Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma
________
Alaska duduk di bangkunya sambil memutar-mutar pulpen.buku yang terbuka di depannya sedari tadi masih kosong.
Tak satu jawaban yang berhasil ia tulis,pikirannya melayang kembali mengingat kejadian semalam.
Rahangnya langsung mengeras."Kesel banget banget gue."
Flashback.
Malam itu mereka masih asyik bermain UNO.di ronde terakhir...
Tinggal alaska dan lea yang belum menang,keduanya saling menatap tajam.tatapan yang penuh dendam.
"kalau gue yang menang lo harus cium kaki gue."tantang lea santai sembari meletakkan kartunya.
Alaska balik meletakkan satu kartu."Oke,siapa takut."ucapnya percaya diri,pasalnya ia tak boleh kalah dari si lele.
Lea membalas langsung dengan dua kartu.hal itu membuat alaska mulai panik.
Kartu di tangan lea tinggal dua.sedangkan ia masih memiliki lima kartu di tangannya.
"Uno."ucap lea sambil menyeringai.
"Woy!"alaska berdiri dari sofa."Nggak mungkin!"pekiknya tak percaya.tapi it's oke.karna tak lama gadis itu kembali mendapatkan kartu karna ulahnya.
Ia tersenyum tatkala lea menatapnya kesal.tapi beberapa menit kemudian...
PAK!
"UNO!"lea menjatuhkan kartu terakhirnya ke meja.
"Gue menang!"teriaknya heboh.
Alaska membeku,tubuhnya perlahan ambruk terduduk di lantai.tatapannya kosong.
"G-gue...nggak...nggak mungkin..."lirihnya ia menatap kedua tangannya.runtuh sudah rasa percaya dirinya.ia tak menyangka kalau dia kalahkan oleh gadis yang ada di depannya ini.dan itu kalah telak!
Sementara itu lea berdiri dengan gagah,ia bahkan menepuk-nepuk dadanya,lalu mengangkat sebelah kaki ke atas sofa.gayanya persis seperti raja yang angkuh.
"Sesuai kesepakatan..."ucapnya sambil tersenyum puas,ia menyodorkan kakinya.
"Cium kaki bunda,alaska."ucapnya berbunga-bunga tak lupa sedari tadi seringai menyebalkan itu terpatri di wajahnya.
"Hah?!"
Alaska langsung mendongak."Lo gila ya?"
"Ini cuma permainan!nggak mungkin gue beneran cium kaki lo!"
Lea tertawa puas."Nggak mau tahu."
"Cepetan."
"Cium."
Syakila langsung menahan tawa canggung."Lea..."
"Udah deh."
Sedangkan galen hanya duduk diam sambil memakan keripik,seolah semua keributan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"CIUM."desak Lea lagi.
Brak!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Cukup!"
Zaendra keluar sambil memijat pangkal hidung lalu memasang wajah datar.
Suasana langsung hening.
Zaendra memandang mereka satu per satu."Ini sudah malam."
"Kalian masih anak-anak,sebaiknya kalian pulang.orang tua kalian pasti khawatir."
"Jam segini udah rawan perampokan."
"Jangan sampai kalian yang terkena perampokan dan membuat orang tua kalian khawatir." ucapnya panjang lebar.
Tanpa memberi kesempatan membalas,zaendra mulai menggiring mereka ke arah pintu.
"Pulanglah."usirnya.
Lea yang hendak ikut keluar langsung ditahan.pergelangan tangannya ditarik pelan.
"Masuk!udah malam."
"Waktunya istirahat."
Setelah itu ia memesankan taksi untuk syakila."Hati-hati di jalan."ucapnya datar.
Syakila mengangguk."Makasih kak."ucap syakila gugup.
Brak!
Pintu rumah langsung tertutup.meninggalkan tiga orang yang masih melongo di depan rumah.
Flashback selesai.
Mengingat semua itu,alaska langsung meremas pulpennya.
"Kampret..."gumamnya pelan.
Tap.
Seseorang menepuk mejanya.alaska mendongak,lea berdiri sambil tersenyum canggung.
"Kuy jajan."alaska hanya menatap datar lalu memalingkan wajah.seolah tak mengenal gadis itu.
"Alaska..."
Lea mengembuskan napas tatkala tak mendengar respon dari alaska."Lo ngambek?"
Alaska akhirnya menoleh."Mana janji lo?"tanyanya sinis.
Lea mengernyit."Janji?"
Beberapa detik kemudian matanya membulat."Oh...mie mas udin ya...."
Sedangkan alaska menyilangkan tangannya.lea tersenyum kaku."Kan...sekarang masih di sekolah."
Alaska tetap memasang wajah datar."Nggak mau tahu."
"Yang lain aja dulu,ya?"
"Nggak."ketusnya.
"Sepulang sekolah gimana?."bujuk lea.tapi lagi-lagi alaska menggeleng."Nggak."
Lea mulai mengacak rambutnya sendiri."Astaga..."
"Terus gue harus gimana alaskaki?"geramnya tertahan melihat kelakuan alaska yang tantrum.
"Ya nggak tahu."jawab alaska singkat.ia berdiri, merapikan seragamnya,lalu berjalan keluar kelas.
Meninggalkan lea yang hanya bisa menggigit ujung kukunya."Ini bocah kalau ngambek kayak anak TK."gumamnya pelan.
