NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 - Tanpa Timer

"Aku mau. Justru itu masalahnya."

Sebastian mengatakan kalimat itu dengan wajah sangat tenang.

Terlalu tenang.

Felicia mengenali jenis ketenangan seperti itu. Di dunia lama, orang yang terlalu tenang sebelum memasuki zona radiasi biasanya bukan tidak takut. Mereka hanya sudah menaruh rasa takut di kotak kecil, menutupnya, lalu duduk di atas kotak itu sampai tutupnya retak.

"Masalah untuk siapa?" tanya Felicia.

Sebastian menatapnya. "Untuk sistem kendaliku."

Jayden mengangkat tangan. "Gue nggak ngerti, tapi kedengarannya dia overthinking."

"Betul," kata Calvin.

Nathan menutup map. "Aku akan keluar."

Calvin ikut berdiri. "Aku juga. Kalau Sebastian mulai menghitung detik dengan suara keras, panggil aku."

"Aku tidak akan menghitung dengan suara keras," kata Sebastian.

"Berarti dalam hati."

Sebastian tidak membantah.

Felicia menunjuk pintu. "Keluar."

Tiga pria itu pergi. Jayden sempat menunjuk dua jari ke matanya lalu ke Sebastian, tanda mengawasi, sebelum pintu tertutup.

Kamar menjadi sunyi.

Sebastian berdiri di dekat meja obat. Ia tidak mendekat. Sarung tangan tipis masih ada di tangan kirinya, sementara tangan kanannya kosong. Botol sanitizer berada di meja, tidak terbuka, tetapi matanya sempat berhenti di sana.

Felicia melihat semuanya.

"Lepas."

Sebastian menatapnya. "Sarung tangan?"

"Dan kebiasaan menghitung."

"Yang kedua lebih sulit."

"Aku tahu."

Ia melepas sarung tangan kiri perlahan. Bunyi lateks tipis itu terdengar jelas. Setelah sarung tangan jatuh ke tempat sampah, kedua tangannya terbuka. Jari-jarinya panjang, bersih, sedikit kaku.

"Kemari."

Sebastian mengambil satu langkah, lalu berhenti. "Sebelum itu, aku perlu menyampaikan parameter medis."

"Tidak."

"Feli."

"Kamu sudah menyampaikan parameter medis sepanjang hari."

"Tapi malam ini konteksnya berbeda."

"Konteksnya sama. Aku cedera, kamu tidak boleh menekan bahu kiri dan rusuk. Kalau aku pusing, berhenti. Kalau aku bilang berhenti, berhenti. Selesai."

Sebastian diam.

Felicia mengangkat alis. "Atau kamu ingin membuat presentasi?"

"Aku punya daftar."

"Buang."

Wajah Sebastian berubah sedikit. Bagi orang lain, mungkin tidak terlihat. Bagi Felicia, itu seperti melihat kaca tenang mendapat retakan halus.

"Feli, daftar membuatku aman."

"Tidak. Daftar membuatmu jauh."

Kalimat itu mengenai sasaran.

Sebastian menunduk sebentar. Ketika ia mengangkat wajah lagi, matanya lebih gelap.

"Apa yang kamu mau aku lakukan?"

"Duduk."

Ia duduk di sisi ranjang, jarak satu telapak tangan dari selimut. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jarak yang dipilih oleh otak, bukan tubuh.

Felicia mengulurkan tangan kanan.

Sebastian menatap tangan itu.

"Tidak ada timer," kata Felicia.

Napasnya berhenti sesaat.

"Tidak ada target sepuluh detik. Tidak ada laporan setelahnya. Sentuh kalau mau menyentuh."

"Itu instruksi yang tidak stabil."

"Itu instruksi manusia."

Sebastian menatapnya lama, lalu perlahan meletakkan telapak tangannya di atas telapak Felicia.

Kontak itu sederhana.

Kulit bertemu kulit.

Tidak ada rasa sakit yang membuatnya tersentak. Tidak ada mual. Tidak ada dorongan mendadak untuk membersihkan tangan sampai merah. Yang ada hanya hangat, denyut halus di pergelangan Felicia, dan kesadaran tajam bahwa ia sedang menyentuh seseorang tanpa alasan medis.

Sebastian menutup mata.

Felicia membiarkan.

Sepuluh detik lewat.

Lima belas.

Dua puluh.

"Kamu menghitung?" tanya Felicia.

"Iya."

"Berhenti."

"Aku mencoba."

"Coba lebih keras."

Sudut bibirnya bergerak sedikit. "Perintahmu tidak ilmiah."

"Tapi efektif."

Ia membuka mata. "Sayangnya, iya."

Felicia menggerakkan jari, menyusup di sela jari Sebastian. Genggaman mereka berubah dari telapak di atas telapak menjadi jari saling mengunci.

Kali ini, tubuh Sebastian bereaksi.

Bukan sakit.

Napasnya pendek. Bahunya tegang. Matanya menatap jari mereka seperti ia melihat persamaan yang tiba-tiba berubah menjadi api.

"Ini," katanya pelan, "lebih sulit."

"Karena kamu tidak bisa pura-pura ini pemeriksaan."

"Benar."

"Bagus."

Ia tertawa kecil, kering dan hampir tidak percaya. "Kamu menyukai saat aku kehilangan alasan."

"Sangat."

Felicia menarik tangannya sedikit, membuat Sebastian mendekat. Ia menahan diri agar tidak menekan ranjang. Gerakannya masih terukur, tetapi pengukurannya mulai terlambat. Tubuhnya datang lebih dulu, otaknya mengejar dari belakang.

"Cium aku," kata Felicia.

Sebastian membeku.

"Kamu mendengar."

"Aku mendengar."

"Lalu?"

"Aku sedang memastikan posisi bahumu."

"Sebastian."

Nama itu cukup.

Ia menunduk.

Ciuman Sebastian berbeda dari Nathan dan Jayden. Nathan datang dengan takut, Jayden dengan api. Sebastian datang seperti seseorang memasuki ruangan gelap dengan lilin kecil, setiap langkahnya sadar, setiap sentuhannya bertanya tanpa suara. Bibirnya menyentuh Felicia sebentar, mundur seolah mengecek apakah dunia runtuh, lalu kembali lagi.

Felicia menangkap kerahnya.

Kali ini ia tidak membiarkan Sebastian mundur terlalu jauh.

Sebastian mengeluarkan napas dari hidung, pendek, terputus. Tangannya yang bebas mencari tempat, berhenti di udara, lalu Felicia memindahkannya ke sisi pinggang kanan.

"Di sini."

"Aman?"

"Aman."

Tangannya turun.

Ia tidak meremas. Tidak menekan. Hanya menahan, seolah Felicia adalah sesuatu yang harus dipelajari dengan telapak, bukan mata.

Ciuman itu menjadi lebih panjang.

Ketika Sebastian akhirnya menjauh, wajahnya tidak merah seperti Nathan, tidak terang seperti Jayden. Wajahnya justru kosong, seolah semua sistem yang biasa bekerja di balik matanya baru saja mati lampu.

"Feli," katanya.

"Hm?"

"Aku mengerti kenapa orang menjadi bodoh."

Felicia tertawa kecil. "Selamat datang."

"Ini mengganggu."

"Kamu suka."

"Iya."

Jawaban itu keluar tanpa jeda. Ia sendiri tampak terkejut.

Di kepala Felicia, Sis berbisik heboh tapi tertahan, "Tuan Rumah, data Sebastian melonjak! Bintang bergerak dari 0% ke 7%. Belum menyala. Tapi barrier sentuhan retak besar!"

Felicia menatap Sebastian. "Tujuh persen."

Ia mengerjap. "Aku?"

"Kamu."

"Lebih tinggi dari Jayden."

"Kamu ingin sombong?"

"Secara statistik, sedikit."

Felicia tersenyum.

Sebastian melihat senyum itu dan wajahnya berubah lagi. Kali ini bukan kosong. Lebih lembut, lebih berbahaya karena terlalu jujur.

"Aku ingin menyentuh rambutmu," katanya.

"Minta izin dengan benar."

"Boleh aku menyentuh rambutmu, Feli?"

"Boleh."

Ia mengangkat tangan dan menyentuh rambut Felicia dari sisi kanan, menjauh dari bahu kiri. Jari-jarinya masuk perlahan di antara helai hitam. Sentuhan itu ringan, hampir hormat. Namun napas Sebastian kembali berubah, seolah rambut saja cukup untuk membuat dunia di kepalanya kehilangan urutan.

"Tidak perlu sanitizer," kata Felicia.

Sebastian melihat botol di meja.

Lama.

Lalu ia melihat tangan sendiri di rambut Felicia.

"Tidak perlu," ulangnya.

Kalimat itu terdengar seperti keputusan medis dan pengakuan pribadi sekaligus.

