Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Wanda
Wanda menatap orang tua Keyra dengan kagum. Mereka sangat cantik dan tampan, sama seperti orang tua Kian. Hanya saja maminya ada turunan Eropa yang sedikit saja diwariskan pada Keyra. Sama seperti Dira dan Vira, Keyra ternyata memiliki darah campuran, pribumi dan Eropa. Hanya saja Keyra lebih dominan daddynya.
Sama seperti orang tua Kian, orang tua Keyra juga sangat ramah. Terutama maminya yang sikapnya berlawanan dengan Keyra. Lagi lagi Wanda tau, dari mana Keyra mendapatkan sikap datar dan jarang bicara. Dari daddynya.
"Kalo ada yang kamu inginkan, tinggal bilang saja," ucap Keyra saat menemani Wanda ke kamarnya.
Wanda mengangguk sungkan.
"Terima kasih, ya."
Keyra tersenyum sambil memperhatikan kamar yang ditempati Wanda. Dira dan Vira ikut memberikan kontribusi juga dalam mendekor kamar yang ditempati Wanda hingga terkesan rame dan penuh warna.
"Rame, ya, warnanya."
"Iya." Wanda tersenyum tipis.
"Ulah Dira dan Vira." Keyra duduk di kursi meja hias.
"Ooh, bagus, kok." Wanda juga duduk di tempat tidurnya.
"Emm .... Selama di sekolah, jangan sendirian, ya." Keyra langsung berdiri setelah mengatakannya.
Wanda mengangguk mengerti.
"Iya." Dia mengerti. Keyra sama seperti Kian, ingin melindunginya. Karena bukan hanya Aditama yang merundungnya di sekolah, Azula cs juga.
Saat Keyra sudah berada di dekat pintu, dia membalikkan tubuhnya menatap Wanda lama sampai Wanda mengira dia sudah salah bicara.
"Papanya Aditama ...., apakah dia memperlakukan kamu dengan baik?" Keyra, Dira dan Vira tau kenyataan yang diminta orang tua mereka agar dirahasiakan.
Wanda terdiam, berusaha mengingat. Papanya Aditama tidak pernah melakukan apa apa untuknya. Hanya saja tiap ada perlakuan kasar dari Aditama dan mamanya, Wanda merasa dengan kehadiran papanya Aditama, dia jadi terlindungi. Entahlah, tapi itu yang dia rasakan
"Aku jarang bertemu. Kenapa?" Wanda merasa pertanyaan Keyra agak aneh.
"Apakah dia pernah memarahimu?" Keyra ngga peduli dengan tatap heran Wanda.
Wanda menggeleng.
"Ngga pernah. Malah kalo ada papanya, Aditama akan langsung berhenti jahatin aku."
"Ooh ...., syukurlah. Kalo nenek kamu?"
Wajah Wanda berubah murung
"Hanya diam saja."
Keyra ngga menanyai Wanda lagi. Dalam hati dia merasa kasian. Papa kandung dan neneknya pun tidak bisa membelanya terang terangan.
"Oh ya, kamu kebentur? Lenganmu membiru," tukas Keyra lagi.
Wanda menatap lengannya yang mendadak membiru lagi. Dia baru sadar.
"Mungkin," sahutnya ngga yakin.
Kenapa?
Sudah beberapa hari ini dia tidak melakukan pekerjaan berat. Di rumah Kian atau pun di rumah Keyra, dirinya sangat dimanja.
"Ada salep di atas meja rias kamu. Diolesin biar cepat sembuh." Setelah mengatakannnya Keyra berjalan pelan meninggalkan kamar Wanda.
"Makasih, Key," ucapnya buru buru. Dia ngga lihat temannya itu membawakannya salep tadi.
Dia sudah lihat, ya? Kalo Keyra tidak memberitau, mungkin dia ngga tau ada lebam di lengannya.
"Sama sama."
Wanda kemudian melangkah ke arah meja riasnya dan mengambil salep yang diberikan Keyra tadi. Dia masih ngga mengira Keyra seperhatian itu, padahal dia terlihat acuh tak acuh.
Dia pun mengolesnya, berharap besok sudah sembuh. Kemudian Wanda menatap lama cincin yang melingkar di jari manisnya. Pemberian Kian. Senyumnya terukir manis.
Kalo dulunya saat tinggal di rumah Aditama, Wanda ingin cepat cepat menyusul mamanya. Tapi sekarang keinginan itu sudah pupus Dia ingin hidup lebih lama agar bisa selamanya bersama Kian.
Dia harus sehat agar tidak melihat tatap khawatir terus menerus dari Kian.
