Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Viona Disekap
Malam ini, kawasan sekitar Star Night Club terlihat lebih ramai dari biasanya. Lampu neon yang biasanya menjadi simbol kemewahan tempat itu masih menyala terang.
Musik dari dalam gedung terdengar samar sampai ke luar, seolah Lucky Herison masih merasa dirinya tidak tersentuh oleh siapa pun.
Namun malam ini berbeda dari berbagai sisi jalan, beberapa mobil berhenti secara perlahan.
Bryan turun dari mobilnya bersama Arlian dan tiga bodyguard kepercayaannya. Tatapan Bryan langsung tertuju pada gedung megah di depan mereka.
Di sisi lain, Roy tiba bersama Dion Armando, asistennya yang sudah lama menjadi tangan kanannya, serta dua bodyguard yang siap berjaga.
"Gue masih enggak percaya kita ada di sisi yang sama malam ini," ujar Roy sambil melirik Bryan.
Bryan hanya tersenyum tipis.
"Jangan terlalu menikmati momen ini. Ini cuma sementara..."
Roy terkekeh.
"Gue tahu..."
Tidak jauh dari mereka, Harsh datang dengan beberapa orang kepercayaannya. Namun yang membuat semua orang sedikit terdiam adalah kehadiran seseorang di belakangnya.
Seorang pria dengan aura dingin, tenang, dan sulit ditebak. Darian Fernandez, nama yang cukup dikenal di dunia gelap Jakarta.
Seseorang yang terkenal karena ketenangan dan caranya menyelesaikan masalah tanpa banyak bicara. Roy menatap Harsh dengan tatapan penasaran.
"Lo nyimpen kartu kayak gini selama ini?"
Harsh hanya menjawab singkat.
"Gue gak bawa seseorang kalau gak diperlukan..."
Bryan menatap Darian beberapa detik. Dia tahu, Harsh bukan tipe orang yang mudah mempercayai siapa pun. Kalau Darian ada di sini, berarti masalahnya dengan Lucky sudah jauh lebih besar dari perkiraan mereka.
Sementara itu, Alvania dan Silvia berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Berbeda dengan yang lain, keduanya tidak hanya membawa amarah belaka akan tetapi mereka membawa luka lama, bertahun-tahun bekerja di bawah bayangan Lucky Herison membuat mereka tahu sisi buruk pria itu.
Penghinaan, tekanan, perlakuan yang membuat mereka merasa tidak pernah dihargai sebagai layaknya manusia. Silvia mengepalkan tangannya hingga buku kukunya memutih.
"Malam ini gue pengen Lucky tahu kalau semua yang dia lakukan punya sebab akibat..."
Alvania menatap gedung itu dengan dingin.
"Dia selalu merasa bisa mengendalikan semua orang kan?"
Dia menarik napas pelan.
"Tapi malam ini, dia bakal sadar gak semua orang bisa dia injak..."
Bryan kemudian memberi intruksi kepada semuanya.
"Fokus..."
Semua mata tertuju padanya.
"Kita masuk bukan untuk membuat kekacauan tanpa arah. Kita datang untuk mengambil kembali kendali..."
Roy mengangguk, mereka berenam bergerak sebagai satu tim. Bryan dengan strategi dan ketegasannya, Roy dengan keberanian dan caranya membaca situasi.
Harsh dengan jaringan tersembunyinya. Alvania dan Silvia dengan tekad kuat untuk menghadapi masa lalu mereka dan di balik semuanya, ada satu nama yang menjadi tujuan mereka.
Di dalam gedung utama Star Night Club, tanpa mengetahui apa yang sedang menunggu di luar, Lucky masih duduk di ruang VIP pribadinya senyum percaya diri masih terukir di wajahnya.
Dia mengira malam ini akan berjalan seperti biasa. Namun ketika salah satu anak buahnya masuk dengan wajah panik, ekspresi Lucky perlahan berubah.
"Tuan..."
"Ada apa?"
Pria itu menelan saliva dengan susah payah.
"Ada beberapa orang di luar..."
Lucky berdiri perlahan.
"Siapa?"
Orang itu ragu beberapa detik sebelum menjawab.
"Bryan..."
Suasana ruangan langsung berubah dingin, Lucky terdiam lalu sebuah nama lain disebutkan.
"Roy juga ada, bukan sebagai pelanggan seperti biasanya. Ada seorang pria lain, Darian dan sepertinya Alvania dan Silvia juga mulai berkhianat..."
Tatapan Lucky mulai mengeras dan ketika dia mendengar nama Harsh, dia akhirnya menyadari satu hal. Malam ini bukan sekadar kunjungan biasa.
Malam ini adalah perhitungan, sementara di luar, Bryan berdiri di depan Star Night Club. Untuk pertama kalinya, enam orang yang biasanya berjalan sendiri berdiri di sisi yang sama.
Pintu utama Star Night Club terbuka perlahan. Suara musik yang sebelumnya terdengar keras mulai terasa semakin jauh ketika Bryan dan yang lainnya melangkah masuk.
Suasana di dalam berubah, para pengunjung yang awalnya menikmati malam mereka mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda. Para penjaga Lucky yang berdiri di beberapa sudut ruangan langsung memperhatikan kedatangan mereka.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani bergerak. Karena mereka tahu siapa orang-orang yang baru saja masuk, Bryan Anggara Wijaya, Roy Arya Pratama, Harsh Aditya Chang Lee, dan Darian Fernandez.
Empat nama yang selama ini memiliki pengaruh besar di dunia mereka masing-masing. Di belakang mereka, Arlian, Dion, serta para bodyguard tetap berjaga dengan tenang.
Bryan berjalan paling depan tatapannya lurus menuju lantai atas, tempat Lucky berada.
"Dia di atas?" tanya Bryan.
Salah satu anak buah Lucky yang berada di dekat anak tangga langsung terdiam. Roy tersenyum miring.
"Gue rasa ekspresi mereka udah cukup menjawab..."
Harsh menatap sekeliling.
"Jangan lengah. Lucky bukan orang yang hanya mengandalkan kekuatannya aja..."
Bryan mengangguk.
"Gue tahu..."
Mereka menaiki anak tangga menuju ruang VIP. Sementara itu, di dalam ruangan mewah tersebut, Lucky Herison berdiri di dekat jendela besar sembari melihat suasana di bawah. Wajahnya masih tenang namun jemarinya mengetuk meja beberapa kali.
"Jadi mereka benar-benar datang?"
Salah satu orang kepercayaannya berdiri di belakangnya.
"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?"
Lucky tersenyum licik.
"Biarkan mereka masuk dan ambil titik lemah Bryan..."
Pria itu terkejut.
"Tuan?"
Lucky menoleh.
"Aku ingin melihat seberapa jauh mereka berani melangkah..."
Beberapa detik kemudian, pintu ruang VIP terbuka. Bryan masuk lebih dulu, tatapan antara Bryan dan Lucky langsung bertemu. Dua orang yang sudah lama saling menganggap sebagai ancaman akhirnya berdiri di ruangan yang sama.
"Bryan..." Suara Lucky terdengar santai.
"Gue penasaran kenapa lo datang bawa pasukan..."
Bryan tidak menjawab basa-basi itu.
"Lo tahu kenapa gue di sini..."
Lucky tertawa kecil.
"Karena dendam?"
"Atau karena lo ngerasa jadi pahlawan?"
Bryan menatapnya dingin.
"Bukan urusan lo..."
Dia melangkah lebih dekat.
"Gue dateng karena sudah waktunya lo berhenti ngerasa bisa ngendaliin semuanya sesuka hati lo..."
Lucky mengalihkan pandangannya ke belakang Bryan melihat Roy, Harsh, Darian, Alvania, dan Silvia. Ekspresinya sedikit berubah ketika melihat dua wanita itu.
"Menarik..." Lucky tersenyum tipis.
"Jadi kalian juga ikut datang, untuk berkhianat?"
Alvania menatapnya tanpa rasa takut.
"Sudah cukup lama kami diam dibawah kekejamanmu!"
Silvia melanjutkan dengan suara tegas.
"Sudah cukup lama lo ngerasa semua orang harus mengikuti permainan lo..."
Lucky menatap mereka satu persatu.
"Kalian pikir datang bersama-sama membuat kalian menang begitu?"
Roy menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Banyak bacot lo..." Dia tersenyum kecil.
"Tapi setidaknya kali ini lo gak ngehadapi cuma satu orang..."
Ruangan menjadi hening seketika, Darian yang sejak tadi diam akhirnya maju beberapa langkah. Tatapan Lucky langsung berubah saat melihatnya, karena satu hal yang dia tahu. Nama Darian Fernandez bukan nama yang bisa diabaikan, nama seorang pemb*n*h berdarah dingin.
"Harsh jauh sekali ya dari Singapura ke sini...?"
Lucky menatapnya.
"Lo bahkan bawa dia?"
Harsh hanya menjawab dingin.
"Gue cuma memastikan malam ini berjalan sesuai rencana..."
Bryan melihat jam di tangannya.
"Permainan lo bakal selesai, Lucky..."
Namun Lucky justru tersenyum, senyum licik yang membuat suasana semakin tidak nyaman.
"Kalian semua datang ke sini membawa keyakinan bahwa kalian memegang kendali begitu?"
Dia berjalan mendekati meja.
"Tapi kalian lupa satu hal..."
Lucky berhenti.
"Gue gak pernah bermain tanpa rencana cadangan..."
Tiba-tiba layar besar di ruangan itu menyala. Sebuah pesan muncul dan ekspresi Bryan berubah karena yang muncul bukan tentang mereka, melainkan seseorang yang sangat Bryan lindungi. Ruangan mendadak menjadi sunyi dan atmosfer di ruangan itu menjadi dingin Lucky pun tersenyum puas.
"Sepertinya sekarang kita punya pembicaraan yang lebih menarik..."
Suasana ruang VIP Star Night Club seketika berubah. Layar besar di depan mereka masih menampilkan sebuah pesan yang membuat semua orang terdiam. Viona, nama gadis itu cukup untuk membuat Bryan kehilangan ketenangannya.
"Bagaimana bisa...?!" Suara Bryan terdengar rendah, tetapi penuh tekanan.
Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arlian yang berada di luar gedung panggilan pun langsung tersambung.
"Arlian!"
Untuk pertama kalinya, suara Bryan terdengar benar-benar marah pada Arlian karena hampir tidak pernah Arlian terkena kemarahan Bryan selama bekerja dengannya bertahun-tahun lamanya.
"Jelaskan padaku bagaimana bisa ini terjadi? Viona bagaimana bisa kecolongan hah?"
Di seberang sana, Arlian terdiam beberapa detik.
"Tuan Bryan..."
"Jangan panggil aku begitu sekarang!" potong Bryan.
"Kamu tahu aku menempatkan orang-orang untuk menjaga rumah Prasetya. Aku percaya padamu untuk memastikan Viona aman!"
Suasana ruangan langsung sunyi, Roy dan Silvia saling menatap. Mereka belum pernah melihat Bryan kehilangan kendali seperti ini, Arlian menarik nafas dalam-dalam dan panjang.
"Kami sedang mengecek ulang, Tuan. Ada sesuatu yang tidak beres. Mereka tidak masuk seperti orang biasa..."
Bryan mengepalkan tangannya.
"Temukan dia! Segera!" Nada suaranya berubah dingin.
"Bagaimanapun caranya, temukan Viona!"
Panggilan berakhir, Harsh sejak tadi hanya terdiam. Namun sebagai kakak Viona, melihat layar itu membuat emosinya sulit dikendalikan ,kini tatapannya beralih pada Lucky.
"Lo!" Suaranya penuh amarah.
Lucky masih mencoba mempertahankan senyum liciknya.
"Gue cuma mengambil kesempatan dibalik kesempitan ahahaha...kalian pikir kalian aja yang punya siasat?"
Kalimat itu membuat Harsh langsung maju selangkah. Tanpa banyak bicara, Harsh melayangkan pukulan tepat ke wajah Lucky yang membuat ruangan seketika membeku. Alvania langsung terkejut melihat kakaknya yang melayangkan pukulan ke wajah Lucky.
"Mas Harsh..."
Namun Harsh tidak peduli, tatapannya hanya tertuju pada Lucky.
"Di mana adik gue?!"
Lucky menatap Harsh dengan ekspresi berbeda. Dia melihat kemarahan seseorang yang bukan sekadar ingin menang, tapi seseorang yang ingin melindungi keluarganya.
"Jawab gue!" Suara Harsh bergetar menahan emosi.
"Di mana Viona?" Bryan berdiri di sampingnya.
Biasanya Bryan adalah orang pertama yang mengendalikan situasi. Namun kali ini pikirannya hanya tertuju pada satu hal Viona saja.
Gadis yang bahkan tidak tahu bahwa malam ini banyak orang sedang mempertaruhkan segalanya untuk menemukannya. Roy menatap Lucky dengan tajam.
"Lo salah milih orang buat dijadikan sandera..."
Silvia dan Alvania juga berdiri dengan tatapan penuh kemarahan. Lucky mengusap wajahnya perlahan lalu tertawa kecil.
"Kalian benar-benar peduli padanya...?"
Bryan langsung menatapnya.
"Jangan coba-coba nyentuh dia!" Nada suaranya membuat seluruh ruangan terasa semakin dingin.
