NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh Tiga

Aruna baru saja kembali dari panti asuhan ketika ia mendapati ada tiga orang anak lelaki juga seorang anak perempuan sedang duduk di ruang tamu. Mereka tampak seumuran dengan Antares atau mungkin lebih tua. Ia tak tahu siapa mereka dan tamu siapa karena Aruna tidak perduli. Anak itu hendak berjalan masuk ke dalam sebelum salah satu dari mereka menegurnya.

"Oh, apa kau Aruna?" tanya seorang anak lelaki di antara mereka.

"Ya, lalu?"

Anak lelaki itu jadi kikuk karena respon Aruna yang terlampau dingin dan tidak tertarik untuk mengobrol.

"Kami teman Antares," ucapnya lagi.

Aruna mengangguk saja masih dengan raut wajah yang sama, "Oke," jawabnya dan akan pergi sebelum lagi-lagi salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan yang sedikit kelewatan mungkin. Kali ini teman mereka yang perempuan dengan rambut sepundak juga pakaian one piece yang membungkus tubuhnya.

Apa dia mau berkencan?

"Kau benar-benar di adopsi?"

"Hei, kenapa bertanya begitu, Rahel? Itu tidak baik," tegur teman lelakinya yang lain.

Perempuan yang di panggil Rahel itu hanya menatap malas tahu, ia justru tersenyum polos seolah pertanyaannya bukan sesuatu yang mengganggu atau menyinggung.

"Aku hanya bertanya. Kalian pasti mendengar rumor yang beredar, kan? Aku yakin kalian juga penasaran. Akui saja," ucap Rahel.

Teman-temannya yang lain saling melirik satu sama lain dan berdehem pelan, seolah mengatakan bahwa apa yang Rahel katakan itu benar. Mereka memang penasaran dengan rumor yang beredar tentang Aruna yang katanya di adopsi entah dari mana. Meski Elvio sudah membantah dan mengatakan Aruna merupakan anak dari kerabat jauhnya yang telah meninggal, rumor itu terus saja beredar karena masih ada yang tidak percaya.

"Lalu kenapa?" Aruna bertanya balik tanpa rasa takut atau bahkan gentar di wajahnya. Mereka sampai takjub karena tak menyangka anak itu akan terlihat begitu berani menghadapi pertanyaan semacam ini.

"Ada rumor yang beredar bahwa kau dari panti asuhan. Benar?" tanya Rahel lagi.

"Kenapa ingin tahu?"

"Ha?" Rahel tergagu karena tak menyangka Aruna akan berbalik bertanya begitu tanpa merasa tertekan. Anak itu berdehem pelan, "Hanya ingin tahu," jawabnya.

"Untuk apa?" tanya Aruna lagi.

Melihat respon Aruna yang nampak tak ingin menjawab malah membuat Rahel kesal. Apalagi cara Aruna menjawab seperti tanpa rasa takut padanya padahal dirinya lebih tua dari anak itu. Raut wajah Aruna yang terlampau datar membuat Rahel semakin kesal.

"Apa maksudmu untuk apa? Tentu saja kami ingin tahu karena kau adik Antares."

Sebelah alis Aruna naik, "Itu tidak menjawab pertanyaanku. Jadi aku tak harus menjawab pertanyaanmu."

"Kenapa kau—"

"Darimana pun aku berasal, aku rasa itu bukan urusan kalian. Tidak akan merubah fakta bahwa aku sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Kalian hanya ingin memuaskan ego kalian sendiri dengan mencari tahu masa lalu seseorang lalu menjadikannya bahan gosip. Tidakkah itu kekanakkan?"

Mendengar ucapan Aruna membuat Rahel menjadi marah, ia berdiri dan akan menghampiri Aruna sebelum tangannya di tahan cepat oleh lainnya.

"Rahel, hentikan. Dia hanya anak kecil," bujuk temannya.

Tak di sangka Aruna malah terkekeh pelan lalu menatap mereka remeh, "Dan kalian pikir kalian sudah dewasa?"

"Aruna, kurasa kau mulai tidak sopan. Biar bagaimana pun kami teman kakakmu, seharusnya kau berlaku lebih sopan," tegur anak lainnya berusaha untuk bersikap lebih bijak.

"Bukankah kalian yang lebih dulu berlaku tidak sopan dengan bertanya macam-macam padaku?"

Mereka terkejut mendengar balasan ucapan anak itu. Apa yang Aruna ucapkan memang benar, pihak mereka yang lebih dulu mengganggunya dengan menanyakan pertanyaan seperti itu. Tapi ego mereka tetap tidak terima karena merasa begitu terpojok oleh anak yang lebih muda, terlebih lagi anak itu bukan anak kandung Tuan Adijaya.

