Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Tolong jauhi dia sementara
Di ruang tunggu, Kenzo duduk gelisah. Kepalanya tertunduk, tangan saling meremas, jantung berdebar tak karuan. Dia sungguh takut pasien yang sedang ditangani dokter kandungan di ruang IGD itu tak selamat.
Berkali‑kali dia mengacak rambut, menutup wajah dengan telapak tangan dan menggigil ketakutan setiap teringat ucapan Larasati sebelum wanita itu pingsan:
"Akhirnya kamu cemas padaku, Kenzo… akhirnya kamu peduli padaku…"
"Larasati… maafkan aku… hiks… maafkan aku…" Hanya itu yang bisa diucapkannya, bingung di persimpangan berat. Pilihannya yang satu, pasti akhirnya menyakiti yang lain, hingga rasanya Kenzo ingin menyerah saja.
"Kenzo! Di mana Larasati? Bagaimana keadaan bayinya?!" Soran dan suaminya Andre baru saja tiba dengan wajah penuh kekhawatiran. Kenzo langsung memeluk kakaknya, menangis tersedu‑sedu di bahu wanita itu.
"Dokter belum keluar sejak tadi?" tanya Andre.
Kenzo menggeleng sedih.
"Kak Soran… aku tak mau mereka pergi… ini semua salahku…" adu Kenzo dengan pilu.
"Sstt… jangan bicara begitu. Larasati dan bayinya pasti selamat. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."
Kenzo diam saja, sudah satu jam lebih dia menunggu dan terus menatap pintu putih itu.
"Apa kemarin kamu bersama Vinda?"
Kenzo terkejut. Dia baru ingat masih meninggalkan Vinda sendirian di hotel. Semoga saja gadis itu mau menunggu dan mengerti keadaan sulitnya sekarang.
"kak Soran… maaf itu karena aku mencintainya. Tak mungkin aku begitu saja meninggalkannya. Kenapa memilih perempuan harus seberat ini?"
Soran mengusap punggung adiknya pelan. Dia paham betapa seriusnya Kenzo menjaga Vinda, tapi dia juga mengerti posisi Larasati yang makin sulit.
"Kenzo, meski berat kamu tak boleh egois. Larasati sedang hamil dan semua orang menganggap bayi itu anakmu. Kalau tersebar kabar kamu bersama Vinda, keadaan makin runyam. Aku takut Larasati akan sangat malu—baru menikah saja kamu sudah berselingkuh. Nanti semua orang akan makin menyalahkan kamu."
Kenzo menghela napas panjang. Kakaknya benar. Kalau dia tetap nekat bersama Vinda sekarang, bukan tak mungkin Larasati mencoba hal nekat lagi, karena tak kuat menanggung malu sebagai istri yang diabaikan.
"Setidaknya tunggu sampai bayinya lahir dan Larasati benar‑benar pulih dulu." Soran menepuk bahu adiknya pelan, sementara Kenzo kembali menangis karena tak berdaya.
"Keluarga Nyonya Larasati!" Seorang dokter wanita keluar dari ruang perawatan. Mereka segera berdiri berharap‑harap cemas.
"Dokter, bagaimana keadaan mereka?"
"Syukurlah janin bisa kami selamatkan. Istri Anda sempat kehilangan cukup banyak darah karena pendarahan hebat, tapi sekarang kondisinya sudah stabil setelah transfusi dan pendarahannya berhenti."
"Ah syukurlah… terima kasih Tuhan," desah Soran sambil mengusap wajah lega. Kenzo hanya diam dengan air mata masih menetes.
"Saran saya, jagalah Nyonya Larasati dengan baik, Tuan. Kalau pendarahan terulang, saya tak bisa menjamin bayinya akan selamat dan bertahan."
"Baik Dokter, terima kasih banyak. Saya janji akan menjaganya," jawab Kenzo dan mereka membungkuk hormat lalu berjalan keluar dengan hati yang masih sesal.
"Bersabarlah, nanti semua akan baik‑baik saja," kata Andre.
"Terima kasih, bang Andre. Kalau tak ada kalian, aku tak sanggup menghadapi ini sendirian." Andre tersenyum memperlihatkan lesung pipinya dan mengangguk. Dia paham betapa berat beban Kenzo sejak mendiang ayah mertuanya meninggal dunia.
***
Dua jam kemudian Larasati akhirnya siuman, membuka matanya perlahan. Soran, Andre, dan Kenzo duduk di sisi ranjang sambil mengawasi. Mereka lega melihat kesadaran wanita itu kembali. Tak lama kemudian Soran dan suaminya pamit keluar memberi kesempatan mereka bicara berdua.
"Kamu tahu? Apa yang kamu lakukan itu sungguh nekat. Apa tak ada sedikit pun rasa kasihan pada bayimu sendiri?" Larasati mengusap air mata yang jatuh, lalu membelai perutnya yang mulai agak menonjol. Dokter bilang kandungannya sudah menginjak sembilan minggu.
