Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sepuluh ~
Bel tanda kelas lanjutan berbunyi nyaring, membelah keheningan sore yang menyesakkan di barak. Bagas menghela napas panjang, bahunya merosot turun hingga ke titik terendah. Setidaknya, kelas malam ini hanyalah kelas teori di ruangan yang cukup sejuk, sehingga otaknya yang harus bekerja ekstra keras, bukan otot-ototnya yang sudah menjerit karena sesi latihan fisik yang tak henti-hentinya sejak fajar. Begitu kelas berakhir, saat para prajurit lain kembali ke barak dengan langkah gontai untuk segera mendengkur, Bagas justru merasa tubuhnya ditarik paksa oleh sesuatu yang tak kasat mata insting sistem yang tidak bisa dibantah dan tidak mengenal kompromi.
Ting!
[Waktunya beraksi! Sourdough Salt Bread Anda sudah memasuki tahap krusial untuk dipanggang. Jangan berani-berani untuk bermalas-malasan, Tuan Rumah! Ingat, roti tidak akan memanggang dirinya sendiri dengan sempurna tanpa tangan terampil Anda.]
Bagas melangkah masuk ke dapur barak yang kini sudah sepi dan gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu gantung yang remang-remang di sudut ruangan. Aroma sisa minyak dan debu kayu terasa sangat pekat di udara malam. Matanya membelalak saat melihat sebuah benda logam mengkilap yang muncul begitu saja di sudut dapur, sebuah Oven Gaib yang tampak sangat canggih dan futuristik, kontras dengan peralatan masak militer yang kusam dan tampak sangat kuno di sekitarnya.
"Oven apa lagi ini?" Bagas mendekat dengan ragu, menyentuh permukaannya yang halus dan dingin. "Sistem, kau benar-benar tidak punya batasan soal hal-hal yang tidak masuk akal ya? Kau memunculkan benda ini begitu saja di dapur barak yang kumuh ini? Kalau Komandan melihat ini, aku pasti sudah dituduh melakukan sihir atau korupsi peralatan!"
[Itu adalah Oven Konveksi Presisi Tinggi dengan modul pemanas molekuler. Jangan disentuh sembarangan jika Anda tidak ingin sidik jari Anda membekas pada mahakarya teknologi ini, Tuan Rumah. Segera berikan goresan artistik pada sourdough Anda, dan ingat, presisi adalah segalanya!]
Bagas mendengus, mengambil pisau dapur dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia melakukan scoring (goresan) pada adonan sourdough dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Setiap goresan harus pas agar saat mengembang di dalam oven nanti, rotinya memiliki kulit yang renyah sempurna dan pola yang estetik. Setelah itu, ia menyemprotnya dengan sedikit air. Begitu roti masuk ke dalam oven, Bagas berharap bisa duduk dan beristirahat sejenak, namun harapan itu hancur seketika saat notifikasi kembali muncul dengan nada yang sangat menyebalkan.
[Tugas Tambahan: Sambil menunggu proses pemanggangan, buatlah selai stroberi segar dan dua topping gurih, Egg Mayo serta Avocado Toast. Ingat, sistem tidak menerima kualitas yang biasa-biasa saja. Jika rasa atau tampilannya tidak memenuhi standar kesempurnaan saya, jangan salahkan saya jika poin Anda dipotong setengah.]
"Apa?!" Bagas berteriak tertahan, suaranya menggema di dapur yang sepi dan sunyi. "Kau pikir aku ini apa? Koki hotel bintang lima yang punya waktu luang berjam-jam? Aku baru saja menghabiskan sepuluh jam lari halang rintang dan kau menyuruhku membuat selai dari nol?! Kau benar-benar sistem yang tidak punya perasaan!"
[Jangan mengeluh Tuan Rumah. Ini adalah ujian bagi ketahanan mental dan fisik Anda. Jika Anda berhasil melalui ini, Anda tidak akan lagi melihat dapur sebagai tempat kerja yang menyiksa, melainkan sebagai tempat Anda mencetak kekayaan. Apakah Anda ingin tetap miskin atau ingin mengubah takdir Anda?]
Bagas memutar bola matanya hingga nyaris terlihat putih semua. "Kekayaan? Yang aku lihat sekarang hanyalah dapur yang berantakan, tangan yang hampir mati rasa, dan sistem yang hanya tahu cara memerintah."
