Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahagia Melihat Hanum Sadar
Mengejar Hasan sama saja, seperti Arkan yang mudah emosi tak stabil. Mengira jika Hasan lemah lembut, tapi itu prasangka orang lain saja bukan bagi keluarganya.
"San, kita selesaikan ini secara baik-baik. Jangan murah terbakar api. Ayolah."
"Diam!" karena Arkan sudah mengkhianati kepercayaan Kak ipar saya. Apakah kamu akan diam saja, jika perempuan yang kamu sayangi, atau ibumu di perlakukan kasar, bahkan tidak dianggap sebagai seorang kelurga."
"Oke, gue ngerti masalah kelurga mu. Tapi, ku harap jangan gegabah. Emang manusia tempat salah, tapi apakah kita harus menyalahkan orang terus, tanpa memperbaiki kesalahannya," ujar Aldo, menenangkan hati Hasan sampai mengucap kalimat tayibah berulang kali.
Tidak lama, emosi Hasan reda. Ia memeluk Aldo. Entah kenapa, ia menemukan sosok pahlawan yang tahu apa itu meredakan emosi. Akan tetapi, mengapa orang lain bisa ia lakukan, bukan dengan Kakanya sendiri.
Begitu Aldo juga sedih, ia tidak tahu mengapa jika ada orang lain mampu memeluk nya. Teringat jika masa sekolah SMA ada yang membantu disaat ia susah.
"Terimakasih banyak, Al. Saya harus apa?" Apakah kamu mau saya traktir makan disebuah restoran terdekat dari sini."
"Sama-sama, San. Gue belajar dari Kaka gue. Walaupun ga sepenuhnya dia Kaka gue, tapi dia selalu ada. Kasih apa yang buat Kak Kayla senang."
Kini keduanya kembali ke RS, melihat Hasan terharu dengan sikap Kayla. Tapi, Hasan memang cemburu oleh kedatangan Aldo. Tapi setelah Aldo berbicara, Hasan sadar jika Aldo menganggap Kayla adalah sebagai saudaranya tidak lebih.
Fatimah sangat mengkhawatirkan keadaan Anaknya, apakah ia sedang mengamuk diluar sana. Tapi melihat kondisi Hanum tak kunjung sadar, Fatimah merasa bersalah.
Ia bahkan ingin menjenguk ibunya sakit di kampung Melati, tapi atas kejadian tersebut Fatimah menyesal telah meninggalkan menantu yang ia sayangi.
"Kay, Tante benar ga percaya jika wanita licik itu sudah ada di rumah Tante."
"Maksudnya, Tan! Kayla tak mengerti, Riana atau ada orang lain, Tan," ujar Kayla ia mendadak heran, tapi murni kesalahan Kayla yang sudah menyebut orang lain.
Fatimah menunjukan sebuah foto seorang wanita tua, rambut putih dan baju sederhana. Melihat Anak laki-laki itu sedang disampingnya, anak laki-laki tersebut menutup mulutnya rapat-rapat.
"Mereka sudah menemukan ibuku, tapi kalau dia adalah ibuku, apakah mereka tentu benci, dan aku tak bisa ketemu Kaka cantik itu," batin Chandra ia sempat menjauh, memalingkan wajahnya seolah air matanya mulai membasahi pipinya.
Dengan sadar, Kayla melirik kearah anak laki-laki. Ia mendekati dan memeluk anak laki-laki tersebut.
"Apa yang terjadi padamu, Chan. Kenapa menangis."
"Chandra hanya ingat ibu, Kak."
Fatimah terkejut jika ia sudah membuat anak laki-laki bersedih. Tapi, benarkah foto yang di ponsel Fatimah adalah ibunya.
"Maafkan, Nenek. Apakah ini ibu kamu, Chan?"
Chandra mengiyakan perkataan Fatimah, tapi mereka diam sejenak. Chandra yang menyadari saat itu sakit, tapi ia tak mungkin ada di posisi tersebut.
"Dia ibumu, Chan. Kak Kay ga marah, tapi kenapa kamu menangis."
Anak laki-laki tersebut tampak sesenggukan. Dirinya yang takut akan di jauhi, nyata tidak Fatimah sama sekali tak memperlakukan orang lain, asalkan mereka jujur.
