"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Begitu bel tanda waktu habis berbunyi, Pak Broto mengumpulkan lembar jawaban tanpa kompromi. Begitu beliau melangkah keluar pintu kelas, keheningan yang mencekik tadi langsung pecah menjadi gemuruh keluh kesah dan teriakan frustrasi.
"Aaaarrghhh! Nomor lima itu maksudnya apa coba?! Kenapa hasilnya malah minus pecahan?!" Rania langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja, meratapi nasib kertas jawabannya.
"Masih mending pecahan, Ran. Aku malah ketemu hasilnya akar ratusan. Mustahil banget!" sahut salah satu cowok dari barisan belakang sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Di sisi lain, Siti hanya bisa mengembuskan napas lega yang panjang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Setidaknya penderitaan minggu ini sudah selesai. Mau benar atau salah, yang penting otakku nggak meledak."
Dalam sekejap, beberapa anak perempuan dari baris depan dan samping langsung berhamburan menghampiri mejaku, membuat tempat dudukku mendadak ramai.
"Luna! Kamu nomor lima jawabannya berapa? Dua puluh lima bukan, sih?" tanya siska, sekretaris kelas, dengan tatapan penuh harap seolah akulah satu-satunya kunci jawaban berjalan yang bisa menyelamatkan ketenangannya.
"Iya, Lun, pliss bilang kalau jawabanmu dua puluh lima. Aku butuh ketenangan jiwa," timpal yang lain ikut menimpung.
Aku tersenyum tipis, mencoba menenangkan kepanikan mereka. "Iya, aku ketemu dua puluh lima kok. Kan rumusnya tinggal disederhanakan dulu di awal."
"Yesss!" Siska langsung bersorak kegirangan, sementara beberapa anak di belakangnya mendesah pasrah karena jawaban mereka berbeda.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan rumus itu, Rania mendadak menegakkan tubuhnya. Matanya yang tadinya layu langsung berbinar jenaka. Energi lamanya telah kembali.
"Guys, guys! Stop bahas matematika, bikin pusing!" seru Rania sambil menggebrak meja pelan, mengalihkan perhatian anak-anak yang berkerumun. "Ujian kelar, otak segar! Mending sekarang kita bikin rencana buat healing. Gimana?"
"Setuju banget! Otakku butuh asupan selain angka," sahut Siti yang mulai tertarik.
Beberapa anak mulai melemparkan usul. Ada yang ingin maraton film di bioskop, ada yang sekadar ingin jajan bakso di depan sekolah sampai kenyang, hingga akhirnya salah satu teman sekelas kami, fanya, memberikan usul yang paling menarik perhatian.
"Eh, gimana kalau kita pergi ke pantai sabtu besok? Mumpung cuaca lagi bagus belakangan ini. Kita bisa sewa angkot atau naik TransJakarta yang rutenya ke arah pesisir, terus piknik di sana sampai matahari terbenam. Seru banget pasti!"
"Wah, pantai?! Boleh banget itu!" Rania langsung menoleh menatapku dengan tatapan memohon yang dibuat-buat. "Luna, kamu harus ikut, ya? Pokoknya wajib! Nggak ada penolakan untuk peringkat satu kita!"
Mendengar kata 'pantai' dan 'kendaraan umum', ada secercah sengatan kecil yang menggelitik memori traumaku. Namun, melihat senyuman lebar Rania dan binar antusias dari teman-teman yang mengerumuniku, rasa takut itu perlahan meredup. Inilah hidup yang kuinginkan. Hidup yang penuh warna karena cinta dan pertemanan, bukan lagi kesendirian yang dingin.
"Boleh," jawabku sambil tersenyum manis. "Aku ikut."
"Asiiik! Fix ya, sabtu ini kita ke pantai!" sorak Rania gembira, yang langsung disambut riuh oleh teman-teman lainnya untuk mulai menyusun rencana perjalanan kami.
Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Langit di atas Jakarta begitu cerah, menyuguhkan warna biru bersih tanpa gumpalan awan mendung—seolah alam semesta sedang mendukung rencana piknik kelas kami.