Namun, seolah terhipnotis oleh perintah sistem, tangannya mulai bergerak sendiri. Ia mulai memasak selai stroberi dengan api kecil. Ia mengaduknya perlahan, sangat perlahan, sampai warnanya berubah menjadi merah delima yang berkilau. Aroma manis stroberi segar perlahan mulai mendominasi ruangan, mengalahkan bau sisa minyak goreng barak yang memuakkan. Sambil menunggu selai mengental, ia mulai merebus telur untuk Egg Mayo dan menghaluskan alpukat dengan bumbu yang pas. Setiap gerakannya kini terasa lebih terukur, lebih tenang, dan penuh dengan obsesi akan kesempurnaan. Ia tidak lagi bekerja sebagai tentara, melainkan sebagai seniman kuliner.
Setelah satu jam berlalu, ia mengeluarkan roti dari oven gaib tersebut. Warnanya cokelat keemasan yang sempurna, aromanya sangat menggugah selera, memancing air liurnya untuk menetes. Ia segera menghias rotinya, menyusun avocado toast dengan presisi tinggi, dan menaruh egg mayo dengan taburan peterseli di atasnya. Ia menatap mahakaryanya di atas meja. Hidangan itu terlihat begitu kontras dengan kesederhanaan barak militer yang kusam.
"Sistem, aku sudah menyelesaikan semua tugasmu." ucap Bagas lelah, menatap piring di depannya dengan tatapan kosong namun bangga. "Apakah sekarang aku boleh makan, atau kau punya tugas lain untuk menyiksa hidupku malam ini?"
[Silakan dinikmati Tuan Rumah. Anda layak mendapatkan asupan nutrisi setelah semua kegilaan ini. Sistem akan mengevaluasi setiap suapan dan sensasi rasa yang Anda alami.]
Bagas mulai melahap hidangan itu. Rasa renyah roti, kelembutan alpukat, dan gurihnya telur seolah meledak di mulutnya, menciptakan harmoni rasa yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bagas tidak merasa marah. Ia merasa puas. Setelah suapan terakhir, notifikasi muncul dengan teks yang sangat mencolok.
[Evaluasi Hasil Masakan Malam:]
[Sourdough Salt Bread: 300 Poin]
[Selai Stroberi: 200 Poin]
[Topping Gurih (Egg Mayo & Avocado Toast): 300 Poin]
[Estetika Penyajian: 105 Poin]
Bagas menahan napas, tangannya gemetar di atas meja kayu. "Berapa totalnya?"
[Total Penilaian: Karena Sistem sangat baik hati dan tidak sombong, saya akan memberikan bonus tambahan: 905 Poin!]
"SEMBILAN RATUS LIMA?!" Bagas hampir tersedak. Matanya membelalak melihat saldo poinnya yang tiba-tiba melonjak drastis hingga mencapai angka seribu. "Kau... kau benar-benar memberiku sembilan ratus lima poin? Kenapa begitu banyak? Apakah kau salah hitung atau ini jebakan?"
[Bukankah sudah saya katakan? Sistem ini diciptakan dengan sifat dermawan dan kemurahan hati yang tak terbatas. Anda seharusnya bersujud syukur memiliki sistem seperti saya, bukan malah memaki setiap saat. Berterima kasihlah kepada saya Tuan Rumah.]
Bagas terdiam. Ia tertawa kecil, lalu tawa itu meledak menjadi tawa lepas yang menggema di dapur. Meskipun sistem ini sangat menyebalkan dan narsis, ia harus mengakui satu hal, setiap resep yang ia berikan tidak pernah gagal. Rasanya sempurna, jauh di atas standar masakan apapun yang pernah ia temui seumur hidupnya.
"Baiklah Sistem." bisik Bagas sambil menyandarkan punggungnya ke meja dapur, menatap langit-langit dengan tatapan penuh ambisi yang membara. "Mulai hari ini, aku akan berhenti mengeluh. Asalkan kau terus memberiku resep dan poin seperti ini, aku akan menjadi budak setiamu. Kita akan membangun kekayaan ini bersama-sama."
Ia menatap ke arah jendela, membayangkan kehidupan setelah militer ini berakhir. "Dewa sialan." gumamnya pelan dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Jika kau memang mengirimku ke dunia ini untuk menjadi koki, setidaknya buatlah aku menjadi orang paling kaya di seluruh negeri. Aku sudah cukup menderita di tempat terkutuk ini!"
[Itu adalah ambisi yang layak Tuan Rumah. Dengan poin yang Anda miliki sekarang, kehidupan masa depan Anda tidak lagi suram. Siapkan diri Anda untuk babak selanjutnya, karena kesuksesan Anda baru saja dimulai.]
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