NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027

Belajar Duduk Diam

Ruang guru sore itu lebih sunyi daripada biasanya.

Kipas angin tua berputar pelan di langit-langit. Di meja Bu Wati, ada setumpuk fotokopi materi, beberapa lembar latihan, dan satu buku catatan kosong bersampul biru tua. Kevin duduk di kursi tamu dengan punggung tegak, wajahnya seperti orang menunggu vonis.

Pak Arief bersandar di sisi meja. Bu Wati membuka map plastik.

"Kamu tertinggal cukup banyak," kata Bu Wati.

"Saya tahu, Bu."

"Tidak cukup hanya tahu. Kamu harus mengejar dari dasar."

"Iya, Bu."

Bu Wati menatapnya sebentar, mungkin masih belum terbiasa mendengar Kevin menjawab tanpa membantah. Lalu ia mendorong buku catatan kosong itu ke depan.

"Ini untuk jadwal dan rangkuman. Setiap hari kamu tulis apa yang dipelajari, apa yang belum paham, dan siapa yang membantu. Jangan kosong."

Kevin melihat buku itu seperti melihat alat berat. "Setiap hari?"

"Setiap hari sekolah."

Pak Arief menambahkan, "Mulai dari yang kecil dulu. Kamu tidak perlu langsung jadi juara kelas. Tapi kamu harus berhenti kabur dari pelajaran."

Kevin menunduk, ujung jarinya menyentuh bekas gigitan di punggung tangan. Gerakan itu kecil, tetapi Sekar yang berdiri di dekat pintu melihatnya.

"Saya coba, Pak."

"Bukan coba kalau cuma tiga hari," kata Pak Arief. "Kita lihat sebulan."

Kevin mengangkat mata. "Sebulan?"

"Takut?"

"Nggak."

"Bagus. Kalau takut, tetap datang."

Bu Wati memberi daftar materi. Bahasa Indonesia, Matematika, Sejarah, Bahasa Inggris. Di bagian bawah, ada tulisan tangan: kuis susulan Jumat.

Kevin memandangi dua kata itu.

"Kuis susulan?"

"Kamu banyak tidak ikut atau nilainya kosong," jawab Bu Wati. "Ibu beri satu kesempatan. Tidak untuk nilai sempurna. Untuk melihat kamu mulai dari mana."

Kevin terdiam.

Sekar tahu kata "kesempatan" tidak selalu mudah bagi Kevin. Kesempatan berarti ada kemungkinan gagal. Dan Kevin lebih terbiasa pura-pura tidak peduli daripada ketahuan mencoba lalu jatuh.

"Saya ikut," katanya akhirnya.

Pak Arief mengangguk. "Bagus."

Ketika mereka keluar dari ruang guru, Bryan sudah menunggu di koridor dengan dua kotak susu dan wajah sangat curiga.

"Lo masih Kevin, kan?" tanyanya.

Kevin mengambil satu kotak susu dari tangannya. "Nggak. Gue fotokopi salah cetak."

"Gue tahu. Kevin asli nggak bakal keluar ruang guru bawa fotokopi segini."

Sekar mengambil beberapa lembar dari tangan Kevin agar tidak jatuh. "Kamu harus belajar hari ini."

Kevin menoleh. "Hari ini juga?"

Bryan tertawa. "Selamat datang di neraka akademik, Bro."

"Lo juga ikut," kata Sekar.

Tawa Bryan berhenti. "Kenapa gue?"

"Karena kamu duduk di sebelahnya dan selama ini ikut tidur."

"Kak Sekar, fitnah itu dosa."

Kevin menepuk pundaknya. "Nasib."

Mereka pindah ke perpustakaan setelah istirahat kedua. Tempat itu dingin karena AC terlalu kuat. Bau kertas lama dan sampul plastik membuat Bryan menguap bahkan sebelum duduk. Sekar memilih meja pojok, membuka fotokopi Matematika, lalu menaruh pulpen di depan Kevin.

"Kita mulai dari persamaan linear."

Kevin menatap soal pertama.

"Ini bahasa apa?"

"Matematika."

"Nggak. Ini ancaman."

Bryan langsung menunduk tertawa tanpa suara.

Sekar mengetuk meja. "Fokus. Lihat. Pindahkan variabel ke satu sisi."

"Variabel aja nggak minta dipindahin."

"Kev."

"Iya."

Lima belas menit pertama berjalan seperti perang kecil. Kevin salah menyalin tanda minus. Bryan salah menghitung perkalian sederhana lalu menyalahkan pulpen. Sekar menarik napas panjang tiga kali dan mengingatkan dirinya bahwa perubahan bukan berarti semua langsung rapi.