Titik kumpul kami berada di halte TransJakarta dekat sekolah. Begitu aku sampai dengan mengenakan sundress kasual berwarna putih tulang dan topi jerami kecil, suasana sudah sangat ramai. Semua orang tampak begitu bersemangat, melepas penat setelah dihantam ujian matematika Pak Broto.
Namun, ada atmosfer yang sedikit berbeda hari ini. Terutama dari barisan para cowok.
Mereka yang biasanya ke sekolah dengan seragam kusut dan rambut berantakan, hari ini mendadak tampil rapi dengan kemeja flanel, kaos trendi, dan wewangian yang cukup menyengat hidung. Pandangan mereka tidak lepas dari rombongan para cewek yang memang terlihat jauh lebih segar dan cantik tanpa kekangan seragam sekolah.
"Luna! Sini!" panggil Rania heboh sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Dia memakai kaos garis-garis dengan celana kodok yang membuatnya terlihat makin imut. Di sampingnya, Siti tersenyum manis dengan balutan hijab pasmina berwarna pastel.
Aku melangkah menghampiri mereka. Begitu aku mendekat, aku sempat menangkap beberapa anak cowok berbisik-bisik di belakang kerumunan sambil curi-curi pandang ke arahku. Wajah mereka mendadak salah tingkah saat aku tidak sengaja menoleh.
Sambil menunggu bus TransJakarta kami datang, gosip-gosip kecil mulai berterbangan di antara deru angin jalanan. Rania, dengan radar informasinya yang selalu tajam, langsung mendekatkan wajahnya ke telingaku dan Siti.
"Eh, kalian tahu nggak?" bisik Rania dengan mata membulat misterius. "Aku denger bocoran dari anak kelas sebelah. Katanya, di pantai nanti bakal ada event pengakuan cinta! Ada yang udah nyiapin mental buat nembak hari ini."
"Oh ya? Siapa?" tanya Siti, sedikit penasaran.
"Nah, itu dia yang aku belum tahu. Mereka rahasia-rahasiaan banget," Rania cemberut, lalu menyenggol lenganku jahil. "Tapi ya, Lun... kalau aku perhatiin dari tadi pagi, kayaknya target utamanya itu kamu deh."
"Aku?" Aku mengerutkan kening, bingung.
Siti mengangguk setuju, membenarkan letak kacamatanya. "Rania nggak salah, Lun. Tadi pas kamu baru dateng, aku denger sendiri gerombolan cowok di pojok sana lagi bikin strategi. Si Doni sama beberapa temennya bahkan taruhan, siapa yang bisa bikin Luna si juara paralel jatuh cinta hari ini."
Aku hanya bisa mengulas senyum tipis, agak canggung namun geli mendengarnya. Mereka tidak tahu saja, di balik penampilan 'gadis cantik dan pintar' yang mereka kagumi ini, ada jiwa yang sudah mati rasa karena berkali-kali mencicipi kematian maut. Membuatku jatuh cinta bukanlah perkara mudah dengan kutukan yang terus mengintai di belakang punggungku.
BZZZZT.
Pintu dermaga halte terbuka seiring dengan merapatnya bus TransJakarta gandeng di depan kami. Klakson bus berbunyi pendek.
"Yuk, bisnya udah sampai! Jangan sampai nggak dapet tempat duduk!" seru ketua kelas memimpin rombongan.
Semua orang dengan cepat merangsek masuk ke dalam bus, berebut lorong dan kursi kosong. Beruntung, aku berhasil mendapatkan tempat duduk di dekat jendela—tempat paling ideal untuk mengalihkan pikiran dengan melihat pemandangan kota yang bergerak mundur.
Namun, pemandangan di luar kaca tidak cukup kuat untuk meredam gemuruh di dalam dadaku.
“Ada apa, Luna?” Rania yang duduk di sampingku mendadak menggenggam jemariku. “Tanganmu gemetaran, lho.”