"Tapi..."ia terdiam."Yang salah juga gue sih."ia menghela napas panjang.
"Yaudahlah gue beli-in buat lo."ucapnya,ia membuka dompetnya,raut wajahnya berubah jadi sedih."Dompet gue yang nangis."ucapnya tatkala melihat ada lalat yang terbang keluar dari dompetnya.
Lea mengembuskan napas panjang.ia melirik ke arah meja alaska,ia tahu kalau laki-laki itu kesal padanya.
"Nggak bisa nih...kalau di diemin dia makin ngambek."ujarnya.
Lea kemudian menarik lengan syakila."Sya.ikut gue bentar."
"Hah?mau ke mana?"tanya syakila yang bingung karna temannya ini main narik narik saja.
"Udah,ikut ajalah."
Mereka berhenti di dekat tembok belakang sekolah yang sepi,lea menoleh ke kanan dan kiri.
"Sya.lo jagain sekitar."
Syakila langsung membulatkan mata."Eh..jangan bilang lo mau..."
Belum sempat kalimatnya selesai lea sudah lebih dulu memanjat tembok dengan lincah.
Hap!
Dalam sekali gerakan,tubuhnya sudah berada di atas tembok.syakila hanya bisa melongo.
"Buset...anak ini emang jelmaan nyinyai."ucapnya kagum sekaligus tak percaya,tapi buktinya tuh lea bisa terbang.pasti ada kekuatan sihir yang menjelma di tubuhnya,hehehehe.....nggak deng.
Memang sejak kecil lea terbiasa bergaul dengan laki-laki apalagi dia pandai bela diri.kalau diajak boxing?langsung ia gaskeun.
"Jagain ya!"bisiknya.
Syakila hanya bisa berdiri gelisah sambil terus melihat ke kanan dan kiri.
Beberapa menit kemudian...
Kepala lea kembali muncul dari balik tembok.di tangannya sudah ada satu plastik besar berisi lima bungkus mie mas udin.untuk alaska tiga,duanya lagi untuk dia dan syakila.
"Yuhuu!berhasil."bisiknya bangga.
Syakila buru-buru keluar dari persembunyiannya."Cepet turun!"
"Iya,iya."gadis itu bersiap melompat masuk.
Namun...
"Woy!"
Suara laki-laki menggema dari kejauhan.keduanya langsung menoleh bersamaan.
DEG!
Syakila membelalak.
"Mati..."
Di kejauhan tampak zayyan dan darren,wakil ketua OSIS,sedang berlari ke arah mereka.
"HEH!BERHENTI"teriak darren.
Lea langsung melompat turun."Lariii!"tanpa aba-aba mereka langsung kabur.
Darren dan zayyan otomatis berpencar."Gue ke kanan!"teriak zayyan.
"Oke!"balas Darren.
Kini...
Zayyan mengejar syakila.sedangkan darren memburu lea.
Syakila berlari sekuat tenaga."Ya ampun..."
"Kenapa harus kak zayyan sih,yang ngejar gue?!"
"Nggak...nggak boleh ketangkep!"ia terus berlari,walau kaki dan napasnya sudah tak sanggup lagi.
Namun langkah ayyan jauh lebih panjang.semakin lama jarak mereka semakin dekat.
Hingga...
Hap!
Pergelangan tangan syakila berhasil ditangkap.syakila langsung mematung,tubuhnya menegang.pelan-pelan ia menoleh.
Di belakangnya,ada zayyan berdiri sambil mengatur napas."Dapet."ucapnya sambil tersenyum tipis.
Sementara itu...
Di sisi lain.
Lea masih berlari sambil memeluk plastik berisi tiga bungkus mie ayam."Nggak boleh jatuh!"teriaknya panik.
Darren yang berada di belakang mulai mendekat.
"BERHENTI NGGAK LO!"
"NGGAK MAU!"balas Lea.
Matanya tiba-tiba menangkap sebuah gang kecil.tanpa berpikir panjang ia langsung membelok.
Sesampainya di sana,ia melihat sebuah pohon besar seketika senyumnya langsung mengembang.
"Pas."dengan lincah ia memanjat batang pohon itu.
Beberapa detik kemudian tubuhnya sudah bersembunyi di antara ranting-ranting.
Di bawah...
Darren berhenti sambil mengatur napas.
"Kemana dia?"gumamnya.napasnya ngos-ngosan akibat mengejar lea."Ngeri juga tuh bocah larinya."ucapnya melihat ke kanan,ke kiri.tapj tak menemukan siapa pun.
"Hihihi..."terdengar tawa kecil dari atas.
Lea menjulurkan kepalanya."Gue di sini,freak."ledeknya pelan sambil mengangkat plastik mie ayam penuh kemenangan.
Darren mendongak.namun karena rimbunnya daun,ia tak bisa melihat jelas.
Beberapa saat kemudian ia menyerah dan berjalan pergi.
"Huft..."
Lea mengembuskan napas lega."Selamat..."gumamnya sambil memeluk plastik itu,ia hendak turun.
Namun baru saja menoleh...
"Woi."
Sebuah wajah muncul sangat dekat di hadapannya.
"AAAAAKKKHHHHH!"gadis itu menjerit keras.
Bruk!
Karena kaget,tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari atas pohon.
Bersambung~