Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Si Culun dari Lantai Dasar
Pagi itu, langit di atas Jakarta masih menyisakan semburat abu-abu keunguan ketika Mahesa sudah berdiri di depan cermin toilet karyawan yang terletak di lantai paling dasar Gedung Graha Subroto. Di bawah temaram lampu neon yang sesekali berkedip, ia menatap bayangannya sendiri dengan helaan napas panjang.
Kemeja seragam office boy berwarna biru muda yang dikenakannya tampak agak kedodoran, warisan dari seorang senior yang sudah keluar dua tahun lalu. Celana kain hitamnya pun sedikit mengatung, memperlihatkan kaus kaki putih yang warnanya sudah mulai menguning di bagian mata kaki. Sentuhan akhir dari penampilannya adalah sepasang kacamata dengan bingkai hitam tebal yang bertengger di hidungnya—kacamata murah yang lensanya sudah sering ia seka dengan ujung baju karena buram oleh uap keringat.
"Sabar, Sa. Yang penting hari ini kerja lancar, bisa bawa pulang uang buat beli obat Nenek," bisik Mahesa menyemangati dirinya sendiri dengan suara lirih.
Ia membenarkan letak kacamatanya sejenak sebelum melangkah keluar menuju ruang penyimpanan alat kebersihan. Di sana, sebuah ember besar, kain pel, dan beberapa botol cairan pembersih lantai sudah menunggunya. Tugas pertamanya hari ini adalah memastikan seluruh koridor di lantai dasar hingga lantai tiga bersih mengkilap sebelum para staf kantor yang berdasi dan berwangi parfum mahal itu berdatangan.
Saat Mahesa sedang sibuk memeras kain pel dengan tangan kosong hingga urat-urat di lengan kurusnya menegang, pintu ruangan terbuka kasar. Dua orang pria dengan seragam yang sama, namun dengan potongan baju yang jauh lebih pas di badan dan rambut yang tertata rapi menggunakan minyak rambut wangi, melangkah masuk sambil tertawa-tawa. Mereka adalah Doni dan Rian, rekan sesama OB yang entah mengapa selalu menemukan kepuasan tersendiri setiap kali berhasil menyudutkan Mahesa.
"Heh, Si Culun udah dateng ternyata! Rajin bener lu, Sa. Mau nyari muka lu ya depan supervisor?" sindir Doni sambil bersedekap di ambang pintu, menatap Mahesa dengan pandangan meremehkan.
Mahesa menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu memaksakan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang pucat. "Enggak kok, Don. Cuma pengen nyelesaiin lantai dasar lebih cepat aja biar nanti nggak ganggu jalan orang-orang kantor," jawab Mahesa dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, berusaha menghindari percikan konflik.
Rian melangkah mendekat, sengaja menendang pelan botol pembersih lantai hingga isinya sedikit berguncang. "Halah, alesan aja lu! Bilang aja lu pengen pamer karena kemarin dipuji Pak Anwar, kan? Gaya lu sok rajin begini malah bikin kita-kita kelihatan males tahu nggak!" cetus Rian dengan nada bicara yang meninggi, seolah-olah Mahesa baru saja melakukan kesalahan besar.
"Maaf, Rian. Bukan maksudku begitu," sahut Mahesa sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap air keruh di dalam embernya. Ia memilih untuk mengalah, membiarkan harga dirinya diinjak sedikit asalkan suasana tidak semakin keruh.
Doni berjalan memutari Mahesa, memperhatikan penampilan pemuda yatim piatu itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi jijik yang kentara. "Lagian lu tuh ya, Sa, minimal kalau kerja di gedung elite kayak gini, penampilan agak modal dikit napa? Itu rambut dapet potongan model tahun berapa? Mirip mangkok bakso tahu nggak! Pantesan anak-anak administrasi di lantai atas kagak ada yang mau nengok lu," cemooh Doni seraya tertawa terbahak-bahak, menyenggol lengan Rian untuk mencari dukungan.
Rian ikut terpingkal-pingkal mendengar ucapan temannya itu. "Boro-boro dilirik cewek kantor, Don. Ngelihat gayanya yang nggak gaul begini, orang-orang malah ngira dia ini kesasar dari zaman purba. HP aja masih pakai yang layarnya monokrom, buat SMS-an aja macet-macet," tambah Rian dengan tawa yang semakin keras, sengaja memperjelas hinaannya agar terdengar hingga luar ruangan.
Di dalam dadanya, Mahesa merasakan ada sesuatu yang berdenyut perih. Kata-kata itu bukan pertama kalinya ia dengar, namun entah mengapa setiap kali diucapkan, rasanya tetap saja seperti sayatan kecil yang mengenai hatinya. Ia ingin sekali berteriak, memberi tahu mereka bahwa uang gajinya yang pas-pasan harus dibagi dua untuk membayar sewa rumah kontrakan sempit dan membelikan obat jantung untuk Neneknya yang sering batuk darah. Ia tidak punya kemewahan untuk memikirkan minyak rambut, pakaian modis, atau ponsel pintar seperti pemuda seumurannya. Namun, semua kata-kata itu hanya tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi sebuah helaan napas yang berat.
"Iya, maaf ya kalau penampilanku kurang rapi. Nanti kalau ada rezeki lebih, aku coba perbaiki," ucap Mahesa lirih, tetap berusaha menjaga intonasi suaranya agar tidak terdengar bergetar atau menantang.
Melihat Mahesa yang hanya diam dan menerima semua hinaan itu tanpa perlawanan, Doni merasa bosan. Kehilangan tantangan untuk memicu keributan yang lebih besar, ia akhirnya mendengus kasar. "Ah, nggak asyik lu, Sa. Diajak bercanda malah lemes begitu. Kayak nggak punya gairah hidup lu!" keluh Doni sambil memutar bola matanya malas.
"Tau nih, mental tempe. Ya udah ah, Don, cabut yuk. Males gue lama-lama di sini, ketularan bau miskin entar," ajak Rian sambil melangkah mundur, membalikkan badannya menuju pintu keluar.
"Bener juga lu, Yan. Yuk ah, mending kita ngerokok dulu di kantin belakang sebelum jam absen," sahut Doni setuju, mengikuti langkah Rian keluar dari ruangan tanpa menyandarkan kembali pintu yang tadi mereka buka dengan kasar.
Setelah kedua temannya pergi, keheningan kembali menguasai ruangan kecil itu. Mahesa perlahan menegakkan punggungnya yang sedari tadi membungkuk. Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang sempat memburu akibat menahan gejolak emosi. Tangannya yang memegang gagang pel mencengkeram kayu tersebut dengan sedikit lebih erat, menyalurkan rasa sesak yang tertahan di dadanya. Namun, sedetik kemudian, ia kembali melonggarkan cengkeramannya.
"Nggak apa-apa, Sa. Anggap aja itu ujian kesabaran. Yang penting Nenek sehat, kamu masih bisa kerja di sini," gumam Mahesa pada dirinya sendiri, mencoba mencari penghibur dari dalam hatinya yang paling dalam.
Bagi Mahesa, kemarahan adalah sebuah kemewahan yang tidak mampu ia bayar. Jika ia melawan, berdebat, atau bahkan memukul mereka, posisinya sebagai pekerja kontrak di lantai terbawah ini bisa dengan mudah tergusur. Kehilangan pekerjaan ini berarti kehilangan sumber pendapatan satu-satunya untuk bertahan hidup bersama sang nenek. Oleh karena itu, baginya, diam dan bersabar bukan berarti kalah; itu adalah tameng terbaik yang ia miliki untuk menjaga dunia kecilnya tetap berputar.
Ia kemudian menyeret embernya keluar dari ruangan, memulai rutinitas paginya dengan langkah kaki yang teratur. Kain pelnya mulai bergerak maju mundur di atas lantai marmer yang dingin, menghapus setiap jejak kotoran yang ada. Di tengah hiruk-pikuk gedung yang mulai merangkak ramai oleh kedatangan para eksekutif muda berpenampilan necis, Mahesa tetap setia dengan posisinya: menjadi sosok yang nyaris tak terlihat, bergerak di antara sudut-sudut lantai dasar, menyimpan rapat-rapat seluruh kedukaan dan kesabarannya di balik kacamata tebal dan senyuman yang teramat tulus.