Namun di menit kedua puluh, Kevin mulai diam.

Diam kali ini bukan karena malas. Ia menatap soal, mengerutkan dahi, lalu mencoba menulis ulang langkah yang Sekar ajarkan. Tulisannya besar dan miring, tetapi urutannya benar sampai baris ketiga.

"Ini benar?" tanyanya.

Sekar memeriksa.

"Hampir. Minusnya masih salah di sini."

Kevin menatap tanda itu seperti musuh pribadi. "Kenapa dia berubah jadi plus?"

"Karena pindah ruas."

"Aturan siapa?"

"Matematika."

"Matematika sok berkuasa."

Sekar tidak bisa menahan senyum.

Kevin melihat senyum itu, lalu kembali menunduk. Kali ini ia membetulkan tanpa mengeluh.

Di seberang meja, Bryan menatap mereka berdua. "Aneh."

"Apa?" tanya Kevin.

"Lo dimarahin soal minus, tapi nggak ngamuk."

Kevin mengangkat pulpen. "Mau gue lempar?"

"Nah. Masih Kevin."

Sesi belajar itu tidak membuat Kevin langsung pintar. Ia masih salah lebih banyak daripada benar. Tetapi setelah satu jam, ada dua halaman di buku catatan biru yang terisi. Di halaman pertama, ia menulis daftar hal yang belum paham. Di halaman kedua, ada tiga soal yang berhasil ia selesaikan sendiri.

Ketika bel pulang berbunyi, Kevin menatap halaman itu lama.

"Ternyata bisa kebaca juga," gumamnya.

Sekar memasukkan fotokopi ke map. "Tentu bisa."

"Gue kira otak gue udah karatan."

"Karatan bisa dibersihkan."

Bryan mengangkat tangan. "Otak gue gimana?"

Sekar melirik lembar Bryan yang penuh gambar motor. "Punya kamu harus dicari dulu."

Kevin tertawa pendek.

Bryan menunjuk Sekar dengan wajah tersinggung. "Kak Sekar sekarang sadisnya nular dari gigitan."

Kevin langsung menutup punggung tangannya.

Sekar pura-pura tidak mendengar.

Sore itu, Kevin tidak langsung mengajak Sekar naik motor. Ia berjalan bersamanya sampai gerbang sambil membawa buku catatan biru di tangan kiri. Beberapa siswa memandang rambut hitamnya, lalu melihat buku itu. Bisik-bisik masih ada, tetapi nadanya berbeda. Bukan lagi sepenuhnya takut atau mengejek. Lebih banyak bingung.

Di depan gerbang, Yola menunggu dengan Steven.

"Jadi," kata Yola, menatap buku Kevin, "ini Kevin versi update?"

"Beta version," jawab Steven.

Kevin menyipitkan mata. "Lo berdua banyak komentar."

"Kami saksi sejarah," kata Yola.

Sekar mengambil helm dari motor Kevin. "Besok belajar lagi."

Kevin menghela napas, tetapi tidak menolak. "Jam berapa?"

"Setelah sekolah."

"Tempat?"

"Perpustakaan."

Bryan mengerang dari belakang. "Bisa nggak pilih tempat yang nggak bikin ngantuk?"

"Tidak," jawab Sekar dan Kevin bersamaan.

Mereka saling menoleh.

Kevin cepat-cepat memalingkan wajah, tetapi telinganya merah.

Sekar memakai helm dengan senyum kecil.

Sebelum naik motor, Kevin membuka buku catatan biru sekali lagi. Di halaman paling depan, dengan tulisan yang belum rapi, ia menulis satu baris.

Jumat: ikut kuis susulan.

Ia menutup buku itu, memasukkannya ke tas, lalu menatap Sekar.

"Kalau nilai gue jelek?"

"Kita lihat bagian mana yang salah."

"Kalau jelek banget?"

"Tetap lihat."

"Lo nggak bakal ketawa?"

"Kalau kamu menulis namamu salah, mungkin."

Kevin mendengus.

Namun ketika ia menyalakan motor, Sekar melihat tangan kirinya menyentuh sebentar bekas gigitan di punggung tangan, lalu mengetuk tas tempat buku biru itu disimpan.

Seperti dua pengingat.

Jangan kabur.

Mulai dari satu soal.

Sekar naik ke jok belakang dan memeluk pinggangnya seperti biasa. Kali ini Kevin tidak langsung menyalakan gas. Ia menunduk sebentar, melihat tangan Sekar yang bertaut di depan jaketnya, lalu berkata lirih, "Besok ingetin gue bawa kalkulator."

"Dengan senang hati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!