"Maafkan aku… hiks… aku putus asa. Tak sanggup menahan malu kalau kamu benar‑benar pergi dan tak peduli lagi padaku serta anak ini." Kenzo menggeleng pelan lalu menggenggam tangan wanita itu yang masih terlihat pucat.
"Aku yang salah. Kamu benar, aku pria egois. Selama ini cuma bisa berjanji, tapi tak pernah sedikit pun menepatinya."
Larasati menggeleng pelan. Dia menyesal dulu sempat memberi pernyataan ke publik kalau anak ini anak Kenzo. Kalau saja dulu dia berani bicara terus terang pada Hardi dan meyakinkan pria itu kalau bayi ini darah dagingnya, mungkin semua tak seburuk sekarang.
"Kenzo…" Tiba‑tiba Kenzo memeluk perut itu, air mata kembali menetes di pipinya yang putih dan sudah sembab. Terbayang semua kenangan sepuluh tahun silam saat pertama kali mengenal Larasati.
"Pertama kali kita bertemu, aku tak menyangka akan jatuh cinta hanya melihatmu bekerja paruh waktu di kafe itu."
Larasati tersenyum tipis. Itu kenangan paling indah baginya, karena Kenzo adalah cinta pertamanya.
"Dulu aku galak, ketus, dan selalu menolak kata‑kata manismu yang menurutku konyol."
"Dan aku tak pernah menyerah. Selalu datang mengganggumu sampai akhirnya kamu mau jadi kekasihku. Aku masih ingat kamu sering memanggilku 'anak bodoh' waktu itu."
Kenzo terkekeh pelan. Tiba‑tiba dia merasakan gerakan halus di perut Larasati, lalu tersenyum lega, anak itu masih hidup dan sehat, sebagian darahnya mengalir di sana.
"Kenzo…"
Kenzo mendongak, melepaskan pelukan dan mengusap sisa air mata di pipi wanita itu.
"Ada apa? Dokter bilang kamu jangan stres lagi. Ingat, bayimu juga bisa terganggu kalau ibunya terus tertekan."
"Maafkan aku… hiks… maafkan aku yang dulu ragu pada janji‑janjimu." Kalimat itu menusuk hati Kenzo, dia hanya diam dan menggeleng pelan.
"Ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku pria yang tak bertanggung jawab, cuma bisa memberi janji kosong." Larasati tertawa kecil lalu membelai wajah dan rambutnya.
"Kenzo, kamu boleh pergi setelah ini. Aku takkan menahan kamu lagi." Wajah Kenzo menegang kaget saat Larasati mengusap rahangnya.
"Setidaknya tunggu sampai bayi ku lahir. Setelah itu aku rela kita bercerai, dan kamu boleh kembali bersama wanita yang kamu cintai."
"Larasati, kumohon…"
"Tapi sekarang tetaplah di sini bersamaku. Aku butuh kamu… anak ini juga butuh kamu. Hanya beberapa bulan saja, aku mohon."
Permohonan itu terdengar begitu menyedihkan, Kenzo tak kuasa menolaknya saat tangan wanita itu meremas tangannya erat.
"Aku… aku mencintaimu. Kamu harus tahu, sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang pun rasanya tak berubah." Lidah Kenzo terasa kaku. Kalau dia tetap mendampingi Larasati, bagaimana nasib Vinda? Apakah gadis itu mau menunggu terus? Terlebih semalam dia sudah merusak masa depan Vinda. Astaga, rasanya ingin sekali dia lari dari semua ini.
Apakah ini balasan perbuatannya? Selama delapan tahun membenci ayah sendiri, menjadikan banyak wanita sekadar teman tidur pelampiasan nafsu, dan sekarang harus terjepit di antara dua hati.
"Bisakah kamu melakukannya? Kumohon, Kenzo… jauhi dia sampai anak ini lahir. Setelahnya aku rela jika kamu menceraikan aku." Permintaan itu terasa sangat berat. Menunggu mungkin masih sanggup, tapi menjauh dari Vinda? Rasanya seperti disiksa perlahan. Sehari saja tak bertemu rasanya Kenzo sudah ingin mati.
"Akan kupikirkan dulu. Beri aku waktu sebentar. Ini sungguh berat," jawabnya pelan.
Larasati mengangguk lalu membelai rambutnya saat dia meletakkan kepala di pangkuan wanita itu.
"Maafkan aku yang sempat mengabaikan kamu. Bahkan setelah menikah kemarin kamu harus menangis dan kesal padaku."
Larasati mengangguk pelan. Sebesar apa pun rasa sakit di dada, dia harus ikhlas melepaskan nanti. Mungkin benar pepatah itu, tak semua yang dicinta bisa dimiliki. Tanpa mengalaminya sendiri, dia takkan tahu rasanya akan sesakit ini.