Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Arah Baru
Langit mulai gelap menandakan malam telah tiba. Setelah jalan-jalan mengelilingi kota, Alex dan Syafa akhirnya sampai di depan rumah Syafa.
"Lex, makasih ya buat hari ini," ucap Syafa sambil melepas helmnya.
"Oke, sama-sama. Besok kalau butuh jemputan lagi bilang aja ya," jawab Alex sambil tersenyum menatap Syafa.
Setelah memastikan Syafa masuk ke rumah, Alex pun memutar motornya dan pulang.
Sesampainya di rumah, Alex langsung membersihkan badan dan bersiap untuk tidur. Entah kenapa hari ini ia merasa bahagia sekali. Mungkin karena ia mulai menemukan cara untuk mencintai seseorang kembali setelah rasa sakit yang ia rasakan kemarin-kemarin.
Tapi di tengah rasa bahagia itu, Alex tiba-tiba tersadar dan ragu pada dirinya sendiri. Apakah gue benar-benar udah siap menerima orang baru, atau ini cuma buat pengalihan aja dari bayang-bayang Putri?
Sambil berbaring di kasur, Alex membuka Instagram. Ia melihat akun Syafa yang kemarin di-private kini sudah dibuka, dan Syafa juga sudah mengikutinya balik. Alex tersenyum kecil melihat notifikasi itu.
Saat melihat sorotan Instagram Syafa, Alex merasa penasaran. Syafa memberi judul sorotan itu dengan emotikon hati warna putih dan burung merpati. Saat dibuka, sorotan tersebut berisi foto seorang laki-laki dan foto makam laki-laki itu. Syafa menuliskan caption di sana: "Until we meet again darling, I love you."
Sebelum Alex sempat berpikir lebih jauh, ponselnya mendadak berdering. Ada panggilan masuk dari Syafa. Hati Alex langsung berdebar kencang karena dapat telepon yang sama sekali tak terduga.
"Assalamualaikum," ucap Syafa di ujung telepon.
"Wa'alaikumussalam," balas Alex pelan. "Iya, kenapa? Ada yang bisa dibantu?"
"Nggak ada, gabut aja Lex nggak ada temen ngobrol," sahut Syafa.
"Owala, tak kira ada apa," balas Alex terkekeh.
"Itu yang di IG beneran akun kamu, kan?" tanya Syafa memastikan.
"Iya, kenapa emangnya?"
"Nggak apa-apa. Cuma bingung aja kok nggak ada foto kamu gitu, aku kan jadi penasaran," ucap Syafa.
"Kenapa emang? Nggak bisa liat muka orang ganteng ya?" goda Alex berusaha mencairkan suasana.
Sebenarnya, Alex memang sengaja menghapus semua fotonya. Entah kenapa, setiap melihat foto dirinya yang dulu, ia selalu teringat kenangan bersama Putri.
Setelah itu mereka lanjut mengobrol banyak hal sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Sampai akhirnya mereka berdua ketiduran dan telepon itu tidak kunjung dimatikan.
Saat jam menunjukkan pukul 5 pagi, suara Syafa memanggil nama Alex dari ponsel.
"Lex... bangun, udah jam 5 pagi," ucap Syafa lembut.
Alex tersentak kaget. Ia bingung karena baru bangun tidur dan linglung, sampai lupa kalau suara yang membangunkan itu berasal dari panggilan telepon yang masih terhubung dari semalam.
"Lah, masih nempel teleponnya?" suara Alex terdengar khas orang baru bangun, serak dan lesu.
"Kok nggak dimatiin sih dari semalem?" ucap Syafa sambil tertawa kecil.
"Oh iya, aku lupa hehe," balas Alex polos.
"Ya udah, kamu salat Subuh dulu sana."
"Oke," jawab Alex.
Setelah itu, telepon mendadak terputus. Alex mengira ponsel Syafa kehabisan baterai, jadi ia tidak terlalu memikirkannya dan langsung mengambil wudu.
Matahari pun akhirnya muncul. Alex menjalankan kebiasaannya berolahraga mengelilingi kompleks. Namun, ia tidak membawa ponsel karena lupa mengisinya semalaman.
Setelah selesai olahraga dan menyalakan ponselnya, pesan dari Syafa masuk. Syafa meminta maaf karena mematikan telepon tadi pagi secara sepihak.
Syafa: Lex, maaf hp aku mati tadi pagi.
