Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster masa lalu
Rumah sakit
Kurang dari tiga puluh menit, Gavin sudah tiba di rumah sakit, lalu berlari melewati koridor, mengabaikan beberapa teguran satpam karena langkahnya yang terlalu berisik. Begitu menemukan nomor kamar rawat VVIP yang dikirimkan mamanya, Gavin langsung mendorong pintu kayu itu dengan kasar.
BRAK!
"Mama! Kea kenapa?!" seru Gavin dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena panik dan lelah berlari.
Namun, seruan lantangnya langsung terpotong begitu matanya menangkap pemandangan di dalam kamar. Suasana ruangan itu begitu hening. Keana terbaring lemah di atas ranjang dengan masker oksigen menempel di wajahnya, dikelilingi oleh Papa Arland, Mama Soraya, dan Elvan yang duduk di sisi ranjang.
"Gavin, kecilkan suaramu. Ini rumah sakit, bukan lapangan bola," tegur Elvan dengan nada rendah yang tajam, meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
Gavin menelan ludah, melangkah pelan mendekati ranjang dengan perasaan campur aduk. Ia meletakkan ransel bawaannya di atas sofa secara asal, lalu menatap Mama Soraya dengan mata yang menuntut penjelasan.
"Ma... Kea kenapa bisa sampai pakai masker oksigen begini? Tadi pagi dia sehat-sehat aja kan pas sarapan? kok sampai begini?" bisik Gavin, suaranya bergetar menahan luapan emosi dan rasa cemas.
Mama Soraya menghela napas panjang, lalu menuntun Gavin untuk duduk di sofa. Dengan suara lembut namun berat, Mama Soraya mulai menceritakan insiden kebakaran di kantin sekolah Keana siang tadi, serta bagaimana trauma masa lalu Keana mendadak muncul dan menyerang sistem sarafnya hingga pingsan.
Gavin mendengarkan setiap kalimat mamanya dengan rahang yang mengeras. Matanya perlahan beralih menatap nanar ke arah Keana yang masih memejamkan mata rapat-rapat. Sebagai seorang kakak yang paling sering menghabiskan waktu luang dan menjaili Keana di rumah, Gavin merasa dunianya agak berputar. Ia tidak pernah tahu kalau keceriaan yang ditunjukkan adiknya selama ini menyimpan ketakutan yang begitu mengerikan di dalamnya.
"Kenapa... kenapa gak ada yang pernah cerita sama Gavin kalau Kea takut sama api?" cicit Gavin lirih, menatap Papa dan Mama bergantian. Rasa bersalah mulai merayap di dadanya karena menyadari selama ini ia sering kali bersikap ceroboh di dekat adiknya.
Papa Arland menepuk bahu Gavin perlahan. "
" Sekarang kamu sudah tahu, yang terpenting adikmu sudah aman dan sedang beristirahat."
"Papa sama Mama gak mau pulang dulu? biar Gavin yang jaga Keana di sini" ucap Gavin
"Bener yang di katakan Gavin, lebih baik Papa sama Mama pulang dulu, kalian lelah seharian bekerja" timpal Elvan.
"Bang El…nggak mau pulang juga?"
"Tidak, Abang akan tetap di sini"
Papa Arland dan Mama Soraya saling berpandangan sejenak. Kelelahan yang amat sangat memang terlihat jelas dari gurat wajah mereka. Namun, berat rasanya bagi seorang ibu dan ayah untuk melangkahkan kaki keluar dari ruangan tempat putri mereka terbaring tak berdaya.
"Tapi, El... Mama masih ingin di sini sampai Kea bangun," ucap Mama Soraya lirih.
"Ma," Papa Arland mengusap lembut pundak istrinya, memberikan pengertian.
"El benar. Kamu sudah berdiri seharian di ruang bersalin, dan aku tahu tensimu bisa drop kalau kurang istirahat. Di sini ada Elvan dan ada Gavin yang bisa menjaga Keana. Kita pulang dulu."
Mama Soraya akhirnya menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. Ia mengecup kening Keana dengan penuh perasaan sebelum berbalik menatap kedua putra kandungnya.
"Baiklah. Elvan, Gavin, jaga adik kalian baik-baik. Kalau ada perkembangan sekecil apa pun, langsung hubungi Mama atau Papa, ya?"
