Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkelahian Gabungan
Rio dan Jinsin sedang melawan para lelaki hebat. Mereka adalah kelompok Geri bersama empat orang yang suka mengambil barang dengan korban wanita di gang sempit dan sunyi. Kemudian ada dua kelompok lain bernama Kelompok bernama kelompok Somo dan Mozi. Kelompok Somo suka bertarung dengan tanpa baju. Dan kelompok Mozi suka memeras kedai dengan minum gratis dan membuat kacau pasar.
Lalu Jinsin menarik kepala pria besar itu dan melemparnya ke lantai kedai. Jinsin mengangkat tubuh pria besar lainnya ke atas. Rio dan orang lainnya melihat dengan melongo. Lalu Jinsin melempar tubuh pria tanpa baju itu ke kerumunan para lelaki itu.
Duaaa..." suara hebat di dalam kedai terdengar keras mengenai meja kursi dan tubuh ke empat lelaki kuat tertimpa tubuh di lempar Jinsin.
"Hebat kau Jinsin. Seperti.." ucap Rio di potong Jinsin.
"Seperti apa!" teriak Jinsin marah ke Rio. Lalu Jinsin mendatangi Geri, Somo dan Mozi di meja pembuat minum kedai. Jinsin menarik tubuh ke atas dengan kedua tangan. Lalu Mozi diam melihat keduanya di angkat Jinsin dengan wajah marah.
"Hei hei hei kau mau apa?" ucap Geri panik.
"Kau dalangnya ya?" ucap Jinsin marah.
"Lepaskan tolong" ucap Somo. Rio melihat Jinsin marah kepada mereka berdiri di atas meja. Lalu beberapa orang lain masih berdiri di sekitar Rio.
"Kalau kalian ingin bertarung, jangan disini. Di luar!" teriak Jinsin. Seketika wajah mereka bertiga kaget mendengar teriakan Jinsin. Lalu Mozi hendak ingin memukul Jinsin tepat berdiri di depan tubuhnya. Namun dengan sadar, Jinsin menendang tubuh Mozi pakai kaki dengan keras sampai Mozi kesakitan memegang perut sampai terduduk di depan Jinsin berdiri.
"Liat itu, ketua kalian sudah bersujud. Kalian lakukan sekarang!" teriak Rio kepada beberapa orang masih berdiri melihat mereka. Para lelaki hebat dari berbagai kelompok, terdiam meneguk ludah, wajah panik melihat kehebatan Jinsin sudah mengalahkan ketuanya.
"Bagaimana ini." ucap Rewo kepada anggota Mozi dan Somo.
"Ayo, menyerahlah kalian." ucap Rio santai.
"Kalau kalian masih ingin bertarung dengan mengirim surat ke kami berdua atau saya. Akan ku buat kalian jadi bakpao, mau!" teriak Jinsin wajah marah sambil mengangkat mereka berdua. Lalu Rio turun dari meja, berjalan ke arah Jinsin dan memegang pundaknya.
"Sudah, Jinsin hentikan." ucap Rio wajah kasihan.
"Tapi Rio, liat ulah mereka, sudah buat kedai jadi rusak dan pemilik kedai ini jadi takut.
"Kita akan suruh mereka bereskan dan memperbaikinya." ucap Rio santai.
"Duug!" Jinsin melepaskan tarikan tubuh mereka sampai terjedut ke lantai Geri dan Somo.
Mereka berdua kesakitan begitu juga Mozi, Jinsin menyuruh Rio duduk di kursi. Lalu Rio berdiri menyuruh para lelaki hebat untuk untuk membersihkan tempat ini. Jinsin duduk tampak kesal karena tujuan mereka ke sini bukan untuk bertarung sambil menepuk meja dengan tangan kirinya.
Rio melihat Jinsin cukup kaget, walau begitu Rio tetap sibuk memantau para lelaki itu. Mereka ada yang mengangkat meja rusak, kursi rusak dan menyapu kotoran lantai. Yang tidak bisa bangkit juga di baringkan di pinggir kedai.
Lalu Rio memberikan minum ke Jinsin, dan meletakkan di tangannya dan di minumkan ke mulut dengan wajah Rio penuh senyuman. Jinsin melihat Rio kesal, tapi Rio tetap tenang menatap matanya.
