Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Ayam Liar
"Pergi sekarang! Kau harus mencari ayam liar di pegunungan. Kau tidak melihat ayahmu sedang sakit parah seperti ini? Kau hanya sibuk duduk melamun di dapur!"
Suara melengking itu memecah keheningan pagi di dalam rumah gubuk yang sempit. Vina yang sedang berlutut di depan tungku tanah liat, tersentak. Tangannya yang memegang centong kayu terhenti di udara. Ia menoleh menatap wanita paruh baya yang kini berkacak pinggang dengan wajah masai memerah.
"Tante Nisa, aku sedang memasak bubur untuk ayah dan—"
"Kau ini jadi anak gak pernah nurut banget!" potong Nisa cepat, tidak memberi celah sedikit pun bagi Vina untuk membela diri. Napas wanita itu memburu, matanya melotot tajam. "Banyak alasan saja kerjaanmu!"
Dari sudut ruangan, seorang gadis muda berkulit bersih melangkah mendekat. Ia adalah Mila, adik tiri Vina. Alih-alih meredakan ketegangan, Mila justru melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya.
"Vina, pergi sajalah. Itu ayahmu sedang sakit sakitan. Aku gak mau urusin dia kalau sampai kelaparan," cibir Mila ketus.
Nisa mendengus kasar. Tanpa belas kasihan, ia menyambar sebuah tas keranjang rajut dari sudut dapur dan melemparkannya tepat ke depan kaki Vina. Bunyi berderak kasar dari rotan tua itu menggema di lantai tanah.
"Cepat pergi naik ke gunung! Sebelum langit menjadi gelap dan kau hanya akan menyusahkan orang satu kampung ini untuk mencari keberadaanmu!" ancam Nisa lagi, mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.
Vina menatap tas keranjang di bawahnya, lalu beralih menatap pintu kamar ayahnya yang tertutup rapat. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. Namun, ia tahu berdebat dengan ibu tirinya hanya akan membuang tenaga dan memicu keributan yang bisa memperburuk kondisi sang ayah yang tengah terbaring lemah.
Tanpa banyak omong lagi, Vina mematikan bara api di tungku tanah liat itu. Ia bangkit, mengibas debu yang menempel pada rok lusuhnya, lalu memungut tas rajut tersebut untuk disampirkan ke pundak. Dengan langkah gontai namun tegap, ia segera berjalan keluar dari rumah gubuk tua yang terasa semakin mencekik itu.
Di ambang pintu, Nisa dan Mila berdiri berdampingan, mengawasi punggung Vina yang perlahan menjauh menembus semak-semak halaman. Begitu jarak Vina dirasa sudah cukup jauh, Mila menyenggol lengan ibunya dengan raut wajah penasaran.
"Bu, apakah ibu jadi melakukan rencana perjodohan itu?" bisik Mila, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
Nisa menoleh, senyum licik mendadak merekah di wajahnya yang keriput. "Tentu saja jadi. Selama si anak sialan itu keluar dan berada di atas gunung, begitu lamaran dari juragan itu datang, akan langsung Ibu terima di tempat."
Mila sempat terdiam sejenak, matanya melirik ke dalam rumah. "Tapi, Bu... bagaimana dengan ayah? Kalau dia tahu Vina dijual—"
"Tidak usah memedulikan orang tua yang sudah hampir mati itu!" potong Nisa dengan nada berbisik namun penuh penekanan. Ia mengibaskan tangan dengan acuh. "Di rumah ini, segala urusan dan keputusan ada di tangan Ibu. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa."
••••••••••
Sementara itu, di kaki gunung perbatasan, Vina terus melangkah mendaki jalur setapak yang terjal. Udara dingin pegunungan mulai menusuk pori-pori kulitnya yang hanya dibalut baju lengan panjang tipis. Pikirannya berkecamuk. Ia harus menemukan ayam liar demi membuatkan sup hangat yang bergizi untuk ayahnya.
Namun, takdir tampaknya sedang tidak berpihak padanya hari ini. Sudah berjam-jam ia berjalan menembus hutan, tetapi hewan buruan itu tak kunjung menampakkan diri. Sambil terus melangkah dengan napas yang mulai terengah-engah, Vina memicingkan mata, meNisah tanaman di tanah. Ia akhirnya memetik beberapa jamur hutan yang aman dikonsumsi serta mencabut beberapa tanaman herbal yang sekiranya bisa ia jual kembali ke pasar desa esok hari.
Tiba-tiba, suasana hutan berubah drastis. Langit yang semula cerah perlahan meremang, digantikan oleh gumpalan awan hitam yang pekat. Angin dingin berembus lebih kencang, membawa aroma tanah basah yang pekat.
"Mungkin aku harus kembali ke rumah tanpa membawa ayam untuk ayah," gumam Vina sendiri dengan nada sarat penyesalan. Ia menghentikan langkahnya, memilih duduk di antara batu besar dan pepohonan rindang untuk mengistirahatkan kakinya yang mulai pegal.
Ia menurunkan keranjang rotannya, memeriksa isinya dengan sisa-sisa binar harapan di matanya.
"Tapi kalau tidak ada ayam, nanti ayah mau makan apa?"
Vina menghela napas panjang, menatap dedaunan dan beberapa butir jamur di dalam sana. "Ini memang bisa ditukar jadi ayam di pasar esok hari. Cuma... ayamnya pasti kecil. Terus untuk stok makanan besok lusa sudah tidak ada lagi. Tapi tidak apa-apa, yang penting sekarang ayah bisa makan sehat dulu."
Bertekad tidak ingin menyerah begitu saja, Vina kembali berdiri. Ia menyandang tas rajut yang kini mulai terasa berat karena beban tanaman herbal di dalamnya. Baru saja ia menggeser kakinya untuk melangkah turun, sebuah suara gesekan kasar terdengar dari balik semak-semak belukar yang cukup lebat di dekatnya.
Srek! Srek!
Telinga Vina langsung menegang. Ia menahan napas, matanya berbinar seketika. "Eh? Apakah itu ayam liar? Aku harus memburunya sebelum hewan itu kabur!"
Membayangkan sup ayam hangat untuk ayahnya, Vina mempercepat langkah tanpa rasa takut sedikit pun. Ia menerobos ranting-ranting rendah, menuju asal suara di balik semak tebal. Namun, begitu menyibak dedaunan besar di depannya, jantung Vina seolah berhenti berdetak.
Bukan seekor ayam liar yang ia temukan.
Di atas tanah berbatu, tergeletak seorang pria dewasa dengan seragam militer hijau tua yang tampak gagah namun kini terkoyak. Wajah pria itu pucat pasi, peluh dingin membanjiri pelipisnya. Yang mengerikan, kaki kanan perwira itu terjerat dalam rahang perangkap besi hewan liar milik pemburu ilegal—menembus bot kulitnya hingga darah segar mengalir menggenangi tanah. Tidak hanya itu, di bagian perutnya terdapat robekan kain yang memperlihatkan luka tusukan yang cukup dalam, masih merembeskan darah merah pekat.
Pria itu tampak tidak sadarkan diri, napasnya naik-turun dengan sangat tipis.
"A-apa ini...?" Vina memekik tertahan. Rasa terkejut yang luar biasa membuat lututnya mendadak lemas. Ia terjatuh terduduk, melepaskan cengkeramannya pada tas keranjang hingga seluruh jamur dan tanaman herbal hasil tangkapannya tumpah berserakan di atas tanah.
Napas Vina memburu, diliputi kepanikan yang hebat. Matanya bergerak liar ke segala arah, mencari sesuatu untuk melindungi diri. Insting pertahanannya muncul saat jemarinya menyentuh sebatang ranting kayu berukuran sedang di dekat kakinya.
Dengan tangan gemetar, Vina mengambil ranting itu dan merangkak maju. Ia mengarahkan ujung ranting ke arah tubuh pria berseragam militer yang tak bergerak tersebut, menyodok bahunya pelan.
"Tuan... Tuan... Anda bisa mendengarku?" panggil Vina dengan suara bergetar, namun ia tidak menemukan jawaban sama sekali. Pria itu tetap bergeming dengan mata terpejam rapat.
Vina menarik kembali rantingnya, menutup mulut dengan telapak tangan yang gemetar. Pikiran buruk langsung memenuhi kepalanya. "Apa dia sudah mati? Dan aku satu-satunya orang yang menemukannya di sini. Demi Tuhan, aku yang akan menjadi tersangka pembunuhan setelah ini kalau ada patroli yang lewat!"
Meskipun disergap rasa takut yang luar biasa, rasa kemanusiaan di dalam diri Vina jauh lebih besar. Ia memberanikan diri untuk merangkak lebih dekat, memandangi wajah pria itu dengan saksama di bawah temaramnya langit hutan yang kian menggelap.
Kerutan samar muncul di dahi Vina. "Wajahnya... wajahnya sangat tidak asing. Seperti aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi di mana, ya? Atau aku hanya salah ingat?"
Vina menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa penasaran yang tidak tepat waktu itu. Matanya beralih ke bagian perut sang perwira. Di baju hijau militernya, bercak darah sudah menyebar sangat luas dan basah. Jika dibiarkan beberapa menit lagi, pria ini pasti akan mati kehabisan darah.
Tanpa memedulikan rasa jijik atau takut lagi, Vina membuang ranting kayunya. Ia maju selangkah, lalu menekan kedua telapak tangannya kuat-kuat ke atas luka di perut lelaki itu dengan niat tulus untuk menghentikan pendarahan yang terus terjadi.
Klik.
Suara dingin dari besi yang ditarik mendadak memotong keheningan.
Karena terlalu fokus pada luka robek di perut lelaki itu, Vina sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata elang milik sang perwira telah terbuka sejak beberapa detik yang lalu. Pria itu, dengan sisa tenaga yang luar biasa mengintimidasi, telah mengangkat sebelah tangannya dan menodongkan moncong pistol hitam pekat tepat di belakang kepala Vina. Tatapannya sedingin es, menusuk langsung ke relung jiwa Vina.
"Apa... yang... sedang kau... lakukan?" tanya lelaki itu dengan suara bariton yang serak, terengah, namun sarat akan ancaman mematikan.