"Iya, Ma. Tenang aja, Gavin bakal pasang mata terus buat Kea," sahut Gavin meyakinkan, mencoba mencairkan atmosfer tegang di ruangan itu dengan senyum tipisnya.
Setelah Papa dan Mama melangkah keluar dan pintu VVIP tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan.
Gavin yang tidak bisa diam dalam keheningan akhirnya meraih ponsel dari saku celananya. Ia membuka aplikasi kamera, menggesernya ke mode video, lalu memposisikan kamera depan agar bisa menangkap wajahnya sekaligus sosok Keana yang masih terbaring damai di latar belakang.
Gavin berdeham pelan, mencoba memasang wajah paling menyedihkan yang ia bisa, walau kenyataan memang seperti itu.
"Halo, Kea. Ini kakak mu yang paling ganteng sejagat raya," bisik Gavin ke arah kamera dengan volume suara yang dijaga agar tidak mengganggu.
"Kakak rekam video ini sebagai bukti otentik di hadapan hukum kalau kamh sudah menelantarkan kakak mu sendirian di rumah."
Gavin mengarahkan kamera sedikit lebih dekat ke wajah Keana yang tertutup masker oksigen, lalu kembali mengarahkannya ke dirinya sendiri. Ia memanyunkan bibirnya dengan gaya dramatis.
"Kamu lihat kan, Kea? Di kanan gue ada Bang El yang mukanya datar kayak papan gilasan, serem banget, gak bisa diajak gibah. Aku kesepian. Biasanya ada kamu yang menemaniku gibahin bang El " cerocos Gavin, mulai berceloteh panjang lebar menceritakan betapa merana hidupnya tanpa sang adik.
"Jadi, Tuan Putri Keana, cepat bangun ya. Obat tidurnya buruan diusir dari kepala mu. Kalau kamu bangun sekarang, kakak janji deh beliin kamu es krim sama es boba banyak-banyak selama... hmm, seminggu! Eh, tiga hari deh, seminggu kelamaan," tawar
Gavin tanpa dosa, masih sempat-sempatnya menego janji di tengah video.
Gavin menghela napas pelan, sorot matanya melembut, menatap layar ponsel yang menampilkan wajah tidur adiknya. "Buruan bangun, Dek. Kakak kesepian banget. Jangan tidur kelamaan, ntar kamu tambah gendut karena gak gerak."
Klik.
Gavin mematikan rekaman video itu sambil tersenyum tipis. Ia menyimpan ponselnya kembali di atas meja nakas, merasa sedikit lebih lega setelah menyalurkan rasa cemasnya lewat celotehan konyol tadi.
Elvan yang sejak tadi memperhatikan kelakuan adiknya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Kelakuan lo benar-benar gak bermutu, Gav. Keana lagi sakit malah dibikin video komedi."
"Biarin sih, Bang. Nanti pas Kea bangun dan lihat video ini, dia pasti langsung sebal terus melotot ke gue. Nah, kalau dia udah bisa melotot marahin gue, berarti dia udah sembuh total," sahut Gavin santai, meski dalam hati ia terus berdoa agar harapan kecilnya itu bisa segera terwujud.
*****
Waktu berlalu begitu sunyi di dalam kamar rawat VVIP. Jarum jam berputar konstan hingga akhirnya delapan jam penuh terlewati sejak obat penenang dosis kuat itu disuntikkan ke tubuh Keana.
Tepat pukul sebelas malam, kelopak mata Keana bergerak gelisah. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke permukaan. Namun, alih-alih terbangun dengan tenang, sepasang matanya langsung terbuka lebar dengan tatapan yang kosong dan sarat akan kepanikan yang akut.
Hup!
Tanpa sepatah kata pun, Keana langsung menegakkan tubuhnya dan duduk di atas ranjang. Masker oksigen yang melekat di wajahnya terlepas begitu saja. Dengan gerakan yang linglung namun tergesa-gesa, ia menyibak selimut rumah sakit, menurunkan kakinya ke lantai, dan bersiap melangkah keluar dari ruangan. Pikirannya belum sepenuhnya sinkron dengan kenyataan di dalam kepalanya, ia masih merasa harus berlari menyelamatkan diri dari kobaran api yang membakar kantin sekolah.
Elvan yang sejak tadi tidak sedetik pun memejamkan mata langsung bergerak secepat kilat. Sebelum kaki Keana yang lemas sempat menapak dengan kokoh di lantai, Elvan sudah berdiri di depan adiknya, menahan kedua bahu Keana dengan kokoh namun lembut.
"Keana! mau ke mana!" seru Elvan tegas, menahan pergerakan tubuh adiknya yang bersikeras ingin menerobos maju.
"Lepas... lepasin! Panas... apinya besar! aku harus menyelamatkan ibu dan ayahku!" racau Keana histeris dengan suara serak. Matanya bergerak liar menatap sekeliling ruangan, tidak mengenali bahwa tempatnya berada sekarang adalah kamar rumah sakit yang aman.
Ia mulai memberontak dalam kekosongan kesadarannya, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Elvan di bahunya.
"Keana, lihat aku! Lihat wajah kakak!" Elvan sedikit menaikkan volume suaranya, mencoba menembus kabut kepanikan yang menguasai pikiran adiknya. Ia menangkup kedua pipi Keana yang terasa dingin, memaksa sepasang mata yang kosong itu untuk menatap lurus ke arah manik matanya.
"Tidak ada api di sini. Kamu aman. Ini rumah sakit, Kea. Ada aku di sini."
Gavin yang sempat tertidur di sofa langsung meloncat bangun mendengar kegaduhan itu. Jantungnya berdegup kencang melihat adiknya yang bergerak gelisah seperti orang kesurupan dalam dekapan Elvan.
"Kea! Ini aku, Gavin! kamu udah aman, Dek!" panggil Gavin panik, ikut memegangi tangan Keana yang gemetar hebat, berusaha membantu Elvan menenangkan adiknya.
yang perlahan-lahan mulai mengenali suara-suara di sekitarnya.
"N-nggak... apinya... Ibu... ayah..." cicit Keana, tubuhnya masih meronta lemah, namun tenaganya perlahan habis.
"Tenang Keana. Semuanya sudah aman. Tidak ada api di sini. Ibu dan ayahmu sudah aman, mereka kini berada di tempat yang aman dan nyaman" ucap Elvan
Pandangan Keana yang tadinya kosong mulai fokus pada wajah tegas Elvan yang berada tepat di depannya, lalu beralih pada Gavin yang memegangi tangannya dengan raut wajah luar biasa cemas.
Kabut kepanikan di kepalanya perlahan menipis, digantikan oleh kesadaran emosional yang runtuh seketika. Hawa panas dan suara gemertak api yang meracik pikirannya sejak siang tadi perlahan lenyap, menyisakan rasa lelah dan sesak yang teramat sangat di dadanya.
"Kal El... Kak Gavin..." tangis Keana akhirnya pecah. Tubuhnya yang tegang mendadak lemas, kehilangan seluruh kekuatan untuk memberontak.
Elvan segera menarik tubuh Keana ke dalam pelukannya, mendekap kepala Keana erat-erat di dadanya sambil mengusap punggung gadis itu dengan gerakan menenangkan yang jarang sekali ia tunjukkan.
"Iya, ini kakak. Kamu udah aman, Kea. Apinya sudah gak ada. Semuanya sudah selesai."
Gavin yang melihat adiknya menangis histeris langsung ikut merapatkan duduknya, menggenggam erat tangan Keana dan menciumnya berkali-kali.
"Kamj aman di sini, Dek. Ada aku, ada Bang El. Gak bakal ada yang bisa nyakitin kamjy lagi. Nangis aja, keluarin semuanya."
Di dalam dekapan Elvan, Keana menangis tergugu hingga bahunya berguncang hebat. Segala rasa takut, memori kelam masa lalu, dan rasa tidak berdaya yang menyerangnya di kantin sekolah tadi ia tumpahkan dalam bentuk air mata. Selang infus di tangannya sedikit menegang seiring dengan tangisnya yang masih sesak, namun detak jantungnya yang terpantau di monitor, meski sempat melonjak saat ia melompat bangun tadi, kini perlahan-lahan mulai bergerak turun menuju ritme yang lebih stabil.
Elvan terus membisikkan kata-kata penenang di telinga Keana, sementara matanya memberi kode pada Gavin untuk mengambilkan segelas air putih hangat di atas meja nakas. Mereka berdua membiarkan Keana melepaskan seluruh sisa trauma akutnya malam itu, berjanji dalam hati untuk menjadi benteng terdepan yang akan melindungi adik kecil mereka dari monster masa lalu yang mencoba bangkit kembali.