"Kau mau pulang, mereka telah selesai membersihkan kedai ini." ucap Rio jongkok di depan kursi Jinsin memegang tangan kanan Jinsin.
"Gimana dengan pemilik kedainya?" tanya Jinsin.
"Pak, pak sini." ucap Rio memanggil.
"Ya, tuan." ucap pria pemilik kedai pakai topi dan celemek berdiri di depan duduk Jinsin.
"Pak, ulah kami berdua sudah buat rusak kedai anda. Tapi kami akan ganti ini." ucap Jinsin melihat wajah panik.
"Tidak perlu, nona. Karena meja dan kursi sedang dipm perbaiki mereka diluar." ucap pemilik kedai.
"Jinsin, kau tidak perlu pikirkan itu. Ayo kita pulang." ucap Rio menarik tangan kanan.
Setelah Jinsin mendengar pernyataan pemilik kedai. Jinsin melihat dan memastikan semuanya sudah berjalan aman. Lalu Jinsin sudah mendengar ucapan mereka semua termasuk Rio meyakinkan Jinsin terhadap identitasnya masih disembunyikan oleh para petarung pemula Desa Swon. Jinsin pergi dari kedai bersama Rio melihat suasana desa di malam hari yang tidak terlalu ramai Mereka masuk ke sebuah tempat makan yang cukup ramai.
"Ayo makan." ucap Rio mengajak Jinsin sedang menghentikan langkahnya melihat tempat makan ramai.
Mereka duduk di tempat terbuka menikmati angin malam dingin dengan suasana ramai orang makan. Lalu pelayan makan datang. Jinsin mengambil buku menu. Rio melihat Jinsin tersenyum di depannya. Jinsin merasa salah tingkah sampai menutup wajahnya pakai buku menu makan.
"Kau kenapa, Rio." tanya Jinsin.
"Kau cantik." ucap Rio.
"Kau tampan, Rio." ucap Jinsin.
"Hah." Rio kaget mendengar ucapan Jinsin sampai dia menoleh ke meja.
Tidak lama pesanan datang, beberapa menu di pilih Jinsin seperti cumi goreng, udang goreng besar, nasi dan minuman dingin. Lalu Jinsin melahap itu dengan nikmat. Rio melongo melihat Jinsin melahap makanan itu seperti lelaki.
"Ini wanita, ternyata begini kalau habis marah. Langsung makan enak." ucap Rio bisik kecil.
Lalu Jinsin melahap udang goreng besar itu pakai tangan dengan lahap dan nikmat. Rio tetap melongo lagi melihat Jinsin namun sebentar, makan dengan perlahan. Setelah selesai makan ada seorang wanita sedang mengantar pesanan. Tidak sengaja menjatuhkan makanan itu di baju Rio dan wajah wanita itu menyentuh dada Rio.
"Pluuuurr...." Rio sedang minum, kaget dan menyemburkan air di mulutnya itu ke tubuh pelayan wanita yang terjatuh di pelukan Rio.
Rio bereaksi dan segera membersihkan bajunya dengan handuk di bawanya. Pelayan wanita itu juga meminta maaf dan membersihkan bagian baju di dada Rio pakai serbet di bawanya. Mereka berdua tampak tersenyum saling membersihkan di depan Jinsin.
"Hei, wanita genit, jangan sok genit membersihkan tubuh dia. Sebaiknya kau membereskan yang tumpah itu di lantai."
Jinsin bangkit dari duduknya dan menarik rambut pelayan wanita yang di ikat itu ke wajah Jinsin. Lalu dia berbicara dengan tatapan mata marah. Pelayan wanita itu kesakitan dan meminta ampun kepada Jinsin. Rio bangkit dan menyuruh Jinsin melepas pelayan wanita itu. Suasana tempat makan yang ramai berubah menjadi banyak yang melihat pertengkaran mereka.
"Sudah Jinsin dia kan tidak sengaja." ucap Rio memegang Jinsin.
"Oh.. kau lebih bela dia daripada aku." ucap Jinsin mata melotot dan alis mata tinggi.
"Bukan begitu juga Jinsin." ucap Rio wajah panik bingung jawab apa.
Tolong mbak sakit." ucap pelayan wanita rambut di tarik Jinsin.
"Kalau kau mau ku lempar ke kolam ikan di dekat sini gimana, mau?" ucap Jinsin berada di level marah cemburu."