"Kami hanya—"

"Oh! Aruna! Kau sudah pulang?" suara Antares terdengar semangat. Anak itu berjalan sembari membawa laptop di tangannya juga beberapa buku. Sepertinya mereka akan belajar bersama.

Aruna tersenyum, merubah ekspresinya yang tadinya berwajah datar, "Baru saja, kak."

Antares semakin tersenyum lebar, ia meletakkan barang-barang yang di bawanya di atas meja lalu mengangkat Aruna ke dalam gendongan. Entah sejak kapan bukan hanya Elvio saja yang senang menggendongnya tapi juga ketiga saudaranya.

Bahkan Antares yang paling senang menggendongnya ketika melihat dirinya. Menurutnya tubuh Aruna terlampau ringan dan mungil untuk anak berusia 10 tahun, jadi ia betah menggendong anak itu lama-lama. Aruna sendiri sudah hampir terbiasa meski kadang masih kaget jika mereka melakukannya tiba-tiba begini.

"Kau masih ringan padahal Ayah bilang makanmu banyak," protes Antares.

"Mereka tidak bohong," jawab Aruna.

Antares mendengus dan melihat ke arah teman-temannya yang nampak kaget melihat interaksi dirinya bersama dengan Aruna.

"Oh, kau sudah bertemu dengan teman-temanku?"

"Ya," jawab Aruna sembari melirik mereka sejenak.

"Kalian sudah berkenalan?" tanya Antares semangat. Ia mendekati teman-temannya masih dengan Aruna di gendongannya.

"Entah. Saat aku tiba mereka langsung bertanya asal usulku. Jika itu termasuk berkenalan berarti iya, sudah," jawab Aruna lugas.

Hal itu membuat ke-empat anak tersebut langsung terdiam kaku tak berani menatap Antares. Sementara senyuman Antares tadi yang nampak begitu lebar dan berseri-seri langsung menghilang di gantikan raut wajah dingin. Seketika suasana berubah drastis ketimbang tadi.

"Apa maksudnya itu?" tanya Antares sembari melihat ke arah teman-temannya yang tidak berani menatap dirinya.

"Tentang rumor—"

"Ka-kami tidak bermaksud begitu! Kami hanya—" ucapan anak itu terhenti ketika Antares menatapnya tajam. Seolah memberinya peringatan untuk diam dan tidak mengatakan apa pun sampai ia yang menyuruh. Kemudian Antares melihat ke arah Aruna yang masih berada di gendongannya.

"Lanjutkan, Aruna. Rumor apa yang kau maksud?"

"Apa kakak tahu ada rumor yang beredar tentangku di luar sana?"

Tanpa sadar rahang Antares mengeras tapi ia berusaha mengontrol emosinya, ia tahu rumor apa yang di maksud oleh Aruna. Antares tak menyangka akan di dengar juga oleh anak itu meski mereka sudah berusaha menghapus rumor tersebut.

"Oh, ya? Katakan, apa yang mereka ucapkan padamu," ucapnya.

"Kakak perempuan itu bertanya apakah rumor aku berasal dari panti asuhan itu benar atau tidak," jawabnya sambil menunjuk Rahel. Ia bahkan bisa melihat seluruh tubuh gadis itu menegang kaku dengan wajah pucat pasi.

Ketakutan, he?

Padahal tadi terlihat begitu percaya diri di hadapannya bahkan terkesan angkuh. Lalu kenapa terdiam seperti orang bodoh di hadapan Antares?

"Lalu apa yang kau jawab?"

"Aku bilang dari manapun asal usulku itu bukan urusan mereka karena tidak akan merubah fakta bahwa aku sudah menjadi bagian dari keluarga ini," katanya lalu mengerutkan keningnya seolah merasa cemas, "Umm..Apa aku mengatakan sesuatu yang salah, kak?"

Antares tersenyum lembut, ia menurunkan tubuh kecil Aruna dan tetap menyamakan tinggi mereka.

"Tidak. Kau menjawab dengan tepat. Mereka yang salah karena berani menanyakan hal tidak bermoral itu pada anak berusia 10 tahun sepertimu, Aruna. Kau adalah bagian dari keluarga Adijaya, menghinamu sama saja seperti menghina seluruh keluarga ini dan itu tak dapat di maafkan sama sekali," tegasnya sembari melirik ke arah teman-temannya terutama Rahel. Setelah mendengar ucapan itu, Rahel berdiri lalu mendekat ke arah mereka dan berlutut di hadapan Antares juga Aruna.

Antares berdiri sembari kembali menggendong tubuh kecil Aruna hingga anak itu harus menunduk untuk melihat Rahel.

"Ma-maaf! Maafkan aku! A-aku benar-benar tidak bermaksud apapun pada adikmu. Aku lancang! Maafkan aku! Aku takkan melakukannya lagi. A-aku mohon!" ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis meski kenyataannya air mata sudah meluncur di wajah gadis itu.

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!