Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Penyambutan VVIP Putri Zavia dan Sesi Curhat Para Ratu
Kepulangan Kiara dan Zavia dari rumah sakit ke kediaman dua lantai mereka di kawasan Sukabumi disambut dengan tingkat siaga medis yang melampaui standar karantina militer.
Dimas bertindak penuh sebagai komandan pangkalan steril. Di teras depan, Dimas memasang karpet lengket penyerap debu, dua dispenser hand sanitizer otomatis, dan kotak berisi jas hujan plastik transparan serta penutup sepatu (shoe covers) untuk siapa pun yang berniat melangkah melintasi ambang pintu.
Setiap gagang pintu dilap kain antiseptik tiga kali sehari, pendingin udara diatur presisi pada suhu 24 derajat Celsius, dan alat humidifier beraroma terapi lavender berdengung halus di setiap sudut ruangan.
"Mas... ini rumah tempat tinggal kita, bukan laboratorium yang butuh steril tingkat tinggi," kekeh Kiara geli dari atas sofa ruang tengah.
Ia menatap suaminya yang sibuk mengukur kelembapan udara menggunakan termometer digital inframerah di dekat boks kayu Zavia.
"Harus ekstra penjagaan, Ra," sahut Dimas serius tanpa menurunkan alatnya.
"Zavia itu masih mungil banget. Kulitnya sensitif. Mas gak mau ada mikroba sekecil apa pun yang bikin putri kita bersin atau gatal."
Rayyan, yang ditunjuk Dimas sebagai "Wakil Komandan Keamanan", berjalan bolak-balik di koridor memakai topi tentara mainan seraya membawa termometer tembak plastik.
"Siap, Papa! Area dapur sudah bebas dari monster kuman!"
Bel pintu depan mendadak berbunyi nyaring beruntun. Sebelum Dimas sempat menyambar botol disinfektan di meja, suara tawa dan derap langkah heboh sudah bergema membelah halaman depan.
"PERHATIAN SEMUANYA! PASUKAN LENGKAP GENG HARMONY DAN PARA RATU SUDAH TIBA!" seru Bagas dengan vokal menggelegar dari balik pintu.
Pintu depan terdorong lebar, dan ruang tamu Dimas seketika berubah menjadi arena festival keluarga. Seluruh anggota Geng Harmony hadir dalam personel paling lengkap tanpa terkecuali.
Arga melangkah masuk menggandeng mesra istrinya, Menik, yang tampil anggun memboyong rantang susun berisi masakan rumah hangat favorit Kiara.
Dua anak Arga dan Menik—yang berjarak usia tak jauh dari Rayyan—langsung berlari gembira menyapa Rayyan, memicu kehebohan kecil di karpet ruang tamu.
"Mbak Kiara! Selamat ya!" sapa Mbak Menik hangat, memeluk Kiara erat-erat sebelum meletakkan rantangnya di meja makan.
"Ini aku masakin sayur bening kelor, tim ikan gurame, sama ayam ungkep rempah. Biar stamina Mbak Kiara cepat pulih dan ASI-nya lancar jaya!"
Sementara itu, Bagas dan Dave memboyong kado utama dari tim studio: sebuah stroller bayi berdesain futuristik dengan rangka alumunium mengkilap, lampu LED di bagian roda, dan pengeras suara bluetooth terpasang di samping pendorongnya.
"Lihat nih, Bos Dimas!" pamer Dave bangga seraya memencet remote kontrol stroller.
"Ini stroller edisi khusus hasil modifikasi tim! Kalau lu bawa Zavia jalan-jalan pagi di komplek, rodanya bisa menyala kelap-kelip warna-warni!"
Dave berniat menunjukkan fitur suara nina bobok, namun karena salah menekan tombol frekuensi, pengeras suara stroller mendadak menyemburkan suara sirine polisi lengkap dengan dentuman bass disco yang nyaring:
TTUTT-TTUTT-TTUTT! DUG-DUG-DUG!
"DAVE! MATIKAN GAK?!" teriak Dimas panik, refleks pasang badan menutupi arah suara demi melindungi telinga Zavia.
Bagas panik ikut memukul-mukul remote hingga suara sirine berganti menjadi petikan gitar akustik yang syahdu.
Dave menyengir meringis tanpa dosa, sementara Menik hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menatap tingkah konyol mereka.
Fahri masuk dengan gaya kaku khasnya, membawa kotak kayu berisi alat sterilisasi botol berstandar laboratorium medis, didampingi Widya yang membawa buket bunga mawar putih.
Daffa, Galang, Rendra, Aina dan Tamara menyusun tumpukan hampers baju bayi berwarna pastel di atas meja.
Sementara para wanita mengobrol santai, para pria berkumpul melingkar di karpet ruang tengah. Anak-anak sibuk bermain mobil-mobilan bersama Rayyan di sudut ruangan.
Fahri merogoh saku jas santainya, mengeluarkan lembaran kertas laminating berwarna biru.
"Dimas, ini draf jadwal waktu tidur dan masa emas perkembangan bayi usia 0-3 bulan yang sudah saya sederhanakan dari jurnal kebidanan. Lu bisa pakai ini buat panduan piket malam."
