Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Yang Malang
Jika setiap manusia memiliki setidak nya satu alasan untuk hidup, maka Yura akan mencari nya. Mungkin pernah, bahkan hampir setiap saat, rasa putus asa itu selalu menghampiri sejak duka yang dialaminya.
Malam ini, setelah enam bulan berlalu. Sebuah dering ponsel membuat dirinya merasa asing. Sejak hari itu, hari dimana dunia seakan tidak berpihak padanya. Ia hampir tidak membutuhkan benda persegi itu lagi.
Tidak ada lagi panggilan yang ia tunggu-tunggu, baik dari mama ataupun Yura, Bahkan Steven. Oh ya, dirinya hampir saja melupakan pria itu atas masalah yang menimpanya.
Bukan karena tak cinta lagi, namun kali ini rasa kecewa melampaui segalanya. Bukankah rasa kecewa itu hadir karena cinta?
nama yang tak asing itu membuat jantung Yura akhirnya terpompa kembali. Bukan karena kerinduan yang akhirnya terjawab, melainkan satu pertanyaan yang muncul dikepalanya.
Berita apa yang akan kudengar?, pengakuan yang sempat tertunda kah? Atau bahkan kata putus yang akhirnya terucap setelah melalui pertimbangan yang panjang selama hampir dua tahun ini?
Yura masih memandangi layar terang itu, tanpa berniat menekan tombol hijau nya. Dan suara batuk nenek lah yang lebih mendominasi pikirannya untuk saat ini.
Akhir-akhir ini sang nenek sudah semakin lemah. Nenek memang sudah tua, tapi sejak kejadian pilu itu, kondisi nya semakin menunjukkan perubahan yang lumayan drastis.
Tubuh renta nya tak bisa lagi dibawa kemana-mana. Ia pun sering kali duduk dalam keadaan termenung dengan tatapan kosongnya.
"Nenek dirawat saja ya..? "
Terdengar suara Yura yang bergetar karena menahan sesak didadanya. Rasanya segala nya semakin suram saja.
Kembali gelengan kepala yang nenek berikan sebagai jawaban nya. Dokter Mark lah yang akhirnya selalu datang untuk merawat nenek.
Sungguh Yura benar-benar berutang banyak pada dokter muda berbakat itu. Kebaikannya selalu menjadi buah bibir para warga desa.
"Tinggal enam bulan lagi aku lulus, setelah itu aku akan merawat mu setiap waktu... "
Namun bukankah waktu enam bulan termasuk lama? Yura sudah sangat pesimis jika sang nenek akan mampu bertahan.
Semangat hidup diwajahnya sudah menguap pergi, tidak ada lagi wajah seperti saat Yura pertama kali melihat wajahnya.
Setelah Yura membantu nenek menelan obatnya, ia segera menarik selimut tebal untuk membuat tubuh nenek menghangat.
"Kamu makan lah... " pinta sang nenek.
"Mm, setelah nenek tidur saja... " ucap Yura memeluk tubuh neneknya dari dari samping.
Dan setelah wanita tua itu mengeluarkan nafas tenang nya, Yura pun dengan perlahan keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan agar tidur nenek tidak terganggu.
Saat hendak menuju dapur, suara ketukan dipintu membuat langkahnya terhenti. Dengan segera ia langusng berbalik untuk membuka nya karena sudah dapat dipastikan bahwa sosok dibalik nya itu pastilah dokter Mark.
Hampir setiap malam pria itu datang untuk melihat kondisi nenek Lea, walau hanya sekedar bertanya satu kalimat saja. Pria itu akan selalu menyempatkan diri untuk berkunjung.
Dan bukan hanya pada nenek Lea saja, ia juga melakukan hal yang sama pada orang-orang tua lainnya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Dokter Mmm... Kamu..? "
Liam berdiri tegak dihadapan nya sambil tersenyum manis. Kemudian pria itu segera membawa nya kedalam pelukan hangatnya.
"Lama tidak bertemu, aku sangat rindu... "
Ada secercah senyum yang terbit diujung bibir Yura. Kehadiran pria itu seolah membuat perasaan nya menjadi tenang kembali.
Namun setelah pelukan itu terlepas, ia kembali memasang setelan wajah yang biasa saja. Begitu hebat dirinya menutupi perasaannya itu.
"Bagaimana kabar nenek, aku ingin melihatnya... "
Liam masih ingat dengan jelas bagaimana genggaman tangan sang nenek di tangannya nya waktu dirinya pamit untuk pulang kepada orang tuanya.
"Besok saja, nenek baru saja tertidur... "
Liam mengangguk, lalu sedetik kemudian ia mendekat dan menatap wajah Lea dengan lekat. "Wajahmu.. "
Yura segera mengusap wajahnya, barangkali ada sesuatu disana yang tak sempat ia perhatikan sebelum nya.
"Kau kurusan, bawah matamu menghitam. Dan, kau habis menangis.? "
"Mana ada, ! " Elak Yura. Ia lalu berjalan kedapur berniat membuat sesuatu untuk diminum oleh Liam.
"Jangan ikut, tunggu disitu saja... " ucapnya saat melihat Liam yang ingin mengekori nya.
"Tidak mungkin... " jawab Liam dengan keras kepala dan lanjut ikut masuk kedapur.
"Baiklah, kau pasti lapar. Aku akan buatkan nasi saja."
Akhirnya Yura mengalah dan memilih membuatkan makan malam untuk pria itu. walaupun ada sedikit rasa was-was didalam dirinya karena hidangan itu adalah hasil karya nya sendiri.
Dengan wajah seriusnya, sorot matanya menangkap segala pergerakan yang dilakukan oleh Liam.
Ia seolah menunggu reaksi apa yang akan pria itu berikan saat pertama kali merasakan hasil masakannya itu.
"Hm, seperti biasa masakan nenek selalu enak... "
Ada senyum bahagia yang terlukis diwajah cantik Yura, membuat Liam seketika terheran_ atau tertegun?
Namun secepat mungkin gadis itu menoleh ke arah lain, agar perasaanya tidak dapat di baca oleh pria sok tahu dihadapan nya itu.
"Kenapa tersenyum? Ada yang lucu dari bahasaku? " tanya pria itu.
"Tidak, lanjut saja makannya.. " jawab Yura ikut makan.
Saat sedang fokus dengan makanan dihadapan nya, suara dering ponsel Yura kembali berbunyi membuat kedua nya saling pandang sejenak.
Yura yang hanya diam, membuat Liam mengerutkan keningnya. "Tidak diambil..?
"Aku sedang makan... " jawab Yura.
"Mana tahu itu penting Yura,,,, " kekeh Liam.
Yura yang tak ingin pusing menjelaskan, akhirnya melangkah kan kakinya kekamar walau ia sudah dapat menebak siapa yang menghubungi nya itu.
Lagi, nama Steven tertera disana. Mau tak mau akhirnya Yura mengangkatnya. Seketika rasa bersalah muncul didalam benaknya saat mendengar pria itu yang sejak tadi menunggu didepan rumah lamanya.
Ia bahkan tidak tahu kalau pria yang selama ini ia rindukan tengah ada negara yang sama dengannya.
Setelah penantian panjang ini, akhirnya pria itu muncul menepati janjinya. Namun bukankah itu sudah sangat terlambat?
Setelah rasa kecewa yang berlapis-lapis, akankah rasa kecewa itu bisa hilang setelah berhasil ditekan oleh rasa cinta yang kembali dibangungkan dari tidur lama?
"Ra..? " Suara di seberang itu akhirnya menarik fokus Yura. Ia tidak tahu harus memulai dari mana.
"Kak, aku dirumah nenek ku... " Akhirnya jawaban itu keluar juga dari mulutnya.
"Oh begitu ya. Besok, bisa kah kita bertemu? " tanya pria itu.
"Kak, maaf sekali. Nenek ku sedang dalam kondisi yang tidak baik untuk ditinggalkan. Aku tidak bisa kemana-mana... "
Akhirnya dengan segala pertimbangan, Yura mengirimkan alamat rumah nya pada Steven. Ia juga menyuruh hatinya untuk tidak terlalu berharap akan janji pria itu, cukup sudah ia selalu menunggu.
Bahkan foto yang pernah membuat rasa kecewa itu semakin memuncak pun hingga saat ini belum ada penjelasan nya.
.
.
Bersambung...