Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Teror
Di balik kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar cahaya layar ponsel, jemari Syafa menari ragu di atas keyboard. Dada Syafa bergemuruh hebat, menahan rasa sesak yang kian membuncah.
Syafa: Mam, gue mau tanya sesuatu... Tolong jawab jujur ya.
Tak butuh waktu lama, balasan dari sahabat dekat kekasihnya itu muncul di atas layar.
Umam: Tanya apaan, Syaf? Tumben amat.
Syafa menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mengetikkan pertanyaan yang sejak tadi menggerogoti pikirannya.
Syafa: Alex... sebenarnya beneran suka sama gue enggak sih?
Di seberang sana, Umam tertegun membaca pesan dari Syafa. Ini kali pertama Syafa menghubungi nomor pribadinya, dan pertanyaan yang dilontarkannya sama sekali di luar dugaan.
Umam: Lu kenapa, Syaf? Tumben banget nanya begitu... Lagi ada masalah sama Alex?
Syafa menggigit bibir bawahnya. Ada dorongan kuat untuk menumpahkan segalanya, tetapi nuraninya berusaha menahan diri. Ia tidak ingin terkesan lemah atau kekanak-kanakan.
Syafa: Enggak kok, Mam... Cuma penasaran aja.
Namun, Umam bukan orang kemarin sore. Sebagai teman dekat yang sudah lama mengenal dinamika hubungan orang-orang di sekitarnya, ia tahu ada yang tidak beres.
Umam: Ah... bohong lu.
Syafa menghela napas pasrah. Ia sadar tidak bisa berpura-pura di hadapan Umam. Lagipula, jika ada satu orang yang paling tahu isi hati Alex sebenarnya, orang itu adalah Umam.
Syafa: Jadi gini, Mam... Gue mau cerita, tapi lu janji ya jangan sampai kasih tahu Alex? Gue enggak mau bikin suasana makin rumit.
Umam: Aman, aman. Gue pegang rahasia lu... Ini pasti gara-gara Si Putri, kan?
Syafa tersentak kaget di atas ranjangnya. Matanya membelalak menatap balasan Umam. Bagaimana bisa Umam langsung menebaknya dengan sangat tepat?
Syafa: Kok lu bisa tahu sih, Mam?!
Umam: Menebak dari gelagat aja, sih. Kenapa lagi dia? Neror lu?
Melihat jawaban Umam, benteng pertahanan Syafa perlahan luntur. Ia mengusap sisa bulir air mata di pipinya lalu mulai mengetik, menyadari bahwa ketakutannya ternyata dipahami oleh orang lain.
Umam: Hahaha, udah pasti ketebaklah, Syaf! Udah, biarin aja Si Putri mah. Memang begitu wataknya dari dulu, enggak bisa lihat orang lain tenang.
Syafa menahan napas, menantikan barisan pesan berikutnya dari Umam.
Umam: Soal perasaan Alex ke lu, lu enggak usah ragu sedikit pun, Syaf. Gue ini udah temenan lama banget sama Alex, paham betul luar dalemnya tuh anak. Dulu sebelum ketemu lu, banyak cewek yang berusaha deketin dia, tapi kagak ada satu pun yang melirik atau dia ladenin. Beneran cuek bebek.
Umam: Eh, giliran ketemu lu—orang yang notabene-nya baru masuk di hidup dia—Alex langsung klop, langsung beda perlakuan. Pandangan matanya ke lu tuh beda banget, Syaf. Dia beneran sayang dan tulus sama lu.
Umam: Jadi, santai aja... Jangan terlalu dipikirin racun dari cewek itu. Putri tuh cuma iri dan pengin lu berdua putus. Percaya sama gue, mau Putri bertekuk lutut minta balikan sampai berdarah-darah pun, Alex pasti bakal nolak tegas. Rasa kecewanya sama Putri udah terlalu dalam, enggak bakal bisa diulang lagi.
Membaca deretan kalimat panjang dari Umam, rasa sesak yang sedari tadi meremas dada Syafa perlahan menyusut. Beban berat yang menghimpit batinnya perlahan-lahan terangkat. Kata-kata Umam seperti pasokan udara segar yang sangat ia butuhkan untuk menenangkan pikirannya yang kalut.
Syafa: Oh... gitu ya, Mam. Makasih banyak ya udah mau jawab jujur.
Umam: Yup, santai aja, Syaf! Lu fokus aja bahagia sama Alex, biar Si Putri gigit jari.
Setelah pesan terakhir itu, Syafa tidak membalas lagi. Ia mengunci layar ponselnya lalu meletakkannya di atas meja samping tempat tidur.
Bayangan pesan makian dan racun dari Putri yang sempat membuatnya goyah kini terkikis habis oleh kebenaran tulus tentang perasaan Alex. Syafa merapatkan selimutnya, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.
Malam itu, di balik keheningan kamarnya, rasa penasaran dan keraguan yang sempat membakar dadanya akhirnya padam sepenuhnya. Syafa memejamkan mata, menyambut kantuk yang datang dengan hati yang jauh lebih tenang dan damai.
Sinar matahari pagi baru saja merambat pelan dari ufuk timur, menembus sela-sela tirai kamar. Suara nyaring nada panggil video call dari ponsel Syafa mendadak berdering keras di atas meja, membuyarkan lelapnya dan membuat gadis itu tersentak kaget.
Syafa bergegas bangkit, duduk bersandar di kepala ranjang dengan mata yang masih berat. Sebelum menggeser tombol hijau, jemarinya buru-buru menarik selimut untuk menutupi kepalanya agar rambutnya yang berantakan tak terlihat.