Dibalik tangisan tersebut, Hanum kembali sadar. Melihat kondisi Hanum sadar, anak laki-laki merasa senang. Ia berjanji akan menjadi anak baik.
Terutama Fatimah, ia sudah lama tidak bertemu dengan memeluk Menantunya. Sampai detik ini, Hanum kembali sadar dan ingatan Hanum kembali.
"Mama, Kenapa Hanum ada disini, dimana Mas Arkan, Ma?" Tanya Hanum, Fatimah terharu mendengar suara menantu yang sudah ingat kembali.
"Hanum, Akhirnya kamu ingat."
"Kaka cantik, Alhamdulillah Kaka sadar. Oh ya, Chandra bawakan oleh-oleh untuk Kaka."
Semua gembira dan Kayla memeluk sahabatnya. Sudah lama Kayla tak bersapa dengan sahabatnya.
Mendengar ketukan dari luar, Hasan dan Aldo masuk. Sengaja Hasan ingin mengajak ke restoran jika iparnya sudah pulih. Ternyata doanya di ijabah sang pencipta.
Senangnya bukan main, kini mereka tengah melangkah untuk mulai menjalankan hidup baru.
Arkan kita skip dulu, Keluarganya sepakat tidak membicarakan tentang Arkan. Begitu juga dengan Kayla, ia sebagai Ob juga sudah bekerjasama dengan keluarga mereka.😂😂
"Arkan?" Num, Gue aja dengar sahabat sejati yang udah lama ga jumpa udah sadar gini aja senang, disini ga ada namanya, Arkan."
"Benar itu, Mbak Hanum. Sekarang Mbak Hanum boleh pulang kan."
Tak menunggu lama, Dokter Fahri datang dengan senyum manis melihat pandangan Hanum yang semakin cantik.
Tapi sayang, karena kejadian bulan lalu, ia tidak akan merusak hubungan rumah tangga Arkan.
"Selamat pagi, Bu Hanum. Hari ini, Bu Hanum sudah bisa pulang. Tetap jaga kesehatan, Bu Hanum," ucap Dokter Fahri ia sangat senang jika sudah melihat wajah Hanum.
Hasan melirik sekilas wajah Kayla, jika Kayla adalah teman atau sahabat sejati bagi Hanum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Riana merasa tidak nyaman berada di lingkungan gelap, mau teriak saja rasanya tak mungkin. Melihat sekelilingnya, Riana pun malah diam tanpa mengeluarkan kata apapun.
"Kenapa semua harus pilih, Hanum. Gue lebih baik daripada dia, Arkan kamu dimana?" Kenapa kamu tidak peduli pada ku, Arkan," sambil menangisi derita malang.
Riana membatin, apa yang terjadi dengannya ia bahkan tak perduli pada ibu tirinya. Apakah ini karma saat ibu tirinya tidak di selamatkan.
"Siapapun tolong gue, gue takut berada di sini. Gue akan kasih uang imbalan kepada orang yang menolong gue," teriak Riana, tapi tak ada orang yang berusaha mendengar jeritannya.
Riana yang sama sekali bimbang, ia tidak mengira semua akan terus begini. Ia akan melakukan cara agar keluarga Arkan menerimanya dan menetapkan sebagai menantu. Lagi pula Riana mengandung anak Arkan, benih Arkan yang solusi untuk mereka percaya.
Mencari ide, Riana mendapati ada bekas pisau yang tidak jauh dari tempat ia ikat. Dengan adanya pisau tersebut, Riana berhasil kabur dari tempat gelap.
"Akhirnya berhasil, tunggu Kayla. Permainanmu hanya sekecil ini, gue Riana tidak akan kalah oleh permainan murah kamu, Hanum sebentar lagi, kamu akan tersingkirkan karena kamu susah memiliki seorang anak."
Tapi Riana memang memiliki rencana jahat, ia ingin melihat seberapa jauh Hanum bisa bahagia dengan keluarga Arkan. Tapi, Riana juga akan mencari celah agar dirinya satu-satunya orang yang ia sayang.
Tengah berhasil dan ia pergi meninggalkan lingkungan gelap. Tapi sayang, perutnya tiba-tiba sakit dan perih.
Riana terus berjalan tanpa melibatkan hati sakit, atas kejadian tersebut. Tapi lebih sakit hati Hanum yang tidak mengetahui jika suami yang dianggap baik malah selingkuh.