Aku menurunkan pandangan, menatap kedua tanganku sendiri yang berada di atas pangkuan. Rania benar. Telapak tanganku dingin dan bergetar halus. Ketakutanku akan kendaraan umum ternyata belum sepenuhnya jinak, dan diperparah oleh destinasi yang akan kami datangi hari ini: pantai.
Ingatan maut tentang kematian akibat tenggelam yang pernah kualami di lini kehidupan sebelumnya—saat aku pergi bersama ayah dan ibu—masih menyisakan trauma yang teramat pekat. Sensasi air asin yang menyumbat paru-paru dan rasa sesak yang merenggut nyawa itu mendadak terasa begitu nyata.
“Ah—hmm… sebenarnya, aku tidak bisa berenang. Jadi aku agak takut akan ditertawakan kalian nantinya,” bisikku dengan wajah memerah, berpura-pura malu. Setidaknya, alasan itu masih mengandung secuil kejujuran tentang rasa takutku pada air dalam.
“Apa? Seriusan? Ternyata ada juga ya hal yang nggak bisa kamu lakuin,” balas Rania, ikut berbisik dengan raut wajah kaget yang kentara.
Aku memaksakan seulas senyum tipis. “Yah, aku ini kan masih manusia biasa, Ran.”
“Pantesan kamu kelihatan agak ragu waktu kita bahas rencana ini kemarin,” timpal Siti yang duduk di sebelah Rania, ikut mencondongkan tubuhnya ke arah kami.
“Benarkah? Kamu nggak lagi memaksakan diri, kan, Lun?” ucap Rania, kini matanya memancarkan rasa bersalah karena telah memaksaku ikut.
“Tidak, tidak, tenang saja. Ini justru kesempatan yang bagus buatku untuk mulai belajar berenang sedikit-sedikit. Lagipula... aku benar-benar ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan kalian berdua.”
Mendengar penuturanku, sepasang mata Rania dan Siti seketika melunak. Mereka terlihat begitu tersentuh oleh ucapan tulusku.
“Tenang saja, Lun! Akan kuhajar siapa pun nanti yang berani menertawakanmu di pantai!” ucap Rania sambil mengepalkan tangan kecilnya ke udara, berapi-api.
“Ya, aku bantuin,” sahut Siti pendek, namun nadanya terdengar sangat meyakinkan.
Aku tidak bisa menahan senyum lebar melihat tingkah mereka. Kepalan tangan Rania dan anggukan mantap Siti perlahan mengusir rasa gigil di jemariku. Mereka berdua benar-benar sahabat yang sangat berharga dalam hidupku yang carut-marut ini.
Sambil menatap keluar jendela bus yang mulai melaju membelah jalanan, pikiranku melayang mundur. Ketika aku memutuskan untuk berubah di masa lalu, jalannya tentu saja tidak pernah mulus. Saat pertama kali menginjakkan kaki di SMP lama, aku sudah berusaha keras mencari teman. Awalnya aku berhasil. Namun, ketika rentetan kematian aneh itu kembali mendatangi jiwaku, emosiku sempat bergejolak hebat dan berubah drastis secara signifikan. Perubahan sikapku yang mendadak murung dan aneh membuat orang-orang di sekolah lama mulai menjauh lambat laun. Aku kembali terlempar ke dalam kesendirian yang dingin.
Hingga akhirnya di pertengahan kelas delapan, orang tuaku memutuskan untuk memindahkanku ke sekolah yang sekarang. Di sanalah titik balik itu terjadi. Aku bertemu dengan mereka berdua. Rania dan Sitilah orang pertama yang berjalan menghampiri mejaku dan mengajakku mengobrol tanpa prasangka apa pun. Dan di saat itulah, debut SMP-ku yang sebenarnya baru benar-benar dimulai.
Aku mempererat genggaman tanganku pada Rania, lalu menoleh menatap mereka berdua yang kini mulai asyik meributkan bekal camilan yang mereka bawa. Demi momen-momen hangat seperti ini, aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus bertahan melawan kutukan maut apa pun yang menghadang di depan sana.