Seorang CEO tampan dan mematikan, jatuh cinta dengan seorang desainer muda, mungkin itu kisah biasa tapi ini lain.. setiap rintangan mereka lalui bersama, terpisahkan dan bersama kembali, pertengkaran hingga perkelahian mereka hadapi.
Sampai suatu hari mereka dapat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alister Weis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan.....
Kabir dan Shofia melewatkan jam makan siang karena urusan ranjang mereka.
Dan mereka hampir melupakan jam makan malam karena tertidur. Kalau saja Ellena tak menggedor-gedor pintu dan akan mendobrak kalau mereka tak kunjung keluar.
Shofia panik dan memilih bersembunyi dibawah selimut sedangkan Kabir dengan santainya memakai kimono mandi dan membuka pintu kamar.
"Mommy... ada apa?"
"Kenapa kalian tak ada yang keluar dari kamar?"
"Apa perlu aku jelaskan mom?"
"Kalian ini!! Mana Shofia? "
"Didalam selimut "
"Jangan kamu paksakan sisi liarmu itu, cepat turun dan makan, semua orang menunggu "
"Iya iya mom"
"Dan jangan alasan makan dikamar"
"Mommy"
"Ya ampun... kau membuat istrimu kelaparan? Makan siang kalian masih disana belum tersentuh? Kamu gila"
"Mommy. .. biarkan kami berganti pakaian dan segera turun, ya?"
"Cepat turun, awas!"
Ellena segera menutup pintu dengan keras dan meninggalkan anaknya bersama sang istri.
Kabir dengan cepat menghampiri Shofia yang berada dibawah selimut.
"Jangan tidur, kamu harus makan"
"Emmm... mommy sudah pergi!?"
"Sudah... ayo mandi"
"Iya..."
Kabir segera mengangkat tubuh Shofia dan mengatur keperluan mandi Shofia.
"Seharusnya aku yang menyiapkan peralatanmu"
"Hmm... sayang, kalaupun kamu sehat, aku tetap melakukan ini untukmu"
"Kabir..."
"Apa? Aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu pembantu atau asisten tapi aku menikahimu untuk menemaniku disusah dan senangku, membangun keluarga yang bahagia"
"Terima kasih telah memperlakukanku dengan istimewa"
"Kamu istriku... sekarang mandilah, aku akan mandi disamping... dan akan kesiapan pakaianmu"
"Iya..."
Setelah menyiapkan semua kebutuhan Shofia, Kabir segera mandi.
Memang waktu mandi seorang lelaki dengan perempuan sangar berbeda jauh. Karena setelah Kabir selesai berpakaian, Shofia baru memanggilnya.
"Lama sekali"
"Nyaman mandi dengan air hangat dan aroma terapi"
"Kelak akan ku belikan aroma terapi yang banyak, agar kamu bisa memilihnya sendiri"
"Iya..."
Kabir segera menggendong Shofia untuk kekamar. Mengeringkan rambut Shofia dan memakaikan dress rumahan.
Shofia tersenyum, Kabir selalu mengerti gaya berpakaiannya. Berwarna tapi tak mencolok.
Setelah semuanya siap. Kabir mendorong Shofia menuju lift. Memang mansion milik kakeknya ini memiliki lift, karena kakek sudah tua jadi tak akan kuat naik turun tangga sampai lantai tiga.
Tapi ini sekarang berfungsi untuk Shofia juga.
Saat sampai diruang makan, mereka berdua diberi tatapan membunuh oleh semua penghuni rumah, orang tuanya serta kakeknya.
"Ada apa?"
Kabir menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Shofia nampak takut beserta malu.
"Ada apa katamu! Apa sifat liarmu itu bisa kamu kendalikan?"
Mommynya dengan sifat garangnya segera mengomeli Kabir.
"Maksut mommy apa?"
"Kenapa istrimu seharian ini kamu kurung, ya ampun... apa Kabir menyakiti kamu, sayang?"
"Mommy. ..."
"Diam kamu!"
Kabir menghela nafas, dan meninggalkan Shofia yang disandera oleh mommynya.
"Kamu mau makan apa? "
"Terserah mommy saja"
"Ugh mengemaskan sekali... baiklah, akan mommy ambilkan-"
"Mommy! Dia istriku, biarkan aku saja"
"No! Kamu lelaki tak tahu apa apa!"
"Ellena... biarkan Kabir saja, okey? Mereka pengantin baru"
"Tidak sayang... anak lelaki mu ini akan membawa pergi menantu tersayangku ini... seharusnya dia tak pergi secepat ini"
"Mom... Pekerjaanku dan Shofia sudah menumpuk"
"Kamu membiarkan istrimu bekerja?! Dasar lelaki!!"
"Mom. .. itu cita cita Shofia untuk menjadi desainer. .. jadi jangan berasumsi yang tidak tidak "
"Hah kalian anak muda!"
"Sudahlah. . Biarkan apa yang mereka mau..."
Kakek Arsyid sudah berkata seperti itu, dan semua orang tak ada yang berani membantah. Akhirnya acara makan malam berjalan dengan baik, sesekali mereka mengobrol tentang masalah yang menarik.
Dan kebanyakan hanya masalah saham dan perusahaan. Sedangkan Shofia dan Ellena lebih suka berbincang berdua, membahas masalah tren fashion atau perhiasan.