"Ayanggg... bangunnn! Lihat jam berapa ini, sholat subuh gih!" seru suara Alex di seberang sana, disambut senyuman geli saat melihat raut bantal Syafa yang menggemaskan.
"Heuh... jam berapa ini, Ay?" tanya Syafa pelan, mengusap matanya berusaha mengumpulkan kesadaran.
"Udah jam setengah enam. Gih, sholat dulu!" tutur Alex mengingatkan.
"Oh... aku lagi libur sholat, Ay," jawab Syafa jujur. Sejak semalam, ia memang sedang kedatangan tamu bulanan.
"Ya udah kalau gitu bangun, mandi sana," bujuk Alex melihat pacarnya yang masih enggan berpisah dari kasur.
"Iyaa, Ay... Bentar ya, jam enam nanti kamu telepon lagi," gumam Syafa lemas, dan tanpa menunggu balasan Alex, ia langsung mematikan panggilan video tersebut untuk memejamkan mata sejenak.
Namun, belum sempat Syafa merebahkan kembali kepalanya di atas bantal, layar ponselnya kembali berdering nyaring. Alex menyeberang panggilan video call kedua.
Syafa menggeser layarnya pasrah. "Kenapa dimatiin coba?" tegur Alex dengan nada pura-pura kesal.
"Hehehe... Masih ngantuk, Ay," cengir Syafa polos.
"Bangun... Basuh mukanya dulu biar segar!" tegas Alex memberi komando.
"Iya, Ay, siap! Jangan marah-marah dong, masih pagi juga udah omset aja," goda Syafa terkekeh. "Bentar ya, aku ke kamar mandi dulu."
Syafa beranjak dari tempat tidur, meninggalkan ponselnya tergeletak di atas kasur dengan kamera mengarah ke langit-langit kamar. Setelah membasuh wajahnya agar segar dan merapikan jilbab segi empat yang kini membalut rapi kepalanya, Syafa kembali mengambil ponselnya.
"Ay?" panggil Syafa bingung karena layar ponsel Alex tampak kosong.
"Iya, kenapa? Bentar, Ay, lagi beresin kasur," terdengar sahutan suara Alex dari kejauhan tanpa memperlihatkan wajahnya.
Tak lama, sosok Alex kembali muncul penuh di layar. "I'm back!" serunya ceria. Namun, ketika matanya menatap wajah Syafa di layar, Alex tertegun sejenak.
"Alah, alah... Kamu ini baru bangun tidur malah makin cantik ya," goda Alex tulus melihat paras Syafa yang tampak adem dan natural tanpa make-up.
"Dih, gombal!" cibir Syafa. Bibirnya mencebik pura-pura geli, padahal di dalam hati, pipinya sudah merona panas menahan salting.
Penasaran karena tidak biasanya Alex sudah tampil segar sepagi ini, Syafa menanya, "Ay, tumben banget kamu bangun pagi banget?"
"Nah, enggak tahu tuh. Tadi dengar suara azan Subuh langsung kebangun, terus sekalian jamaah ke masjid deh," jelas Alex bangga.
"Subhanallah... Bagus, pertahankan ya, Ganteng," puji Syafa tulus sambil mengacungkan jempolnya.
"Ay, aku mau lari pagi dulu ya. Ini mau dimatiin atau kamu pengin tetap tonton aku lari?" tawar Alex.
"Sok, Ay, enggak usah..dimatiin dulu ajah. Aku juga mau siap-siap bikin makan pagi,Soalnya lagi sendiri di rumah... Kamu mau sekalian tak bawain bekal enggak?" tawar Syafa.
Sejak semalam, orang tua Syafa memang sedang pergi ke luar kota. Tadinya Syafa ingin ikut, tetapi jadwal kegiatan organisasi kampus yang menumpuk memaksanya tinggal di rumah sendirian.
Mendengar tawaran bekal buatan pacarnya, mata Alex seketika berbinar penuh semangat. "Iyaaaa! Mau! Yang banyak ya!"
"Iya, nanti dibawain. Ya udah gih sana lari, nanti malah kesiangan," ucap Syafa melirik pantulan sinar matahari yang makin terang di jendela.
"Okey, bentar ya, Ay. Nanti kalau sudah selesai aku telepon lagi."
Panggilan video akhirnya terputus. Alex mulai berlari kecil mengelilingi kompleks perumahannya, sementara Syafa melangkah menuju area dapur. Ia berdiri mengamati isi kulkas yang terbuka, tampak bingung memikirkan menu masakan apa yang spesial untuk dibawakan kepada Alex hari ini.
Namun, di tengah lamunannya memilih bahan makanan, perhatian Syafa teralih oleh suara dentingan keras dari arah ruang tamu.
Benda keras seperti dilemparkan secara sengaja dan menghantam kaca jendela depan rumahnya dengan kuat.
Syafa membeku di tempat. Suasana rumah yang sepi mendadak terasa mencekam. Dengan langkah perlahan dan dada berdebar kencang, Syafa berjalan menuju pintu depan untuk memeriksa.
Ketika pintu dibuka, tidak ada seorang pun di pelataran pagar. Namun, tepat di atas lantai teras, tergeletak sebuah batu kecil yang dibungkus amplop hitam kumal dengan tulisan tangan menggunakan spidol merah yang sangat mencolok:
"INI BARU PERINGATAN PERTAMA, SYAFA.”
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita