NovelToon NovelToon
Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.

Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.

Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.

Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta yang Mencengangkan

Melodi duduk di lobi gedung tiga Fakultas Seni Pertunjukan, menunggu Panji dan Lala yang belum juga datang. Seperti biasa, Melodi memilih memetik dawai daripada sibuk dengan gawai. Dia memainkan nada-nada baru yang belakangan selalu terngiang-ngiang di telinganya.

"Ting ting ting ting... Ting ting ting ting..."

"Melow banget pagi-pagi?" suara Lala membuyarkan fokus Melodi.

"Eh, iya nih. Dari beberapa hari yang lalu chord ini muter-muter di kepalaku," kata Melodi sambil masih memetik gitarnya.

"Hmmm... Potensi lagu baru nih," kata Lala.

"Bisa jadi. Kemarin tiba-tiba aja nemu kalimat lirik yang pas sama nadanya," kata Melodi.

"Masa'? Coba, coba. Aku mau denger," kata Lala.

"Yaelah, La. Baru seuprit aja," kata Melodi.

"Nggak apa-apa. Aku mau denger. Cepetaaan..." rengek Lala. Melodi menghela napas panjang, tak bisa menolak permintaan sahabatnya itu.

"Ehem..." Melodi berdehem sebelum memainkan nadanya.

"Malam ini ku sendiri berdiri

menatap bintang di langit

hm hm hm hm hm hm hm hm hm

hm hm hm hm hm hm hm hm hm"

"Udah," kata Melodi.

"Ih! Sedih bangeeet," komentar Lala.

"Iya? Banget?"

Lala mengangguk.

"Tapi keren sih. Suka aja vibesnya," kata Lala.

"Beneran?"

"Iyaaa... Kamu masih aja nggak pedean. Suara bagus. Bisa bikin lagu bagus juga. Pedenya dinaikin dikit kenapa?" kata Lala. Melodi meringis.

"Maklum... Saya cuma anak desa, Mbak," kata Melodi sambil meringis.

"Ck! Anak desa tapi kualitas internasional. Kalau aku sih udah petantang-petenteng," kata Lala.

"Ih! Sombooong... Nggak boleeeh. Tuhan marah lho," kata Melodi sambil terkekeh.

"Tuhan malah gemes lihat kamu yang suka nggak pedean. Udah dikasih anugerah secemerlang itu," kata Lala. Melodi tersenyum.

"Makasih, ya. Entah kenapa, kalau kamu yang komen, tingkat pedeku jadi naik dua ratus persen," kata Melodi.

"Iya dong! Harus! Kalau nggak, aku keluarin dari geng," kata Lala dengan tersenyum. Melodi tertawa.

Di pintu masuk gedung tiga, Panji melihat wajah Melodi yang tertawa. Baginya nama Melodi bukan sekedar nama, tapi cerminan nada-nada semesta yang dikemas dalam makhluk bernama Melodi.

'Melodi Nada Asmara... Dia bahkan tak pernah sadar kalau dia bisa menciptakan melodi-melodi yang indah,'

***

Bara menanti Sabrina di sebuah resto seafood tak jauh dari pantai sambil bertanya-tanya, mengapa Sabrina ada di tempat seperti ini. Bara menatap ke pantai yang berkilauan karena ditempa cahaya terik matahari siang. Dia kemudian melihat smart watchnya. Jam 12.17.

"Kalau telat sampe kantor lagi, bisa gawat," gumam Bara sambil menatap ke arah pintu masuk resto.

Bara kembali melemparkan pandangannya ke pantai, tempat dimana Bara pertama kali melihat Melodi bernyanyi. Tempat dimana Bara pertama kali melihat kakaknya menatap punggung wanita lain selain Sabrina. Tempat dimana Bara pertama kali melihat ada wanita yang tak ragu mendekati kakaknya yang sedingin Gunung Es.

"Sepertinya bakal lebih seru melihat perkembangan mereka berdua," gumam Bara sambil tersenyum licik.

"Perkembangan siapa?" tanya sebuah suara menyadarkan Bara dari lamunannya.

"Eh? Sab!" sapa Bara. Sabrina tersenyum.

"Serius amat? Lagi mantau apa sih?" tanya Sabrina sambil tersenyum lalu duduk di hadapan Bara.

"Biasalaaah," kata Bara sambil tersenyum. Sabrina menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Oh, ya. Kamu udah pesen? Aku traktir," kata Bara. Sabrina menaikkan kedua alisnya.

"Beneran nih?" tanya Sabrina memastikan.

"Iyalaaah. Kan aku yang ngajak ketemuan," kata Bara. Sabrina tersenyum lalu memanggil pelayan dan memesan cumi asam manis dan es teh.

"Jadi..." Bara menatap Sabrina, sambil memilih kata yang tepat untuk bertanya. Sabrina menunggu dengan sabar.

"Kenapa... kita harus ketemu disini?" tanya Bara akhirnya. Sabrina menarik napas dalam-dalam.

"Aku... diusir Papa," jawab Sabrina.

"Eh? Diusir? Gara-gara batal nikah sama Kak Abas?" tanya Bara. Sabrina mengangguk.

"Karena batal nikah dengan Abas, perusahaan Papa terancam bangkrut," jawab Sabrina. Bara menatap Sabrina dalam-dalam. Ada kesedihan di matanya.

"Kalau gitu," kata Bara.

"Kenapa harus batal nikah?" lanjutnya. Sabrina menatap Bara.

"Karena... aku mulai ragu..."

"Ragu? Sama Kak Abas? Dia jelas-jelas bucin parah sama kamu," kata Bara. Sabrina menggelengkan kepalanya. Dia menunduk, meremas tangan di atas pahanya.

"Aku... mulai ragu... sama perasaanku sendiri," kata Sabrina. Dahi Bara mengerut.

"Maksudnya?" tanya Bara. Sabrina mengangkat kepalanya. Dia menatap adik mantan calon suaminya itu. Sabrina menggigit bibir bawahnya.

"Untuk pertama kalinya... aku... menemukan seseorang... yang membuatku... meragukan perasaanku pada Abas," kata Sabrina.

Mata Bara membulat. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Selama ini, dia hanya tahu dari pembicaraan papa dan kakaknya. Dan fakta yang baru saja dia dengar dari Sabrina sungguh membuat Bara tak bisa berkata apa-apa.

Bara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menatap Sabrina yang menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Bara menghela napas panjang lalu mencondongkan badannya kembali ke arah Sabrina.

"Jadi... sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan pria itu?" tanya Bara. Sabrina mengangkat kedua alisnya. Dia kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Dia bahkan nggak tahu aku menyukainya," kata Sabrina.

"Hah?!"

Sabrina mengangguk sambil tersenyum.

"Jadi... Gimana maksudnya? Aku nggak paham. Tunggu. Jadi, kamu jatuh cinta sama cowok lain? Bukan selingkuh?" tanya Bara. Sabrina tertawa kecil.

"Bara, Bara... Pasti kamu nyimpulin sendiri kan? Aku tahu, kakakmu itu memang nggak ahli buat nyeritain hal-hal seperti ini ke orang-orang," kata Sabrina.

Bara mengerjapkan kedua matanya. Dia pikir Sabrina sudah menjalin hubungan dengan pria lain sebelum membatalkan pernikahan dengan Abas. Bara lalu terkekeh. Sabrina menatap Bara dengan heran.

"Udah aku duga kamu nggak mungkin selingkuh dari Kak Abas," kata Bara.

"Aku tahu kamu menyayanginya," lanjutnya. Bara menatap Sabrina dalam-dalam.

"Kamu cuma nggak mau membohongi Kak Abas seumur hidpmu, kan?" tanya Bara memastikan dia memahami perasaan Sabrina.

Sabrina tertegun. Selama ini, dia selalu merasa Bara lebih peka daripada Abas. Sabrina tersenyum.

"Kamu memang lebih memahamiku," kata Sabrina. Bara tersenyum sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

"Anehnya... kamu nggak pernah tertarik padaku," kata Bara membuat kedua alis Sabrina naik. Bara tertawa. Sabrina tersenyum.

Pesanan mereka datang, tepat saat pembicaraan mereka selesai. Bara menatap Sabrina yang makan sambil tersenyum. Dia melihat wanita di depannya terlihat lebih bahagia meskipun perasaannya belum tentu berbalas.

Bara tersenyum lalu mulai menyendokkan kerang dara asam manis ke mulutnya. Dia kembali melempar pandangan ke arah pantai sambil mengunyah makanannya. Matanya menangkap sosok yang dia kenal di luar resto.

'Tentu saja dia ada disini, kafenya bahkan tak jauh dari sini,' pikir Bara.

Bara melirik ke arah Sabrina sebelum kembali menyendok makanannya. Satu alisnya terangkat, saat melihat Sabrina tengah menatap sosok itu sambil tersenyum. Mulut Bara berhenti mengunyah. Pandangannya kembali jatuh pada sosok di luar resto.

'Tunggu. Jangan bilang cowok yang Sabrina suka itu... WHAT?!'

***

1
Ne Ajja
tanya langsung sama orangnya, Bas...
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
Purnamanisa: kepo banget emang si Abas, tapi sok cool 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
ada yg panas tapi bukan kompor 😂
Purnamanisa: apa tuuuh 😅😅🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
belokin dong, Bar...
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
Purnamanisa: Kalo dibelokin langsung Abasnya ngambek, Kak... biarkan dia belok sendiri 😅😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ngga, Bas...
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Purnamanisa: 😅😅
Melodi dimana2 🤣🤣
btw, video Senja Dalam Diam sudah ada di tiktok Purnamanisa ya, kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Suka sama lagunya.
Hafal bagian reffnya🤭
Purnamanisa: senjaaa... katakan padanya...🤭🤭
total 1 replies
Ne Ajja
"rasa" hadir tanpa butuh alasan...
eaaa....🤭
Purnamanisa: terimakasih kakaaak... biasanya kalo udah eps 20 keatas baru rame kak 😅😅 bantuin up dan share ya kalo menurut kakak ceritanya keren 🙏🙏 terimakasih udah selalu baca karya2 author 😊😊
total 3 replies
Ne Ajja
arahin, Mel 🤭
Purnamanisa: lupa ga bawa kompas, Kak 😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ohhh....astaga...
bener2 plot twist nya..

jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
Purnamanisa: daripada nikah tapi kebayang2 cowok lain kan yaa 😅😅😅
total 3 replies
Ne Ajja
aku udah vote + gift...
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪
Ne Ajja: sami2 ka...
total 2 replies
Ne Ajja
👍👍👍👍👍
Ne Ajja: okeh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!