Shofia begitu kagum dengan mama mertuanya, dia dapat membesarkan Kabir dan Zahra sendiri tanpa bantuan keluarga ataupun Leo, suaminya. Bahkan dia bisa mendirikan perusahaan perhiasan sendiri dan menjadi label perhiasan terkenal. Ell's .
"Mom.. aku begitu kagum dengan mommy, mommy wanita yang hebat"
"Kamu juga wanita yang hebat, sayang.. kamu bisa meluluhkan hati Kabir bahkan membuatnya menjadi lelaki yang baik"
"Mom.... mommy berlebihan "
"Tidak, kamu memang hebat, Shofia "
"Terima kasih mom"
Ellena tersenyum, menantunya memang hebat, bukan?
Bisa menaklukkan lelaki yang searogan Kabir. Bahkan bisa membuat anaknya mempertaruhkan nyawa hanya demi wanita yang beberapa waktu dikenal.
Sejujurnya Ellena marah dan tak habis pikir dengan Kabir saat terjadi kecelakaan.
Bagaimana mungkin dia dengan beraninya menembaki para pengawal Tristan dan menceburkan diri ke laut?
Tapi kemarahan itu padam saat melihat Shofia terpukul melebihi dirinya. Anak yang belum sempat dia gendong, sengaja direnggut dan ayah anak yang dikandungnya juga menghilang bahkan dikabarkan meninggal.
Ellena tahu kalau saat itu Shofia depresi tapi wanita itu tetap tegar dan tersenyum, tapi setiap saat pasti ada bayangan akan mengakhiri hidupnya.
Menatap anak menantunya, Ellena ataupun Leo merasa beruntung memiliki Shofia yang mau menerima Kabir.
"Ehm. .. jam berapa kalian terbang?"
"Jam 8 pagi, kek"
"Kenapa pagi sekali?"
"Mom... Shofia besok akan ada pemeriksaan untuk terapinya"
"Oh... sudah akan terapi? Jadi ada perkembangan?"
"Sejauh ini belum, tapi dokter dan Rio berkata kalau Shofia hanya mengalami kelumpuhan sementara"
"Syukurlah.... apa memakan waktu lama?"
"Entahlah, mereka mengatakkan sekitar satu sampai 3 bulan"
"Lumayan lama...."
"Semuanya tak bisa secara instan mom.... tapi Shofia akan segera sembuh"
"Baiklah baiklah"
"Lalu kalian kapan akan berbulan madu?"
Semuanya terdiam saat kakek Arsyid mengintrupsi Shofia dan Kabir tentang bulan madu.
"Kita akan berbulan madu, kek"
"Tidak!"
Semua memandang Shofia, Shofia dengan tegas mengatakan 'tidak' dengan rencana bulan madu.
"Kenapa?"
Ellena segera bertanya, dia penasaran mengapa suami istri ini berbeda pendapat tentang bulan madu, aneh?
"Shofia tak mau berjalan bersamaku"
Seketika semua orang terkejut dengan pernyataan Kabir. Itu seperti mustahil.
"Aku cacat, Kabir! ! Kamu tahu itu, aku malu keluar denganmu, aku dihina aku direndahkan! "
"Aku tak pernah mempermasalahkan itu, Shofia!! Kamu yang berlebihan!"
"Kamu tak tahu rasanya menjadi aku!!"
Seketika semua terkejut dengan nada tinggi Shofia. Wanita ini begitu sensitif dengan pembahasan ini.
Shofia segera menggerakkan kursi rodanya, dan berputar menjauh. Dia benar benar tak dapat meneruskan acara makan malam ini.
"Aku sudah selesai makan!"
"Shofia..."
"Shofia..."
Semua orang memanggilnya, dan dia tak menggubris. Mereka tak bisa memahami perasaannya.
Air mata Shofia sudah jatuh. Dia sedih.
Tiba tiba kursi roda Shofia berhenti, dan rupanya Kabir yang menahannya.
Kabir segera bersimpuh didepan Shofia.
"Maafkan aku..."
"Aku lelah, ingin istirahat "
"Sayang.. maafkan aku"
"Kamu tak salah"
"Sayang, kamu perlu tahu ini.... bagaimanapun keadaanmu, kamu hanya perlu bersamaku, menemaniku disisiku... tak perlu melihat orang lain, tak perlu mendengar apa kata orang lain... kamu hanya perlu menjadi diri kamu, berbahagia..."
"Kabir..."
"Kamu hanya perlu membuktikan pada dunia, apapun kondisimu.... kamu kuat dan hebat... dan aku tetap mencintaimu, berdiri didepanmu menjadi tamengmu, berdiri disampingmu menjadi pendampingmu, dan berdiri di belakangmu menjadi penyokongmu... kamu hanya harus tahu itu!""
"Kabir. .. terima kasih"
"Aku tetap ada untukmu"
********
lanjut Thor..
aku hampir lupa Weh..🤭🤭🤣🤣
mana gua tau, elu aja gak kasih tau...🙄🙄🙄
bahkan gua pun tak bs seperti mereka.., cantik..😑
lah ini, elu cowok dah🗿 brasa gmn gitu🤭🤭🤭
baru juga di komen, udh ad POV nya, ehehehehe😂😂🤭🤭🤭
jdi penasaran aku tuh, sama POV nya 🤭🤭🤭