak percaya, menatap telapak tangannya yang mengelus lembut perutnya sendiri.
"H-hamil, Mas?" bisik Sasi dengan suara bergetar hebat.
Adrian mengangguk mantap, menyatukan jemarinya dengan jemari Sasi di atas perut wanita itu.
"Iya, Sayang. Dokter sudah periksa tadi. Ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di dalam perutmu."
Isak tangis bahagia seketika pecah dari bibir Sasi. Ia menutup mulutnya dengan tangan yang lain, tak sanggup membendung rasa syukur yang teramat luar biasa.
Setelah semua penderitaan, ceceran darah, dan ketakutan yang hampir merenggut segalanya, Tuhan menghadiahkan sebuah kehidupan baru di tengah-tengah mereka.