Lucky tersenyum seringai, "Kalau begitu kalian harus menemukannya sebelum terlambat. Ayo pergilah hahhaha..."
Harsh kembali mendekat.
"Lokasinya?"
Lucky terdiam beberapa detik berlalu, lalu dia tersenyum samar.
"Kalian pikir gue bakal kasih jawabannya gitu aja?"
Bryan menatapnya tajam.
"Kalau lo berpikir lo masih punya kendali setelah ini, lo salah!"
Di luar ruangan, Arlian mulai bergerak bersama timnya mencari jejak keberadaan Viona. Sementara di dalam Star Night Club, enam orang yang datang untuk menjatuhkan Lucky kini memiliki tujuan yang jauh lebih besar.
Menyelamatkan Viona, dan kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat pulang sebelum menemukannya. Suasana di dalam Star Night Club malam itu berubah mencekam, lampu-lampu meredup yang biasanya penuh kemewahan kini terasa dingin.
Di ruangan utama, Lucky Herison duduk dengan senyum penuh kemenangan, seolah sudah menunggu kedatangan mereka sejak awal. Bryan, Harsh, Roy, Alvania, dan Silvia berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh amarah.
"Katakan di mana Viona?!" ucap Bryan dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Lucky hanya tertawa kecil.
"Masih sama seperti dulu, Bryan. Selalu datang dengan keyakinan bahwa lo bisa ngendaliin semuanya..."
Harsh mengepalkan tangannya.
"Jangan bermain-main. Kami gak datang untuk berbicara baik-baik!"
Namun Lucky justru terlihat semakin tenang.
"Gue tahu kenapa kalian datang..."
Tatapannya berpindah pada mereka satu per satu.
"Kalian ingin menghancurkan club gue kan..."
Ruangan seketika terasa semakin berat, Lucky memang mengetahui alasan kedatangan mereka. Namun pria itu tidak berniat memberikan jawaban dengan mudah.
Dia mencoba memainkan keadaan, membuat mereka berada dalam posisi sulit dan memaksa mereka mengikuti aturan yang dia buat. Bryan tetap berdiri tegak meskipun situasi semakin tidak menguntungkan.
"Apa mau lo?"
Lucky tersenyum seringai.
"Melihat kalian kehilangan kendali dan dipermalukan..."
Di saat yang sama, tanpa diketahui Lucky, rencana lain sudah berjalan. Arlian bersama beberapa orang kepercayaan Bryan sudah bergerak dari sisi lain gedung.
Mereka tidak masuk melalui jalur utama untuk mencari Viona, melainkan mencari jejak keberadaan Viona dari informasi yang mereka dapatkan.
Di tempat berbeda, anak buah Darian dan Roy juga ikut bergerak. Mereka tidak hanya mengandalkan Bryan. Malam ini, mereka menjadi satu tim yang sama.
"Temukan Viona lebih dulu," perintah Arlian melalui alat komunikasi.
"Tugas kita bukan hanya menghadapi Lucky. Tugas utama kita adalah membawa nona Viona kembali dengan selamat itu perintah tuan Bryan!"
Sementara itu di dalam ruangan, Bryan tetap menghadapi Lucky. Dia tahu pria itu sedang mencoba menghancurkan fokus mereka. Namun Bryan tidak datang hanya dengan amarah. Dia datang dengan rencana.
"Lo salah satu hal, Lucky," ucap Bryan pelan.
Lucky menatapnya.
"Apa?"
"Lo berpikir kami datang ke sini sendirian dan dengan tangan kosong..."
Seketika ekspresi Lucky berubah. Bryan melanjutkan,
"Lo lupa bahwa orang-orang yang melindungi seseorang gak akan pernah berhenti hanya karena satu rintangan aja..."
Harsh tersenyum tipis, Roy yang biasanya selalu berselisih dengan Bryan pun akhirnya berdiri di sisinya. Untuk malam ini, persaingan mereka ditunda karena ada seseorang yang harus mereka selamatkan.
Dan di luar sana, tim mereka semakin dekat menemukan keberadaan Viona. Permainan Lucky Herison baru saja dimulai. Namun kali ini, dia tidak menyadari bahwa lawannya sudah mempersiapkan langkah terakhir.
Lucky tersenyum licik.
"Gue mau malam ini....kalian berdua melayani gue sampai gue puas dan kalian berempat menyaksikannya dengan tangan yang terikat. Pengawal! Ringkus mereka semua dan seret kedua wanita lacur penghianat itu keranjangku!"
"Baik tuan..." jawab salah satu pengawal Lucky
BERSAMBUNG.