"Kamu ngga apa apa?"
"Jangan terlalu menuruti maunya Aditama."
"Jangan memaksakan diri, Wanda."
Ada banyak lagi kata kata penuh perhatian dari Kian. Setelah melewati tiga tahun yang menyakitkan, hanya Kian yang mengkhawatirkannya.
Kian, aku pasti akan selalu baik baik saja, tekatnya membatin.
*
*
*
Perlahan Aditama meninggalkan Oma Tina dan Nenek Sunarmi yang masih berpelukan berada. Lututnya yang lemah dan tungkai kakinya yang seakan mau lepas, dipaksanya untuk melangkah pergi.
Di tempat yang menurutnya lebih aman, Aditama duduk menyandar dengan kedua kaki diselonjorkan. Perasaannya masih bergemuruh. Dia masih tidak percaya dengan yang dia dengar.
Dibanding Oma Ester, sikap Oma Tina lebih lembut pada Wanda. Dulu Kian berpikir karena Wanda cucu Nenek Sunarmi, jadi wajar karena Nenek Wanda sudah bersamanya sejak kecil.
Bahkan tidak jarang Oma Tina menasehatinya untuk bersikap baik pada Wanda, tapi selalu dia abaikan.
Buat apa? Mama aja selalu mengasarinya. Begitu hatinya selalu membenarkan tindakannya.
DEG
Sekarang dia mulai memiliki dugaan buruk membuat jantungnya seperti akan direnggut paksa.
Wanda anak dari selingkuhan papa?
DEG DEG
Kalo begitu, wajar saja mamanya sangat membenci Wanda.
Aditama mengepalkan tangannya kuat kuat. Dia marah sekaligus geram.
Kenapa anak seorang pembantu bisa menjadi selingkuhan papanya?
Seolah mendapat kekuatan, dia berjalan ke arah rumahnya. Dia harus mendapat jawaban dari papanya.
Tapi langkahnya terhenti ketika.mendengar suara suara perdebatan kedua orang tuanya di dekat motornya.
Mungkin orang tuanya baru sadar kalo dia sudah pulang.
"Aditama, di mana dia?" Mamanya terlihat menutup wajah dengan kedua tangannya. Suaranya terdengar panik.
"Mungkin sudah di kamarnya. Tenanglah," bujuk Panji Hasta berusaha menenangkan.
Merelin menggelengkan kepalanya, ngga yakin. Perasaannya juga ngga nyama, kemudian menurunkan kedua tangan yang menutup wajahnya.
"Kalo dia dengar obrolan kita tadi bagaimana?" tanyanya kalut. Mamanya tadi cukup meninggikan suaranya saat menyebutkan pengkhianatan suaminya.
"Dia ngga dengar. Kalo dia dengar, dia pasti sudah di sini," bujuk suaminya lagi. Dia sangat mengenal temperamen putranya.
Sementara itu Aditama yang mendengar makin mengeratkan kepalan tangannya. Kemarahan sudah meluap luap di dalam hatinya.
"Tapi sekarang dia dimana? Kenapa dia tidak ada di sini." Merelin masih saja kalut.
"Mungkin lagi tidur di kamar. Aku sudah menyuruh orang untuk melihatnya di kamar," bujuk Panji lagi, berusaha tetap tenang.
Merelin berjalan mondar mandir dengan emosi kian memuncak yang bercampur dengan ketakutan dan kecemasan.
"Ini semua karena kamu. Kalo saja sejak dulu kamu setuju membuang anak itu ke panti asuhan, hidup kita tidak akan ruwet begini," semprot Merelin dengan ledakan kemarahan yang memenuhi rongga dada dan hatinya. Suaranya terdengar bergetar.
"Tenanglah. Sekarang Wanda juga sudah bersama keluarga Dewa. Dewa sudah berjanji tidak akan membongkar rahasia ini padanya," bujuk Panji Hasta. Dia merasa kekhawatiran istrinya terlalu berlebihan.
"Aku ngga peduli anak itu tau atau tidak. Dia tau malah lebih bagus, karena dia jadi tau kalo kehadirannya tidak ada yang menginginkannya. Yang aku takutkan Aditama yang tau. Aku ngga mau membuatnya hilang respect denganmu!" Nafas Merelin sampai tersengal sengal ketika mengungkapkan kemarahannya dalam satu tarikan nafas.
Panji Hasta tercekat. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan kasar istrinya tentang Wanda. Biar bagaimana pun Wanda tetap putri kandungnya.
udah dikenalin sbg calon istri berarti ezra serius