Alex: Oh iya gapapa santai aja, hp aku juga tadi lobet. Maaf baru bales soalnya tadi ga bawa hp.
Syafa: Emang kamu dari mana, Lex?
Alex: Aku abis olahraga nih hehe, biasa lah menjaga bentuk badan.
Syafa: Oh.
Melihat balasan Syafa yang singkat, Alex tidak mau kehabisan topik. Ia tidak ingin obrolan mereka berakhir begitu saja, jadi ia memberanikan diri menanyakan agenda Syafa hari ini.
Alex: Mau aku jemput lagi nanti, Syaf?
Syafa: Aku libur sekarang dan bingung mau ngapain. Bosen di rumah mulu, paling ntar agak pagian jalan ama temen sih. Kalo kamu gimana, Lex?
Alex: Sama, aku juga lagi kosong. Paling ntar sore baru ke toko.
Alex: Kalo kamu kosong, mau nggak jalan-jalan atau sekadar ngopi gitu?
Syafa: Boleh aja! Mau kapan? Pagi, siang, sore, atau malam?
Alex: Sore aja gimana? Kita ke pantai liat sunset, kayanya asik.
Syafa: Boleh!
Obrolan mereka pun berakhir sampai di situ. Alex beranjak untuk bersiap-siap pergi ke toko. Namun saat sedang merapikan baju di depan kaca, Alex kembali terdiam dan berpikir.
Apakah gue beneran jatuh cinta sama Syafa? Dan apakah gue harus menyampaikan apa yang ada di hati gue nanti sore?
Sesampainya di toko, Alex langsung membersihkan tempat itu. Ia menyapu lantai dan merapikan sisa-sisa pekerjaan semalam yang belum sempat ia bereskan.
Saat sedang asyik menjaga toko, seorang anak perempuan berseragam SMA menghampirinya.
"Bang, mau fotokopi tugas," ucap anak SMA tersebut.
"Mana?" tanya Alex.
Anak itu menyerahkan lembaran tugas yang ingin difotokopi. Alex pun segera mengerjakannya. Setelah selesai, anak SMA itu merogoh-rogoh saku dan tasnya untuk mengambil uang. Namun setelah dicari-cari, wajahnya mendadak panik. Uangnya tidak ada.
"Bang, ini berapa?" tanya anak SMA itu ragu-ragu.
"Rp10.000 aja," jawab Alex.
"Bang... tapi mohon maaf banget, uang saya kayaknya jatuh deh. Gimana ya, Bang? Oh, mungkin tugasnya saya tinggal dulu di sini, nanti saya balik lagi kalau udah ada uang," ucap anak itu dengan raut wajah kebingungan dan takut.
"Emang kamu sekolah di mana?" tanya Alex penasaran.
"Saya di SMA 5 Linggarjati, Bang."
"Lho, kok jauh banget sampai ke sini?" Alex sedikit terkejut.
"Iya, Bang. Dari sana saya cari tempat fotokopi belum ada yang buka, mungkin karena masih pagi. Terus ketemunya baru di sini, mana tugasnya mau dipresentasikan sekarang lagi," jelas anak SMA itu pasrah.
Melihat raut cemasnya, Alex merasa iba. Ia teringat masa-masa sekolahnya dulu yang juga pernah mengalami hal serupa. Akhirnya, Alex memutuskan untuk menggratiskan biaya fotokopi tersebut.
"Ya udah, ambil aja, gratis. Tapi ingat ya, kamu harus semangat belajarnya, jangan suka bolos. Nanti kayak Abang nih, jadi tukang fotokopi, hahaha," ucap Alex bercanda sambil memberi motivasi.
"Beneran, Bang? Nggak apa-apa nih?" tanya anak itu seolah tak percaya.
"Udah, ambil aja."
"Makasih banyak ya, Bang!" ucap anak itu lega lalu bergegas pergi.
Sepeninggal anak SMA itu, Alex tersenyum dan tertawa kecil sendirian. Ingatannya mendadak berputar ke masa lalu—teringat betapa besarnya effort yang dulu pernah ia lakukan, rela jalan jauh-jauh hanya demi memfotokopikan tugas milik Putri.
Namun, lamunannya terhenti seketika saat ponsel di sakunya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk di layarnya. Pesan itu berasal dari nama yang sama sekali tidak ia duga: Marko.
Marko: Lex, bisa ketemu?
Alex membeku menatap layar ponselnya. Jantungnya berdegup kencang. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Marko mengajaknya bertemu?
End bab 12
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita