Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pertemuan pun kembali dilanjutkan. Topik pembicaraan kini beralih kepada urusan-urusan penting yang menyangkut kepentingan dan keamanan keluarga.
Clark memilih untuk kembali tenang dan menyimak, tak ingin ikut campur dalam urusan yang belum sepenuhnya ia pahami.
Namun meski begitu, mata dan telinganya yang terbiasa mengamati segala sesuatu dengan cermat tak pernah berhenti bekerja.
Hingga akhirnya nama itu terucap.
Keluarga Moretti.
Seketika itu juga Clark melihat perubahan halus namun nyata yang melintas di wajah beberapa orang yang hadir. Napas mereka tertahan sejenak. Tatapan mata mereka berubah gelisah. Bahkan Dante sendiri yang sedari tadi tampak tenang seketika berubah menjadi jauh lebih serius dan tegang.
"Kapan terakhir kali kelompok itu mulai bergerak?" tanya Dante, suaranya kini terdengar berat dan penuh kewaspadaan.
Seorang pria yang duduk tak jauh darinya menjawab dengan hormat.
"Dua minggu yang lalu."
"Apa yang telah mereka lakukan?"
"Mengirimkan pasukan ke wilayah utara yang berada di bawah perlindungan kita."
Dante menyipitkan matanya, tatapannya seketika menjadi tajam dan menakutkan.
"Dan kalian baru saja melaporkan hal ini kepadaku sekarang?"
"Karena belum ada serangan yang dilakukan secara langsung..." pria itu mencoba memberi alasan.
"Itu sama sekali bukan alasan yang dapat diterima!" potong Dante tegas. Suasana seketika menjadi begitu berat dan menegangkan.
Clark menatap sosok suaminya yang kini berdiri tegak memancarkan wibawa penguasa yang tak dapat dibantah.
Di hadapan mereka kini bukan lagi suami yang lembut dan penuh kasih sayang yang baru saja memegang tangannya. Melainkan pewaris sah keluarga Luca, sosok yang terbiasa memutuskan urusan hidup dan mati ribuan orang hanya dengan satu perintah lisan.
"Perketat seluruh penjagaan di setiap wilayah," perintah Dante dengan suara yang tak dapat dibantah. "Terutama keamanan di sekeliling kediaman utama tempat kami tinggal."
Seorang pria yang berdiri di sisi ruangan segera mengangguk patuh.
"Akan saya laksanakan segera."
Namun di saat semua orang sibuk mencatat dan menyampaikan perintah itu, tiba-tiba suara Clark terdengar memecah kesunyian yang kembali terbentuk.
"Dante."
Dante seketika menoleh ke arahnya.
"Ada apa?"
"Jika mereka sudah bergerak sejak dua minggu yang lalu..." Clark menatapnya lekat-lekat, lalu menatap satu per satu wajah para pria yang hadir di sana. "Mengapa hingga saat ini belum terjadi apa-apa sama sekali?"
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Tak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Clark melanjutkan kalimatnya yang menggantung itu.
"Apakah ada kemungkinan... mereka sengaja tidak menyerang? Bahwa mereka sedang menunggu sesuatu... atau seseorang?"
Dante menatapnya lekat-lekat dalam waktu yang cukup lama. Untuk pertama kalinya, pandangan orang-orang yang tadinya meremehkannya kini berubah seketika.
Mereka tak lagi memandangnya sekadar sebagai wanita yang dinikmati Dante karena kecantikannya. Mereka kini menyadari bahwa wanita yang berdiri di samping pemimpin mereka itu mampu melihat jauh ke depan.
Vittorio pun tak lagi menyunggingkan senyum tipis yang sedari tadi tak pernah hilang dari wajahnya. Tatapannya kini tajam dan penuh pertimbangan yang berat.
"Jujur saja..." suara seorang pria tua terdengar dari ujung meja, memecah kesunyian yang sempat terbentuk. "Saya masih belum memahami keputusan yang diambil Dante."
Dante mengangkat wajahnya perlahan, menatap kerabat yang lebih tua itu dengan tenang.
"Keputusan yang mana yang Anda maksud?"
"Keputusan untuk menikah." Pria itu menghela napas panjang, suaranya terdengar berat dan penuh harapan agar keponakannya kembali berpikir.
"Kau adalah pewaris tunggal keluarga Luca. Pernikahanmu seharusnya menjadi jembatan yang membawa kemakmuran dan kekuatan yang lebih besar bagi kita semua. Di luar sana banyak keluarga besar yang telah lama mengharapkan ikatan persekutuan melalui pernikahan denganmu."
Clark hanya diam mendengarkan. Ia sudah menduga sejak awal bahwa pembicaraan ini pasti akan datang.
Salah seorang wanita yang duduk di barisan ikut menyahut dengan nada yang tak menyembunyikan rasa tak sependiriannya.
"Benar sekali." Tatapannya langsung jatuh kepada Clark. "Ambil contoh Freya. Dia tumbuh bersama kita semua. Dia paham betul aturan main dunia yang penuh bahaya ini. Dia sudah siap sejak lama untuk mendampingimu."
Freya yang sedari tadi menunduk kini mengangkat wajahnya. Senyum tipis terukir di bibirnya, seakan pujian yang ditujukan kepadanya adalah hal yang sudah sewajarnya diterima.
Clark pun menoleh sejenak kepadanya. Freya tak bersuara, namun sorot matanya yang berkilau jelas menyiratkan bahwa ia menikmati setiap kata yang dipersembahkan untuknya.
Pria tua itu kembali melanjutkan dengan nada yang semakin tegas.
"Belum lagi ia berasal dari keluarga yang kedudukannya setara dengan kita. Segala hal tentang dirinya sudah diketahui dan sesuai dengan apa yang pantas didapatkan oleh seorang pemimpin keluarga Luca."
Dante bersandar di kursi kebesarannya, menatap mereka satu per satu dengan tenang yang tak tergoyahkan.
"Lantas?"
"Dan karena itulah Freya jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada siapa pun yang kau pilih secara sepihak."
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