Bagas melotot menatap kertas Fahri.
"Fahri... lu itu baru nikah sebulan, kenapa lu sudah punya modul pengasuhan anak tingkat lanjut begitu?!"
"Antisipasi, Bagas!" jawab Fahri tegap.
"Sebagai pria bertanggung jawab, saya harus siap dari sekarang sebelum Widya hamil nanti."
Arga menepuk bahu Fahri seraya tertawa renyah.
"Ri, teori di kertas itu bakal buyar begitu lu dengar bayi lu nangis jam tiga pagi gara-gara popoknya penuh air seni. Percaya sama gue yang anak dua ini."
Dimas tersenyum tipis, bersandar pada lengan sofa. Matanya menatap sahabat-sahabat prianya yang selalu ada di setiap babak kehidupannya.
"Makasih ya, Kalian... Tanpa bantuan dan kegilaan kalian semua, rumah ini gak bakal sehangat ini."
...***...
Di dalam kamar bayi bernuansa krem yang tenang dan beraroma segar terapi lavender, para wanita—Kiara, Widya, Tamara, Aina dan Menik—duduk melingkar di sofa empuk dan karpet bulu.
Zavia tertidur lelap di dalam boks kayu dengan selimut pink lembut.
Menik berlutut di samping boks, menatap wajah Zavia dengan binar mata penuh kehangatan seorang ibu berpengalaman.
"Duh... Zavia ayu dan bersih banget, Mbak Kiara," bisik Menik pelan seraya mengusap lembut jemari mungil Zavia.
"Hidungnya mancung persis Mas Dimas, tapi aura tenangnya persis Mbak Kiara waktu tersenyum."
"Makasih banyak Menik," balas Kiara tersenyum anggun dari kursi goyang.
"Gimana kabarnya rumah tangga kamu sama Arga, nik? Anak-anak makin aktif ya?"
Menik tertawa renyah sambil merapikan letak jilbabnya.
"Wah, jangan ditanya, Mbak Kiara! Mas Arga itu kalau di luar kelihatannya tegas mengomando tim EO, tapi kalau di rumah... ampun deh, kalah telak sama anak-anak! Malah dia yang sering diajak main kuda-kudaan sampai pinggangnya encok kumat!"
Gelak tawa renyah seketika memecah keheningan kamar.
Menik duduk memangku sup hangat buatan sendiri, sementara Widya sibuk mencatat tips pengasuhan. Tamara merapikan bantal sofa, dan Aina—istri Daffa yang berlidah tajam namun berhati lembut—baru saja menyerahkan kado selimut rajut custom.
"Menik harus banyak bagi tips nih buat aku. Mas Fahri itu masih kaku banget, kemarin aja bikin tabel Excel buat jadwal cuci piring sama belanja bulanan di kulkas!"
"Tenang, Mbak Widya," sahut Mbak Menik seraya terkekeh hangat.
"Kuncinya cuma sabar, telaten, dan puji mereka kalau lagi ngerjain tugas rumah. Pria-pria Geng Harmony ini memang kelihatan punya ego tinggi dan gaya masing-masing, tapi kalau sudah di depan istri dan anak, hati mereka itu lembut banget."
Tamara menyenggol bahu Kiara menggoda.
"Tuh kan! Contoh nyatanya ya Mas Dimas ini! Si Pahlawan Punggung Besi yang rela berubah jadi satpam steril demi menjaga Kiara sama Zavia!"
"Lalu kamu sendiri, gimana rasanya jadi istrinya Daffa Mbak Aina?"goda Menik renyah.
Aina tertawa heboh seraya menepuk paha Tamara.
"Aduh, Menik! Daffa itu kemarin pas diajak nyari kado Zavia, malah usul bikin kasur bayi bergetar otomatis pakai lagu dangdut koplo! Tapi... di balik konyolnya itu, tiap malam kalau aku capek, Daffa yang tanpa diminta langsung ngambil alih cuci piring sama mijitin kaki aku sampai ketiduran."
Widya tersenyum terharu. "Pria Geng Harmony ini memang punya cara mencintai yang unik ya."
"Jelas!" timpal Tamara.
"Mas Dimas si Pahlawan Punggung Besi yang bucin steril, Arga yang rela encok demi anak-anak Menik, Fahri si manusia spreadsheet, dan Daffa suaminya Aina yang paling penyayang!"
Kiara menatap keempat sahabat wanitanya dengan mata berbinar dipenuhi rasa syukur.
"Pernikahan dan menjadi ibu itu memang perjalanan panjang yang menguras energi. Tapi punya sahabat dan saudara seperti kalian... bikin semua rasa lelah itu berganti jadi kebahagiaan yang utuh."
Di dalam kamar yang hangat itu, diiringi sayup-sayup tawa konyol para suami dan riuh suara anak-anak dari ruang depan, keempat wanita itu saling melempar senyum—merayakan kehidupan baru, menguatkan satu sama lain, dan menikmati indahnya ikatan persahabatan sejati yang tak akan pernah lekang oleh waktu.