Felicia belum melepaskan rambutnya dari jari Sebastian. "Sekarang giliranmu."

Ia mengerjap. "Giliranku apa?"

"Bukan kamu yang menyentuh aku. Aku yang menyentuh kamu."

Ketegangan langsung kembali ke bahunya.

Namun kali ini ia tidak mundur.

"Di mana?" tanyanya.

"Kamu pilih."

Pilihan itu tampaknya lebih sulit daripada perintah. Sebastian menatap tangannya sendiri, lalu pergelangan, lalu kerah kemeja yang menutup lehernya. Otaknya bekerja terlalu keras sampai Felicia hampir bisa mendengar suara roda giginya.

"Sebastian."

"Aku memilih."

"Kapan?"

"Sekarang."

Ia membuka dua kancing teratas kemejanya.

Bukan gerakan menggoda. Lebih seperti seseorang membuka pintu laboratorium yang selama ini disegel. Kulit di bawah tulang lehernya terlihat pucat, bersih, dan tegang oleh napas yang ia tahan.

"Di sini," katanya.

Felicia mengangkat tangan kanan dan menyentuh bagian atas dadanya, tepat di bawah tulang selangka. Tidak menekan. Hanya telapak hangat di atas detak yang terlalu cepat.

Sebastian memejamkan mata.

Seluruh tubuhnya kaku.

"Sakit?"

"Tidak."

"Mual?"

"Tidak."

"Ingin lari?"

Ia diam lebih lama.

"Sedikit."

"Tapi?"

"Aku lebih ingin tetap di sini."

Jawaban itu membuat Felicia menurunkan telapak sedikit, mengikuti detak jantungnya. Ritmenya kacau, jauh dari citra Sebastian yang selalu rapi. Ia tidak sempurna. Ia hanya laki-laki yang selama ini bertahan dengan aturan karena tubuhnya sendiri terasa seperti musuh.

"Tubuhmu tidak menyerangmu," kata Felicia.

"Malam ini tidak."

"Kalau besok menyerang lagi?"

"Aku akan mengingat malam ini sebagai data."

Felicia menatapnya.

Sebastian mengoreksi sendiri, sangat pelan. "Sebagai pengalaman."

"Lebih baik."

Ia membuka mata. Di dalamnya ada rasa lelah yang aneh, lelah orang yang baru berhenti mengepalkan tangan setelah bertahun-tahun.

"Feli, kalau aku lupa caranya berhenti takut..."

"Aku ingatkan."

"Dengan perintah?"

"Biasanya."

Sudut bibirnya naik. "Itu terdengar menenangkan."

Felicia menepuk sisi ranjang. "Tidur."

"Di sini?"

"Kamu melihat pola, kan?"

"Nathan, Jayden, lalu aku."

"Pintar."

Ia melepas sepatu dengan rapi, mematikan lampu utama, lalu berbaring di sisi kanan Felicia. Jaraknya lebih terukur daripada Jayden, tetapi tidak sekaku Nathan. Tangannya tetap menggenggam tangan Felicia di atas selimut.

Beberapa menit lewat.

Sebastian tiba-tiba berkata, "Aku masih ingin menghitung."

"Jangan."

"Aku tahu."

"Apa yang akan kamu lakukan?"

Ia diam sebentar.

Lalu, sangat perlahan, ia menutup mata dan menempelkan punggung tangan Felicia ke dadanya sendiri.

Di bawah telapak Felicia, detak jantung Sebastian tidak teratur.

"Aku akan merasakannya saja," katanya.

Felicia membuka mata sedikit, lalu melirik sanitizer di meja.

"Masih mau?"

Sebastian mengikuti arah pandangnya. Botol kecil itu berdiri di meja, tutupnya masih bersih, jaraknya hanya satu rentangan tangan. Kebiasaan lamanya bergerak lebih cepat daripada pikiran. Jari Sebastian sempat menegang.

Lalu ia menarik napas.

Dengan tangan yang tidak menggenggam Felicia, ia mendorong botol itu lebih jauh ke ujung meja.

"Masih mau," katanya jujur. "Tapi tidak harus sekarang."

"Itu cukup."

"Untuk malam ini."

"Untuk malam ini," setuju Felicia.

Felicia menutup mata.

Detak di bawah tangannya perlahan menjadi sedikit lebih rapi dan hangat.

Untuk seorang laki-laki yang seumur hidup takut pada sentuhan, itu sudah cukup berani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!